Indonesia
NovelToon NovelToon
14 Days

14 Days

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:751
Nilai: 5
Nama Author: justjeha

Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.

Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.

Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

If We Were Destined

"Apakah saya sudah benar-benar meninggal?"

Lelaki itu berdiri terpaku di sebuah tempat yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.

Tidak ada rumah sakit. Tidak ada rasa sakit yang selama ini memenuhi tubuhnya. Hanya hamparan ruang luas berwarna putih dengan cahaya yang terasa begitu menyilaukan.

Ia menatap kedua tangannya. Tubuhnya masih terlihat sama. Namun, ketika ia menoleh ke belakang, ia melihat sesuatu yang membuat tubuhnya membeku. Tubuhnya sendiri sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit.

"Apakah saya sudah benar-benar meninggal?"

"Memangnya kamu tidak bisa melihat kalau rohmu sudah keluar dari tubuhmu?"

Suara seorang wanita tua terdengar dari belakang. Lelaki itu langsung berbalik. Wanita tua yang pernah ditemui Ara di toko buku berdiri di sana dengan wajah datar.

"Jadi... saya sudah mati?"

"Kalau kamu masih hidup, untuk apa rohmu ada di sini?"

Lelaki itu menundukkan kepalanya. Ia tahu jawabannya. Namun, masih ada satu hal yang membuatnya tidak rela pergi.

"Saya belum bisa pergi seperti ini."

Wanita tua tersebut mengangkat sebelah alis.

"Bisa-bisanya masih menawar setelah mati."

"Bisakah Nyonya mengabulkan satu permintaan saya?"

"Nyonya?"

Wanita tua itu mendengus.

"Kamu memanggilku Nyonya? Kamu menganggapku manusia, hmm?"

"Maaf. Saya tidak tahu harus memanggil Anda dengan sebutan apa."

"Hah! Terserah."

Wanita tua itu melipat kedua tangannya di depan dada.

"Apa permintaanmu?"

"Saya ingin menemui seseorang yang saya cintai."

Ia menarik napas panjang.

"Kalau boleh... saya ingin menemuinya lewat mimpinya. Ada sesuatu yang belum sempat saya katakan kepadanya. Dan saya menyesalinya."

Wanita tua tersebut terdiam. Ia memperhatikan lelaki itu cukup lama, seolah sedang mempertimbangkan apakah permintaan tersebut layak dikabulkan. Akhirnya, ia menghela napas.

"Hanya lima menit."

Lelaki itu mendongak.

"Benarkah?"

"Lima menit. Setelah itu, kamu harus kembali ke sini dan pergi ke tempat yang seharusnya."

"Baik."

Ia tersenyum kecil.

"Terima kasih banyak."

...---...

"Ara?"

Suara yang begitu familiar terdengar di dalam mimpi Ara.

"Ara, bangun, Ra."

Ara perlahan membuka matanya. Namun, ketika melihat sosok yang berdiri di hadapannya, tubuhnya seketika membeku.

"Bara?"

Bara tersenyum.

"Kok kamu bisa ada di sini?"

Ara menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Bukannya kamu udahㅡ"

"Aku kangen sama kamu, Ra."

Bara memotong kalimatnya.

"Maaf karena aku ninggalin kamu lebih dulu."

Ia menundukkan kepalanya.

"Padahal aku pengin ngomong sesuatu sebelum pergi. Tapi ternyata aku nggak punya kesempatan."

Bara menatap Ara dengan penuh penyesalan.

"Aku takut bikin kamu semakin sedih kalau kamu tahu."

Air mata Ara langsung jatuh.

"Jujur, aku juga pengin ngomong sesuatu sama kamu."

Ara memukul dada Bara pelan.

"Tapi kamu jahat!"

Tangisnya pecah.

"Jahat banget karena udah ninggalin aku begitu aja!"

"Maaf, Ra."

Bara tersenyum sedih.

"Sebenernya... aku udah suka sama kamu sejak dulu."

Ia mengusap air mata Ara.

"Maaf kalau selama ini aku selalu ngusilin kamu."

Ara terdiam.

"Aku juga."

Tangisnya semakin deras.

"Aku juga punya perasaan yang sama kayak kamu. Aku juga udah suka sama kamu sejak dulu."

Ara menundukkan wajahnya.

"Maaf karena aku pernah benci sama kamu dan malah ngejauhin kamu. Padahal aku sayang banget sama kamu."

Bara hanya mampu tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia bisa memeluk Ara. Meskipun hanya melalui mimpi.

Pelukan itu terasa begitu nyata hingga Bara berharap waktu bisa berhenti. Namun, ia tahu waktu tidak akan pernah menunggunya.

