"Sudah berkali-kali aku merasakan sakit akan kegagalan cintaku. Apakah aku masih di beri kesempatan untuk bahagia? " Nindi.
"Bahagia itu hati yang merasakan. Jika kamu mampu bersyukur maka kamu akan bahagia. Yang pergi biarlah pergi. Yang datang mari kita sambut. Jika yang pergi meninggalkan luka maka yang datang akan membawa kebahagiaan" Fahri.
"Tapi hatiku lelah sudah bertahun-tahun aku menantinya tapi akhirnya dia pergi juga. Apa salahku? aku juga ingin bahagia. " Nindi.
"Tetaplah tersenyum jika kamu tersakiti, tetaplah bahagia jika kamu merasa gagal. Karena sejatinya Allah menyayangi kita lewat ujian.Cinta itu di bungkus Allah dengan ujian. Jika kita mampu melewati ujian itu maka kita akan menemukan rasa cinta itu dari Allah. Hidup itu terus berjalan tergantung kitanya saja bagaimana menyikapi masalah" Fahri.
Bagaimana dengan kehidupan Nindi yang bertahun-tahun menanti kekasihnya yang pergi ke bertugas tanpa ada kabar?. Apakah penantiannya akan berujung manis? ataukah kepahitan. Yuk ikuti novel ini sampai selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyah Nur khudlriyyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Hari-hari yang terasa berat selama ini sudah di lalui orang tua Angga, air mata kesedihan tak pernah absen dari sudut mata mereka.
Bukan karena tak ikhlas tapi belum siap atas kepergian anak semata wayangnya yang masih terbilang muda itu, meski seharusnya sudah siap jika berangkat masih bernyawa pulang hanya tinggal raga saja.
Semua harus siap karena menjadi tentara sudah harus mau menerima resiko nya. Demi menjaga tanah air bumi pertiwi yang tercinta ini.
Tapi pasalnya yang membuat orang tua Angga selalu berharap kepulangan Angga, karena kematian Angga masih misterius. Jenderal pun tak bisa menemukan mayat Angga.
Meski di nyatakan meninggal, tapi orang tua Angga tak menganggap Angga sudah meninggal, hingga setiap hari air mata dalam doa selalu mengiringi berharap ada sebuah keajaiban datang.
Allah maha pengasih dan penyayang, Allah maha pemurah dan Allah maha pemberi, di tepat seribu hari kepergian Angga di saat semuanya sudah benar-benar ikhlas sebuah keajaiban datang dengan tiba-tiba.
Angga Dikta Elmana hadir di tengah-tengah kita semua. Semua terharu akan kedatangan Angga air mata memenuhi rumah orang tua Angga satu persatu silih berganti orang-orang memeluknya dengan erat.
Air mata kebahagiaan menyelimuti semuanya, mesti sedikit kaget tapi mereka percaya akan mukjizat Allah yang nyata.
Saat semua orang memeluk Angga, Nindi masih terdiam terpaku bersama Fahri memandangi lelaki yang bernama Diksa itu.
Angga menoleh.
"Mas Angga?" berat Nindi mengucap itu.
"Siapapun nama kamu, tapi aku rasa kamu adalah orang spesial di dalam hatiku. Maaf aku melupakan namamu" lirih Angga di hadapan Nindi dan Fahri.
Angga maju selangkah mendekati Nindi.
"Entah siapa namaku sebenarnya Angga atau Diksa aku masih belum ingat. Tapi aku masih ingat siapa diriku sebenarnya"
"Ijinkan aku mengingat semua tentang kita, dan bantulah aku untuk memulai harapan kita yang tertunda"
Nindi hanya bisa terisak tangis, ia takut apa yang ada di hadapannya ini hanyalah sebuah mimpi yang hanya membuatnya terpuruk saja.
"Jemput lah cintamu, sudah waktunya kamu bangkit dari mimpi buruk mu, selamat berbahagia aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu" bisik Fahri lalu sedikit melangkah mundur.
Angga meraih tangan Nindi lalu ia memeluk nya erat. Ada getaran yang menyalakan api di dadanya, seakan semua jiwanya bangkit dari mimpi buruk nya selama ini.
Rindu...ya rindu yang hampir tak terobati itu di lampiaskan dalam tangisan. Dalam pelukan itu hati Nindi dan Angga terasa saling mengisi hati masing-masing yang telah kosong selama ini.
Semua membiarkan dua sejoli ini saling meluapkan emosi cinta mereka, bahagia dan haru menyelimuti semuanya.
Tapi ada satu sosok yang merasakan kehancuran, ia pergi meninggalkan sahabatnya yang sudah menemukan kebahagiaan itu.
Di balik kebahagiaan sahabatnya ia merasakan hatinya yang hancur berkeping-keping.
Ia masuk kedalam mobilnya, tangisnya pecah begitu saja. Harapan yang sudah ia susun selama ini seakan hancur begitu saja.
Ia bahkan harus mundur dengan hormat, dia bahkan rasanya sudah tidak ada kesempatan lagi untuk mendekati atau memiliki cinta Nindi seutuhnya.
Ia akan menyimpan rasa cinta itu di hati nya dan akan ia tutup rapat-rapat sedemikian rupa agar cinta itu menjadi kenangan yang indah di hatinya.
Setidaknya ia tidak salah mencintai wanita yang spesial itu.
"Selamat berbahagia sahabat ku, sudah waktunya aku pergi. Tugasku sudah selesai menjagamu. Sekarang sudah ada penjaga sesungguhnya yang akan selalu menjagamu dengan penuh cinta" lirih Fahri dalam tangisnya.
"Maafkan aku yang menjadi pria cengeng seperti ini" Fahri mengusap air matanya lalu melajukan mobilnya untuk meninggalkan halaman rumah orang tua Angga.
Dalam keadaan kalut Fahri pergi melewati jalan yang tak begitu ramai tanpa arah. Ia bingung harus kemana untuk melampiaskan rasa sedihnya.
Hingga ia berhenti di sebuah jembatan indah penghubung desa. Air mengalir deras di bawah sana. Ia berdiri menikmati aliran air itu.
Cukup lama ia berdiri di sana hingga orang lalu lalang tak ia pedulikan meski ada yang menaruh curiga padanya.
"Mas, jangan siksa dirimu dengan masalah dunia. Semua hanya sementara sebelum mas nantinya menyesal" tiba-tiba seorang bapak-bapak menghampiri.
"Maksud bapak apa?" Fahri sedikit heran.
"Jangan bunuh diri, bunuh diri di benci Allah. Hadapi dengan gentle masalah itu, bukan lari tak bertanggungjawab seperti ini"
"Duh, siapa yang mau bunuh diri pak?" Fahri menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"La dari tadi saya perhatikan mas nya berdiri di sini cukup lama, apalagi mas melihat kebawah terus"
"Duh pak, nggak mungkin saya bunuh diri saya belum menikah pak. Saya juga pingin punya istri dan anak pak"
"Owalah,maafkan saya mas kalau gitu" bapak-bapak itu menangkupkan kedua tangannya memohon maaf pada Fahri.
"Ia pak tak apa, maaf sudah membuat bapak khawatir. Saya hanya rindu dengan sahabat kecil saya pak. Saya dulu pernah mandi di sana dengan sahabat saya"
"Owalah begitu ya mas... sekali lagi maaf ya mas"
"Iya pak" Lalu setelah berbincang-bincang Fahri di ajak bapak itu ke warung kopinya di pinggir jalan dekat jembatan.
Di sana Fahri mendengar banyak kisah indah yang membuatnya bisa melupakan masalah nya sesaat.