" Asraf kalau udah lo yang ngomong langsung nurut ya rin " ucap rara sedikit iri terhadap rina karena bisa begitu dekat dengan asraf
" Ga semua juga ra, kita kan udah temenan lama makanya dia gitu " jawab rina sambil melihat asraf yang sedang mencoba masuk ke kerumunan itu
" Yakin cuman temenan " sambung ayla membuat rina tersenyum kikuk dia bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan dari ayla karena dia akhir-akhir merasakan sedikit perasaan aneh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syalala27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah keinginan
Kamar rumah sakit
" Waw ena banget cake nya kalian beli dimana ni " tanya rara antusias
" Tadi kita beli di toko X " balas asya sambil tersenyum
" Thanks banget ya guys , gue terharu deh " balas rara mata nya sedikit berkaca kaca
" Apasi lebay lo kan udah biasa kita gini, dan mungkin baru kali ini jg lo nagis karna hal kecil kaya gini xixii" bals Rina sambil tertawa kecil
" buat gue ini hal besar sekali lagi makasih " balas rara
" Sama sama " jawab mereka kompak
" Eh iya baru ingat kalian berdua punya hubungan apa si " tanya ayla kalimat itu terus mengganjal di hati nya dan kini berhasil di keluarkan
" Kita itu....." Ucap rara sengaja memperpanjang kata 'itu' dia sangat senang dengan ekspresi teman-teman nya itu yang terlihat sangat penasaran
" Itu itu apasi" tanya asya sebal
" Dia adek gue " balas bian , yang membuat keempat orang di ruangan itu diam mematung , Gimana engga pasalnya mereka sering membicarakan bian dengan Rara , bian ganteng la , cewe nya pasti cakep lah dan lain lagi
" Lo kenapa ga bilang sih dari dulu" ucap mereka bertiga serempak yang membuat bian rara dan asraf kaget
" Selo atuh jangan marah " balas rara sambil tertawa
" Lo masa ga pernah cerita si ga ena banget " balas asya sedikit cemberut
" Bukan gitu sya, gue juga punya alasan kali"
" Apa alasan lo " balas rina sedikit mendelikkan mata nya
" Jangan gitu dong Rin takut gue "
" jadi gini kalo gue kasi tau bian itu abg gue pasti banyak banget orang yang mau temenan sama gue cuman gara gara bian , gue pengen nya punya temen yang tulus mau terima gue apa adanya " sambung Rara menjelaskan
" Oh jadi gitu " balas mereka bersamaan
" Iya , kalian yang gatau dia abg gue aja pengen banget deket sama dia apa lagi kalau kalian tau pasti minta dideketin" Balas Rara membuat ketiga wanita itu mendelik kearahnya memberikan isyarat agar rara diam
" Sorry gue ga sengaja bilang hehe" sambung nya seraya tersenyum kikuk
" Oh jadi kalian suka sama abg " ucap bian membuat wajah mereka memerah menahan malu
Sedangkan Rara hanya tertawa
" Ngapain tunduk gitu santai aja kali " sambung nya lagi tatapan nya tertuju pada rina, asraf yang melihat itu langsung menjawab
" Dia ga suka sama lo , jadi lo tenang aja " jawab asraf menunjuk kearah rina lalu tersenyum sinis
" Oh " bian menanggapi nya dengan senyuman
" raf lo.." ucap rina terhenti karna asraf menyentuh bibir Rina agar dia diam
" Ayo ikut gue " asraf tiba tiba menarik tangan rina keluar , mereka hanya tersenyum kecuali bian dia hanya diam saja entah apa yang dipikirkan
" Aduh raf lepas dong " ucap rina sambil menggerakkan tangannya agar asraf mau melepaskan nya, tapi sepertinya asraf enggan melepas itu dia malah memperkuat genggaman nya membuat rina sedikit meringis
" Auu.. "
" Rin lo gpp" ucap asraf berbalik dan melepaskan genggamannya
" Sakit pe'a "balas rina kesal
" Ya maaf, gue juga binggung kenapa gue lakuin kaya tadi " balas asraf sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
" Hm iya, Lo mau bawa gue kemana ni" (rina)
" ayok ikutin gue " balas asraf meraih tangan rina dan menggenggam nya tapi kali ini dengan lembut
' Gatau kenapa gue nyaman banget diginiin ' ucap Rina di batinya
" Udah sampe ni bagus kan " ucap satya sambil menunjukkan sebuah taman rumah sakit yang luas juga bersih
" Bagus banget nyaman lagi " balas rina sambil tersenyum
" Mudah-mudahan suatu saat gue bisa jadi dokter trus kerja disini pasti enak deh" lanjut Rina menatap kearah depan seraya tersenyum
" Aminn...." balas asraf sambil menatap Rina lalu dia ikut tersenyum