Indonesia
NovelToon NovelToon
Dusk Till Dawn

Dusk Till Dawn

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Oktavianna

Hati Bella merasa terus tersiksa, pernikahannya tidak mendatangkan kebahagiaan dalam hidupnya, ia mencoba kabur tapi...

BRUK...

Tubuh Bella terbanting ke lantai hingga membuatnya jatuh pingsan.

Beberapa bulan kemudian ia kembali bertemu cinta pertamanya dan akhirnya menikah dan hidup bahagia namun, semua tidak berlangsung lama ketika Bella sepenuhnya telah kembali ke dunia gelap, ia dihadapkan ego besar setelah penghianatan suami keduanya.

Akankah pernikahan mereka akan baik baik saja? lalu bagaimana kisah selanjutnya Bella?
Dan rahasia mengerikan apa di balik sosok Bella?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oktavianna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehidupan Damai

Mentari menyapa kicau burung yang menemani pagi, embun-embun di dedaunan terasa sejuk dipandang begitu juga suara tawa yang mengisi hangatnya rumah.

Bella sibuk berlari kesana kemari sebagai bajak laut bermain dengan Gevano dan Edgar.

Mas Shaka sibuk mempersiapkan diri untuk pergi ke kampus, sedangkan Bu Sundar sedang memasak sarapan.

Selesai sarapan, Mas Shaka pamit, ia mencium sang istri dan kedua anaknya.

"Da da Papa... ."

Ketiganya melambaikan tangan, sambil memberi salam.

Bu Sundar mendekat, ia dengan wajah sungkan memanggil majikannya.

"Non Bella... ." Panggil Bu Sundar.

"Iya, Buk, kenapa?." Kata Bella ia menengok melihat wajah Bu Sundar di sampingnya.

Dengan sungkan, Bu Sundar menceritakan bahwa ia memerlukan pinjaman dengan jumlah besar kepada Bella.

"Saya mohon maaf, Non, mungkin untuk jaminan pinjaman tersebut saya cuman punya sertifikat rumah." Jelasnya.

Bella hanya tersenyum, lalu menyuruh Bu Sundar duduk bersebelahan dengan dirinya.

"Buk, untuk apa uang sebanyak itu?." Tanya Bella.

"Untuk menyewa pengacara, Non." Kata Bu Sundar, matanya sedikit berkaca kaca.

"Tenang, Buk, cerita sama saya, apa yang terjadi."

Dengan berat ia menceritakan bagaimana kronologi kenapa dirinya memerlukan uang untuk menyewa pengacara.

Ia memiliki sejumlah aset yang telah ia raih dengan susah payah dari pergi merantau sebagai asisten rumah tangga, namun sang kakak menguasai semua hartanya setelah ditipu berkedok bisnis.

"Saya nggak tau harus bagaimana, mengingat aset tersebut hasil keringat saya sendiri, saya di tipu." Ucap Bu Sundar.

"Kalo boleh tau kakak Bu Sundar itu siapa ya?." Tanya Bella kembali.

"Nurah-." Jawab Bu Sundar.

"Sudah ya, Bu, jangan sedih, nanti saya sampaikan ke suami siapa tau kita punya jalan keluar, yang sabar ya Buk... ."

Pada akhirnya Bella hanya mengulur waktu, ia tidak berniat membantu, baik secara uang maupun bantuan lain. Ia melemparkan masalah itu kepada sang suami, Bella merasa hari hari sebelumnya sudah cukup menguras tenaga, ia tidak ingin ikut terseret masalah apapun, meski baginya sangat mudah menyelesaikan masalah sebesar biji beras baginya.

Keesokan harinya Mas Shaka mengajak bicara Bu Sundar empat mata, setelah Bella menyampaikan perihal masalah Bu Sundar kemarin malam.

"Buk." Panggil Mas Shaka.

"Iya, Pak."

"Begini, saya dengar semalam dari istri saya katanya ibu ada masalah, tapi terus terang saja saya cuman bisa bantu seperempat uang yang dibutuhkan Ibu." Jelas Mas Shaka sambil memberikan amplop coklat berisi uang.

"Terimakasih Pak, begini juga sudah sangat membantu, saya mengerti keadaan Pak Shaka sama Non Bella, apalagi tiga toko harus tutup bersamaan." Kata Bu Sundar.

