Indonesia
NovelToon NovelToon
Zuraida & Si Kembar

Zuraida & Si Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kuswara

Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.

Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Arfan sangat syok dengan kenyataan pahit salah satu putra kembarnya, Sena. Bagaimana bisa putranya itu lepas dari pengawasannya. Dan tak kalah membuatnya syok adalah istrinya. Mengetahui tapi tak ada bilang apa-apa padanya.

Tatapannya nanar pada hasil USG dan cek darah Sena. Anak sekecil itu sudah mengalami sakit yang begitu hebat karena alkohol.

Zuraida tak diberi Arfan kesempatan menjelaskan. Pria itu hanya fokus pada kedua hasil tersebut.

"Zuraida..." panggil Sena dari bilik kamar pasien.

Zuraida menjauh dari Arfan. Mendatangi Sena yang memanggilnya.

"Sakit bangat Zuraida," Keluhnya lagi.

Zuraida hanya menatap iba pada anak itu.

"Sakit banget..."

Rasanya mau marah tapi karena apa?. Apa iya Sena tahu bahaya dari minuman itu?.

Arfan hadir di tengah-tengah mereka. Sena kaget bercampur takut namun rasa sakit mengalahkan keduanya. Sena tetap meringis sambil menangis.

"Dokter akan mengobatimu sampai sembuh," kata Arfan. Setelah mengatakan itu Arfan meminta Zuraida menemuinya di luar saat dokter dan perawat memeriksa Sena.

Zuraida duduk di sebelah Arfan. Hening, sunyi, di antara mereka untuk beberapa saat.

"Apa yang ada dalam pikiran kamu menyembunyikan semua masalah Sena dari aku?."

"Baru kemarin saya tahunya juga, Mas. Itu sangat mengejutkan. Mulut saya kelu sekali untuk bicara pada mas. Maaf." Menoleh suaminya, ada gurat kecewa pada wajah itu.

Kemudian Arfan menatap balik wajah istrinya.

"Kamu nggak sayang sama anak-anakku?."

Kata-kata itu lebih besar dari apa pun yang menghimpit dadanya. Sesak disertai sakit.

"Aku tahu mereka bukan darah dagingmu, tak keluar dari rahimmu, tapi mereka itu adalah anak-anakku. Sudah sepatutnya kamu belajar menerima mereka karena mereka bagian dari diriku."

Kerongkongan Zuraida terasa kering. Salah satu alasannya tak bisa bicara. Kata-kata Arfan sudah melukai hatinya. Yang dilakukannya selama ini untuk Sean dan Sena apa kalau bukan mencintai.

"Saya..." kalimat panjang yang sudah disusun dalam otaknya tak sanggup keluar melalui kerongkongannya. Sehingga ia tetap ada dalam otak, hanya air matanya yang jatuh menetas kala Arfan meninggalkannya.

Ini sakit hati pertamanya atas perkataan suaminya. Sangat sakit.

Arfan ke bilik kamar Sena. Masih merintih kesakitan. Seorang perawat datang, membawa Sena ke ruangan VVIP tanpa Zuraida.

Sesampai di kamar VVIP Sena diberi obat lagi, perlahan anak itu bisa memejamkan mata. Arfan duduk menungguinya.

Zuraida yang sadar kekecewaan suaminya lebih memilih tak menampakkan wajahnya dulu. Zuraida mengintip dari kaca di mana Sena sudah tidur pulas. Kemudian ia pulang ke rumah. Perasaannya sangat kacau.

Tiba di rumah tubuhnya langsung didorong kuat oleh Wilona sampai terpental hingga ke pintu. Wilona membabi buta menyalahkan Zuraida atas yang terjadi pada Sena.

"Dasar sialan! Ibu tiri di mana-mana emang kejam! Kamu harus bertanggung jawab kalau ada apa-apa sama putraku. Arfan salah besar sudah menikahimu."

Zuraida tak melawan bukan tak bisa. Hanya saja semuanya seakan-akan benar ini kesalahannya dan ia yang harus bertanggung jawab.

Tak puas mendorong, kini Wilona menampar wajah Zuraida.

Plak

"Kamu aku tuntut memberi minuman alkohol pada anak di bawah umur," pelan kata-kata ancaman itu namun sanggup menakutinya.

Mereka banyak uang, suara kebenarannya mampu dibungkam. Zuraida sudah banyak melihat ketidakadilan yang terjadi di desa.

Kemudian Wilona membawa Sean bersamanya. Mereka akan ke rumah sakit.

Zuraida berjalan gontai ke kamar. Menatap seisi kamar itu. Kamar yang sudah banyak memberinya kenangan. Tubuh Zuraida jatuh luruh ke lantai bersamaan dengan lelehan air mata. Perasaannya sakit, ia tahu cinta untuk suaminya sudah tubuh di hatinya.

