Mengisahkan tentang seorang pria yang sudah beristri yang mengalami sebuah kecelakaan hingga mengakibatkan ia kehilangan ingatan dan menikah dengan wanita beda keyakinan.
Akan kah kisah cinta mereka bertahan?
Bagaimana akhir kisah cinta mereka?.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Lubis27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Akhirnya setelah drama panjang di jalanan, sampai lah Albert dan Jesica di sebuah rumah sakit besar di kota.
"Aduh kenapa bangkunya penuh semua?" Albert me. andang kearah bangku di ruang tunggu dokter kandungan yang ternyata penuh semua.
"Apa aku gendong saja biar kamu tidak capek?" Albert melirik Jesica.
"Albert jangan mulai lagi deh, kalau kamu begini terus lebih baik kita pulang saja!" Jesica mulai marah.
"Oke oke, jangan marah. Aku diam. " Ucap Albert pasrah. Untung lah begitu mereka selesai berdebat salah seorang pasien yang juga mengantri di panggil nomor antriannya untuk masuk ke ruangan dokter sehingga Jesica bisa duduk.
Setelah menunggu sekitar satu jam akhirnya giliran nomor antrian Jesica di panggil untuk masuk ke ruangan dokter.
"Akhirnya di panggil juga, ayo sayang kita masuk. " Albert menuntun Jesica seperti layaknya seorang pesakitan.
"Ya ampun Albert aku ini mau periksa kehamilan, bukannya penderita penyakit kronis. Lain kali aku tidak mau pergi sama kamu lagi. " Jesica segera mendorong tubuh Albert lalu berjalan masuk ke ruangan dokter mendahului Albert.
" Jesica tunggu! Pelan-pelan. " Albert buru-buru mengejar Jesica.
"Ada yang bisa saya bantu. " Ucap sang dokter ramah.
"Begini dok, kemarin saya periksa sama dokter desa dan katanya saya hamil terus saya di suruh periksa ke rumah sakit untuk memastikan. " Terang Jesica kepada dokter itu.
"Kalau begitu kita USG ya. Suster tolong mbaknya di bantu untuk USG. " Jesica pun di suruh berbaring di sebuah ranjang untuk melakukan USG. Albert yang tadinya ingin mengatakan sesuatu langsung diam begitu dipelototin oleh Jesica.
Dokter itu melakukan USG terhadap Jesica. "Selamat ya kamu hamil bayi kembar dan sudah memasuki minggu ke 7." Ucap dokter itu.
"Apa dokter kembar?" Albert yang tadinya diam karena pelototan Jesica tetap tidak sabar untuk bicara.
"Iya benar. " Jawab dokter itu. "Puji Tuhan. " Ucap Albert.
"Jesica kamu dengar kita akan punya anak kembar. " Albert begitu bahagia.
"Lalu dokter apa saja yang harus di perhatian?" Albert.
"Untuk trimester pertama jangan lakukan aktivitas yang berat-berat. Dan untuk urusan ranjang tolong dihindari posisi-posisi yang menekan perut dan kalau bisa untuk trimester pertama ini di kurangi. "
Blusss... wajah Jesica langsung berubah merah padam mendengar ucapan dari dokter itu. Rasa ia ingin bersembunyi di dalam sebuah lubang agar tidak bisa di temukan orang sangking malunya.
"Baiklah dokter, lalu apa ada yang lain lagi?" Tanya Albert dengan santainya. Sementara Jesica sudah tidak sabar ingin menarik suaminya itu keluar dari ruangan dokter itu.
"Kondisi ibu dan janin sehat jadi tidak ada hal khusus yang harus diperhatikan hanya saja tensi dari mbaknya sedikit rendah harus lebih banyak istirahat dan makan makanan bergizi nanti saya akan memberikan beberapa vitamin dan buku panduan kehamilan. Dan jangan lupa cek kehamilan secara rutin setiap bulannya. " Ucap dokter itu.
"Maaf permisi sebentar, saya foto anda berdua dulu ya, untuk dokumentasi. " Ucap suster yang tadi membantu Jesica saat akan di USG.
"Oh silahkan. " Ucap Albert tanpa merasa curiga sama sekali.
Suster itu pun segera mengeluarkan handphonenya dan langsung memfoto Albert dan istrinya.
