Kehidupan kampus Sheyra selalu berjalan lancar dan tenang sebelum ia bertemu pria menyebalkan bernama Alvaro. Alvaro adalah seorang duda anak 1 yang tinggal berdua dengan anaknya. Di mata Sheyra, Alvaro merupakan pria berhati dingin, egois, dan jahat. Namun pandangan itu seketika runtuh ketika Sheyra melihat sisi lain Alvaro ketika bersama anaknya.
Takdir seolah membawa mereka untuk terus bertemu dan bertemu. Hingga akhirnya membuat cinta tumbuh di antara keduanya. Namun jatuh cinta tidaklah mudah. Masalah demi masalah selalu datang untuk menguji kekuatan cinta mereka.
Mulai dari Alvaro yang minder dengan statusnya, Sheyra sang pencemburu buta, seseorang dari masa lalu, restu keluarga hingga trauma berat Alvaro atas kematian istrinya.
Akankah keduanya bisa mengatasi permasalahan tersebut demi mempertahankan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzZura02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 - Sebuah Gambar
“Boleh kan ngobrol bentar Shey?” Alvaro kembali mengulang pertanyaannya karena sejak tadi Sheyra belum menjawab apapun.
Seketika lamunan Sheyra buyar, “Ah oh okee.” jawab Sheyra gugup. Ia mengelus tengkuknya salah tingkah dan bingung dengan perilaku Alvaro yang berbeda dari biasanya.
“Ada apa ya mereka?”
”Ada hubungan apa ya?”
”Lagi pdkt?”
”Sheyra dan Alvaro?”
Suara bisik-bisik terdengar samar di telinga Sheyra. Sheyra langsung menoleh ke sekelilingnya. Ia menyadari banyak pasang mata yang memperhatikan ke arahnya. Sejak awal Alvaro memang selalu menarik perhatian sekitar. Apalagi dengan sikapnya yang tiba-tiba seperti ini pasti akan menimbulkan gosip. Sheyra menghela nafas. Ah, melelahkan. Ia tidak ingin menghadapi gosip-gosip murahan seperti ini.
“Ikut gue.” ajak Alvaro sebelum ia membalikkan badan meninggalkan Keisha dan Sheyra di belakangnya.
Tanpa menjawab apapun, Sheyra langsung mengikuti Alvaro dari belakang. Sedangkan Keisha masih duduk mematung di kursinya. Ia menatap kepergian Sheyra dengan banyak pertanyaan.
Alvaro membawa Sheyra ke taman yang tidak jauh dari ruang kelasnya. Alvaro menghentikan langkahnya sehingga membuat Sheyra ikut berhenti. Alvaro membalikkan badan sehingga membuat dirinya dan Sheyra kini berdiri saling berhadapan.
Sesekali Alvaro melirik ke arah lain sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Cowok itu tampak gugup dan bingung untuk memulai obrolan. Alvaro tampak sedang berpikir dan merangkai kata-kata yang akan ia ucapkan.
“Anu, maaf Shey kalo tiba-tiba ngajak lo ke sini.” kata Alvaro pada akhirnya.
Sheyra segera menjawab, “Oh iya gapapa. Santai aja kali.”
“Duh gimana ya gue ngomongnya.”
Sheyra menatap Alvaro dengan penasaran. Memangnya apa yang ingin cowok itu katakan padanya? Kenapa terlihat sangat gugup sekali? Sedang tidak ada masalah kan?
“Anu.. maaf kalo kesannya ikut campur atau sok pengen tahu urusan lo.” Alvaro melanjutkan ucapannya.
Sheyra mengangkat sebelah alisnya heran. Ia semakin penasaran dengan tujuan Alvaro, tentang apa yang ingin cowok itu katakan. “Iya, emangnya ada apa Al?”
“Lo belakangan ini gak datang ke daycare ya?”
Sheyra langsung paham arah obrolan Alvaro. Ternyata terkait daycare. Hal itu berhasil menghilangkan penasaran Sheyra. “Ah iya, gue emang lagi ambil libur.”
“Kapan masuk lagi?” tanya Alvaro lagi.
“Nanti sepulang kampus.”
Alvaro tersenyum kecil, “Gitu ya.. makasih udah jawab.”
“Emangnya kenapa Al?” tanya Sheyra penasaran.
