Angela Aprilia, sang ketua OSIS yang ditantang pembinanya untuk mengikuti olimpiade matematika.
Siapa sangka jika Angela kemudian akan membuat jawaban olimpiade dengan rangkaian curhatan kebenciannya kepada sang pembina dari awal berjumpa.
Rumus-rumus jitu pun akhirnya dikerahkan.
Ungkapan rasa yang dituliskan Angela pada Lembar Jawaban Olimpiade pada akhirnya dibaca juga oleh pembinanya.
"ah, dasar anak ini" gumamnya.
Tapi dari kejadian itu lah mereka malah semakin dekat. Mulai timbul rasa mengagumi satu sama lain, yang dahulunya Angela sangan membenci pak Toni. Kini mereka saling dekat dan mengenal.
Pengumuman Ujian Nasional pun kini berada di depan mata, Angela ingin sekali berusaha memperbaiki kekurangannya dalam pelajaran matematika. Dia giat ke perpustakaan dan belajar bersama teman-teman sekelasnya.
Benar saja, Angela berhasil mendapatkan juara satu di sekolah. Jelas kebahagiaan itu sangat dirasakan oleh orang tua Angela.
Tapi, dalam hati Angela terasa ada yang kurang. Yaaa... Sepucuk surat diterimanya dari sang ibu saat pulang ke rumah, apakah isinya dan dari siapa surat itu?
"Dear Angela Aprilia
... Jika kita nanti akan dipertemukan kembali, maka Allah akan memudahkannya. Saya bangga dapat mengenal dirimu, terus raihlah cita-citamu dan banggakan kedua orang tuamu. Saya pamit.
From Toni Anggara"
Benar saja, surat itu berisikan kalimat pamit untuk pulang ke kampung halaman dan pindah mengajar di sekolah lain.
Akan kah mereka dipertemukan kembali?
Ataukah tidak sama sekali?
Yuk... ikuti kisah selengkapnya disini ^_^
Sampai jumpa di novelku "GURUKU, JODOHKU...!!!" 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri DJ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teguran Kepala Sekolah
Teng... teeng... teeeng...
[Suara lonceng sekolah]
Di pagi hari yang cerah ini, mereka akan melaksanakan kegiatan belajar mengajar seperti biasanya.
Satu per satu guru mulai memasuki ruang kelas untuk memberikan materi pelajaran.
Di sisi lain, terlihat Dimas yang sudah mulai gelisah di dalam kelas. Dia terus menolehkan wajahnya ke arah pintu pagar seperti sedang menanti kedatangan seseorang.
Benar saja, tidak menunggu waktu lama. Akhirnya orang yang ditunggu-tunggu Dimas telah datang ke sekolah.
"... kepala sekolah datang" gumamnya.
Saat itu, mereka menerima pelajaran fisika dari ibu Hani. Sementara Dimas merupakan anak binaannya bu Hani waktu olimpiade. Jadi baginya tidak perlu terlalu sungkan untuk meminta izin keluar kelas sebentar.
Setibanya Dimas di ruangan kepala sekolah, dia langsung mengetuk pintu dan memberikan salam. Saat kepala sekolah melihat bahwa yang memberi salam itu adalah seorang siswa, maka kepala sekolah berdiri dan menghapirinya.
"iya, selamat pagi. Ada apa Dimas?" tanya kepala sekolah. Dengan nada terbata-bata akhirnya Dimas berani mengatakan bahwa dirinya ingin memberitahukan suatu kejadian saat kemah kemarin.
Kapala sekolah yang mendengar alasan Dimas saat itu langsung mengarahkannya untuk bersama-sama duduk di bangku panjang yang letaknya tidak jauh dari ruangan kepala sekolah.
"Jadi begini ibu, mohon maaf apabila saya lancang untuk memberitahukan hal ini. Tapi menurut saya ini harus saya sampaikan agar nama baik sekolah kami tetap terjaga..."
"kemarin saat malam api unggun saya melihat ketua dan pembina OSIS sedang berduaan dan berpelukan. Saya rasa ini perlu ditegur supaya tidak menimbulkan prasangka yang tidak baik ke depannya. Apalagi mereka berdua juga adalah pion yang terkenal di sekolah ini" jelas Dimas.
Kepala sekolah yang sedang mendengarkan dengan seksama langsung mengerutkan dahinya seraya memikirkan perkataan siswanya.
Dimas yang merasa belum mendapatkan respons dari kepala sekolah mencoba untuk melaporkan lagi kejadian yang pernah dilihatnya saat malam sebelum olimpiade.
"Bu, waktu itu juga saya melihat pak Toni dan Angela berduaan di teras depan penginapan saat malam sebelum olimpiade. Kalau cuma privat saya rasa mereka tidak perlu sambil rangkul-rangkulan bu" lanjut Dimas yang saat itu mencoba menghasut.
"Oh yaaa? ini benar-benar tidak boleh dibiarkan! Mereka berdua adalah pioner sekolah, jadi tidak boleh membuat reputasi sekolah ini menjadi tidak baik hanya karena ulah konyol mereka"
"saya akan menegur mereka nanti" jawab kepala sekolah saat itu sambil menajamkan matanya ke arah Dimas sambil menganggukan kepalanya.
Dimas yang merasa dirinya sudah berhasil membuat kepala sekolah menjadi percaya, dia mencoba membalas anggukan kepalanya juga.
"... iya bu, benar bu!" hasut Dimas. Setelah puas mendapatkan respons dari kepala sekolah, kini akhirnya dia segera berpamitan untuk kembali ke kelasnya.