"Sudah selesai. Ini buku panduan kehamilannya dan ini serep vitaminnya silahkan tebus di apotik rumah sakit di sebelah sana. " Perawat itu pun kembali ke ruangan dokter.
"Kenapa kamu memfoto pasangan itu?" Tanya dokter Mela yang merupakan dokter kandungan yang memeriksa Jesica tadi kepada suster yang ternyata adalah teman satu kampus dengannya namun karena keluarganya tidak memiliki cukup biaya dia hanya mengambil jurusan Akademi perawat.
"Dokter Mela apa anda tidak merasa pria tadi itu sangat mirip dengan kak Farhan kakaknya Aisyah. " Ucap suster itu.
"Aisyah teman SMA kita?" Tanya dokter Mela.
"Hmmm... " Suster yang bernama Vina itu mengangguk.
"Lalu memangnya kenapa? Tanya dokter Mela lagi.
"Dokter Mela apa kamu tidak dengar kabar? Katanya kan kak Farhan satu tahun yang lalu hilang terseret arus sungai saat liburan di kampung halaman kakek dan nenek Aisyah. Dan sampai sekarang jasadnya tidak di temukan. Bagaimana kalau ternyata dia adalah kak Farhan. "
Suster Vina memandangi layar handphonenya melihat foto Albert yang baru saja di ambilnya tadi.
"Lihat kan benar-benar mirip. " Ia bergumam sendiri.
"Sudah ayo kembali kerja. Kebanyakan nonton sinetron kamu, Jelas-jelas di KTP namanya Albert beragama Kristen. Bagaimana mungkin bisa jadi kak Farhan. Ada ada saja. " Dokter Mela geleng kepala menganggap suster Vina tidak masuk akal.
Setelah selesai mengambil vitamin Albert langsung membawa Jesica pulang. Padahal Jesica masih ingin berjalan-jalan di kota untuk melihat-lihat suasana kota namun dengan alasan takut Jesica kecapean Albert tidak mengizinkan dan langsung membawanya pulang tentu saja dengan kecepatan mobil yang setara dengan orang berjalan kaki.
Jesica dengan cemberut membuang pandangannya ke luar jendela mobil. Satu persatu di lihatnya sepeda motor mendahului mereka tak lama kemudian terlihat pula seorang pengendara sepeda sedang menggoes sepedanya mendahului mereka membuat hati Jesica semakin panas. Dan akhirnya hal yang membuat kemarahan Jesica tidak terbendung lagi adalah ketika seorang yang sedang berolahraga sore berlari mendahului mobil mereka.
"Albert aku ingin turun!" Jesica mengepalkan tangannya kemudian melotot kearah Albert.
"Shiiiitttt... " Albert langsung mengerem.
"Ada apa sayang apa ada yang tidak nyaman?"
Albert memperhatikan tubuh Jesica kemudian mengelus perut Jesica.
"Ya ada, bahkan sangat tidak nyaman. " Berkata dengan nada keras.
"Jesica jangan marah-marah tidak baik untuk calon anak kita. Bicara baik-baik ya. "
"Bagaimana aku tidak marah kamu lihat itu bahkan pejalan kaki saja bisa mendahului kecepatan mobil ini, mau jam berapa kita sampai di rumah? Aku sudah capek. " Masih dengan Nanda tinggi.
"Oke jangan marah aku bakal tambah kecepatannya, jangan marah lagi ya. "Mengeluh lembut tangan Jesica namun langsung di tepis oleh Jesica.
"Ini kah yang di katakan tambah kecepatan. " Jesica menghela nafas namun sudah malas untuk berdebat karena ternyata menambah kecepatan yang di maksud oleh Albert masih tidak lebih kencang dari seorang pengendara sepeda goes.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang masih penuh drama Jesica dan Albert sampai di rumah.
Jesica langsung masuk ke kamar dan berbaring di ranjang.
"Sayang mau mandi air hangat? biar aku siapkan. "
"Jangan ganggu aku, aku mau tidur. " Jesica langsung mengubur diri di bawah selimut.
Albert duduk di ruang tamu sambil membaca buku panduan kehamilan.
"Oh ternyata mood ibu hamil itu gampang berubah-ubah, pantas dia marah-marah terus. " Albert ngangguk-ngangguk sendiri seolah sudah memahami sesuatu.