Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.
Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Cangkir teh di jemari Evangeline bergetar tipis. Namun, pelatihan bertahun-tahun di bawah naungan The Crow's Veil memaksa refleks biologisnya bekerja cepat, pupil matanya mengembang pas, detak nadinya ditekan ke batas kepanikan alami wanita awam, dan tangannya sengaja dibiarkan goyah hingga sedikit teh hangat menetes membasahi jemarinya.
Dominic berdiri kaku lima langkah dari meja kayu. Telepon satelit hitam di tangannya masih memancarkan desis frekuensi radio yang mati.
Iris kelamnya menatap Eva, mengevaluasi setiap inci perubahan mikro pada ekspresi wajah wanita yang baru beberapa jam lalu menyerahkan seluruh kehangatan fisiknya di atas karpet beludru ini.
"Dominic?" suara Eva meluncur halus, bergetar tipis dengan kepolosan yang dimainkannya secara sempurna. "Ada apa? Siapa yang menelepon? Kenapa... kenapa kau menatapku seperti itu?"
Dominic tidak langsung menjawab. Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap Eva dari atas sampai bawah. Aura pembunuh yang sempat mencair sepanjang malam kini membeku kembali, menciptakan jarak yang sangat dingin dan tak tersentuh.
"Viktor," kata Dominic lambat-lambat, suaranya berat dan serak. "Dia baru saja melaporkan penyerangan di distrik perbatasan St. Jude."
Eva mengerutkan dahinya pelan, menaruh cangkir tehnya ke atas meja kecil di samping karpet dengan tangan yang pura-pura gemetar. Ia menarik selimut wol abu-abu lebih rapat menutupi dada dan bahunya yang polos.
"St. Jude?" bisik Eva dengan raut kebingungan yang dipoles cermat. "Tempat... tempat klinik tua ayahku pernah berdiri? Ada apa di sana?"
Dominic melangkah pelan mendekati Eva. Setiap hentakan sepatu kulitnya di atas lantai batu terasa bagaikan hitungan mundur.
Ia berhenti tepat di depan Eva, menunduk dan mengamati mata hazel wanita itu dengan intensitas yang sanggup merobek pertahanan mental siapa pun.
"Viktor menemukan dokumen di markas kelompok pemberontak yang terbakar," kata Dominic dingin.
"Di dalam dokumen itu... ada nama sandi seorang agen penyamar yang dikirim ke distrik pusat, Ghost Rose."
Eva tidak mengedipkan matanya. Ia membiarkan tatapannya beradu lurus dengan iris kelam Dominic, menampilkan kombinasi antara rasa takut pada ketegangan situasi dan ketidak pahaman atas istilah yang baru saja diucapkan.
"Ghost... Rose?" ulang Eva pelan, lidahnya mengeja kata itu seolah-olah baru pertama kali mendengarnya. "Apa... apa hubungannya hal itu dengan kita, Dominic? Siapa mereka?"
Dominic terus menatap mata Eva, mencari sekecil apa pun kilatan kebohongan. Namun, yang ditemukannya hanyalah sepasang mata hazel yang bening, ketakutan, dan dipenuhi oleh kebingungan yang murni dari seorang wanita yang tak tahu-menahu tentang perang rahasia dunia bawah.
"Penyerang di manor semalam," lanjut Dominic tanpa mengalihkan pandangannya, "salah satu dari mereka menyebutkan nama sandi itu tepat sebelum ia mati di kamar kita. Dan sekarang, nama itu muncul kembali di markas perlawanan St. Jude."
Eva menahan napasnya secara dramatis, matanya membelalak perlahan seraya menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Pria bertopeng semalam?" bisik Eva dengan nada horor yang teramat pas. "Pria yang mencoba membunuhku di meja kerjamu? Dominic... apakah kau mencurigaiku?"
Air mata buatan, hasil dari tekanan dorongan emosional yang dipaksa naik ke saluran kelenjar air mata, mulai menggenang di sudut mata hazel Eva.
Dominic memejamkan matanya sejenak. Rahangnya mengeras kaku. Pertentangan batin meletup hebat di dalam pikirannya.
