Indonesia
NovelToon NovelToon
Penikmat Mentari Ufuk Timur

Penikmat Mentari Ufuk Timur

Status: tamat
Genre:Teen / Diam-Diam Cinta / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Teman lama bertemu kembali / Tamat
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Chira Amaive

Bagaimana jika ada seorang lelaki berusia 20 tahun jatuh cinta kepada sahabat masa kecilnya. Padahal, mereka sewaktu kecil selalu bermain bersama. Tapi, sejak lulus SD, si perempuan memutuskan untuk melanjutkan pendidikan SMP di pondok pesantren. Dari sanalah hubungan persahabatan mereka semakin renggang, sebab si perempuan itu telah belajar agama lebih dalam juga telah mengenakan cadar dan si perempuan hanya pulang satu kali setahun saja, yakni ketika libur pada bulan suci Ramadan. Oleh karena itu, efek dari jarangnya pertemuan mereka dan si perempuan yang membatasi dirinya dengan kaum adam yang bukan mahrom, si lelaki hanya mampu memandang si perempuan dari kejauhan. Bagaimana pun, jarak rumah mereka dekat dan keluarga mereka akrab satu sama lain sebagai tetangga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chira Amaive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bagaimana mungkin aku dapat menyapanya seperti dulu, jika yang terlihat darinya hanya mata dan telapak tangan. Pakaian berwarna cerah yang menjadi ciri khasnya hilang sudah. Berubah menjadi warna gelap dan paling sering adalah hitam. Serba hitam. Namun, dengan itu terlihat telapak tangannya yang lebih putih dibandingkan ketika kami SD.

Ketika menghadap belakang, tak ada bedanya ia dengan siluet. Itulah yang terjadi pagi itu. Di dermaga biasa. Memandangi bola api raksasa di ufuk timur tanpa bergerak apalagi bergeser dan menengok. Seolah, ia sedang berbincang khusyuk dengan sang jingga serenada itu. Ingin sekali aku duduk di sampingnya seperti waktu SD, namun yang dikenakan bukan lagi mukena merah muda motif bunga-bunga. Tidak ada lagi poni yang keluar dan turut berkibar bersama mukenanya. Hanya pakaian hitam polos, yang menutup seluruh tubuh dan rambutnya. Seperti inikah kecanggungan mendekati seorang perempuan sholehah?

Untuk ke sekian kalinya, aku datang ke untuk melihatnya dari kejauhan. Sembari sembunyi di balik dinding semen. Memandangi punggung tegaknya. Yang tak dapat lagi aku sentuh dengan bebas.

Sampai pada akhirnya aku merasakan kesepian yang sebenarnya. Ternyata bukan karena Hafa yang pergi berlebaran ke keluarga besarnya di ibukota, melainkan dengan kembalinya ia menjadi sosok yang lain. Sosok yang enggan menyapaku lagi.

“Samperin aja, Fal!” ujar seseorang yang membuatku langsung melompat keluar dari dinding semen.

“Gema!”

“Mungkin dia juga butuh teman,” ujar Gema santai.

“Hei! Bagaimana bisa kamu di sini? Apa yang kamu lakukan?” tanyaku panik.

“Melihat seseorang dari kejauhan yang sedang melihat seseorang juga dari kejauhan,” jawab Gema sambil menahan tawa.

Entah seperti apa wajahku. Merah malu-malu. Ketahuan sudah.

“Sialan kamu, Ge! Awas aja kalau bilang-bilang ke Hafa!”

“Memangnya kamu kira aku orang seperti itu?”

“Udah-udah! Ayo kita pergi dari sini!” tegasku sambil menahan malu.

Sejenak, aku menengok ke dermaga tempat Hafa berada. Tubuhnya masih seperti patung. Kerudungnya lebih panjang dibanding mukena merah muda motif bunga-bunga. Aku tak menyangkal bahwa aku memang sangat merindukannya.

Aku dan Hafa sama-sama tidak berubah. Kami masih suka memandangi matahari terbit. Dengan jingga serenadanya. Bedanya, sekarang kami tidak lagi duduk berdekatan di dermaga. Bedanya lagi, ia hanya fokus memandangi matahari terbit, sedangkan aku fokus memandangi dua hal, yaitu matahari dan punggungnya.

“Nggak perlu panik begitu, Fal. Aku udah tahu kebiasaanmu sejak lama. Bahkan saat masih berpacaran dengan Daria pun aku tahu kamu sering ke sini,” ungkap Gema yang membuatku semakin ingin berteriak malu.

Hari itu adalah hari di mana aku baru putus dengan Daria beberapa waktu lalu.

Kami tidak lagi seperti dulu. Entah sampai kapan. Entah tak akan kembali. Sampai ia menjumpai pendamping hidupnya. Walaupun bayang nekatku menginginkan ia untukku saja. namun, satu hal yang aku tahu. pemandangan jingga itu tak akan pernah berubah. Jika pertemuan kami membutuhkan waktu panjang, maka pemandangan jingga itu akan setia menunggu sampai kapan pun. Kami memang telah berubah. Namun tidak denga keindahan matahari terbit, yang menjadi saksi kebersamaan kami dulu.

“Persahabatan yang melebihi 7 tahun akan abadi, Fal. Tak mungkin Hafa membiarkan kenangan itu hilang begitu saja. Namun, di sini aku hanya menyebutkan persahabatan. Tidak termasuk perasaan terselubung yang kamu simpan itu. Aku tidak bermaksud mengubur harapanmu. Aku hanya ingin menjemput isi hatimu. Sudah sangat jelas perbedaanmu ketika ada Daria dan Hafa. Sejak awal, kamu memang tidak pernah jatuh hati dengan Daria,” ujar Gema.