Kepala sekolah yang mulai memikirkan hal itu akhirnya berinisiatif untuk ke ruangan tata usaha dan bertemu dengan seorang staf disana.
"pak Joko, nanti tolong sampaikan ke pak Toni yaaa saat jam istirahat suruh ke ruangan saya!" pinta kepala sekolah.
"baik, siap bu" jawab pak Joko staf TU sekolah.
_______
Pak Toni saat itu sedang memberikan pelajaran matematika di kelas VII, anak-anak berantusias untuk belajar. Satu per satu mereka maju ke depan dan menjawab soal-soal matematika yang ada di papan tulis.
Kemudian saat dirinya melihat ke arah ruang kelas yang tepat berada di depan kelas VII, dirinya mendapati kelas Angela yang saat itu sedang belajar fisika bersama bu Hani.
Tiba-tiba pak Toni tersenyum dan tersipu malu sendiri seraya mengingat kembali kejadian kemarin di perkemahan.
"cieeee.... pak guru senyum-senyum sendiri..."
sorak ria anak-anak putra kelas VII saat itu berhasil memecahkan lamunan pak Toni.
Bagaimana tidak, kemarin regu putra kelas VII lah yang memergoki pak Toni sedang curi-curi pandang ke Angela kakak kelas mereka.
Jadi wajar saja kalau mereka pun berani mengganggu pak Toni kembali yang kedapatan melirik-lirik ke arah kelas IX di depan.
Pak Toni segera mengalihkan perhatian anak-anak dengan langsung membacakan nama-nama siswa di absen kelas. Tak lama kemudian lonceng jam istirahat pun berbunyi.
Setelah pak Toni kembali ke ruang kerjanya, beliau dikejutkan oleh staf tata usaha kala itu.
"permisi pak... bapak dipanggil kepala sekolah ke ruangan" ujar pak Joko staf TU sekolah.
Pak Toni menganggukan kepala dan segera berjalan ke arah ruang kepala sekolah.
"selamat siang bu, ada apa ya bu?" tanya pak Toni yang saat itu langsung masuk dan duduk di sofa ruang kepala sekolah.
"siang pak, iya jadi begini... Saya cuma mau memastikan saja kepada bapak tentang beberapa laporan yang sudah masuk kepada saya. Boleh saya bertanya sesuatu pak?" ucap kepala sekolah.
"ii-iya bu, silahkan saja bu" jawab pak Toni.
"bapak kan sebagai pembina OSIS di sekolah ini, dan Angela sebagai ketua OSIS nya. Dan memang kalian berdua harus saling beriringan serta berkomunikasi terkait hal-hal yang semestinya dibicarakan bersama".
"tapi kemudian, ada beberapa hal yang tidak seharusnya kalian berdua lakukan. Dan hal itu yang ingin saya tanyakan kepada bapak sekarang. Ada hubungan apa sebenarnya kalian berdua ini? Mengapa ada laporan yang tidak sedap sampai masuk di telinga saya?" tanya kepala sekolah.
Pak Toni sekejap langsung membulatkan mata dan menelan ludahnya seakan kaget dengan pertanyaan kepala sekolah tersebut.
Jantung pak Toni seketika berdegup kencang, tapi dirinya mencoba menenangkan pikirannya sambil menjawab pertanyaan kepala sekolah.
"Jadi begini bu, kami berdua hanya sebatas guru dan murid serta pembina dan ketua. Jadi tidak ada hubungan lebih diantara kami berdua" jelas pak Toni dengan nada yang pelan.
"Tapi harus kah ada kontak fisik pak? seperti merangkul, memeluk bahkan mungkin membelai dan sebagainya!?... Ini yang saya rasa perlu diluruskan pak. Sekolah ini mempunyai aturan yang sudah baku, jika bapak masih baru di sekolah ini sebaiknya memahami dulu aturan main disini. Supaya jangan salah kaprah" jelas kepala sekolah menggunakan nada tinggi.
Mendengarkan penjelasan kepala sekolah tersebut, Pak Toni jadi merasa malu dan bersalah terhadap apa yang sudah dirinya lakukan selama ini.
Seperti tidak menemukan jawaban yang tepat, pak Toni hanya bisa menundukan kepalanya.
[Ruangan seketika itu hening sejenak]
"Sekarang bapak silahkan pikirkan baik-baik, saya hanya ingin nama baik sekolah unggulan kita ini tetap terjaga sampai kapan pun!" pinta kepala sekolah dengan nafas yang sedikit berat.
Pak Toni yang mulai menyadari kesalahannya itu hanya bisa terdiam dan menyesali perbuatannya.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya bu, saya janji tidak akan menghancurkan nama baik sekolah ini. Saya pamit kembali ke ruangan bu" ucap pak Toni sambil menundukan kepalanya.
Setelah pak Toni ke ruang kerjanya, betapa kesalnya dia. Saat itu yang hanya ada dipikirannya adalah orang siapa yang sampai berani melaporkan dirinya ke kepala sekolah.
Lebih dari itu, pak Toni juga memikirkan bagaimana nasib dirinya, Angela dan sekolah ke depannya jika masalah ini sampai menyebar dengan luas.
Beberapa pertanyaan yang mulai timbul dalam benaknya kali ini membuatnya pikirannya sedikit kacau. Sehingga dia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan seraya menenangkan hati dan pikirannya.
Salam dari
- Janji Palsu Tuan Muda -