Indonesia
NovelToon NovelToon
Like Father, Like Daughter.

Like Father, Like Daughter.

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Action
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: A Veil Asvara

#Dark Romance, Obsesi

Di tengah kota yang dilanda kerusuhan dan hukum tak lagi berfungsi, Kirania hidup dalam dunia yang penuh ancaman. Sebagai seorang remaja ceria, ia tak pernah menyangka bahwa kehidupannya akan berubah drastis ketika menjadi target seorang pria obsesif yang siap melakukan apa saja untuk memilikinya.

Ayahnya, Albert, seorang pria dingin dengan masa lalu kelam, adalah satu-satunya pelindung Kirania. Dalam dunia yang dipenuhi kekerasan dan tipu muslihat, Albert harus menggali kembali insting mematikannya demi melindungi putrinya. Namun, di balik perlindungannya, tersembunyi rahasia yang mengancam keharmonisan hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A Veil Asvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Albert menatap Kirania dengan penuh perhatian, memeriksa ekspresinya yang tampak agak dipaksakan. Sebagai seorang ayah, dia merasa tidak tega melihat putrinya terdiam setelah dibentak oleh Mikhael. Meskipun Albert bukan tipe ayah yang selalu lembut, dia tetap tidak suka melihat orang lain melukai perasaan Kirania, terutama ketika itu terjadi di depan matanya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Albert, suaranya terdengar lembut meskipun ada sedikit kekhawatiran yang tersembunyi di baliknya.

Kirania tersenyum, meskipun senyum itu terlihat agak dipaksakan. "Aku baik, Pa," jawabnya, mencoba menenangkan ayahnya. Namun, di dalam hatinya, dia masih merasa terkejut dengan bentakan Mikhael. Selama ini, hanya Abimanyu dan Derrick yang pernah menyiksanya saat kecil. Bahkan dalam kondisi sulit sekalipun, Albert dan Ellios selalu ada untuknya.

Albert mengusap kepala Kirania dengan penuh kasih sayang. "Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja," ujarnya, menarik Kirania ke dalam dekapannya.

Kirania terdiam, merasakan kehangatan pelukan Albert. Dia jarang mendengar Albert memanggilnya "Nak," karena biasanya Albert lebih suka menyebutnya dengan sebutan lain yang lebih kasar. Tapi saat ini, suara lembut Albert membuatnya merasa lebih tenang.

"Papa sakit?" tanya Kirania, tanpa sengaja menyentuh kening Albert dengan punggung tangannya untuk memeriksa suhu tubuhnya.

Albert terkekeh pelan. "Tidak, aku tidak sakit," jawabnya sambil mendengus, sedikit tersipu dengan pertanyaan Kirania yang polos.

"Aku minta maaf," ujar Albert tiba-tiba, suaranya serak, seolah merasa bersalah. "Aku tahu aku tidak selalu menjadi ayah yang baik untuk kalian."

Kirania menarik napas, menatap ayahnya dengan serius. "Kau bukan ayah yang buruk, Pa. Kami tahu kau peduli, meskipun seringkali terlihat tidak peduli. Kau mengajarkan kami banyak hal, bahkan kerasnya hidup. Kami tahu kau sangat peduli dengan kami, meskipun caramu tidak selalu seperti yang kita inginkan."

Albert menatap Kirania dalam-dalam, lalu menarik sudut bibirnya, memberikan senyum tipis. "Terimakasih, Nak," katanya.

"Papa habis kepentok, ya? Bicaramu ngawur sekali," kata Kirania dengan senyum nakal, mencoba meringankan suasana.

Albert hanya mendengus. "Tidak."

"Tumben Papa mellow. Habis patah hati, ya?" tanya Kirania sambil tersenyum lebar.

Albert mencibir dan berkata dengan serius, "Mau ku potong uang jajanmu?"

Kirania terkekeh. "Boleh. Kalau begitu, aku cari sugar daddy aja buat tambahan uang jajan," jawabnya santai.

Albert tak bisa menahan tawa kecil. Tanpa peringatan, dia memberikan jitakan ringan di kepala Kirania. "Kamu ini, Nak," katanya sambil tertawa.

🐾

"Kucing manis Abang~!!" seru Ellios dengan ceria saat mendapati Kirania yang sedang duduk santai di sofa ruang keluarga. Segera pemuda itu menghempaskan bokongnya di sebelah Kirania, membuat gadis itu sedikit terkejut.

