Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.
Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.
Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.
Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Pertemuan di Bawah Hujan
Langit malam di atas distrik komersial kota tiba-tiba berubah kelam. Awan mendung berarak cepat, menutupi pendar cahaya bulan sebelum akhirnya ribuan tetes air hujan tumpah membasahi jalanan aspal yang masih panas. Deru kendaraan berlomba membelah malam, sementara para pejalan kaki berhamburan mencari tempat berteduh dari amukan badai yang datang tiba-tiba.
Di seberang jalan utama, di bawah naungan kanopi kaca sebuah kedai kopi mewah yang mulai sepi pengunjung, Lu Jingyan berdiri terpaku. Pandangan matanya menembus tirai air hujan yang lebat, tertuju tajam pada sosok seorang wanita yang berdiri seorang diri di halte bus terbuka tak jauh dari posisinya.
Lin Meiying.
Wanita itu mengenakan jaket kain tipis yang sudah basah di bagian bahunya. Tangannya mendekap erat sebuah amplop cokelat berisi dokumen lamaran pekerjaan yang ia lindungi dengan tubuhnya sendiri agar tidak rusak terkena air. Hari ini, Meiying mendatangi beberapa tempat demi mencari pekerjaan baru setelah ancaman pengusiran kontrakan berhasil ditunda sementara oleh intervensi anonim rumah sakit. Namun, pintu-pintu kantor seolah tertutup rapat bagi seorang wanita paruh baya tanpa latar belakang pendidikan tinggi dan dengan beban hidup yang menumpuk di pundaknya.
Jingyan mengepalkan tangannya di balik saku mantel panjang berwarnanya. Di dalam mobil mewahnya yang terparkir beberapa meter di belakang, Sekretaris Han memegang payung hitam besar, siap melangkah keluar kapan pun atas perintah sang atasan.
"Tuan Muda, cuaca semakin buruk. Apa sebaiknya kita menjemputnya atau mengirim kendaraan lain untuk mengantar Nyonya Meiying pulang?" tanya Sekretaris Han hati-hati dari balik kaca jendela mobil yang terbuka setengah.
Jingyan menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun. "Tidak. Biarkan aku di sini."
Ia tidak bisa mendekat terlalu cepat. Setiap interaksi langsung yang terlalu sering justru akan memancing kecurigaan Meiying, terutama setelah insiden tegang di lift rumah sakit beberapa waktu lalu. Namun, melihat wanita yang paling dicintainya berdiri menggigil seorang diri di tengah badai membuat dada Jingyan terasa sesak oleh rasa bersalah yang luar biasa.
Di halte bus yang sempit, Meiying menggosok kedua telapak tangannya yang dingin untuk menghangatkan diri. Bus kota yang seharusnya sudah tiba sejak sepuluh menit lalu tak kunjung menampakkan batang hidungnya di tengah kemacetan kota. Ia menunduk, menarik napas panjang untuk menahan rasa lelah yang merayap di seluruh persendian tubuhnya. Hidupnya terasa begitu berat, seolah semesta sedang berkomplot untuk meremukkan sisa-sisa kewarasannya.
Tiba-tiba, sebuah payung hitam besar terbentang lebar di atas kepalanya, melindungi tubuhnya dari terjangan air hujan yang sedari tadi menderu.
Meiying terperanjat kaget. Ia mendongak cepat, mendapati seorang pria berjas rapi berdiri di sampingnya. Pria itu bukan Lu Jingyan, melainkan Sekretaris Han yang tersenyum ramah namun tetap menjaga jarak hormat.
"Maaf mengganggu Anda, Nyonya Meiying," ucap Sekretaris Han sopan sambil menunjuk ke arah mobil sedan mewah ber-AC yang terparkir di dekat trotoar. "Atasan kami kebetulan melintas dan melihat Anda terjebak hujan. Anda dipersilakan naik ke kendaraan untuk berteduh sementara waktu."
Meiying mundur selangkah, sorot matanya langsung menyipit penuh kecurigaan. Pengalaman pahit selama setahun belakangan mengajarkannya untuk tidak pernah percaya pada kebaikan mendadak dari orang-orang kaya raya berjas mewah.