Dalam hati Bella hanya menghela napas dalam dalam, Bella sudah menyarankan sang suami untuk tidak membantu jika memang tidak memungkinkan, tapi dia tetap membantu sampai berhutang kepada sang paman.

Tiga hari kemudian Bu Sundar izin untuk cuti, untuk menyelesaikan masalah yang sedang ia hadapi. Dengan senyum Bella dan Mas Shaka memberi izin.

Setelah Bu Sundar keluar dari rumah, sikap Bella yang manis kembali masam di depan Mas Shaka.

"Kamu kenapa?." Tanya Mas Shaka, dipeluknya dari belakang sang istri yang sedang mengupas buah.

"Terserah kamu dan menurut kamu aja Mas." Jawab Bella ketus, ia melepaskan pelukan sang suami dan menghampiri Gevan dan Edgar.

Mas Shaka memasang wajah usil, ia berlari kecil menghampiri sang istri yang sedang menemani kedua anaknya menikmati buah di ruang tengah.

HAP

"Eh.. Ehh... ." Bella terkejut, tubuhnya sudah di bopong sang suami.

"Nak, Mama sama Papa mau ambil mainan buat kalian, tunggu di sini baik baik yaaa."

Dua anaknya hanya mengangguk polos, membiarkan mereka berdua berlalu ke kamar.

Ceklek

Pintu kamar di tutup, Mas Shaka berusaha merayu tubuh istrinya.

"Kamu tinggalin anak anak cuman berdua?!." Bella merasa kesal.

"Aku butuh bicara sama kamu, tiga hari kami diemin Mas loh."

Bella kemudian melirik tajam ke arah sang suami.

"Aku tau niat kamu baik, tapi nggak harus memaksakan bantu orang kalo emang nggak mampu!." Jelas Bella, ia kemudian berjalan menuju pintu kamar, membuka kunci. Tapi tubuhnya di tarik.

"Aku minta maaf." Kata Mas Shaka.

"Iya, aku maafin." Jawab Bella ketus.

Keduanya keluar dari kamar, duduk bersama sang anak, di ruang tengah.

Beberapa menit kemudian pintu di ketuk, Bella bangkit dari tempat duduknya untuk melihat siapa yang baru datang.

Sosok tersebut adalah dua orang polisi, mereka memberi salam kemudian Bella mempersilahkan mereka masuk.

Ketiganya berbincang, terlihat setumpuk berkas ada di meja.

"Kami sudah menangkap kelompok pelaku atas insiden perampokan toko anda tapi dalam keadaan telah mati membusuk di salah satu kontrakan." Jelas salah satu polisi.

"Apa penyebab kematiannya?." Tanya Bella, yang sebenarnya sedang berakting penasaran dan terkejut.

"Dari hasil otopsi menujukan mereka keracunan minuman keras jenis oplosan." Jelas sang polisi.

Setelah berbincang kembali, akhirnya mereka pamit dan meminta Bella untuk merelakan kejadian tersebut. Bella hanya tertawa dalam hati, ia tau jika menyerahkan kasus ini kepada polisi akan memakan waktu lama dan kinerja mereka bisa dibilang lambat.

Tapi Bella tetap tenang, mereka yang terlibat perampokan telah dibunuh oleh anak buah Bella sebelumnya, dengan miras oplosan mengandung racun yang Bella buat.

Edgar berjalan mencari ibunya, ia meminta gendong sedangkan Gevan sedang sibuk dengan mainannya.

Satu bulan kemudian, Bella kembali mengunjungi kediaman ibu mertuanya, bersama Suami dan si kembar.

Kali ini mereka akan menginap agar bisa bertamasya bersama.

Fhreya menelfon ketika mereka sedang dalam perjalanan. Ia berkata bahwa sudah tidak sabar ingin melihat si kembar.

Mas Shaka kemudian memperingatkan agar Fhreya duduk manis menunggu dan tidak perlu menelfon kembali.

Sesampainya di sana, ternyata sang paman juga berada di sana, ia menatap sosok Bella dengan kedua mata yang menatap tidak ramah seperti biasa.

Fhreya kemudian berlari menghampiri Bella dan Si kembar, mereka bersalaman kemudian masuk di sambut bahagia oleh mertuanya.

