Empat tahun lamanya Arunika mengalah dan hidup sebagai istri pajangan, demi menghormati amanah almarhum ayahnya. Namun, segalanya hancur saat ia mendengar rencana kejam Saka. Pria itu berniat menikah lagi dengan kekasihnya, namun menolak menceraikan Arunika hanya karena butuh statusnya demi warisan keluarga Daniswara. Saka mengira Arunika wanita lemah yang akan pasrah dipoligami.
Kekecewaan mendalam itu justru membangkitkan sisi cerdas yang selama ini Arunika sembunyikan. Tanpa labrakan histeris, Arunika menyusun skenario skakmat dalam senyap. Tepat di hari pernikahan megah Saka, ia melangkah pergi membawa dokumen cerai dan menayangkan video perselingkuhan suaminya di gedung pesta. Sebuah langkah sunyi yang tidak hanya menyelamatkan harga dirinya, tetapi juga menjadi awal runtuhnya seluruh takhta palsu yang Saka banggakan.
Ingin tahu kisah selengkapnya? Yuk ikuti cerita Langkah Sunyi Arunika hanya di NovelToon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Puing-puing Kenangan
Aroma obat-obatan dan lorong Rumah Sakit Pusat yang sunyi tidak mampu meredakan kepanikan yang bergemuruh di dada Valerie. Setelah berlari mengikuti ambulans yang membawa ibu mertuanya akibat serangan stroke mendadak, Valerie kini hanya bisa berdiri terpaku di depan ruang perawatan darurat. Pikirannya buntu, dipenuhi rasa cemas sekaligus penasaran terhadap berbagai hal yang belum terjawab.
Di perpustakaan rumah utama tadi, Valerie sama sekali tidak mengetahui isi surat yang dibaca Saka dan Lina. Ia tidak tahu bahwa suaminya merupakan anak hasil hubungan gelap Lina dengan pria lain. Satu-satunya kenyataan pahit yang terus terngiang di benaknya adalah Saka hanya mendapatkan tiga persen saham Daniswara Group, sementara mereka harus mengosongkan rumah yang hampir dua bulan ditempatinya dalam waktu dua kali dua puluh empat jam. Rumah itu merupakan milik Arunika Wiranata.
Valerie menatap layar ponselnya yang tetap sunyi. Saka entah pergi ke mana setelah membaca surat dari mendiang ayahnya, meninggalkan dirinya sendirian dengan begitu banyak pertanyaan. Kini, ia harus menghadapi situasi di lorong rumah sakit tanpa tahu harus berbuat apa.
Di tengah berbagai masalah yang terus menghampiri hidupnya sejak pesta malam itu, Valerie kembali merasa diabaikan oleh pria yang baru dua bulan menjadi suaminya.
Ia mencoba menghubungi Saka untuk memberitahukan kondisi Lina. Untuk sementara, Valerie berusaha menjalankan perannya sebagai istri dan menantu yang baik. Ia mengesampingkan persoalan pembagian saham yang dianggapnya tidak adil, begitu pula kenyataan bahwa Arunika dan Saka merupakan saudara sepupu yang dijodohkan karena Raditya tidak ingin hartanya jatuh ke tangan orang luar seperti dirinya.
Namun, setiap panggilan yang dilakukannya hanya berakhir dengan suara operator. Nomor Saka tidak aktif, dan Valerie tidak tahu ke mana harus mencari suaminya.
Mengesampingkan kekesalannya karena kembali diabaikan, Valerie akhirnya memilih mengirimkan pesan. Setidaknya, ketika ponsel Saka kembali aktif, pria itu akan mengetahui kondisi ibunya.
“Mungkin Saka kembali mencari Arunika,” gumam Valerie setelah mengirim pesan tersebut.
Mengingat nama Arunika, ia kembali teringat batas waktu pengosongan rumah yang semakin dekat. Valerie tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama di rumah sakit. Ia harus segera membereskan barang-barang berharganya sebelum tim pengacara Arunika datang untuk memastikan rumah itu dikosongkan.
Lina juga telah mendapatkan penanganan dokter yang merawatnya. Valerie tidak mengetahui bahwa dokter yang menangani ibu mertuanya itu sebenarnya adalah ayah kandung Saka.
Dengan langkah tergesa, Valerie meninggalkan lorong rumah sakit, memesan taksi daring, lalu bergegas kembali ke rumah mewah di kawasan elite Jakarta Pusat. Tujuannya siang itu hanya satu: menyelamatkan barang-barang pribadinya sebelum ia kehilangan tempat tinggal.