"Jangan pergi."

Ara memeluknya semakin erat.

"Kumohon, jangan pergi."

Bara memejamkan mata.

"Gak bisa, Ara."

Ia melepaskan pelukannya perlahan.

"Tempatku bukan di sini lagi."

Bara tersenyum meskipun air matanya ikut jatuh.

"Sekarang aku pamit, ya, sayang."

"Bara!"

Sosok Bara perlahan menghilang dari hadapan Ara. Ara berusaha meraihnya. Namun, tangannya hanya menangkap udara kosong.

"Bara!"

Suara tangisan Ara menggema di dalam mimpi. Bara kembali berdiri di hadapan wanita tua tersebut. Air mata masih membasahi wajahnya.

Ia menundukkan kepala. Kini penyesalannya semakin dalam. Ia baru mengetahui bahwa Ara ternyata juga mencintainya.

Ia baru mengetahui bahwa selama ini mereka sama-sama menyimpan perasaan. Dan ia harus pergi setelah mengetahui semuanya.

"Sekarang kamu menyesal dan tidak mau pergi?"

Bara mengangguk.

"Tidak bisakah saya diberi kesempatan?"

Wanita tua itu menatapnya.

"Kesempatan?"

"Beberapa hari saja. Tiga hari pun cukup. Saya hanya ingin membahagiakannya."

Wanita tua tersebut menghela napas panjang.

"Kalian manusia memang selalu seperti ini."

Ia berjalan mondar-mandir.

"Ketika hidup, kalian menyia-nyiakan waktu. Setelah mati, baru meminta waktu tambahan."

Bara tidak menjawab. Ia hanya menunggu.

"Aku bisa memberimu kesempatan."

Mata Bara langsung berbinar.

"Tapi ada syaratnya."

"Saya bersedia."

"Kamu belum tahu syaratnya."

"Apapun itu, saya bersedia."

Wanita tua itu tersenyum tipis.

"Baik. Cukup tiga hari?"

Bara menggeleng.

"Kalau boleh... saya ingin lebih lama."

"Serakah. Baiklah. Aku akan memberimu waktu empat belas hari."

Bara membeku.

"Empat belas hari?"

"Iya. "Empat belas hari sejak kamu kembali. Setelah hari keempat belas berakhir, waktumu selesai."

"Apakah saya bisa kembali hidup?"

Wanita tua itu mengangkat satu jari.

"Pertama, penyakitmu tetap akan ada selama empat belas hari itu."

Bara terdiam.

"Kedua, kamu tetap akan mati pada akhir hari keempat belas."

Wajah Bara berubah.

"Jadi saya akan mati lagi?"

"Kalau kamu gagal memenuhi syarat yang kuberikan."

"Apa syaratnya?"

Wanita tua itu tersenyum samar.

"Selama empat belas hari, buatlah Ara bahagia."

Bara mengangguk.

"Bangun kembali hubungan kalian. Buat dia menerima cintamu dengan tulus."

Wanita tua itu menatapnya tajam.

"Dan kalau pada akhirnya dia memilihmu sebagai pasangan hidupnya, bahkan sampai bersedia menikah denganmu...aku akan mempertimbangkan untuk mengubah takdirmu."

Bara menatapnya tidak percaya.

"Bagaimana caranya saya bisa membuatnya menikah dengan saya dalam waktu empat belas hari?"

"Itu urusanmu. Aku hanya memberikan kesempatan. Cara menggunakannya adalah tanggung jawabmu."

Bara mengangguk.

"Tidak masalah. Meskipun saya harus meninggal lagi, saya tetap berterima kasih karena sudah memberi saya kesempatan."

Wanita tua itu kembali serius.

"Dan ada satu aturan terpenting. Jangan pernah memberi tahu Ara tentang perjalanan waktumu. Karena aku ingin perasaan kalian tetap murni."

Wanita tua itu menatapnya.

"Aku tidak ingin Ara mencintaimu hanya karena dia tahu bahwa kamu akan mati."

Bara terdiam.

"Kalau dia tahu bahwa semua ini hanya memiliki batas waktu, dia mungkin akan mengambil keputusan karena rasa takut kehilangan. Aku ingin dia memilihmu karena memang mencintaimu."

Bara mengangguk pelan.

"Saya mengerti."

Wanita tua itu tersenyum.

"Bagus."

Namun, ia menyembunyikan satu hal dari Bara.

Karena aku juga berniat memberinya kesempatan untuk kembali ke masa lalu. Aku ingin melihat bagaimana kisah cinta kalian berjalan jika kalian berdua diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan masing-masing. Sepertinya akan menarik.

