Aku dapat telfon dari ibu dan katanya itu hal penting ibu meminta ku pulang, terpaksa aku pulang. Aku tidak menyangka aku mendadak di suruh menikah sampai aku tidak menyangka wanita yang akan aku nikahi bukanlah wanita tipe ku, bahkan melainkan jauh dari tipe ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur dzakiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IGNORING ME
Suasana yang begitu mencekam ketiga orang itu duduk sambil menikmati makannya, tanpa bersuara. Aktar yang diam dengan hawa menakutkan membuat kedua wanita di sekitarnya menjadi canggung, meski ingin bersuara tapi terasa pita suaranya seperti putus. Diam Aktar adalah diam yang menakutkan.
Dua perbedaan wanita yang ada disekitarnya, yang satunya berpakaian terbuka dan yang satunya lagi berpakaian tertutup. Walau keduanya wanita tapi kharismanya berbeda pandangan yang dapat membuat orang terpukau adalah Irna.
Aktar melihat jam yang melingkar di tangannya, sepertinya jam berangkat sudah waktunya. Aktar menarik tissu yang ada di samping, kemudian ia lap mulutnya meski tak kotor dan belepotan.
"Aku akan berangkat,"Aktar berdiri segera siap untuk pergi meninggalkan tempat. Tapi ia lagi-lagi di cegah oleh Najwa, seperti biasa yang dilakukan Najwa saat Aktar akan berangkat kerja. Najwa mengangkat tangan kanannya berharap hal ini tidak diabaikan Aktar. Sedangkan Irna yang masih duduk melihat Najwa ia mengerutkan keningnya lantaran heran ia tidak paham dengan maksud Najwa mengangangkat tangannys seperti itu di hadapan Aktar.
"Kak.."panggil Najwa dengan lembut dengan sorotan mata berharap, meski dirinya tidak mencintai Aktar tapi tetap saja hal yang harus dilakukan sebagai Istri harus dikerjakan. Karena itu juga tanda berbakti kepada suami.
"Aku tidak bisa, buang saja hal kebiasaan buruk itu !"Aktar mengambil tas kerjanya yang terletak di sampingnya kemudian ia pergi menuju mobil yang sudah siap menunggu untuk di antar.
Buruk ? kamu mengakatakan kebiasaan buruk ? padahal ku lakukan ini hanya untuk melalukan tanggung jawab ku sebagai istri. Bagaimana dengan mu ? yang tidak pernah melakukan tanggung jawabmu sebagai suami ! apakah kamu pernah menjadi imam ku saat sholat ? membangungkan ku untuk sholat ? apakah pernah. Entah apa salah ku sehingga Allah menakdirkan ku bersama pria yang tidak bisa menjadi Imam yang baik.
Najwa melihat punggung kepergian Aktar, Ia sedih diperlakukan seperti itu, tapi hal yang masih ia pertanyakan kenapa tiba-tiba saja sifatnya berubah. Tidak sama dengan dua hari yang lalu, meski Najwa risih saat Aktar menyentuhnya tapi Najwa senang karena Aktar masih memiliki sisi lembut. Tapi mengapa sifat buruknya kembali lagi. Itu masih pertanyakan terus oleh Najwa.
Begitu Aktar pergi Irna langsung menyusul Aktar, untuk mencari simpatik darinya. Ketika Aktar menjauh dari Najwa disana Irna bisa mengambil kesempatan mengambil perhatian agar Aktar segera tertarik dengannya.
"Kak Aktar !"Aktar yang sudah akan masuk kedalam mobil tiba saja terhenti karena panggilan Irna, dengan wajah kurang baik Aktar berbalik kearah Irna yang masih berdiri di atas lantai teras. Ketika mendapat gubrisan Aktar, Irna langsung berlari menghampirinya.
"Perbaiki jas mu, ini agak terlihat kusut."ucap Irna sambil merapika jas Aktar begitu juga dengan dasinya. Padahal sebenarnya tidak ada kesalahan pun kepada jas atau dasi Aktar. Aktar hanya diam menurut dengan wajah datarnya.
"Kapan kau pulan ?"Irna mulai menanyakan seolah dialah Istrinya. Aktar tergelak melihat Irna dengan sorotan tajam.
"Aku sudah memperbolehkan mu menyentuh pakaian ku, tapi kau juga tidak ada hak untuk menanyakan ku !"
