Indonesia
NovelToon NovelToon
Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 — Alat yang Ditemukan

Kebiasaan lama tidak pernah benar-benar hilang. Setiap malam, sebelum tidur, Raka selalu melakukan putaran singkat memeriksa titik-titik rawan di rumah utama — bukan lagi tugas resmi seorang sopir, tapi insting yang sudah mendarah daging sejak masa dinasnya. Malam itu, saat memeriksa ruang kerja Handoko yang biasanya terkunci, ia menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ada: getaran elektromagnetik samar di bawah meja kerja, terdeteksi oleh alat pemindai kecil yang selalu ia bawa sejak insiden gelas beracun.

Raka berlutut, memeriksa bagian bawah meja dengan senter kecil, dan menemukan perangkat sebesar kancing baju tertempel rapi di sudut yang tak terlihat — persis seperti yang pernah ia gunakan sendiri dalam misi-misi lama.

Penyadap profesional, pikirnya, dadanya dingin. Bukan barang murahan.

Ia mencabut perangkat itu dengan hati-hati, menyimpannya dalam kantong kecil, lalu memeriksa rekaman CCTV internal rumah yang bisa ia akses lewat sistem keamanan dasar milik keluarga. Rekaman itu menunjukkan dengan jelas: Reza, dua malam lalu, masuk ke ruang kerja ayahnya sendirian pukul sebelas malam, dengan alasan "mengambil dokumen", tinggal di sana lebih lama dari yang wajar untuk sekadar mengambil berkas.

Keesokan paginya, Raka menunggu Reza di garasi, tempat yang cukup jauh dari telinga siapa pun di rumah utama.

"Kak Reza," panggilnya, nada suaranya tenang tapi tidak memberi ruang untuk menghindar.

Reza berhenti, wajahnya langsung memucat melihat apa yang digenggam Raka di telapak tangannya — perangkat kecil yang seharusnya tersembunyi rapi di bawah meja ayahnya.

"Aku... aku bisa jelaskan," Reza tergagap, matanya liar mencari jalan keluar yang tidak ada.

"Aku tidak butuh penjelasan tentang apa ini," jawab Raka, menyimpan perangkat itu kembali ke sakunya. "Aku butuh tahu siapa yang memberikannya padamu, dan sejak kapan."

Reza terdiam lama, tubuhnya bergetar antara ketakutan dan kelegaan yang aneh — akhirnya, setelah berbulan-bulan menyimpan rahasia yang menghancurkannya sendiri, seseorang mengetahuinya.

"Sudah beberapa bulan," akhirnya ia mengakui, suaranya pecah. "Awalnya cuma diminta memberi info jadwal keluarga, dibayar cukup untuk menutupi hutang kartu kreditku yang mulai tidak terkendali. Aku pikir itu tidak berbahaya, cuma jadwal, bukan rahasia penting."

"Dan sekarang?"

"Sekarang mereka mengancamku," Reza menatap Raka, matanya basah menahan tangis yang selama ini ia tolak keluarkan. "Mereka bilang kalau aku tidak menaruh alat itu, mereka akan membuka semua yang sudah kulakukan ke Ayah. Aku... aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Raka. Aku terjebak."

Raka menatap kakak iparnya lama, mengingat dirinya sendiri tiga tahun lalu — seseorang yang juga pernah merasa terjebak antara kesetiaan dan rasa takut, sebelum memilih jalan yang jauh lebih sulit demi orang-orang yang ia cintai.

"Kau punya dua pilihan sekarang, Kak," katanya akhirnya, lebih lembut dari yang Reza duga. "Terus bergerak dalam ketakutan, menunggu mereka menghancurkanmu perlahan sampai tidak ada lagi yang bisa kau selamatkan. Atau membantu kami menghentikan mereka, dan mendapat kesempatan memperbaiki semua ini sebelum semuanya terlambat."

"Membantu kalian? Aku bahkan tidak tahu siapa 'kalian' sebenarnya."

"Kau tidak perlu tahu semuanya sekarang," jawab Raka. "Yang aku butuhkan darimu cuma satu hal — nomor atau cara kontak yang mereka gunakan untuk menghubungimu. Biarkan orang lain yang menanganinya dari sana."

Reza mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar, menunjukkan riwayat pesan singkat yang selalu dihapus otomatis setiap kali percakapan selesai — tapi satu nomor tetap tercatat di log panggilan terakhir malam sebelumnya.

Raka memfoto nomor itu cepat, menyimpannya untuk diteruskan ke Wulan. "Terima kasih, Kak. Ini langkah pertama yang benar."

"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tentang alat itu?"

"Biarkan mereka pikir kau sudah menaruhnya," Raka menjawab tenang, sudah menyusun strategi di kepalanya. "Aku akan menempatkan perangkat palsu di posisi yang sama — sesuatu yang terlihat aktif dari luar, tapi tidak benar-benar berfungsi. Selama mereka pikir mereka masih punya telinga di rumah ini, mereka tidak akan mencari cara lain yang mungkin lebih berbahaya."

Reza mengangguk, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan merasakan sedikit beban terangkat dari pundaknya, meski ketakutan akan konsekuensi jangka panjang masih membayangi wajahnya.

"Raka," katanya, sebelum mereka berpisah kembali ke rutinitas rumah yang harus terlihat normal, "kenapa kau tidak langsung memberitahu Ayah soal ini? Kau punya alasan penuh untuk menghancurkanku di depannya."

Raka menatap kakak iparnya sejenak, mengingat kembali betapa mudahnya rasa takut membuat orang baik melakukan hal yang salah. "Karena keluarga ini sudah cukup hancur oleh kebohongan, Kak. Aku tidak berniat menambahnya, selama kau bersedia membantu memperbaikinya sekarang."

1
Eka P
c
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!