“Itu… Lyra, anak gue.. dia kelihatan sedih belakangan ini. Gue tanya katanya karena Kak Ei gak ada. Dia kelihatan gak semangat gitu. Mangkannya gue tanyain ini ke lo.” jelas Alvaro.
Sheyra membulatkan matanya. Ekspresinya menjadi lebih antusias ketika mendengar nama Lyra. Dia sangat merindukan Lyra. Sheyra senang ternyata Lyra juga merindukannya. Ia menjadi tidak sabar untuk bertemu Lyra nanti.
“Begitu ya.. jadi kangen Lyra.” kata Sheyra.
Alvaro menambahkan, “Kata Lyra ada sesuatu yang pengen dia tunjukin ke lo.”
“Serius?!” seru Lyra riang.
Alvaro mengangguk mengiyakan. Mendengar ucapan Alvaro membuat Sheyra semakin penasaran. Apa yang ingin Lyra tunjukkan padanya? Sheyra akan segera mendapatkan jawaban ketika pergi ke daycare nanti.
***
“Kak Shey!”
”Kakak dari mana aja?”
”Kangen Kakak!”
Sheyra tersenyum cerah ketika memasuki kelas dan semua anak berlari menyambut kedatangannya. Sheyra memeluk semua anak yang ada di sana. Ia menyapa anak-anak itu satu persatu dan membalas pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan.
“Kak Shey kangen aku tidak?” tanya seorang anak laki-laki.
“Kangen dong!” Seru Sheyra riang.
“Kalo aku?” tanya anak yang lainnya.
“Kangen juga!” jawab Sheyra.
“Aku! Aku kakkk???” teriak anak lainnya.
“Dengar. Kak Shey kangen kalian semua!” kata Sheyra sambil tertawa kecil. Anak-anak yang sangat lucu.
Sheyra mendapati Lyra yang berdiri di sebelahnya. Gadis kecil itu terlihat malu-malu sambil memegang ujung rok Sheyra agar Sheyra melihat ke arahnya. Sheyra memberikan senyuman manisnya kepada Lyra. Dengan segera Lyra ikut membalas senyuman Sheyra.
“Lucunyaaa.” puji Sheyra sambil mengelus pipi chubby Lyra pelan.
Sheyra duduk di depan Lyra. Ia menatap wajah Lyra dengan seksama. ‘Begitu mirip dengan Al.’ ucapnya dalam hati. Kini Sheyra tidak lagi peduli siapa orang tua Lyra. Yang pasti sejak awal bertemu, ia sudah sangat menyayangi Lyra. Ia sudah memantapkan hati untuk berhenti peduli dan berhenti memikirkan Alvaro. Ia menganggap bahwa perasaannya kemarin tidak pernah ada.
“Katanya Lyra punya sesuatu ya buat Kak Shey?” tanya Sheyra sembari tersenyum penuh selidik.
Lyra terlihat malu-malu. Sepertinya Lyra bingung karena Sheyra tiba-tiba tahu bahwa ia memiliki sesuatu untuk Sheyra. Lalu Lyra mengangguk pelan.
“Mana?” Sheyra terlihat antusias. Ia mengamati sekeliling Lyra seolah mencari tahu di mana letak Lyra menyembunyikan hadiah untuknya.
Lyra mendekatkan dirinya kepada Sheyra. Ia berbisik di telinga Sheyra, “Nanti ya Kak ei.”
“Lucunya.” gumam Sheyra. “Okeyyy, Kak Shey tunggu ya. Kakak udah gak sabar banget pengen lihat. Lyra mau ngasih saat teman-teman sudah pulang?”
Lyra mengangguk, “Iya.”
“Kalo gitu oke deh.”
Setelah itu Sheyra mulai fokus mengurus anak-anak yang ada di daycare. Ia membantu mereka belajar, menemani bermain, menemani saat jam tidur sampai membantu mereka buang air kecil maupun buang air besar. Cukup melelahkan dan menguras energi namun anehnya Sheyra tidak merasa lelah. Hal itu dikarenakan ia sangat menikmati pekerjaannya. Melakukan pekerjaan yang ia sukai, tidak akan membuatnya merasa lelah atau bosan.
