Bijak-bijaklah membaca, karena novel ini mengandung unsur perundungan/Pembully-an, serta menguras hati pembaca.
Kejadian yang tak benar adanya itu mampu merenggut kebahagiaan Senja & Lengkara.
Dia, Senja Cencal Aurora si gadis yang memendam luka dengan watak kerasnya. Memiliki janji untuk tidak menangis di hadapan manusia-manusia yang mempunyai nilai bejat.
Cinta beda keyakinan adalah cinta yang memiliki jarak paling jauh bukan? tak terlintas di dalam pikiran Aksa dan Senja untuk kedepannya dengan menjalani hubungan yang tak memiliki masa depan.
Lengkara menjadikan Aksara rumah untuk pulang, sebaliknya, laki-laki itu membuat Lengkara patah hingga pincang.
Sesederhana bahwa mereka adalah dua insan yang saling mencintai, namun putaran takdir yang melibati kehidupan mereka berakhir dengan yang namanya perpisahan.
Lengkara sangat mencintai Aksara bahkan sampai akhir hayatnya.
Senja sangat menyukai Angkasa, bahkan dengan nyawa taruhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon -DeniAn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21. Biola Lengkara
Senja menyeka air matanya, ia kemudian melihat Kara yang sudah menyeka air matanya terlebih dahulu. Senja masih setia berjongkok dihadapan Kara. Tak masalah bagi Kara jika celana yang ia kenakan sedikit ada bercak basah air mata.
"Lo tau, Ra," ucap Senja membuka pembicaraan
Kara melirik kearah Senja. Kedua mata mereka sembab, mereka saling tatap menatap sejenak, lalu setelah itu sedikit tertawa kecil karena melihat mata masing-masing.
"Dulu gue punya rumah yang selalu ada buat gue, jadi orang pertama yang tau kabar gue, rumah tempat gue berpulang, rumah tempat gue cerita tanpa rasa canggung, rumah yang selalu nemenin hari-hari gue. Tapi sekarang, rumah itu udah pergi, bahkan udah ada pemiliknya yang baru." Ujar Senja dengan suara marau
Kara mengernyitkan dahinya, "Lo kan punya orang tua,"
"Enggak Ra, orang tua gue udah gak ada. Nyokap gue pergi entah kemana, bokap gue udah gak peduli lagi sama gue, gue gak tau harus cerita sama siapa lagi," Senja kembali mengeluarkan air matanya.
Kara menatap Senja pilu, nasibnya hampir sama dengannya. Tapi bedanya, orang tuanya masih ada dirumah yang sama, dan diatap yang sama, namun Kara kehilangan peran orang tuanya.
Kara berusaha tak menangis lagi, ia tak mau mengacaukan suasana, dan menambah kesan sedih kepada Senja.
"Terus, teman-teman Lo gimana? Kan masih ada mereka?" Tanya Kara
Senja menggeleng pelan, ia menunduk dan menyeka air matanya. Senja menoleh kearah Kara yang menatapnya pilu.
Senja menceritakan tentang dirinya, dan awal ia mendapat masalah itu.
Cukup lama Senja bercerita, hingga hujan sudah mulai mereda. Mata Kara terbelalak, air mata yang ia tahan tadi, sudah mulai tak terbendung lagi.
"Tapi gapapa, ya mau bagaimana lagi, sudah takdirnya kok," ucap Senja diakhir ia bercerita.
Senja bangkit dari posisinya, dan menatap langit yang sudah tidak mendung lagi. Sedangkan Kara, ia masih mencerna cerita Senja, kenapa nasib gadis dihadapannya ini bisa sama dengannya.
"Ayo pulang, udah mau sore ternyata, kok gak kerasa ya," ucap Senja kepada Kara.
Kara mengangguk, kemudian ia kembali menunduk.
"Gue yang bakal nganterin Lo,"
"Lo kesini jalan kaki?" Tanya Kara
"Enggak, gue bawa sepeda gayuh, tuh di sana," jawab Senja seraya menunjuk ke arah sepedanya
"Yaudah yuk pulang, Lo bawa sepeda Lo, gue bisa kok dorong sendiri kursi roda gue," ujar Kara
Senja mengangguk, kemudian Senja menuntun sepedanya, sedangkan Kara mendorong roda dari kursi rodanya. Senja menuntun pelan sepedanya agar sama langkahnya dengan Kara. Senja tampak berpikir sejenak.
