Banida Afshari gadis yang akan dijodohkan oleh orang tuanya dengan lelaki yang menjadi cinta dalam diamnya.
Davin Al-Farizi terpaksa menerima perjodohan dengan Nida demi sang keponakan yang berusia 2 tahun agar mempunyai orangtua lengkap. Apalagi Kayla selalu memanggil Nida dengan sebutan 'Mama'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arkya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merindu
"Nabila lihat.. aku dapat apa nih?" Setelah ketiga pria tampan itu pulang dari rumahnya, Nida segera masuk ke kamarnya, menunjukkan kado yang ia dapat dari Fahmi dan Irvan kepada sahabat satu-satunya itu.
Nabila yang bersandar di kepala ranjang karena sedang nonton Drakor seketika mendongakkan kepalanya begitu mendengar suara Nida yang terdengar nyaring di telinganya. Ia tidak keluar saat ada Irvan datang bertamu, karena tubuhnya benar-benar lelah sehingga memutuskan untuk bersantai saja di dalam kamar.
"Apa tuh?" Tanya Nabila, ia tertarik dengan dua paper bag yang Nida letakkan di atas ranjang. Ponsel yang ada di tangannya kemudian ia matikan.
"Hadiah dari Kak Irvan dan Kak Fahmi." Jawab Nida dengan menaikkan turunkan kedua alisnya menandakan kalau ia senang sekali mendapat dua kado itu.
"Hadiah dalam rangka apa?" Tanya Nabila, ia mulai membuka salah satu kado itu tanpa mendapat perintah dari sang pemilik. Ia juga tidak ingat jika hari ini adalah ulang tahun sahabatnya.
Nida memukul lengan Nabila. "Ck, masa nggak ingat sih kalau hari ini aku ultah." Ucap Nida dengan mencebik. Ia pura-pura cemberut. Namun Nabila tidak menghiraukan perkataan Nida karena gadis itu hanya fokus membuka kotak kado.
"Ya ampun Nida.. high heels ini bagus banget!!" Nabila memekik, ia terpesona dengan sepatu berhak tinggi itu.
"Jelas dong hadiah dari Kak Irvan." Celetuk Nida denga bangganya, memuji pemberian dari laki-laki itu.
"Buat aku ya?" Pinta Nabila sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya, merayu. Sepatu itu ia bekap ke dadanya. Siapa tahu Nida akan memberikan padanya.
"Enak saja, ini hadiah mahal. Kamu beli aja sendiri." Tolak Nida sambil merebut sepatunya dari tangan Nabila.
"Pelit." Cibir Nabila kemudian beralih ke kotak satunya lagi. "Nid, ini isinya kira-kira apa ya?" Tanya Nabila yang penasaran akan hadiah dari Fahmi yang belum di buka itu.
"Nggak tahu, cepat buka!" Nida juga penasaran dengan isi di dalam kotak hitam berpita itu. Nabila pun membukanya setelah mendapat instruksi dari Nida.
"Waow.. Kak Fahmi memberimu gamis, Nid." Ucap Nabila takjub. Gamis berwarna ungu pastel itu ia bentangkan di depannya. Sungguh, Nida beruntung sekali dapat hadiah yang dua-duanya sangat wah menurutnya.
Nida hanya tersenyum sambil mengingat ucapan Fahmi tempo hari lalu yang mana seharusnya malam ini Fahmi sudah menembaknya.
"Eh, terus kamu dapat hadiah apa dari Kak Davin?" Tanya Nabila. Ia baru sadar hanya ada dua kado saja.
Nida menghela nafasnya. "Boro-boro dapat hadiah, dia aja nggak ngucapin selamat." Jawab Nida dengan menampakkan raut sedih. Entah Davin lupa atau memang sengaja tidak memberinya hadiah.
"Ckckck.. Kak Davin kelewatan masa calon istrinya tidak diberi kado. Keterlaluan sekali dia." Ucap Nabila memberengut kesal, mengumpat sifat Davin yang tidak respect dengan sahabatnya. Nida pun mengangguk membenarkan ucapan Nabila.
"Iya, malah yang perhatian laki-laki lain." Sambung Nida, kemudian merebahkan tubuh rampingnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar.
"Eh tapi kita nggak boleh suudzon dulu, siapa tahu kan Kak Davin emang sengaja nggak ngasih kamu hadiah karena dia ingin ngasih kejutan lain." Asumsi Nabila karena melihat wajah murungnya Nida.
"Entahlah." Jawab Nida dengan lesu, ia tidak mau memikirkan yang muluk-muluk.
*
Di kamarnya. Saat ini Davin berdiri, menatap ke arah luar jendela dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana. Entah kenapa akhir-akhir ini ia begitu memikirkan seseorang, seseorang yang pernah hadir di masa lalunya. Seseorang yang pernah singgah di hatinya di saat ia duduk di bangku sekolah menengah atas.
"Bagaimana kabarmu saat ini? Sebelas tahun kamu pergi tanpa memberiku kabar?" Tanya Davin sambil memandang sebuah foto lama.
Foto antara dirinya dengan seorang gadis cantik. Gadis itu tersenyum manis ke arahnya, mereka berdua bergandengan tangan berjalan di tepi pantai kala itu.
Foto itu adalah kenangan terakhir dirinya bersama gadis itu. Gadis cantik yang bernama 'Anisa' cinta pertamanya, kekasihnya. Davin terlalu pintar menyembunyikan perasaan kepada kedua sahabatnya. Tidak ada yang tahu jika dia pernah menjalin kasih dengan Anisa. Mereka berdua begitu pandai melakukan pacaran secara diam-diam selama satu tahun lebih.
Hingga acara kelulusan pun tiba dan saat itu Anisa pergi begitu saja tanpa mengucapkan kata pamit atau kata perpisahan. Gadis itu hanya meninggalkan sebuah kenangan indah yang masih membekas di ingatannya bahkan sampai sekarang.
"Aku merindukanmu Anisa." Ucap Davin lagi, lalu membawa foto itu ke dalam dekapannya.
.
Bersambung....
terima kasih sdh update thor. semoga stlh ini update nya rutin