"Terima kasih atas tawaran Anda, tapi saya tidak kenal dengan atasan Anda," jawab Meiying dingin, suaranya terdengar tegas meskipun tubuhnya bergetar kedinginan. "Dan saya tidak membutuhkan belas kasihan dari orang-orang Lu Group."
Mendengar penolakan keras itu, Sekretaris Han sedikit tersenyum kikuk, menyadari betapa dalam kebencian wanita di hadapannya terhadap korporasi tempatnya bekerja. Sebelum Sekretaris Han sempat merangkai kata-kata penolakan untuk meredakan ketegangan, pintu mobil di seberang jalan terbuka perlahan.
Jingyan melangkah keluar dari dalam mobil tanpa menggunakan payung. Jas mewahnya langsung basah diguyur hujan lebat, tetapi ia tidak memperdulikannya. Langkah kakinya yang tegap membawanya menyeberangi jalanan basah, mendekati halte tempat Meiying berdiri.
Meiying terpaku saat melihat siapa yang keluar dari mobil tersebut. Direktur utama Lu Group—pria arogan yang ia temui di lift rumah sakit beberapa hari lalu—kini berdiri di hadapannya di tengah badai malam, dengan air hujan yang mengalir membasahi rambut hitam dan garis rahangnya.
"Kenapa kalian terus mengikuti dan memperhatikanku?!" suara Meiying meninggi, memendam amarah dan keputusasaan yang meluap-luap. Ia menatap Jingyan dengan mata berkaca-kaca penuh luka. "Apa belum cukup kehancuran yang kalian berikan pada keluargaku? Apa kalian ingin merampas apa lagi dari hidupku?!"
Jingyan berhenti tepat dua langkah di hadapan Meiying. Bau khas air hujan bercampur aroma mahoni yang sangat dirindukannya menguar di udara. Melihat wanita di depannya menangis di bawah badai demi mempertahankan sisa-sisa harga diri membuat pertahanan emosional Jingyan hampir runtuh seketika.
Ia ingin merengkuh tubuh basah itu ke dalam pelukannya, menghapus setiap air mata yang jatuh, dan berbisik bahwa suaminya telah kembali. Namun, rantai tak kasat mata dari sang penjaga jiwa mengikat lidahnya rapat-rapat.
“Kau dilarang keras mengungkap identitas aslimu... Jiwamu akan lenyap seketika.”
Jingyan menelan ludah yang terasa kelat. Ia memaksakan ekspresinya tetap dingin, menatap Meiying dengan sorot mata yang menyembunyikan rasa sakit yang teramat sangat.
"Aku tidak berniat merampas apa pun darimu, Nyonya Meiying," ucap Jingyan berat, suaranya nyaris tenggelam oleh deru air hujan yang semakin lebat. Ia membuka mantel mewahnya sendiri, lalu menyampirkannya pelan ke atas bahu Meiying yang basah dan menggigil. "Dunia ini mungkin memperlakukanmu dengan tidak adil. Tapi kumohon... hargailah tubuhmu sendiri. Masih ada anak yang menunggumu pulang di rumah."
Meiying tertegun hebat. Sentuhan hangat dari mantel berharga fantastis itu menyelimuti tubuhnya yang kedinginan. Ia menatap lekat-lekat ke dalam bola mata Jingyan, mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah sebuah samudra kepedihan yang begitu dalam—sorot mata yang terasa begitu akrab, seolah ia sedang menatap jiwa seseorang yang sangat ia kenal dari masa lalu.
Sebelum Meiying sempat mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas, sebuah taksi kosong berhenti tepat di depan halte atas isyarat tangan Sekretaris Han.
"Masuklah ke taksi itu," ujar Jingyan datar, setengah berbalik badan untuk menghindari tatapan menyelidik Meiying. "Perjalananmu pulang malam ini sudah dibayar lunas."
Tanpa menunggu jawaban, Jingyan melangkah pergi menerobos hujan menuju mobilnya yang menunggu di seberang jalan, meninggalkan Meiying yang berdiri mematung di halte dengan mantel basah yang masih membungkus erat tubuhnya, serta ribuan pertanyaan berkecamuk di dalam kepalanya yang penat.