Setelah beristirahat, mereka akhirnya bersiap siap untuk pergi bertamasya bersama. Tapi kali ini Mas Shaka dan Bella tidak ikut, mereka mengaku sibuk.

Sang mertua dan si kembar yang akrab juga tidak keberatan jika mereka bertamasya tanpa orang tua mereka kali ini.

Setelah semuanya berangkat, hanya tersisa Bella, Mas Shaka, dan Paman Jo.

Mereka duduk bertiga, Bella sedang menyantap kue lapis di depannya, begitu juga dengan Mas Shaka.

"Tumben kalian nggak ikut, ada acara apa?." Kata Sang Paman.

"Hari ini mau nemenin istri ke toko." Jawab Mas Shaka.

"Ngomong ngomong, uangnya sudah ada, yaa mumpung ketemu jadi sekalian paman tanyakan." Ucapnya sambil membuka layar ponselnya.

Bella yang sedang menyantap kue lapis kehilangan selera, ia sangat jengkel dengan sang suami, kenapa ia harus meminjam dari laki laki tua yang pelit.

"Lusa Om, saya kabarin." Jawab Shaka,

"Minta no rekening Om Jo, biar saya transfer." Kata Bella.

Mas Shaka langsung melihat ke arah sang istri, ia bangkit menghampiri sang paman lebih dekat, dengan bingung ia menujukan layar ponselnya dan terkirim uang senilai 25 Juta.

Mata sang paman melotot, saldonya bertambah oleh sosok Bella yang selama ini ia remehkan.

"Saya bonusin 5 juta, karena sudah membantu suami saya."

Bella kemudian berlalu, ia pergi ke garansi menyalakan mesin mobilnya, Mas Shaka mengejar, ia berhasil masuk dan ikut sang istri pergi.

"Makasih ya sayang." Ucap Mas Shaka.

"Kamu harus bijaksana, lihat kemampuan diri kamu buat bantu orang, dan kemampuan mencari bantuan terhadap orang lain."

Mas Shaka mendengarkan ocehan sang istri, ia tau dirinya memang salah, tapi sebenarnya uang yang di tagih oleh sang paman tadi bukan uang yang ia pinjam untuk Bu Sundar, melainkan uang untuk membeli beberapa barang untuk keperluan pabrik konveksi cabang baru. Hutang sebelumnya sudah terbayar.

Bella tetap mengomel walau mereka sudah sampai di rumah, alasan sibuk tidak bisa menemani si kembar adalah karena Bella begitu kesal dengan sang suami, ia hanya ingin malas malasan seharian.

"Iya aku salah, Mas minta maaf." Ucap Mas Shaka, ia membuntuti sang istri kesana dan kemari.

"Kamu ngapain ngekor mulu!." Bella kesal, ia mendorong tubuh sang suami untuk menjauh.

HAP

"Mumpung gak ada orang di rumah." Bisik Mas Shaka, sambil memeluk tubuh seksi sang istri.

Tubuhnya kembali dengan cepat setelah ia melahirkan, malah lebih seksi dari sebelumnya, itu sebabnya Mas Shaka lebih bergairah, tapi sudah beberapa hari sang istri marah besar, ia selalu tidur lebih dulu, membuat dirinya harus menahan diri. Kini ia menemukan waktu yang tepat.

"Emangnya kalo sep-." Ocehan Bella berhenti.

Sang suami langsung kepalanya untuk mendekat, kemudian memberi kecupan manis di pipi.

Ia langsung di tangkap dan di bawa ke kamar, namun bukannya membawanya ke kasur, Mas Shaka malah membawanya ke kamar mandi dan mengunci pintu.

"Aku ga-." lagi lagi ucapannya terpotong.

Mas Shaka menyalakan shower, membuat keduanya basah kuyup, Mas Shaka mulai mencium bibir Bella, memancingnya agar bergairah dan berhasil.

"Akh.... ."

Bella langsung luluh, ia merasakan sensasi sejuk dan hangat dari setiap sentuhan suami.

"Akh.. Ah.. Ah..."

Suara Bella menambah kecepatan Mas Shaka, ia akhirnya selesai untuk yang pertama.

"I love you." Kata Mas Shaka.

Bella mengangguk, kedua pipinya merona. Bella pikir setelah ini ia bisa beristirahat, namun Mas Shaka kembali membopong tubuhnya dan membuat Bella mengenakan pakaian seksi miliknya.

