Indonesia
NovelToon NovelToon
Playtime And Disaster

Playtime And Disaster

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Horor
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Naura G. A.

Seorang gadis yatim-piatu bernama Clara Paradista terpaksa beradaptasi kembali dengan situasi baru namun familiar saat tante Imelda membawanya pulang untuk tinggal bersama. Lalu untuk menyemangati Clara yang tampak sedih tak berkesudahan, tante Imelda memberikan boneka sebagai pelipur lara tanpa tahu Clara membenci boneka. Tapi dibalik kesalahan tersebut, mereka tidak tahu bahwa boneka usang dari kain fanel itu membawa pesan penting. Boneka itu tahu rencana busuk para iblis untuk menghancurkan umat manusia dengan memanfaatkan kekuatan jiwa.

Akhirnya, Clara dan boneka terkutuk bernama Ethan melakukan petualangan berbahaya untuk menghentikan rencana para iblis yang bersemayam di rumah terkutuk bekas seorang pengrajin mainan sambil bertahan hidup dari permainan maut yang tercipta dari pikiran yang berantakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naura G. A., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 – Rahasia Diantara Kita

Sebelumnya dalam Rumah Angker Tirta, mereka berpindah ke tempat yang asing dan aneh. Namun Ethan positif bisa mengendalikan situasi. Kepercayaan diri itu membuatnya lupa pada segala kemungkinan dari rencana picik dibelakangnya. Tempat yang dia kira ‘dunia gaib’ sesungguhnya bukan seperti dalam pikirannya dan lawan mereka yang disangka ‘iblis’ nyatanya dapat menembus kubah pertahan Ethan yang paling kuat.

Dalam hati, dia berpikir ini mungkin karena lengah. Namun saat mendengar ringkikan kuda dan tembakan senjata, pikirannya berantakan. Clara memberikan aura ketakutan yang pekat bagaikan mangsa dalam permainan berburu padahal Ethan sudah menjanjikan perlindungan untuk Clara. Kelihatannya rasa angkuh membutakan ‘mata’-nya dari kebenaran bahwa ada lawan yang tidak bisa dia singkirkan. Tapi dirinya yakin, walaupun hanya 20% kekuatan aslinya yang tersisa karena segel, Ethan dapat menghanguskan iblis rendahan dan sihir hitam tingkat menengah. Bahkan kubahnya tidak terdengar hancur. Seolah lawannya adalah sesuatu yang lain. Yang tidak akan mati oleh serangan malaikat. Tetapi itu tidak mungkin.

“(Aku tidak memiliki banyak waktu.)” Balas Ethan dingin. Jika bisa dia ingin menatap langsung ke arah Arumina. Namun kutukan ini membuat pandangan dibatasi ke arah mata bonekanya memandang dan kini dengan penglihatan yang kabur-karena kancing sebagai matanya juga ikut terbakar-, Ethan melihat langit – langit kamar yang nampak monotom. Seketika dia mengingat kembali kejadian di Rumah Angker Tirta yang tidak masuk akal dan berbahaya. Itu adalah ingatan paling buruknya yang kedua seumur hidup.

Saat itu dia ada didekat Clara. Namun tidak bisa berbuat apa – apa bagaikan seongkok ‘mainan’ biasa. Untungnya dia bukan benda mati yang hanya bisa diam.

“CEPAT PERGI CLARA!”

Hanya kata yang bisa disampaikan. Tetapi itu belum cukup. Clara hanyalah manusia biasa sedangkan bahaya yang datang berasal dari neraka. Dia bisa mati. Secara insting, Ethan akan melakukan apapun yang dia bisa untuk menolong Clara. Rencana dadakannya adalah mematahkan kutukannya sendiri. Terdengar bodoh, ceroboh, putus asa, dan inilah harapan terakhirnya. Maka dengan mengumpulkan segala tenaganya, Ethan berusaha membentuk tombak malaikat yang biasa dia gunakan. Meski yang keluar adalah versi kecilnya, dia merasa ini cukup untuk memutus ‘rantai’ kutukan.

Kutukan Ethan adalah segel yang mengurungnya dalam wujud boneka. Seperti barang yang terbungkus dalam plastik tebal, segel ini sulit untuk dilepaskan dari dalam. Mungkin lain ceritanya jika dia bisa memutus, barangkali hanya satu ‘rantai’. Lalu Ethan mencoba memutar tombaknya, lalu diayunkan ke arah ‘rantai’ dengan harapan bisa putus. Namun semuanya sia – sia. Bukannya putus, efek samping dari kutukan tersebut berbalik menyerang dalam bentuk api yang membakar Ethan dari dalam ruh-nya.

Bagi manusia, mati terbakar adalah rasa sakit urutan pertama dan Ethan tidak bisa berbohong jika ini adalah yang pertama kalinya. Sebelumnya dia pernah mencoba mematahkan kutukannya sendiri. Berkali – kali dia terbakar dalam api kutukan. Rasa sakit yang amat perih itu menjadi alasan dia berhenti mencoba. Membiarkan diri terperangkap sambil meneriakan bantuan selama ini.

Namun sekarang berbeda. Dia harus melakukan sesuatu atau ada nyawa yang akan melayang. “(Hanya ini-Akh-... Aku-Erkh!- tahan bisa. Demi Tuhan! Kuatkan aku.)” Jadi dia terus memaksakan diri untuk memutus ‘rantai’ kutukannya. Meski tombak kecil itu tidak cukup kuat untuk memenuhi ambisi, tekad menakjubkan-nya yang membuat Ethan dapat menahan rasa sakit. Seolah doanya terjawab.