Setelah mengumpulkan barang-barangnya, Valerie membawanya ke sebuah apartemen mewah di Jakarta Selatan, tidak jauh dari apartemen studio milik Arunika.
Berbeda dengan Arunika yang membeli tempat tinggalnya menggunakan uang sendiri, apartemen yang dituju Valerie merupakan properti rahasia yang dibelikan Saka sebelum mereka menikah. Selama dua tahun terakhir, tempat itu menjadi saksi bisu pertemuan mereka secara diam-diam, di belakang Arunika.
Di dalam taksi daring yang melaju membelah jalanan kota, Valerie mencengkeram tasnya erat-erat. Apartemen itu menjadi satu-satunya tempat berlindung yang bisa diandalkannya untuk mempertahankan gaya hidup mewah yang kini mulai terancam. Terlebih lagi, ia tidak mungkin kembali ke rumah orang tuanya setelah diusir dari sana.
Sementara itu, di sebuah pemakaman keluarga, Saka berlutut di hadapan dua makam yang berdampingan: makam Raditya Daniswara dan Bagus Wiranata.
Pikirannya kacau. Jiwanya seakan kehilangan kekuatan setelah kembali membaca surat tulisan tangan Raditya. Setiap kalimat di dalamnya terasa seperti pukulan yang menghantam dirinya tanpa ampun.
Kenyataan bahwa dirinya bukan anak kandung Raditya meruntuhkan keyakinan yang selama ini menjadi bagian dari identitasnya. Pria yang selama ini dikenal sebagai CEO muda dengan prestasi dan reputasi gemilang itu kini harus menerima kenyataan bahwa ayah yang membesarkannya bukanlah ayah biologisnya.
Namun, di balik keterkejutan itu, ada luka lain yang jauh lebih dalam. Saka baru menyadari betapa banyak hal tentang keluarganya yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Setelah menumpahkan kesedihan di hadapan makam Raditya dan Bagus, Saka bangkit dan meninggalkan tempat itu. Ia enggan pulang ke rumah yang kini dipenuhi bayang-bayang kegagalan, terlebih karena membayangkan Valerie akan kembali menuntut haknya.
Demi mendapatkan ketenangan, Saka sengaja mematikan ponselnya. Ia ingin menjauh sejenak dari semua orang dan menghadapi kenyataan yang baru saja menghancurkan keyakinannya tentang kehidupan. Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa Lina sedang berada dalam kondisi kritis. Ia juga belum sanggup menghadapi kenyataan bahwa mendiang ayahnya telah mengetahui perselingkuhan Lina selama bertahun-tahun.
Saka akhirnya mengarahkan mobilnya menuju rumah pribadi orang tuanya, tempat ia dahulu tinggal bersama Raditya dan Lina sebelum ayahnya meninggal dunia.
Rumah itu kini terasa sepi. Beberapa pelayan tua masih setia menjaganya, meskipun Lina telah memilih tinggal di tempat lain setelah menjanda.
Saka melangkah melewati pintu kayu besar, menyusuri koridor rumah masa kecilnya yang sarat kenangan. Dengan langkah berat, ia menuju ruang kerja pribadi almarhum Raditya. Ruangan itu masih terawat rapi, seolah pemiliknya hanya sedang pergi dan akan kembali kapan saja.
Saka duduk di balik meja kerja ayahnya. Jemarinya menyentuh permukaan kayu jati yang terasa dingin. Perlahan, air mata mengalir di pipinya.
Ia teringat bagaimana Raditya memperlakukannya dengan penuh kasih sayang selama dua puluh tiga tahun. Ayahnya mendidiknya dengan tegas, tetapi tidak pernah kehilangan kelembutan. Seluruh pendidikannya juga difasilitasi dengan baik, tanpa sedikit pun membuatnya merasa berbeda dari anak-anak lain.
Kasih sayang Raditya begitu tulus, meskipun pria itu mengetahui bahwa Saka lahir dari pengkhianatan istrinya.
Sayangnya, Saka baru mengetahui kenyataan tersebut sekarang, lima tahun setelah Raditya meninggal dunia. Semua ini terungkap setelah ia melakukan kesalahan besar terhadap Arunika.
Jika saja ia tidak menghancurkan pernikahannya sendiri, mungkin rahasia itu akan tetap terkubur. Ia akan terus hidup dengan keyakinan bahwa dirinya adalah anak kandung Raditya, tanpa pernah mengetahui pengorbanan dan ketulusan pria yang telah membesarkannya.