"Akh.. ." Bella sampai menggigit sedikit tangannya menahan suaranya, Mas Shaka kembali memanjakan tubuhnya.

Siang hari ini Bella yang berniat beristirahat dengan santai, harus berhadapan dengan suami yang berstamina penuh.

Setelah begitu lama bermain, mereka akhirnya saling mengobrol satu sama dengan dalam, Bella juga menjelaskan alasan kenapa ia marah, begitu juga Mas Shaka yang lebih dulu meminta maaf dan menjelaskan maksud pinjaman.

Bella juga menambahkan bahwa dia memiliki rahasia selama ini, namun Mas Shaka menganggap itu bahwa rahasia tersebut adalah bagian dari masa lalu, sehingga ia menolak untuk mendengar dan menyuruh Bella untuk mendekat dan saling berpelukan, Mas Shaka langsung terlelap.

Sambil memandangi sang suami Bella sesungguhnya menyimpan sisi dirinya yang lain, tapi Mas Shaka mungkin tidak akan percaya.

Waktu menunjukkan pukul dua siang, suara Bella membangunkan Mas Shaka, ia mengenakan pakaian dan menghampiri, ternyata itu kedua anak dan orang tuanya yang baru saja pulang bertamasya.

Bella masih dibiarkan terlelap tidur, anak anak juga langsung pergi ke kamarnya, dengan banyak mainan dan oleh oleh saat bertamasya.

Rasa lelah membuat mereka juga tertidur pulas.

Di dapur Mas Shaka masih mengobrol dengan sang Ibu, ia juga menanyakan perkembangan kasus perampokan toko, tapi Mas Shaka menjawab, jika semuanya sudah beres, dan pelaku sudah tertangkap.

Hari demi hari kemudian, sampai dua sebulan berlalu, kehidupan keluarga kecil Bella sangat bahagia, tidak ada masalah apapun yang datang, kondisi toko kembali ramai seperti semula, dan cabang perusahaan konveksi Mas Shaka juga meroket. Keuangan membaik, begitu juga dengan Gevan dan Edgar si kembar yang kini semakin pintar. Kasus Bu Sundar juga berhasil di menangkan oleh dirinya, maka dari itu sebagai ucapan terimakasih ia memberikan sebuah ruko dua lantai untuk majikannya sebagai ucapan terimakasih dan balas budi.

Siang itu di rumah sakit, dokter tersenyum mengucapkan selamat pada Bella.

"Maksudnya dok?." Bella heran.

"Hasil tespek positif, Ibu bukan lagi masuk angin tapi hamil, untuk pemeriksaan lebih lanjut akan dilakukan USG." Jelas Dokter.

"Tapi saya KB dok." Ucap Bella.

"KB hanya mencegah, tidak sepenuhnya. jadi hal seperti ini memang bisa terjadi."

Tidak tau apakah ia harus gembira atau sedih tapi kedua anaknya yang kembar masih kecil, ia sudah kembali hamil. Mas Shaka di sebelahnya malah begitu antusias dengan kehamilan Bella.

Lirikan tajam sang istri membuat Mas Shaka sedikit kalem, ia kemudian di arahkan untuk melakukan USG.

Sepulangnya dari rumah sakit, Bella lesu, ia memeluk kedua anak kembarnya yang masih kecil dan menangis.

"Ada apa Non, sakit apa?." Tanya Bu Sundar cemas.

Hiks... Hiks... Hiks...

"Mama kenapa?." Kedua kembar tersebut dengan perhatian mengusap pipi sang mama.

Mas Shaka yang muncul di belakang langsung menenangkan.

"Sudah sayang, kita harus bersyukur di kasih amanah, jangan khawatir." Kata Mas Shaka.

Bu Sundar yang langsung paham, langsung tersenyum ia juga ikut menangis karena terharu.

Kehamilan Bella kali ini semakin menambah kebahagiaan, dari keluarga besar. Meski awalnya Bella khawatir tidak bisa mengasuh dengan baik Gevan dan Edgar, tapi lambat laun mereka mengerti bahwa sang mama sedang mengandung adik mereka.

1
sonia
Bagus
sonia
wau sangat unik dan seru cerita nya
Subaru Sumeragi
Thor, aku sudah tidak sabar untuk baca kelanjutannya!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!