Di satu sisi, logika taktis seorang pemimpin Blackwood Syndicate menuntutnya untuk mengisolasi dan menginterogasi siapa pun yang terhubung dengan pola kebetulan ini.
Namun di sisi lain, bayangan kehangatan Eva semalam, erangan lembutnya di bawah pendar api perapian, serta keputusasaan murni yang diperlihatkan wanita ini saat penyerangan terjadi, terus menolak hipotesis bahwa wanita di hadapannya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.
Dominic menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar seraya memutar tubuhnya membelakangi Eva.
"Aku mencurigai skenario yang sedang dimainkan oleh musuh-musuhku. Seseorang sengaja melemparkan nama sandi itu di kamarku dan meninggalkan jejaknya di St. Jude untuk memecah fokus pertahananku."
Eva mengusap sudut matanya dengan jemari yang dingin, menyerap napas lega yang terukur di dalam hatinya. Umpan balik alibi berhasil.
Dominic memilih untuk menganggap nama Ghost Rose sebagai taktik adu domba yang dilancarkan oleh Faksi Rossi atau The Five Thorns.
Namun, informasi dari Viktor bahwa markas The Crow's Veil di St. Jude telah terbakar menyisakan kepedihan dan kecemasan yang membakar di dasar jiwa Evangeline. Apakah Silas selamat? Apakah arsip identitas aslinya benar-benar telah dimusnahkan oleh api, ataukah ada bagian dari manifes itu yang jatuh ke tangan Don Sergio Rossi?
Dominic mengangkat telepon satelitnya kembali, menekan tombol panggil ulang.
"Viktor," kata Dominic dingin saat saluran terhubung kembali.
"Amankan sisa-sisa arsip dari markas St. Jude. Jangan biarkan orang-orang Rossi membawa keluar satu lembar dokumen pun. Jika Don Sergio bertanya, katakan itu adalah area operasi eksklusif Blackwood atas perintah langsung dariku."
"Baik, Tuan," sahut Viktor di seberang sana. "Bagaimana dengan pemeriksaan ruang kerja Lady Vivienne di Villa Mistral?"
Dominic melirik ke arah Eva yang kini berdiri pelan dari karpet, membungkus tubuhnya dengan mantel wol abu-abu seraya menatap perapian dengan pandangan terluka.
"Pemeriksaan tetap berjalan sesuai rencana," jawab Dominic tegas. "Kirim dua tim pengaman tambahan untuk memperketat batas bawah tebing. Tidak boleh ada sinyal tak dikenal yang masuk atau keluar dari area villa ini."
"Dimengerti, Tuan."
Dominic mematikan telepon satelitnya, lalu meletakkannya di atas meja kayu di samping kotak peninggalan ibunya. Pria itu melangkah mendekati Eva, menghentikan jalannya tepat di belakang punggung wanita itu.
Ia mengulurkan tangannya, memegang kedua bahu Eva dengan cengkeraman yang perlahan melunak.
"Maafkan aku," bisik Dominic pelan di balik rambut cokelat Eva yang terurai. "Dunia yang kutempati membuatku harus mempertanyakan segala hal, Evie. Bahkan sesuatu di balik bayanganku sendiri."
Eva tidak memutar tubuhnya, namun ia menyandarkan bagian belakang kepalanya di dada bidang Dominic, membiarkan kehangatan tubuh pria itu meresap kembali ke dalam mantel wolnya.
"Aku mengerti, Dominic," sahut Eva pelan, suaranya tenang.
"Aku tahu betapa beratnya beban yang kau bawa sebagai penguasa keluarga ini. Aku hanya... aku hanya tidak ingin kau memandangku sebagai musuhmu."
Dominic mengecup puncak kepala Eva dengan Ciuman pendek yang hangat. "Kau bukan musuhku. Kau adalah satu-satunya hal yang membuat tempat ini tetap layak dipertahankan."
...****************...
Pukul 10.00 pagi.
Lantai dua Villa Mistral diselimuti oleh aroma kertas tua, kayu mahoni lapuk, dan minyak lavender kering. Ruang kerja pribadi almarhumah Lady Vivienne adalah sebuah perpustakaan mini berbentuk setengah lingkaran dengan jendela lengkung besar yang menghadap lurus ke arah Samudra Selatan yang membentang luas di bawah tebing.