...---...

Dan ternyata, bukan hanya Bara yang diberi kesempatan. Ara juga kembali ke masa lalu. Keduanya kembali pada rentang waktu yang sama, tetapi melalui jalur yang berbeda.

Ara menggunakan ramuan ajaib untuk melakukan perjalanan waktu. Sementara Bara kembali karena mendapat izin langsung dari sang penjaga waktu.

Sejak awal pertemuannya dengan Ara, Bara hanya bisa kembali menjahilinya. Ia masih kebingungan bagaimana cara mendekati perempuan yang selama ini ia cintai.

Ia tidak tahu bahwa di sisi lain, Ara juga sedang berusaha mendekatinya. Hingga beberapa hari kemudian, Ara melihat Bara mimisan. Hal itu membuat Bara semakin menjauh.

Ia takut Ara mengetahui penyakitnya. Ia takut Ara akan menghabiskan empat belas hari itu dengan menangis. Ia ingin Ara bahagia.

Namun, Bara tidak pernah tahu bahwa Ara sudah mengetahui semuanya. Ara telah mengetahui tentang penyakitnya. Ara juga tahu bahwa Bara seharusnya meninggal pada hari keempat belas. Karena itulah Ara terus berusaha mendekatinya.

Perlahan, dinding yang selama ini mereka bangun runtuh. Bara mulai menerima Ara. Ara juga mulai menerima Bara. Hingga akhirnya, keduanya saling mengakui perasaan.

Dan tanpa mereka sadari, empat belas hari yang awalnya hanya berisi penyesalan berubah menjadi rangkaian kenangan yang tidak pernah mereka miliki sebelumnya.

Bara berhasil membuat Ara bahagia. Ia berhasil mendapatkan cinta Ara. Dan pada akhirnya, ia bahkan berhasil menikahi perempuan yang selama ini ia cintai.

Namun, selama empat belas hari itu, Bara tetap merahasiakan satu hal. Ia tidak pernah memberi tahu Ara bahwa dirinya juga melakukan perjalanan waktu.

Hanya Marissa yang akhirnya mengetahui rahasia tersebut. Bara terpaksa menceritakan semuanya kepada kakaknya karena ia membutuhkan seseorang yang bisa membantunya menjalani empat belas hari terakhir itu.

Marissa menjadi satu-satunya orang yang mengetahui alasan sebenarnya di balik semua tindakan Bara. Dan ia memilih untuk membantu adiknya.

...---...

Empat belas hari akhirnya berlalu. Bara kembali berdiri di hadapan wanita tua tersebut. Kali ini, wajahnya jauh lebih tenang.

"Bagaimana?"

Wanita tua itu melipat kedua tangannya.

"Sudah puas menjalani empat belas harimu?"

Bara mengangguk.

"Sudah."

"Sudah berhasil membuatnya bahagia?"

"Sudah."

"Sudah berhasil menikahinya?"

Bara tersenyum.

"Sudah."

"Sudah siap menerima konsekuensinya?"

Bara terdiam sejenak. Kemudian mengangguk.

"Sudah."

"Bagus."

Wanita tua itu berbalik.

"Kalau begitu, bersiaplah untuk kembali."

Bara membeku.

"Tapi saya sudah berhasil."

"Aku tahu."

"Saya berhasil membuat Ara bahagia. Saya juga berhasil menikahinya."

"Aku juga tahu."

Bara menundukkan kepalanya. Ia sempat berharap keberhasilannya akan membuatnya bisa kembali hidup bersama Ara. Namun, mungkin itu memang bukan bagian dari kesepakatan.

Ia harus menerima kenyataan bahwa empat belas hari tersebut hanyalah kesempatan kedua untuk memperbaiki penyesalannya.

"Jadi... saya tetap harus pergi?"

Wanita tua itu menatapnya.

"Sudah bahagia?"

"Sudah."

"Sudah mendapatkan cintanya?"

"Sudah."

"Kalau begitu, apa lagi yang kamu inginkan?"

Bara menghela napas.

"Saya hanya ingin hidup bersamanya."

Wanita tua itu tersenyum kecil.

"Justru itu yang akan kuberikan."

Bara mendongak.

"Apa?"

"Karena aku melihat ketulusan cinta kalian berdua, aku akan mengabulkan keinginan kalian."

Mata Bara membesar.

"Jadi... saya akan hidup?"

"Iya."

"Saya akan kembali ke masa depan?"

"Iya."

Bara hampir tidak percaya.

