Dia gadis cuek, dingin, masa bodoh dengan penampilan, selalu menutup diri dalam bergaul, terkesan angkuh. Bukan tidak bisa bergaul, tapi memang enggan menciptakan pergaulan. Masa kecilnya selalu di penuhi dengan kebahagiaan dan kemanjaan dari keluarganya, sampai musibah datang bertubi-tubi di kehidupannya, menimbulkan traumatis yang sangat dalam, ia tidak mau mengenal dan dekat dengan siapapun termasuk keluarganya. Baginya cukup mengetahui keadaan mereka baik-baik saja akan mebuiat keadaan tetap aman. Dia tidak ingin bahagia, karena menurutnya kebahagiaan hanya membuahkan malapetaka bagi keluarganya. Kondisi traumatis itu membuat perilaku dan sifat gadis itu berubah 180 derajat. Ia tidak ingin mengenal yang namanya keluarga apalagi percintaan. Nonsen. Mampukah gadis itu berubah setelah kehadiran seseorang dari kisah masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ny. Kayara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEMBURU
Wah gak terasa udah mau episode 20 aja nih...
Likenya ya all sista...
Di rumah sakit Dina berjalan beriringan dengan
Genta. Sudah satu minggu ini Dina membantu Genta mengatasi kekosongan apoteker.
Ketika pertama kali datang menemui Genta, laki-laki itu bersifat sangat formal
sekali, ia benar-benar menghargai persahabatan Dina dengan Ginara. Tapi seiring
pertemuan mereka, kedekatan mereka seperti bukan kakak laki-laki kepada
adiknya, tapi lebih melindungi secara posesif dari setiap insan lelaki yang ada
di rumah sakitnya. Sudah ada beberapa dr muda di tempatnya yang menyatakan
ingin berkenalan tapi selalu di halangi oleh Genta. Dina sendiri bingung,
kenapa Genta bersikap seolah-olah dia tidak boleh berdekatan dengan laki-laki.
Siang ini mereka berencana makan siang di cafetaria
yang disediakan rumah sakit. Canda tawa mengiringi langkah mereka sangat akrab,
orang yang melihat akan menyangka mereka adalah sepasang kekasih. Sesampainya
di depan lift terdengar panggilan dari arah belakang mereka.
“Gen, tunggu bentar napa sih.” Suara laki-laki di
belakang Dina dengan suara napas yang ngos-ngosan. Sosok laki-laki berkulit
sawo matang, wajah oval cenderung oriental, hidung mancung, pupil mata yang hitam
legam dan alis yang tebal dengan kadar ketampanan yang bisa membius para gadis
-tapi bagi Dina itu tidak ada apa-apanya di banding dengan Genta- ikut masuk ke
dalam lift yang sudah terbuka dan berdiri di depan mereka dengan sedikit kesal.
“Di cariin di ruangan, ternyata sedang berduaan
dengan….eh, siapa nih Gen?” Tanya laki-laki itu seraya tersenyum menatap Dina.
Dina balas tersenyum ramah, sementara Genta hanya memutar matanya malas.
Laki-laki itu mengusap tangan kanannya ke jas putih yang dikenakannya kemudian
mengulurkannya ke arah Dina.
“Rendi, dr tertampan di rumah sakit ini” Jelas
Rendi dengan semangat namun setelah itu ia terkejut dan menatap Genta.
Laki-laki di sebelah Dina membalas jabatan Rendi dengan kuat.
“Bukan muhrim, batasi dirimu.” Genta melepas tangan
Rendi.
“Cih, bilang aja gak suka.” Rendi cemberut kemudian
beralih ke Dina. Cewek itu hanya geleng-geleng kepala.
“Namanya siapa manis?” Rendi mulai melancarkan
aksinya sambil tersenyum.
“Dina dokter”
“Wah, aku belum pernah lihat kamu sebelumnya, apa
kamu karyawan baru?”
“Saya pengganti Nisa sementara dokter”
“Ah…jangan panggil dokter dong, gimana kalau mas
aja” Rendi mulai melancarkan aksinya merayu wanita. Dina tersenyum lucu,
sementara Genta mulai tidak suka dengan apa yang dilakukan Rendi. Laki-laki itu
terkenal dengan predikat perayu ulung, sudah banyak yang menjadi korban
rayuannya. Jangan sampai Dina terpengaruh dengan rayuan gombal dr mud aitu.
“Jangan tepe di sini, minggir, kita mau makan!”