"Kenapa, Botol Sambal? Ngajak ribut?" Kirania membalas dengan nada sinis, kesal melihat tingkah laku kakaknya yang seperti biasa.

"Jangan marah gitu, dong," jawab Ellios dengan santai, lalu menggaruk leher Kirania layaknya menggaruk leher kucing.

Kirania merasa sedikit tergelitik, namun tak bisa menahan senyum kecil di bibirnya. Kenikmatan itu hanya bertahan sesaat sebelum pemuda itu mengeluarkan kata-kata manis yang membuatnya jengkel.

"Wah~ Ternyata kau benar-benar jelmaan kucing~" Ellios berkata dengan nada menggoda, matanya berbinar-binar melihat reaksi Kirania.

Tatapan membunuh langsung dilayangkan kepada Ellios, dan tanpa aba-aba, Kirania menimpuk sang kakak dengan bantal yang ada di sampingnya.

'Buakh!'

"Aww! Sakit, Kucing! Jangan galak, dong~" Ellios memegangi kepalanya sambil terkekeh, matanya tetap penuh canda.

"Jangan menggangguku, botol sambal!" balas Kirania, mendengus kesal.

Ellios hanya tertawa lebih keras, sedangkan Kirania masih menunjukkan ekspresi jengkel. Sepertinya dia tidak mood untuk bercanda hari ini.

"Kiran," Ellios tiba-tiba memanggil serius, kemudian merebahkan dirinya dengan kepala Kirania sebagai bantalnya. Paha Kirania menjadi tempatnya bersandar.

"Hmm?" jawab Kirania, merasa agak aneh dengan sikap kakaknya yang tiba-tiba berubah serius.

"Aku sudah dengar dari ayah, kalau kau berhasil membantai satu sekolah. Kau benar-benar keren, tau!" Ellios berkata semangat, ada sedikit kekaguman dan iri di matanya.

"Aku mengalahkan mereka bersama Petra dan beberapa siswa lainnya. Sebenarnya aku iri denganmu. Kau bisa bersekolah di sekolah normal," jawab Kirania dengan suara pelan, namun masih ada rasa kecewa dalam dirinya.

Ellios tertawa kecil, lalu menjawab sambil mengedipkan mata, "Sebenarnya, sekolah normal itu lebih buruk dari sekolah berandalan. Aku ingin pindah ke sekolahmu. Tapi menjadi berandalan di sekolah normal sepertinya bagus juga."

Keduanya tertawa bersamaan. Ternyata apa yang mereka anggap sebagai hal yang mereka inginkan, ternyata tidak seindah yang dibayangkan.

"Lagipula, jika kau bersekolah di sana, akan terjadi banyak drama yang membuatku pusing. Kau tau, banyak bully karena orang good looking memilih salah satu dari sekian banyak siswa untuk jadi target mereka. Apalagi sebagian besar mereka punya orang tua yang good rekening," lanjut Ellios sambil menatap wajah sang adik dengan tatapan sayang. Dia mengusap kepala Kirania pelan-pelan, seperti yang biasa dilakukan pada kucing peliharaannya.

"Aah~ Aku hampir melupakan orang bangsat itu," gumam Kirania pelan, saat mengingat perlakuan Steve dan Aqueera. Gara-gara mereka, dia masih punya cap buruk di sekolah sebelumnya.

Ellios bangkit dari posisi rebahnya dan berjalan menuju lemari yang ada di sudut ruang tamu. Pemuda itu tampak sibuk mencari sesuatu.

"Jadi, bagaimana kalau kita habiskan malam ini dengan main game?" tawar Ellios sambil mengeluarkan beberapa DVD game miliknya dan tersenyum hingga matanya menyipit. "Ini game baru yang baru saja aku luncurkan, dan ini gratis untuk kucingku tercinta."

Kirania langsung mengangkat wajahnya dengan penuh antusias. "Mau!" jawabnya tanpa ragu, mata berbinar-binar saat melihat game yang dibawa Ellios.

Ellios tertawa puas mendengar jawaban Kirania. "Oke, siap-siap jadi noob, ya?" katanya sambil menyodorkan DVD game ke arah Kirania, lalu duduk kembali di sampingnya.