"Ehh, Ra, kalau gue boleh tau, itu kaki Lo kenapa ya?" Tanya Senja
Kara tersenyum sendu kearah Senja. Seketika ia menghentikan kursi rodanya yang membuat Senja juga menghentikan langkahnya.
"Bakal gue ceritain, tapi sambil kita jalan," ucap Kara
Senja mengangguk sebagai balasannya, kemudian mereka berjalan menyusuri jalan yang sepi di sore hari.
...****************...
Flasback
Lengkara berlari cepat sembari membawa tas yang berisi biola didalamnya, gadis itu berlari menyusuri koridor sekolah. Kara sesekali melihat ke arah jam tangannya yang membuat Kara berdecih.
Kara berhenti disalah satu ruangan, yaitu ruang seni. Kara mengetuk pintu kemudian ia membuka pintu ruangan seni itu.
Kara disambut dengan tatapan yang tak menyenangkan didalam sana. Kehadirannya bagaikan sampah yang tak mengenakkan untuk pandang.
"Kenapa kamu terlambat?" Tanya guru seni yang membuat Kara diam ditempat
"Sa-,"
"Mungkin dia masih kecentilan sama cowok-cowok di luar sana buk," celetuk salah satu siswi
"Jessy kamu diam, ibu lagi berbicara dengan Kara,"
Kara menundukkan kepalanya, "tadi saya gak sengaja terkunci di dalam gudang buk,"
Guru itu menatap Kara tak percaya, "kok bisa pintu gudang terkunci sendiri? Lantas kalau kamu terkunci didalam sana, kenapa gak minta tolong?"
"Saya sudah beberapa kali berteriak minta tolong buk, namun ga ada siapapun di sana, dan saya ga tahu kalau pintunya bisa terkunci sendiri," ujar Kara
"Bohong dia buk, orang tadi saya lihat dia lagi main sama cowok paskib," celetuk salah satu murid
"Enggak, tadi sa-,"
"Udah sana duduk, jangan diulangi lagi, dan tolong biasakan berbicara jujur," titah guru itu
Kara mengangguk, ia malas untuk berdebat, karena akan menambah masalah baru baginya. Semua murid yang berada disana meneriakinya, namun Kara berusaha menulikan telinga.
Kara berjalan ke salah satu kursi yang tersisa dibelakang, banyak mata yang melihatnya malas, namun Kara tak peduli. Kara meletakkan biolanya di atas meja untuk persiapan praktek nantinya.
Setelah satu jam guru itu menerangkan materi, sekarang saatnya lanjut ke praktek. Kara membuka tasnya dan mengeluarkan biolanya. Biola dengan ukiran indah serta ukiran nama di sana, ukiran dengan nama Aksara.
Guru seni itu memanggil nama siswa-siswi di sana satu persatu untuk maju kedepan kelas. Masing-masing dari mereka memainkan alat musik yang berbeda-beda, ada juga yang menyanyikan sebuah lagu.
Sampai akhirnya giliran Kara untuk maju kedepan. Kara menyetel biolanya. Setelah itu Kara menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan.
Kara memainkan biolanya, gadis itu membawakan irama yang asing didengar oleh semua orang didalam sana, namun tetap terdengar indah dan merdu.
Kara menciptakan irama itu sendiri. Irama yang indah saat keluar masuk telinga, membuat siapapun di sana terpukau.
Mereka menikmati setiap alunan musik yang Kara ciptakan, namun mereka buta akan kebenaran.
Setelah selesai berkutik dengan biolanya, Kara sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai ucapan rasa terima kasih. Guru seni memberikan tepuk tangan, namun tidak dengan semua murid didalam kelas itu.