"Aku punya hak ! aku sepupu mu dan aku tinggal disini untuk membatu istri mu melayani mu, jadi aku berhak menanyakan itu."ucap Irna tegas dan berani.
"Huh !"Aktar langsung masuk kedalam mobil.
Brakk
Ia menutup dengan sangat kencang sehingga menyiptakan suara yang cukup besar dan membuat Irna kaget seakan jantungnya akan copot juga.
"Jalan !"Aktar memerintahkan kepada supir, supir itu mengangguk kemudian menghidupkan mesin lalu mobil itu melaju pergi.
Irna terdiam mematung, ia terkena hembusan debu saat mobil itu pergi dengan cepat. Bahkan saat ini dirinya masih di abaikan Aktar, tapi Irna tidak akan putus asa begitu saja. Dia tetap harus berusaha untuk merebut hati Aktar apapun caranya.
Najwa tenggelam dalam air ful didalam bak, ia menenangkan perasaannya yang sempat sakit. Apakah dia akan terus seperti ini, menjadi istri yang terabaikan. Dia ingin masa-masa ini cepat berlalu ia ingin merasakan bahagia. Ia tiba-tiba teringat, mungkin saja cobaan ini sisa dosa ku saat mencintai seseorang dengan hal salah. Mengharapkan dengan penuh khayalan, selalu bermimpi hidup dengannya selamanya. Bahkan sampai sekarang diriku masih mengharapkan pria yang selalu menjadi pujaan hatiku pria idaman padahal aku sudah menikah. Mungkin inilah balasan Allah karena aku tidak menerima takdir ini dengan sungguh. Maka mulai dari sekarang aku akan menerima kak Aktar suamiku dengan sepenuh hati dan perlahan membuatnya menerim diri ku dan menajadikan imam yang sholeh.
Cukup lama Najwa berendam ia segera menyudahi dirinya meski masih ingin tetap berada dalam bak, tapi mengingat kalau terlalu lama didalam kamar mandi tidak baik. Karena kamar mandilah tempat Jin berkumpul. Najwa meraih kimono putih lembutnya dengan handuk kecil untuk menutup rambutnya yang basah. Gadis itu segera keluar dari dalam kamar mandi.
Gadis itu duduk di depan cermin meja riasnya, ia pandang wajah yang tiap harinya selalu ditutupi kain saat keluar. Bulu matanya yang melentik tanpa dilentikkan, Najwa bersyukur bisa memiliki wajah yang cukup sempurna. Tapi ia tetap memiliki kekurangan.
Setela itu Najwa berdiam diri ia tidak tahu apa lagi yang harus ia kerjakan, di dalam rumah ini begitu sunyi tidak ada kesenangan di dalamnya. Selain ia di kamar membaca buku, Al-qur'an dan lainnya. Kalau hanya itu terus yang ia lakukan ia juga pasti akan merasa bosan, apa lagi sekarang mertuanya sedang pergi keluar kota mengurus bisnis. Ia berusaha memikirkan Cara yang bagus dan asyik agar dia tidak bosan. Tidak cukup lama ia sudah mendapatkan ide yang bagus.
Ia segera mengambil Jilbabnya dan juga mengambil cadar yang sepasang dengan warna jilbabnya. Kemdian ia pergi meminta sopir mengantarnya kepesantren ia ingin menemui adik-adik yang dekat dengannya. Sebelum ia tiba di pesantren ia singgah ke toko dulu membeli beberapa cemilan untuk di bawakan mereka dan putri yang lainnya.
Saat ia tiba di pesantren, mobilnya berhenti tepat di depan Asrama putri. Najwa kemudian keluar dengan membawa kantong bawahannya.
"Oh ya, nanti kanton yang di belakang, aku suruh putri yang ambil. anda tinggal membantunya saja."kata Najwa.
"Iya nona."
Kemudian Najwa pergi, memasuki Asrama puti. Karena Asramanya dua tingkat dan kamar mereka berada di lantai dua.
"Assalamualaikum...."kata Najwa saat ia sudah berada di depan kamar mereka.
"Waalaikumussalam... kak Najwa, ayo masuk."katanya, kemudian Najwa masuk.
Iqo', Mhita dan Zalfah langsung bahagia melihat kedatangan Najwa.
"Ini untuk kalian."kata Najwa sambil memberikan kanton itu, Zalfah kemudian mengambilnya.
Bersambung...
outhor ya kemana ya🤔
Lanjut lagi kak