Kembali ke rumah sakit, Sena membuka mata saat semua keluarga ada di depan matanya. Daddy, mommy, Sean, nenek, kakek, oma sama opa. Lengkap tak ada satu pun yang kurang.

Hanya Zuraida si orang asing yang tak ada di sana.

"Zuraida memang jahat sudah mencekoki kamu dengan minuman beralkohol. Orang kampung itu nggak sepolos kelihatannya." Celetuk Wilona.

"Bagaimana kamu ini Arfan?. Masa menikahi perempuan yang nggak baik." Mamanya ikut menimpali.

"Seharusnya kamu cari perempuan yang sayang sama anak-anak. Bukan kepuasan kamu aja." Mama menambahkan.

"Iya, Ma." Respon Arfan hanya sebatas mengiyakan.

"Lebih baik kalian rujuk lagi demi Sena dan Sean," saran mamanya Wilona.

Arfan dan Wilona bersitatap.

"Aku setuju itu," orang tua laki-laki Arfan dan Wilona langsung setuju.

"Ini juga pasti yang diharapkan Sena dan Sean, iya kan?." Tanya mamanya Arfan.

Kedua anak itu mengangguk.

"Aku terserah Arfan saja," kata Wilona.

Seketika kening Arfan mengernyit, lalu bagaimana hubungan Wilona dengan Edwin?.

Arfan diam diantara berisik suara keluarganya. Mereka sibuk dengan rencana rujuk antara dirinya dan Wilona seperti yang diharapkan keluarga.

Arfan melipir menarik tangan Wilona. Bicara di pojokan dekat ruangan Sena.

"Aku tak bisa kembali padamu."

"Karena perempuan itu?."

"Aku tak bisa memaafkan perselingkuhanmu dan Edwin."

"Aku dan Edwin sudah tak bersama."

Arfan tersenyum samar.

"Jangan katakan Edwin menduakanmu."

"Nggak, Edwin hanya main-main saja dengan beberapa model. Tapi aku yang tak bisa terima."

Kali ini Arfan tertawa lepas. Apa yang dialaminya dialaminya juga oleh Wilona. Karma dibayar tunai.

Beralih ke rumah, Zuraida tidak bisa tidur. Ia menunggu Arfan menghubunginya namun tak kunjung jua. Ia menghubungi Arfan namun tak ada respon.

"Kamu marah sama aku, Mas?." Zuraida menangis sambil memeluk guling suaminya.

"Aku sayang sama Sena dan Sean, Mas." Semakin deras air mata itu jatuh. Terus saja menangis sampai tanpa sadar ia tidur masih memeluk guling.

Di area parkir rumah sakit Arfan bersiap pulang. Bukannya tak mau pulang namun orang tuanya selalu menghalangi. Baru di waktu dini hari saat semua orang sudah tidur lelap Arfan bisa keluar dan sekarang dalam perjalanan pulang.

Ia tak benar-benar marah, hanya kecewa saja pada istrinya tak mengatakan apa pun padanya. Sekarang ia pulang untuk menemuinya. Tak bisa tidur jika berjauhan dari istrinya.

Arfan sudah melangkah memasuki rumah. Terus berjalan menuju kamarnya. Di sofa istrinya tertidur pulas. Matanya sembab dan jejak air mata masih tertinggal di pipi.

Arfan segera memindahkan tubuh istrinya ke tempat tidur. Mata Zuraida pun terbuka, menatap wajah suami yang ditunggunya. Tak berlama-lama Zuraida memeluk suaminya, melingkarkan tangan pada leher suaminya.

"Saya sayang sama mas, sayang sama anak-anak juga." Kata Zuraida lirih saat tubuhnya mendarat di atas kasur empuk.

"Maaf, jika kata-kata aku kemarin melukaimu." Arfan mengecup kening Zuraida.

"Aku tahu kamu menyayangi Sean dan Sena."

Zuraida mengangguk cepat.

"Terus tadi kamu bilang sayang sama aku?."

Tanpa ragu Zuraida mengangguk cepat juga.

"Benarkah?." Goda Arfan.

"Iya, Mas, saya sayang sama mas." Zuraida mengecup pipi Arfan.

Menjelang pagi hubungan mereka kembali menghangat.

Bersambung

.l

1
Mai_mai
cepat lah ketahuan tentang sena kalo bisa pindah sekolah saja
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor cerita bagus bgt .
𝐈𝐬𝐭𝐲
sena udah salah jalan semoga orang tuanya segera menyadarinya... dan Sena masih bisa di selamatkan kalo bisa pindah dari sekolahan itu...
Soraya
q mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!