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Langit sudah terlihat gelap tanda malam sudah datang. Seperti biasa semua anak-anak sudah pulang menyisakan Lyra sendirian. Kali ini Sheyra menemani Lyra di dalam ruang kelas, sedangkan Mawar sudah berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Alvaro selalu menjemput Lyra dengan telat. Sheyra berpikir mungkin karena Alvaro sedang sibuk bekerja sehingga sering terlambat menjemput. Oleh karena itu ia memakluminya.
Lyra terlihat merogoh tasnya seperti sedang mencari sesuatu di dalam sana. Sheyra memperhatikannya dengan penasaran, “Sekarang mau tunjukin?” tanya Sheyra memastikan.
Sudut bibir Lyra terangkat membentuk senyuman yang begitu manis, “Iya.”
Lyra mengeluarkan sebuah kertas yang ia gulung rapi lalu membuka gulungan itu dengan hati-hati. Di kertas tersebut menampilkan sebuah gambar yang Lyra gambar beberapa minggu yang lalu.
Sheyra melihat Lyra dengan bingung namun juga penasaran. Sebenarnya apa yang gadis kecil itu ingin tunjukkan? Sheyra mengenali gambar di kertas. Sebuah gambar yang pernah Sheyra lihat. Gambar sebuah keluarga kecil lengkap dengan Ayah, Ibu dan seorang anak perempuan. Apa maksudnya? Apakah Lyra ingin menunjukkan hasil akhirnya?
“Gambar Lyra bagus yaa. Anak pintar.” puji Sheyra sembari mengelus puncak kepala Lyra.
Lyra tersenyum mendengar pujian Sheyra, “Makacih Kak Ei.” Lyra menunjuk coretannya dengan jari telunjuk. “Ini Papah.”
Sheyra mengangguk mengerti. Lalu Lyra menunjuk coretan yang lain, “Ini Ira.”
“Wah Lyra cantik ya di sini.” komentar Sheyra.
“Makacihh.” jawab Lyra kemudian ia kembali melanjutkan aktivitasnya. Ia menunjuk coretan lainnya. “Ini Kak Ei.” ucapnya sambil tersenyum polos.
Sheyra membelalakkan matanya terkejut. Ia bingung dengan maksud Lyra. “Ini yang benar gambar Mama Lyra. Kalo ini Kak Shey, terus Mama Lyra di mana?” tanya Sheyra heran. Umumnya gambar keluarga terdiri dari Ayah, Ibu dan Anak. Namun mengapa Lyra memasukkan dirinya yang bukan anggota keluarganya ke gambar itu?
“Mama?” Lyra mengulang pertanyaan Sheyra. Lalu ia melanjutkan ucapannya, “Mama ada. Mama di sini.” katanya menunjuk sebuah coretan yang berada paling atas dekat dengan pojok kertas.
Saat itu lah Sheyra baru menyadari bahwa ada sebuah gambar coretan di atas. Sedari tadi ia tidak fokus melihat ke sana. Ia mengira Lyra hanya salah meletakkan coretan.
“Kenapa Mama di taruh di situ Nak?” Sheyra menatap Lyra dengan penuh perhatian.
“Kan Mama Ira di surga. Kata Papa, surga ada di atas.” jawab Lyra polos. Senyum terlukis di wajah anak kecil itu.
Deg! Sheyra tidak bisa menutupi keterkejutannya mendengar jawaban Lyra. Ia menatap gadis kecil itu dengan tatapan bingung. Apa yang sedang ia dengar ini? Apa maksudnya?
“Ira!” seru Alvaro memanggil nama Lyra. Cowok itu tiba-tiba muncul dari balik pintu sehingga membuat perhatian Sheyra dan Lyra tertuju padanya.
Alvaro dengan cepat menghampiri Lyra. Ia melihat gambar yang dibuat Lyra. Lalu lima menit kemudian perhatiannya tertuju kepada Sheyra yang terlihat sedang bingung. Alvaro mendengar semuanya. Mendengar perkataan yang anaknya ucapkan. Hatinya terasa sedih. Ia tidak tahu bahwa hadiah yang dipersiapkan anaknya untuk Sheyra adalah gambar seperti ini. Hal itu karena Lyra menolak untuk menunjukkannya. Katanya saat itu, “ini rahasia, Papa.”
^^^Bersambung… ^^^
Gambar Lyra.