Jajaran rak buku dari kayu jati gelap berderet rapi dari lantai hingga langit-langit, memuat ratusan jilid sastra klasik, buku catatan hukum konsorsium, serta botol-botol tinta antik.
Di tengah ruangan, sebuah meja kerja berukir lambang mawar tanpa duri berdiri tegap, tertutup oleh lapisan debu tipis yang menandakan tempat ini tidak pernah disentuh sejak kematian pemiliknya dua belas tahun lalu.
Dominic melangkah masuk terlebih dahulu, memegang senapan serbu ringkasnya dengan kewaspadaan terukur, sementara Eva menyusul di belakangnya seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
Bagi Eva, melangkah ke dalam ruang kerja Lady Vivienne adalah seperti memasuki lorong waktu yang menghubungkannya pada sosok ibunya sendiri, Clara Cross.
Kedua wanita tersebut pernah berjuang di garis yang sama, mempertahankan kebenaran di balik jaringan bisnis gelap Verona Heights sebelum akhirnya dieksekusi oleh bayang-bayang yang sama.
"Ibu menghabiskan sebagian besar waktunya di ruangan ini sebelum ia jatuh sakit," kata Dominic pelan, melangkah mendekati meja kerja utama.
Jarinya menyapu debu di atas permukaan kayu mahoni yang halus. "Nenek selalu mengatakan bahwa Ibu mengalami paranoia di tahun-tahun terakhir hidupnya. Tapi aku tahu... dia tidak gila. Dia hanya sedang berusaha menyembunyikan sesuatu dari seluruh anggota Konsorsium."
Eva mendekati salah satu rak buku di sisi kiri ruangan. Ujung jemarinya menyusuri punggung-punggung buku tua berkulit cokelat.
"Jika Lady Vivienne ingin menyembunyikan kunci sandi kotak itu," kata Eva seraya memutar tubuhnya menatap Dominic, "dia pasti meletakkannya di tempat yang hanya bisa dipahami oleh orang yang memiliki keterikatan emosional dengannya."
Dominic mengangguk setuju. Pria itu mulai memeriksa laci-laci meja kerja utama satu per satu. Laci pertama berisi pena bulu antik dan segel lilin merah bertuliskan inisial V.B. Laci kedua memuat dokumen kepemilikan tanah Villa Mistral dan manifes pengiriman obat-obatan medis independen tahun 2010.
Sementara Dominic sibuk memeriksa kompartemen meja, Eva melangkah menuju sudut ruangan di mana terdapat sebuah meja rias tua dengan cermin berukir kuningan.
Di atas meja rias tersebut, tergeletak sebuah kotak musik kayu kecil yang sudah memudarkan warnanya.
Hati Eva berdesir hebat. Kotak musik itu memiliki ukiran yang persis sama dengan kotak jam bundar yang pernah disimpan ibunya di rumah kecil mereka di St. Jude. Ukiran tiga helai daun mawar dan sebuah bintang kecil di sudutnya.
Dengan gerakan pelan agar tidak memicu kecurigaan Dominic yang sedang membelakanginya, Eva mengulurkan jemarinya dan memutar tuas pemutar mekanis di belakang kotak musik tersebut.
Klik... Klik... Klik...
Suara denting nada logam tua mulai berbunyi tipis dari dalam kotak musik. Melodi klintingan koin perak yang lambat dan mendayu-dayu mengalun di udara ruang kerja yang sunyi.
Dominic menghentikan aktivitas pemeriksaannya di meja kerja secara mendadak. Pria itu memutar tubuhnya dengan cepat, pandangannya mengunci kotak musik di tangan Eva.
"Dari mana kau menemukan kotak itu?" suara Dominic terdengar sangat tertahan.
Eva berpura-pura terkejut, menurunkan tangannya dari tuas kotak musik. "Aku... aku hanya melihatnya tergeletak di meja rias ini, Dominic. Nada panggilannya... terdengar sangat indah."
Dominic melangkah mendekati Eva dengan langkah-langkah cepat. Mata kelamnya menatap kotak musik yang terus berdenting memainkan lagu pengantar tidur yang terputus-putus.