"Lalu penyakit saya?"

"Aku akan menghapusnya."

Bara terdiam.

"Benarkah?"

"Jangan membuatku mengulang perkataan."

Bara tersenyum lebar.

"Terima kasih."

Ia membungkukkan tubuhnya berkali-kali.

"Terima kasih banyak."

Wanita tua itu menggeleng.

"Doa wanitamu itu juga sangat menggangguku. Daripada dia terus-terusan menyebut namamu dalam doanya, lebih baik kukabulkan sekalian."

Bara tersenyum.

"Jadi Ara juga akan mendapatkan kesempatan untuk hidup bersamaku?"

Wanita tua itu tidak langsung menjawab.

"Anggap saja aku sedang berbaik hati."

Kemudian ia mengangkat tangannya.

"Namun, ada satu hal lagi."

"Apa?"

"Aku akan memberikan hadiah kepada kalian."

Bara mengerutkan kening.

"Hadiah?"

"Cari tahu sendiri setelah kalian kembali."

Bara tersenyum.

"Baik."

Ia mengusap air matanya.

"Terima kasih banyak."

Wanita tua itu menghela napas.

"Sudahlah. Jangan menangis terus."

Bara tertawa kecil.

"Saya hanya terlalu bahagia."

Ia kemudian terdiam sejenak.

"Saya berjanji akan selalu menjaganya."

Bara menundukkan kepala.

Terima kasih karena sudah membantuku. Aku mencintaimu, Ara.

"Aku bisa mendengar isi pikiranmu, bodoh!"

Bara langsung terkejut.

"Ah... iya. Maaf. Saya hanya merasa bahagia karena Anda membawa Ara kembali ke masa lalu juga."

"Sudahlah."

Wanita tua itu mengibaskan tangannya.

"Sekarang bersiaplah kembali ke tubuhmu."

Bara mengangguk. Namun, sebelum pergi, ia teringat sesuatu.

"Boleh saya bertanya?"

"Apa lagi?"

"Apakah saya boleh membawa buku harian Ara ke masa depan?"

Wanita tua itu menatapnya sebentar.

"Silakan."

Bara tersenyum lega.

"Hmm..."

Ia berpikir sejenak.

"Boleh saya bertanya satu pertanyaan lagi?"

Wanita tua itu menghela napas panjang.

"Menyusahkan sekali kamu ini. Ya sudah, apa?"

"Apakah Ara juga sudah kembali ke masa depan?"

Wanita tua itu tersenyum misterius.

"Kamu harus mencari tahu sendiri. Tidak akan seru kalau aku memberikan semua jawaban dengan mudah."

Wanita tua itu berjalan mendekatinya.

"Intinya, ketika kamu bangun nanti, situasinya akan sedikit berbeda dari masa depan yang kamu ingat."

Bara semakin bingung.

"Berbeda bagaimana?"

"Ada beberapa hal yang berubah."

Wanita tua itu tersenyum.

"Termasuk keadaan wanitamu."

Bara langsung menegang.

"Ara kenapa?"

"Cari tahu sendiri."

"Apakah dia baik-baik saja?"

"Aku tidak mengatakan dia tidak baik-baik saja. Mungkin dia akan sedikit kebingungan ketika bangun nanti."

"Maksudnya?"

"Karena perubahan takdir selalu memiliki konsekuensi."

Bara terdiam.

"Kenapa Anda membuat saya kembali lebih dulu?"

"Karena aku ingin kamu mencari jawabannya dari orang-orang di sekitarmu."

Wanita tua itu tersenyum.

"Temui keluargamu. Temui teman-temanmu. Temui Ara."

Ia menunjuk ke arah tubuh Bara yang masih terbaring jauh di belakang mereka.

"Dan cari tahu sendiri seperti apa masa depan yang berhasil kalian ciptakan."

Bara mengangguk pelan. Meskipun masih banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya, ia percaya pada wanita tua tersebut.

"Baik."

Wanita tua itu perlahan menghilang.

"Sampai jumpa."

Bara menatapnya.

"Terima kasih."

Cahaya putih memenuhi seluruh pandangannya. Tubuhnya terasa semakin ringan. Kesadarannya perlahan kembali. Dan sebelum semuanya menjadi gelap, ia hanya memikirkan satu hal.

Aku akan menemuimu lagi, Ara. Aku akan menepati janjiku. Mulai sekarang, kita tidak perlu lagi menghitung berapa hari yang tersisa. Karena kali ini... aku akan hidup bersamamu.

1
Justjeha
Kisah fantasi yg pokoknya tidak akan mengecewakan
Justjeha
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!