Tetapi semua sia – sia. Kutukan segel tersebut terlalu kuat seolah yang memberikan tahu satu-dua hal tentang malaikat dan menggunakannya untuk tujuan dendam terhadap Ethan. Meskipun tahu akan hal itu, Ethan memaksakan diri hingga ‘wadah’ bonekanya ikut terbakar. Beruntungnya ruh tidak bisa hancur, namun rasa sakitnya masih fatal. Hingga sekarang, saat Ethan sudah ada di kamar Clara pun, rasa sakit masih menempel pada dirinya. Clara tidak boleh tahu betapa lemahnya Ethan karena itu adalah aib besar bagi malaikat dikutuk itu.

Namun sebaik apa dia menyembunyikannya, Arumina bisa mendengar suara Ethan yang menjerit kesakitan. Maka dari itu, alasan ‘tidak punya banyak waktu’ sangat menyebalkan. Berkali – kali Arumina meminta Ethan berhenti dari dalam diri Clara, tapi selalu saja diabaikan. Meskipun tahu rekan sebangsa-nya tidak menanggapi, dia tahu Ethan bisa mendengar semua perkataannya yang dengan jelas. Bahkan orang tuli pun bisa dengar.

“(Sekarang kau mengatakan omong kosong?)” Ucapan Arumina membuat Ethan naik pitah. Rasanya ingin menghancurkan kamar Clara, tapi ini kamar Clara dan dia tidak seharusnya bersikap ‘tidak beraturan’ seperti itu. Perasaan buruk itu harus ditahan.

Lalu daripada mendapatkan ‘ceramah’ lagi dari Arumina, Ethan membalikan topik. “(Omong – omong, kemana Larrisa?)” Nama yang disebutkan Ethan membuat Arumina terdiam. Tidak mampu bersuara.

Kesunyian itu dapat Ethan duga. Tanpa sadar dia tersenyum ironis dengan cekikikan yang lirih. Bukan karena bahagia, tapi sedih. Sangat sedih. Karena diamnya Arumina seolah menjawab pertanyaan itu.

Kemana Larrisa? Tentu saja...

“(Dia di-‘ambil’ juga, bukan?)”

“(... Benar. Maka dari itu, tolong, jangan libatkan Clara lagi. Tembakan tadi dapat melukai fisik. Jika kau memaksanya, maka dia akan mati!)”

Terdengar geraman suara menandakan penolakan. “(Lalu kau ingin dunia ini binasa? Kau ingin ingkar lagi pada sumpah kita kepada manusia dan Tuhan?)” Ethan menyerbu dengan pertanyaan yang dia sadar betapa sensitifnya topik tersebut. Arumina yang tampak kalah dalam perdebatan ini memilih diam lagi. Akhirnya terjadi keheningan panjang. Tidak ada diantara mereka yang ingin bersuara kembali karena merasa percakapan ini sia – sia.

Tetapi beberapa jam kemudian, Arumina akhirnya bersuara. “(Kau tahu aku tidak menginginkannya.)” Terdengar nada lirih yang amat sedih.

“(Maka dari itu, aku ingin membantumu.)”

“(Jangan!)”

Karena perkataan Arumina, teringat kembali kejadian saat manusia – manusia sedang sarapan. Melihat ketiga malaikat penjaga dari om Husnan, tante Imelda, dan Rafael berkumpul, Ethan berpikir ini adalah kesempatan besar untuk meminta pertolongan. Jadi dia berusaha berkomunikasi dengan mereka. Sayangnya yang dihasilkan malah prasangka.

“(Hah? Kau adalah malaikat juga?)”

“(Tidak mungkin! Malaikat tidak bisa merasuki.)”

“(Habisi iblis ini!)”

Sekeras apapun Ethan berusaha meyakinkan, dia hanya mendapatkan 3 pedang malaikat yang menusuk ruh-nya. Arumina yang juga berada disana hanya bisa diam seperti biasa dan menyaksikan peristiwa tragis ini walaupun dia tahu bisa menolong Ethan dengan kesaksiannya. Namun Ethan yang keras kepala melarang hal itu karena tidak ingin melibatkan Arumina dan setelah melihat akhirnya sendiri, Ethan semakin takut pada masa depan.

“(Kumohon, ‘Mina, jangan lakukan itu. Mereka akan mengira kau pengkhianat karena menolongku yang dikutuk seperti ini.)” Sikap penurut Arumina hanya bisa meng-‘iya’-kan ucapan Ethan. Mereka berdua tahu misi ini lebih dari sekedar berbahaya. Kutukan dari Rumah Angker Tirta adalah bencana mengerikan yang akan berpotensi merusak tatanan semesta. Ethan tahu siapapun yang menjadi dalang dibalik kekacauan ini sedang menyiapkan rencana besar. Namun pikirannya tidak bisa membayangkan seperti apa bentuk kutukan yang ingin dilepaskan. Akhirnya mereka ditinggalkan dengan pertanyaan besar. Bagaikan lubang yang sangat dalam sampai tidak bisa ditutup lagi. Meskipun begitu, salah satu dari mereka harus berpikiran positif.

Arumina seolah ‘mengepalkan tangan’ dan menengadahkan pandangan. Dari dalam lubuk hatinya, dia berdoa,

“Ya Tuhan, lindungilah kami dari kejahatan ini,

Dari hukuman neraka yang mendekati,

Dari pembawa petaka ke langit dan bumi,

Ya Tuhan kami, Engkaulah Yang Maha Tahu, siapa pendosa diantara kami.”

Secara insting, Ethan ikut ‘mengepalkan tangan’ dan membalas, “Amiin.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!