"Lagu ini..." bisik Dominic, suaranya dipenuhi oleh kenangan masa kecil yang mendadak bangkit dari kedalaman ingatannya. "Ini adalah lagu yang sering dinyanyikan Ibu saat aku masih kecil. Lagu pengantar tidur St. Jude."
Eva menahan napasnya rapat-rapat di dalam dada. Lagu pengantar tidur St. Jude, lagu yang sama dengan yang dinyanyikan oleh ibunya, Clara Cross, untuk menidurkannya di masa kecil, lagu yang menyimpan kombinasi empat simbol gembok kotak rahasia kayu mawar.
Dominic meraih kotak musik itu dari atas meja rias, memperhatikannya dengan teliti di bawah pendar cahaya jendela tebal.
"Ibu tidak pernah memainkan kotak musik ini di kediaman utama manor," kata Dominic pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Dia selalu menyimpannya di villa ini."
Dominic membalikkan bagian bawah kotak musik kayu tersebut. Di sana, terukir empat bait puisi singkat bertinta emas yang sudah memudar disapu waktu.
"Saat Mahkota raja runtuh di tanah berdarah,
Bulan Meredup menyembunyikan duka sang perawan,
Seekor Burung Gagak terbang membawa rahasia,
Menunggu Jam Pasir memutarkan takdir yang hilang."
Iris mata Dominic membelalak tajam.
Bait puisi itu secara eksplisit menyebutkan empat simbol yang terukir pada roda gembok kuningan kotak kayu mawar: Mahkota-Bulan Meredup-Burung Gagak-Jam Pasir.
"Sandi gemboknya..." desis Dominic dengan napas memburu. "Sandi gembok kotak rahasia Ibu... terukir di bawah kotak musik ini!"
Eva menatap Dominic dengan pandangan terkesima yang dibuat-buat, meski di dalam batinnya ia bersyukur luar biasa bahwa Dominic akhirnya menemukan petunjuk tersebut secara 'tidak sengaja' melalui kotak musik yang diputarnya.
Dengan demikian, kombinasi gembok dapat terpecahkan tanpa Eva harus memperlihatkan bahwa ia sudah mengetahui sandi tersebut sejak awal.
"Kau berhasil menemukannya, Dominic," bisik Eva pelan, menyentuh lengan Dominic dengan kelembutan yang menenangkan.
Dominic memutar tubuhnya, menatap Eva dengan binar mata yang dipenuhi oleh kebanggaan dan keheranan yang mendalam.
"Bukan aku yang menemukannya, Evie," kata Dominic seraya merengkuh wajah Eva dengan tangan kirinya dan mencium bibirnya secara refleks, sebuah ciuman singkat yang penuh dengan euforia kemenangan taktis.
"Kau yang memutar kotak musik ini. Kau yang membawa petunjuk ini keluar dari kegelapan."
Dominic memegang kotak musik itu rapat-rapat di dadanya, lalu meraih tangan Eva. "Ayo turun ke aula utama. Kita buka kotak itu sekarang juga."
Dominic menatap catatan puisi dari kotak musik yang diletakkannya di samping kotak rahasia.
Dengan kehati-hatian tingkat tinggi, Dominic memutar roda angka pertama.
Simbol Mahkota terpasang sempurna pada garis indeks tengah.
Dominic menarik napas pendek, memutar roda angka kedua.
Simbol Bulan Meredup mengunci di posisinya.
Eva menahan napasnya, mengepalkan jemarinya di balik mantel abu-abunya. Ini adalah momen yang ditunggunya selama bertahun-tahun, momen di mana manifes berdarah St. Jude 2012 dan bukti pembunuhan ibunya akan terungkap di hadapan mata kepala penguasa Blackwood Syndicate sendiri.
Dominic memutar roda angka ketiga.
Simbol Burung Gagak mendarat dengan suara mekanis yang halus.
Dan akhirnya, jemari Dominic memutar roda angka keempat dan terakhir.
Simbol Jam Pasir sejajar dengan garis penunjuk.
Satu detik keheningan melingkupi ruangan. Mekanisme pengunci internal di dalam gembok kuningan berderit pelan saat per baja di dalamnya terlepas secara otomatis.
Klik!