Ucapan yang tak dapat kusangkal. Itu memang benar adanya.

***

Di usiaku yang ke-20 ini. Pemandangan jingga itu memang menungguku dan Hafa. Kami kembali memandanginya di dermaga itu, sekalipun ditambah dua orang baru, yakni Gema dan Perkasa. Saat yang sama, di mana aku mendengarkan ungkapan Perkasa tentang perasaannya kepada Hafa.

“Nasi kotaknya masih sisa banyak sekali. Warga yang datang bahkan tidak sampai 20 orang,” keluh Hafa.

Itu bukan keluhan murni karena jumlah warga yang sedikit. Namun, lebih ke arah perasaan kasihannya kepada tante Zainab yang telah memasak banyak. Aku tahu Hafa, ia adalah orang yang sangat perasa.

“Tak apa. Nanti kita bagi-bagi saja keliling rumah orang yang membutuhkan,” ucap ustadz Faris.

Acara buka bersama berjalan lancar. Walaupun dengan warga yang hanya sedikit. Itu pun sebagian besar dari orang-orang yang memang sering salat berjamaah.

“Maaf, Ustadz. Bolehkah aku membawa satu untuk ibu dan adikku?” tanya salah satu remaja yang dibawa ustadz Faris. Namanya Melati.

“Kenapa hanya satu. Bawa sesuai jumlah keluargamu, Melati,” jawab ustadz Faris sambil memberikan dua kotak nasi kepada Melati.

Ia adalah si anak yatim.

“Terima kasih, Ustadz,” ucap Melati senang.

“Sama-sama, Melati. Ayo, kalian juga boleh membawakan untuk keluarga kalian Nilam dan Alfath,” ujar ustadz Faris kepada dua remaja lainnya.

“Tapi, keluargaku banyak Ustadz. Dua orang tua dan 5 orang adik,” jawab Nilam.

“Nggak apa-apa, Nilam. Justru kami sangat senang jika kamu membawakan mereka makanan ini. Rezeki buat kalian.”

Nilam adalah anak kurang mampu yang memiliki banyak saudara.

“Beneran, Ustadz?” tanya Nilam memastikan.

“Iya, Nilam.”

Mendengar itu, Nilam langsung mengambil tujuh kotak nasi yang dimasukkan langsung ke dalam kantong plastik yang diberikan Hafa. Senyum Nilam tak kalah sumringah dengan Melati.

Berbeda dengan Alfath. Satu-satunya lelaki di antara remaja itu. Ekspresinya tidak menunjukkan keinginan untuk mengambil nasi kotak. Ialah remaja yang hampir bunuh diri itu karena broken home.

Ustadz Faris jelas paham betul dengan makna ekspresi Alfath. Namun, ia sengaja menawarkan untuk menyejukkan suasana. Berbeda dengan Melati dan Nilam, Alfath adalah anak dari keluarga berada. Bahkan, lebih kaya dari Hafa. Orang tuanya pemilik salah satu villa di daerah kami. Nama keluarganya terkenal, oleh sebab itu ketika ustadz Faris menceritakan latar belakang Alfath, aku langsung mengetahui bahwa keluarganya pemilik villa yang bernama Villa Lavender. Kekayaan memang bukan syarat kebahagiaan.

“Selain orang tua dan saudaramu, ada siapa lagi di rumahmu, Alfath?” tanya ustadz Faris.

“Orang-orang yang bekerja di sana,” jawab Alfath.

“Nah, bawakan saja untuk mereka jika kamu tidak mau membawa ini untuk keluargamu.”

Seketika, raut wajah Alfath berubah cerah. Ia mengangguk dan melentikkan jemari untuk menghitung jumlah pekerja di rumahnya.

Tak perlu waktu lama, ustadz Faris sudah membuat tiga remaja tersebut tersenyum hanya dengan nasi kotak dan sepatah katanya yang menenangkan. Patutlah ia menjadi tokoh yang disenangi di sini.

“Kalian pulang duluan aja, ya. Takut kemaleman. Melati, bawa aja motor saya sama Nilam. Alfath bawa motornya sendiri. Ustadz masih ada urusan dengan kakak-kakak ini.”

“Tapi, nanti Ustadz pulang pakai apa?” Nilam bertanya.

“Gampang. Kakak-kakak ini bersedia kok mengantar Ustadz. Iya, ‘kan Gema dan Falih?”

Aku dan Gema mengangguk.

“Mereka adalah remaja yang kuat,” tukas Gema setelah tiga remaja tersebut berangkat.

Ustadz Faris tersenyum tanda setuju.

Lain halnya dengan seseorang yang perasa seperti Hafa. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia telah mendengar kisah mereka bertiga dari Gema sebelumnya. Dari cerita itu, ia melihat sendiri bagaimana sikap tiga remaja itu ketika menerima nasi kotak.

Pukul 21:00. Kami telah membereskan barang-barang yang digunaka pada acara buka bersama tadi sekaligus membersihkan tentunya. Terutama Hafa, ia benar-benar seseorang yang rapi sekaligus pembersih. Bagaimana tidak bertahan kekagumanku kepadanya. Nyaris tak ada celah. Sekali lagi kebersamaanku dengan Hafa yang selalu kunantikan.

1
Nanang
ada season 2 nya kah atau ada novel lagi karya author yang lain?
Chira Amaive: season 2 belum ada klo karya lain ada tp menyusul ya.
total 1 replies
Nanang
Tetap semangat Thor 😇
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!