Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.
Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.
"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.
(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)
Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Satu Orang Satu Kelas Yang Kena
Halo Para Pembaca Setia Aku Kali Ini Aku Mau Cerita Siapa Yang Punya Guru Yang Pundung Yang Satu Orang Yang Salah Terus Dia Ngak Ngajar Sekelas Gara Gara Satu Orang Aja Saya.
Mungkin Ada Dua Part Ya Yang Pertama Aku Bakal Cerita Dulu Yang Di Jaman Smp Nah Ada Satu Guru Cowok , Karena Masalah Apa Pokoknya Gara-gara Satu Temen Aku Yang Buat Salah Guru Itu pundung Ke Sekelas Gak Mau Ngajar.
Bab 1: Seteguk Air dan Langkah Kecewa
Suara kipas angin gantung di langit-langit kelas berderit pelan, membelah udara siang yang makin pengap. Sebagian besar siswa sudah lelah menahan kantuk di jam pelajaran terakhir. Di depan kelas, Pak Danu—guru mata pelajaran yang terkenal sangat tegas dan memegang teguh disiplin—sedang menuliskan beberapa poin penting di papan tulis. Suasana kelas sebenarnya cukup tenang, sampai sebuah suara tegukan air yang agak keras terdengar dari barisan belakang.
Rian, teman sekelas yang duduk di pojok kiri, baru saja menurunkan botol minumnya. Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan tanpa rasa dosa. Sepele memang, hanya minum air putih. Namun, bagi Pak Danu, ada tata krama yang dilanggar. Sejak awal semester, beliau sudah membuat aturan tegas: tidak ada yang boleh makan atau minum saat guru sedang menjelaskan di depan, kecuali jika sudah meminta izin terlebih dahulu.
"Rian," suara Pak Danu terdengar berat, memotong keheningan. Beliau membalikkan badan, kapur di tangannya terhenti di udara. "Siapa yang mengizinkan kamu minum?"
Rian bukannya meminta maaf, malah menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan santai. "Cuma minum air putih doang, Pak. Udah haus banget dari tadi," jawabnya dengan nada menyolot yang memancing perhatian seluruh isi kelas.
"Aturan di kelas saya tetap aturan, Rian. Kamu tahu prosedurnya," tegas Pak Danu, matanya menatap lurus.
Bukannya meredam suasana, Rian justru makin menjadi-jadi. Setiap kali Pak Danu mencoba memberikan pemahaman tentang pentingnya etika dan rasa hormat, Rian selalu memotong. Ia terus membalas setiap perkataan Pak Danu dengan nada meremehkan. Jawaban-jawaban Rian yang semakin ngelunjak membuat rahang Pak Danu mengeras. Suasana kelas mendadak mencekam; tak ada satu pun dari kami yang berani bernapas lega.
Hingga akhirnya, batas kesabaran Pak Danu habis. Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, beliau menutup buku absensi dengan dentuman keras, merapikan barang-barangnya, lalu melangkah lebar keluar dari kelas menuju ruang guru.
Kami semua terdiam terpaku. Kejadiannya begitu cepat. Rasa panik mulai menjalar saat menyadari Pak Danu benar-benar enggan melanjutkan pelajaran. Beberapa teman perempuan mulai menyalahkan Rian, sementara Rian sendiri hanya bersedekap dengan muka asam.
"Gara-gara lu nih, Rian! Kalau Pak Danu nggak mau ngajar kita lagi gimana?" omel ketua kelas.
Setelah perdebatan singkat yang sengit, disepakati bahwa kami tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut. Atas desakan bersama, Rian akhirnya mau melangkah.
Namun, tidak hanya Rian yang pergi—kami sekelas memutuskan untuk ikut mendampinginya menuju ruang guru sebagai bentuk rasa tanggung jawab bersama.
Langkah-langkah kaki kami yang berderap di koridor sekolah terasa begitu berat, membawa kecemasan akan amarah sang guru yang belum mereda.
Bab 2: Ponsel dalam Tas dan Tugas Perkantoran
Masa-masa di SMK memang selalu penuh dengan aturan ketat yang sering kali menguji kesabaran. Kejadian bersama Pak Danu tadi mengingatkanku pada masa-masa awal masuk jurusan Administrasi Perkantoran, saat kami berhadapan dengan Pak Hendra, guru praktikum yang sangat disiplin terkait penggunaan teknologi di dalam kelas.
Siang itu, sebelum membagikan lembar kerja, Pak Hendra berdiri di depan meja guru dengan kedua tangan bersedekap di dada. Pandangannya menyapu seluruh sudut ruangan
"Perhatikan semuanya," ucap Pak Hendra dengan nada tenang namun tidak menerima bantahan. "Selama jam pelajaran saya, tidak boleh ada satu pun yang memainkan ponsel. Apalagi membukanya secara sembunyi-sembunyi. Masukkan semua ponsel kalian ke dalam tas sekarang juga. Kita fokus penuh pada materi.
Kami semua mengangguk serentak. Suara ritsleting tas yang dibuka dan ditutup bersahut-sahutan di seluruh ruangan. Kami sadar betul bahwa melanggar instruksi Pak Hendra berarti siap menerima konsekuensi berat.
Setelah memastikan seluruh ponsel sudah tersimpan rapi, Pak Hendra mulai menuliskan instruksi tugas di papan tulis. Hari ini kami diberikan tugas mandiri yang cukup menyita waktu dan ketelitian. Kami diminta untuk mengidentifikasi seluruh alat-alat perkantoran—mulai dari mesin penghancur kertas, mesin pemotong kertas, stempel, hingga filing cabinet.
Tugas kami tak sekadar menyebutkan namanya, tetapi juga harus menguraikan fungsi mendetail serta tata cara penggunaannya langkah demi langkah secara tertulis.
Suara gesekan pena di atas kertas langsung memenuhi ruangan. Kelas terasa hening, hanya ada kesibukan jemari kami yang menari-nari menyusun deskripsi alat-alat tersebut. Di tengah kesibukan itu, aku sempat melirik ke arah Rian yang duduk tak jauh dariku. Ia tampak memutar-mutar penanya dengan wajah bingung, memikirkan fungsi salah satu alat kantor yang lupa ia catat minggu lalu.
Di saat itulah aku menyadari betapa tipisnya batas antara mematuhi aturan dan tergoda untuk melanggar. Tanpa ponsel di tangan untuk mencari informasi dengan cepat di internet, kami dipaksa untuk benar-benar mengandalkan daya ingat, buku catatan, serta diskusi sehat antar teman.
Kejadian masa SMK ini menyadarkan kami semua. Aturan-aturan ketat dari para guru—mulai dari larangan minum tanpa izin hingga instruksi menyimpan ponsel—bukanlah bentuk kebencian. Semua itu adalah cara mereka membentuk kedisiplinan dan rasa hormat dalam diri kami, sesuatu yang baru benar-benar kami pahami setelah melaluinya bersama-sama.
Dan Emang Sempet Di Kasih Tau Cara Nya Dan Cuman Apa Sih Lupa Lagi Dan Sebenarnya Di Buku Paket Nya Juga Ada Cuman Ada Beberapa ,Dan Ada Temen Satu Cewek Aku Dia Nekat Cari Di Google Lewat Hp Dia , Padahal Guru Itu Dah Kasih Tau Haduh.
Dan Akhirnya Pun Ketahuan Dan Yup Sama Seperti Yang Pertama Tadi Guru Itu Pundung Sampai Gak Ngajar Sekelas.