Kirania hanya tertawa kecil, melupakan semua rasa jengkel yang tadi mengganggu. Malam ini akan menjadi malam yang seru, dihabiskan dengan bermain game bersama kakaknya.

🐾

Albert merebahkan dirinya di ranjang, tubuhnya terasa sangat lelah setelah pertarungan yang menguras tenaga. Keluarga Narenda. Keluarga ayah tirinya dulu. Mereka adalah orang-orang yang menghancurkan hidupnya, yang menjadikannya kelinci percobaan Damian sejak ia masih kecil.

Albert memiliki paras tampan yang hampir tak terbayangkan, begitu sempurna hingga banyak wanita terpesona. Namun, justru itulah yang menyebabkan ayah tirinya tega menjualnya kepada keluarga Anderson saat ia baru berusia empat belas tahun, untuk kemudian diperlakukan kejam oleh seorang wanita bertopeng.

Memori masa kecilnya kembali hadir, saat ayah tirinya mendatangkan dokter-dokter yang mengambil darahnya, menyuntikkan zat-zat asing ke tubuhnya, membuatnya menderita tanpa ada seorang pun yang peduli.

Albert menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir bayangan buruk itu. Dengan langkah berat, ia bangkit dari ranjangnya dan mengambil sebuah berkas yang didapat Roy beberapa waktu lalu di laboratorium Damian. Ia memutuskan untuk membaca data tersebut, dan matanya terbelalak saat menemukan fakta yang mengejutkan.

Di antara data itu, tercatat bahwa Kirania adalah anaknya—hasil percobaan Damian bersama Leona—dengan persentase DNA miliknya yang lebih dominan.

"Dia memang putriku," gumam Albert, wajahnya tanpa ekspresi.

Ia meletakkan dokumen itu di atas nakas dan kembali merebahkan dirinya, menatap langit-langit kamarnya yang sepi. Pikirannya mulai mengembara. Jika Kirania mengetahui kebenaran ini, apakah dia masih ingin berada di sisinya? Kehadiran gadis itu sudah terlalu memberi warna pada sisa hidupnya.

Albert sudah terlanjur menyayangi Kirania, meski dengan cara yang tidak sempurna. Dia telah menjadi pria yang sangat bergantung pada gadis itu, dan ia tidak ingin kehilangan Kirania. Kehilangan itu akan berarti kehilangan bagian dari dirinya sendiri.

Albert mengakui bahwa dirinya bukanlah ayah yang sempurna. Ia bukan ayah yang membanjiri anaknya dengan kekayaan atau kenyamanan hidup. Ia justru memperkenalkan Kirania pada kerasnya dunia, pada kenyataan bahwa hidup tidak selalu penuh dengan kemewahan dan kebahagiaan.

Sementara banyak ayah sibuk menyimpan masalahnya sendiri, Albert dengan santai membicarakan segala hal—termasuk masalah pribadi—seolah mereka adalah rekan kerja, bukan ayah dan anak.

Albert mendesah lelah. Ia perlu istirahat, untuk sedikit meringankan beban yang ada di pundaknya. Perlahan, matanya meredup, seiring dengan kantuk yang semakin mendera. Mata Albert akhirnya terpejam, dan dalam sekejap, ia tenggelam dalam alam mimpi.

🐾

Albert tiba di sebuah padang rumput yang indah dengan hamparan langit senja yang cerah. Dia mengamati sekelilingnya, terdapat danau yang indah dan bukit berselimut kabut tipis layaknya lukisan.

Benar-benar indah.

"Hai?"

Suara perempuan yang entah mengapa terasa familiar namun begitu menyebalkan menyapa pendengarnya. Albert segera berbalik dan mendapati seorang wanita dengan mata merah seperti mata kucing menatapnya dengan wajah menyebalkan.

"Wah! Albert! Kau menemuiku? Kau merindukanku? Kau semakin tampan saja!" Pekik wanita itu dengan heboh.

Albert terdiam sejenak mengamati wanita yang berkisar dua puluh tahun itu.

"Kau... Siapa?"

'Krik'

'Krik'

'Krik'

Hening sejenak. Lalu gadis itu meninju perut Albert dengan kencang.

'Bugh'

"Ugh..." Albert meringis kesakitan seraya memegang perutnya.

"Dasar kau ini?! Beginikah cara kau menyapa sahabat sekaligus ketuamu yang telah lama mati?! Kau jahat sekali!!"