Di tengah isak tangis dan penyesalan, pandangan Saka tiba-tiba tertuju pada sebuah kotak kayu berukir kecil di sudut rak buku belakang meja. Ia mengusap wajahnya, kemudian berdiri dan mengambil kotak tersebut.
Saat penutupnya dibuka, beberapa foto lama berukuran kecil tersusun rapi di dalamnya.
Saka mengambil foto-foto itu satu per satu. Namun, ketika melihat foto pertama, jantungnya mendadak berdegup kencang.
Dalam foto berlatar taman rumah utama Daniswara puluhan tahun lalu, tampak dirinya sedang tertawa bersama seorang gadis kecil berambut yang dikuncir kuda. Gadis itu mengenakan gaun bermotif bunga-bunga, motif yang mengingatkannya pada kesukaan Arunika.
Ya, gadis kecil itu adalah Arunika.
Saka membalik foto berikutnya. Kali ini, Raditya terlihat merangkul pundaknya dan pundak Arunika kecil di bawah pohon mangga. Mereka bertiga tersenyum hangat ke arah kamera. Tidak ada perbedaan perlakuan dalam cara Raditya merangkul kedua anak itu.
Di bagian bawah salah satu foto, terdapat tulisan tangan Raditya yang masih terbaca jelas.
“Dua malaikat kecilku, Saka dan Arunika. Semoga kelak kalian bisa terus berjalan beriringan, menjaga satu sama lain.”
Saka menatap tulisan itu lama sekali.
Air matanya kembali mengalir, membasahi ujung foto yang dipegangnya. Ia tidak pernah menyangka bahwa di balik kenangan masa kecil yang nyaris dilupakannya, tersimpan kasih sayang Raditya yang begitu besar kepada dirinya dan Arunika.
Selama ini, egonya telah membutakan mata hatinya. Kesombongan dan pengaruh Lina membuatnya memandang Arunika sebagai gadis kampung, anak seorang asisten yang hidup dari belas kasihan keluarga Daniswara. Ia bahkan menganggap Arunika baru masuk ke dalam kehidupannya karena wasiat perjodohan empat tahun lalu.
Kini, di ruang kerja almarhum ayahnya, Saka mulai menyadari betapa keliru pandangannya selama ini.
Arunika telah menjadi bagian dari keluarganya sejak mereka masih kecil. Mereka tumbuh bersama dalam lingkaran keluarga yang sama. Raditya menyayangi keduanya tanpa membedakan status darah, dan berharap mereka bisa terus berjalan berdampingan, saling menjaga.
Pernikahan yang direncanakan Raditya mungkin merupakan salah satu bentuk harapannya agar keduanya tetap saling melindungi. Namun, Saka justru menghancurkan harapan itu dengan tangannya sendiri.
Ia mencampakkan Arunika, mengabaikannya selama empat tahun, dan memperlakukannya seolah cinta bisa dibeli dengan materi. Bahkan, ia sempat menukar kesetiaan istrinya dengan janji kehidupan bersama Valerie, perempuan yang kini justru membuatnya mempertanyakan ketulusan cinta yang selama ini diyakininya.
Saka menggenggam foto itu lebih erat, lalu menundukkan kepala.
“Arunika ... maafkan aku. Papa, maafkan Saka,” lirihnya dengan suara parau.
Ia meletakkan foto-foto itu di atas meja, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Penyesalan memenuhi dadanya, tetapi tidak ada satu pun yang bisa mengembalikan masa lalu.
Langkah sunyi Arunika yang telah meninggalkannya kini terasa seperti cermin yang memaksanya melihat semua kesalahan sendiri. Di rumah yang menyimpan kenangan masa kecilnya, Saka akhirnya memahami bahwa ia telah kehilangan jauh lebih banyak daripada yang selama ini ia sadari.
Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan betapa sunyinya hidup ketika orang yang tulus menyayanginya tidak lagi berada di sisinya.
aku gmes.....
laah...ni ga kebalik apa y....mstinya kang mas yg ngajakin dinda,tp ni sbliknya...🤣🤣🤣
gtu jg yg arunika rsakan dlu...jd trima nsib aja,hkum krma udh dtang.......
udh msuk rak kk,tp aku glau bcanya....sedih.....😭😭😭
skrng pawangnya bnyak,pd galak pula...sklinya ngusik,abis d bntai....😁😁😁