"Kara, dari mana kamu belajar dan dengar irama itu?" Tanya guru seni dengan senyumnya, panggil saja bu Remi
"Saya menciptakannya sendiri bu, dan kebetulan saya memang suka bermain biola," ujar Kara
"Bohong bu, gak mungkin dia bisa menciptakan irama sendiri. Bisa aja Aksara yang buat, buktinya dibiola itu ada tulisan nama Aksara," celetuk Jessy tak terima
"Enggak, ini beneran gue yang buat," ucap Kara membela diri
"Udah udah, yaudah Kara kamu silakan duduk kembali, saya kira kamu yang buat alunan iramamu sendiri," ucap Bu Remi
Kara membelalakkan matanya, ia ingin menjelaskannya kepada guru itu, namun saat itu mulutnya terasa kelu. Kara kembali duduk di kursinya, dan meletakkan kembali biolanya ketempat semula.
...****************...
Kara duduk disalah satu kursi taman sekolah. Matanya menelusuri sekitar untuk mencari keberadaan Aksara yang tak kunjung terlihat. Kara menghela napasnya kasar, ia memainkan ponselnya sembari menunggu Aksara.
Merasa bosan menunggu, akhirnya Kara bangkit dari duduknya dan hendak mencari Aksara di kelasnya. Namun siapa sangka, saat Kara sudah berada didepan kelas Aksara, ia malah melihat Aksara yang tengah bercanda ria dengan Annet.
Kara melangkah maju memasuki kelas Aksara, yang seketika membuat semua murid didalam sana diam dan menatapnya sinis. Aksara yang sedari tadi tertawa seketika menjadi diam. Kara menghampiri Aksara dengan sedikit kesal.
"Lo apa-apaan sih, kenapa Lo sama dia, mana pakek pegangan tangan lagi," ucap Kara tak terima
"Terus kenapa? Masalahnya dengan Lo itu apa?" Celetuk Annet
"Ehh lacur, Lo itu mending diem ya, gue itu pacarnya!"
"Seharusnya Lo yang diem, oh ya, gue gak pernah punya pacar yang MURAHAN kek Lo!" Ucap Aksara yang seketika membuat Kara diam tak bergeming
"Ngapain sih Lo kesini? Ganggu gue aja," lanjut Aksara
"Gu-gue cuma mau mengembaliin biola Lo," jawab Kara dengan mata yang sudah mulai panas
"Gak usah, ambil aja, gue udah gak butuh barang bekas!"
Kara menyodorkan biola itu, "tapi ini bukan barang bekas, ini kan punya Lo, dan itupun masih baru,"
Aksara meraih secara kasar biola tersebut, dan melemparkan kelantai. Membuat semua orang di sana terdiam. Annet yang berada dibelakang punggu Aksara, tersenyum puas.
"Itu sudah bekas Lo, jadi itu sudah bekasan kek Lo!" Ucap Aksara menaikkan sedikit intonasinya
Mata Kara berkaca-kaca, hatinya sakit dan terasa ngilu. Melihat Kara yang seperti itu, membuat Aksara memalingkan wajahnya kearah lain. Kara meraih biola itu dilantai. Bisikan-bisikan dari murid di sana mulai terdengar.
Kara melangkah keluar dari kelas Aksara sembari mendekap biolanya. Ia menahan tangisnya agar air matanya tak keluar.
Jika di ingat-ingat, sungguh sakit saat melihat Aksara yang dulu sangat menyayanginya dan sekarang malah kebalikannya. Mana janji Aksara yang katanya akan selalu bersamanya dan mendukungnya.
Namun janji itu sirna begitu saja. Saat Aksara melihat video hot dengan wajah Kara, membuat Aksara jijik dengan Kara, menatapnya saja sudah tak sudi. Padahal video itu tak benar adanya.
Kara tak pernah melakukan adegan hot yang ada pada video tersebut. Ia sudah membela dirinya berulang kali, namun tak ada yang mempercayainya. Bahkan video itu sudah tersebar ke segala penjuru sekolah. Bahkan ada beberapa guru yang mengetahuinya.
Kara hampir di DO dari sekolahnya, namun karena ia adalah murid yang berprestasi, makanya sekolah tak mau ambil resiko dan hendak mencari kebenarannya.
Kara masih berpikir, siapa yang mengedit video tersebut hingga seorang gadis yang ada divideo itu sangat mirip dengannya. Kenapa orang itu sangat benci kepada Kara? Apa salah Kara kepadanya?