"Aku tidak kenal."

"Aku Leona! Leona Sarasmitha, bodoh! Astaga, kau ini!" Kesal Leona berapi-api.

"Benarkah?"

Wanita itu mengangguk. "Ceritanya panjang."

Leona menceritakan dirinya yang terdampar di tubuh Leona Arathena dan kehidupannya yang dijalaninya secara garis besarnya. Albert hanya diam mendengarkan tanpa bertanya.

"Jadi, bagaimana denganmu?" Leona menatap Albert penasaran.

"Restoran mu bangkrut."

"Hah?"

"Hn."

"Ohoho! Akhirnya bangkrut juga. Kau tidak jatuh miskin kan?" Tanya Leona dengan mengejek sambil menaikturunkan alisnya.

"Aku masih memiliki sebelas cafe, dua restoran dan sebuah bar."

"Wah~ Kau benar-benar hebat. Aku bangga padamu, Nak. Kau benar-benar putraku yang hebat." Puji Leona sambil mengusap air mata bombay miliknya yang justru terlihat menjijikkan di mata Albert.

"Berhenti bertingkah menyebalkan seperti itu, dasar sinting!"

"Wah~ Kata-katamu semakin manis saja. Aku jadi cinta kepadamu!"

"Hentikan itu!" Desis Albert dingin dengan raut wajah yang menahan jijik.

Leona tertawa terbahak sambil memegang perutnya yang kram akibat tertawa. Setelah tawanya mereda dia teringat tentang anak-anak hasil penelitian Damian.

"Bagaimana dengan anak-anak yang menjadi objek Damian?" Tanya Leona tiba-tiba sambil menatap hamparan langit senja yang indah.

"Banyak yang mati. Hanya Kirania yang selamat."

"Bagaimana dengan Damian?"

"Aku sudah membunuhnya."

"Anak itu?"

"Dia bersamaku. Dia hampir mirip denganmu. Terutama sikapnya yang suka nyelonong masuk ke sarang musuh dan membantai mereka."

"Sepertinya dia hasil gabungan DNA kita, ya." Leona menerawang. Gadis kecil kurus kering yang memiliki rambut hitam dengan beberapa helaian biru cerah seperti ombre. Dia sering mengintip Albert saat pria itu bolos latihan hanya menemui gadis kecil itu.

"Hn."

"Sepertinya waktumu hampir habis." Ucap Leona saat melihat tubuh Albert memudar.

"Hn."

"Ah, aku ingat!" Serunya tiba-tiba yang membuat Albert menatap gadis itu.

"Ada satu tempat rahasia di restoran peninggalanku. Di salah satu lantai ruang kerja itu terdapat sebuah lantai yang bisa kau buka. Kuncinya ada di laci nakas paling bawah. Ambil semuanya dan hancurkan keluarga Narenda."

"Kenapa kau mempercayakan hal itu padaku?" Tanya Albert dengan tubuh yang semakin memudar.

"Karena aku yakin kalian bisa menyelesaikan misi terakhirku."

1
jejes879397
seruuuuu
jejes879397
halo aku mampir, di tunggu kelanjutannya di novel sebelah ya😉😉
RS
dasar murid murid GK ada akhlak🤣😂
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Sribundanya Gifran
lanjut lagi thor💪💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut lagi thor
Rama Fitria Sari
hallo, salam kenal. Like dan komen sudah mendarat ya. Harap mampir kembali di karya terbaru ku "Jika masih berjodoh" Dan "Akankah kita berpisah" Mari saling mendukung terima kasih
Author Asvara: salken jg kak.
total 1 replies
Randa kencana
ceritanya sangat menarik
za ros
the best👍👍
Sribundanya Gifran
lanjyt thor
Sribundanya Gifran
lanjut lagi thor
Sribundanya Gifran
lanjut lagi thor💪💪💪💪🙏
Riani Simatupang
cerita nya bgus banget,,semangat terus kak...😍😍😍😍😍
RS
ceritanya seru dan keren,,walau blm banyak yg baca semangatt thorr
Author Asvara: makasi udah mampir.
total 1 replies
RS
lanjuttttt
RS
lanjutttt Thor lagi seru tegang tegangnya
RS
ahh Leona sama emng kerennnn
RS
gaskeun Thor
RS
hajarrrrrrrrrr
RS
semangat terussssss thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!