Gembok kuningan berukir kuno itu terbuka, tidak ada asap racun atau pelarut asam yang meletup, kombinasi puisi lagu pengantar tidur St. Jude terbukti seratus persen benar.
Dominic mengembuskan napas panjang, menatap engsel kayu kotak tersebut dengan raut wajah yang dipenuhi rasa hormat dan dendam yang telah tertahan selama dua belas tahun.
Dengan tangan yang stabil, Dominic perlahan mengangkat tutup kotak kayu mawar tersebut.
Aroma kertas perkamen tua dan lilin esensial menyembur tipis dari dalam kotak. Di dalam kompartemen berbeludru hitam, tergeletak tiga barang utama.
Pertama, sebuah manifes kertas tebal bersampul kulit hitam dengan stempel lilin merah bertuliskan Konsorsium St. Jude 2012.
Kedua, sebuah pita rekaman audio fisik berukuran kecil tipe mikro-kaset.
Dan ketiga... sebuah foto tua berwarna agak kekuningan.
Dominic meraih foto tua itu terlebih dahulu.
Di dalam foto tersebut, dua orang wanita muda bergaun putih tampak tersenyum hangat di depan gedung klinik perbatasan St. Jude. Wanita pertama di sebelah kiri adalah Lady Vivienne muda dengan anggunnya.
Dan wanita kedua di sebelah kanan... adalah Clara Cross, ibu kandung Evangeline, yang sedang memangku seorang anak perempuan kecil berusia enam tahun bermata hazel yang bening.
Di balik foto tersebut, tertulis tinta hitam yang sudah memudar.
"Vivienne Blackwood & Clara Cross — Klinik Perdamaian St. Jude, 2012. Bersama putri kecil kita, Evangeline."
Dominic terpaku di tempatnya. Iris kelamnya membeku saat membaca nama yang tertera di balik foto tersebut, Evangeline.
Pria itu perlahan mengangkat pandangannya dari foto tua itu, memutar kepalanya secara bertahap menatap wanita yang berdiri tepat di sampingnya.
Eva menahan gejolak di dadanya saat melihat foto ibunya terhampar di atas meja. Namun, sebelum Dominic sempat memproses secara lengkap korelasi antara nama 'Evangeline' di foto tua itu dengan nama istrinya 'Evie', suara ledakan dahsyat mendadak merobohkan dinding kaca aula utama Villa Mistral.
BOOOOMMMMM!
Pecahan kaca berukuran raksasa melayang di udara bagaikan hujan kristal yang mematikan! Gelombang kejut ledakan melempar kursi kayu dan memadamkan bara perapian seketika.
Rentetan tembakan senapan serbu otomatis memotong keheningan tebing dari arah luar gerbang. Suara sirine perimeter luar meraung keras bersamaan dengan suara helikopter tanpa penanda yang menderu rendah tepat di atas atap Villa Mistral.
"Serangan udara! Amankan posisi!" teriak suara pengawal dari luar sebelum akhirnya terputus oleh dentuman granat.
Dominic bereaksi dengan kecepatan monster. Dalam waktu kurang dari satu detik dari ledakan, pria itu melompati meja, merangkul tubuh Eva dan membantingnya ke balik pilar batu tebal aula seraya melindungi kepala wanita itu dengan lengan kokohnya.
Pecahan kaca dan tembakan peluru melubangi lantai mahoni tempat mereka berdiri beberapa detik sebelumnya.
Dominic menyambar senapan serbu HK416 miliknya dari balik karpet, matanya memancarkan pendar pembunuh yang sangat pekat di tengah kepulan asap hitam yang menerobos masuk dari jendela yang hancur.
"Faksi Rossi..." desis Dominic dengan suara yang sanggup menggetarkan lantai batu. "Mereka melacak sinyal satelit kita ke tebing ini!"
Di balik pilar batu yang berasap, Eva melirik ke arah meja kayu yang kini sebagian hancur, tempat manifes berdarah St. Jude 2012 dan foto tua ibunya masih tergeletak di tengah hujan peluru.
Perang habis-habisan di puncak tebing Villa Mistral telah meletus, memaksa Dominic dan Eva bertarung berdampingan di tengah hujan api sebelum rahasia besar di balik foto itu sempat terucap sepenuhnya.
...Bersambung......