Usir Genta ketus. Genta menarik tangan Dina untuk menghindari Rendi dan keluar
dari lift meninggalkan Rendi seorang diri. , sesaat Dina tertegun dengan apa
yang dilakukan oleh Genta, bolehkah ia berharap lebih? Rendi tetap mengikuti
berjalan di belakang mereka, ia yakin ada apa-apa di antara mereka, secara
Genta adalah tipe laki-laki yang jarang sekali berdekatan dengan seorang
wanita.
Ketika sampai di cafetaria banyak pasang mata yang
memandang mereka aneh sekaligus iri, karena selama ini sulit sekali untuk hanya
berjalan beriringan dengan Genta. Laki-laki itu terlalu membentengi dirinya
dari yang namanya wanita. Bisik-bisik tetanggapun mulai terdengar, apalagi
mereka menyaksikan Genta menggandeng seorang gadis seolah takut hilang.
“Bang, boleh lepasin tangan Dina nggak? Malu bang
dilihatin banyak orang…” Genta terkejut kemudian memandang ke bawah, ia segera
melepas pegangannya.
“Maaf, kamu mau pesan apa?” Tanyanya setelah mereka
duduk.
“Aku nasi padang aja sekalian teh hangatnya ya”
Kata Rendi seraya duduk di sebelah Dina. Genta melotot marah.
“Pesan aja sendiri sono. Gih” Usir Genta seraya
mendorong Rendi untuk bangun.
“Ish…kejam sekali. Din mau mas pesanin?” Rendi
masih mencoba mencari simpati Dina. Gadis itu memandang Genta sejenak meminta
persetujuan.
“Pesanin dua soto daging sama dua jeruk hangat. Dah
cepetan sana…” Genta menjawab seraya mendorong kembali Rendi, laki-laki itu
berlalu ke pemesanan dengan menggerutu. Lima menit kemudian Rendi datang di ikuti oleh
pelayan membawakan pesanan mereka. Rendi mau duduk di sebelah Dina langsung
dipelototi oleh Genta hingga ia memilih duduk di sebelah laki-laki yang
tiba-tiba menjadi posesif. Mereka menyantap makanan tanpa ada pembicaraan lagi.
Kegiatan mereka di rumah sakit berlanjut sampai
pukul delapan malam, Dina bersiap-siap untuk pulang, Genta barusan menelepon
kalau ia sudah siap di lobi. Ya setiap hari Genta selalu mengantarnya pulang
walaupun Dina sudah bilang bisa pulang sendiri, apalagi dia juga membawa mobil.
Tapi sejak membantu Genta, laki-laki itu melarang Dina menyetir sendiri,
alasannya kalau malam daerah sekitar rumah sakit rawan, akhirnya Dina pasrah
tiap hari di antar jemput oleh Genta. Hal itu membuat perasaan Dina semakin
besar, tapi ia takut berharap, dia sudah menanyakan perihal ini tapi jawaban
Genta ia tidak mau sahabat adiknya mengalami kejadian buruk bila pulang malam
sendiri.
“Jangan dekat-dekat dengan Rendi” Kata Genta
setelah mereka berada di mobil. Dina menoleh heran.
“Kenapa Bang, dr Rendi kelihatan baik kok” Sanggah
Dina.
“Iya kelihatannya, dia itu playboy” Jawab Genta
tidak suka.
“Emang kelihatan sih dari tatapan matanya, tapi
selama dia bersikap baik gak papakan kita berteman dengannya” Dina mengutarakan
argumennya.
“Gak ada ya playboy berteman dengan cewek yang ada cuma
mau mainin aja tuh, penasaran, udah dapet ditinggalin.” Ketus Genta. Dina
mengernyit heran.
“Bang, dr Rendi itu teman abang lho, gak baik ah
jelekin teman sendiri seperti itu.”
“Itu memang udah sifatnya Dinaaa, pokoknya jangan
percaya sama omongannya”
“Setiap orang kan bisa berubah bang, ketika sudah
ketemu pasangan yang ideal, senakal apapun orang itu, pasti dia akan berubah…”
Genta menghela nafas berat, ia diam sambil mengeratkan pegangannya pada setir
mobil. Entah kenapa hatinya tidak rela saat ada laki-laki yang mencoba
mendekati dan mengenal Dina. Mungkinkah ia menyukai Dina? Mereka sampai di
depan rumah Dina dan gadis itu turun berpamitan. Genta meninggalkan rumah Dina
dengan perasaan galau, hatinya menolak menyukai sahabat adiknya tapi perbuatan
tadi mencerminkan sebaliknya. Hah…apa kata Ginara nanti?
To Be Continued
Hallow semua reader, novelku cinta tak pernah salah dah tamat lho, kunjungi dan baca dan like dan faforit dan lain lain deh hehe
oya aku lagi rilis novel kedua nih, masih proses up date trus, kunjungi juga dn jangan lupa dukung trus