Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Kultivasi Sandera

Sistem Kultivasi Sandera

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!

Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Angin kering berhembus kencang di punggung Bukit Karang Merah, membawa aroma debu batu kapur dan kotoran binatang buas.

Di atas puncak bukit yang menghadap langsung ke lembah perbatasan Sekte Pedang Langit, puluhan tenda kulit hitam berdiri kokoh di bawah naungan bendera bergambar kepala serigala bertaring.

Seekor burung elang berbulu kelabu dengan iris mata merah darah melayang turun dari langit senja.

Sayap lebar burung itu mengepak pelan sebelum mendarat tepat di atas pelindung lengan berlapis baja milik seorang pria bertubuh kekar.

Pria itu adalah Jenderal Tie Lang, panglima divisi tempur Sekte Serigala Besi.

Tie Lang melempar sepotong daging mentah ke paruh burung pemangsa itu dengan tangan kirinya. Jari-jari kanannya yang kasar segera meraih tabung bambu tipis yang terikat di cakar sang elang.

Ia memutar penutup bambu tersebut, lalu menarik keluar secarik kulit domba gulung berukuran sejengkal.

Seorang perwira bertubuh ramping dengan pedang lengkung di pinggang melangkah mendekat. “Jenderal, apakah ada kabar baru dari mata-mata kita di dalam kota sekte?”

Tie Lang merentangkan gulungan kulit domba itu di depan matanya.

Alisnya yang tebal berkerut membaca baris demi baris tulisan bertinta merah pekat.

“Laporan ini aneh,” gumam Tie Lang dengan suara berat parau. “Mata-mata kita menyebutkan bahwa selama sebulan penuh, Leluhur Song Pojun telah muntah darah setidaknya tiga kali di dalam gua pertapaannya.”

Perwira di sampingnya menoleh dengan mata menyala. “Tiga kali? Apakah orang tua itu gagal menerobos ranah baru?”

“Bukan hanya itu,” lanjut Tie Lang, matanya menyusuri catatan di kertas kulit. “Putra tunggal Song Tianhe, bocah Song Ming yang sombong itu, dilaporkan terlihat menyapu jalanan berbatu setiap pukul empat pagi sambil menangis.”

Perwira itu terdiam sesaat, wajahnya tampak bingung. “Menyapu jalanan? Tuan Muda klan Song disuruh menyapu?”

“Ada yang lebih konyol,” Tie Lang membalik kertas tipis itu ke bagian belakang. “Pekan lalu, seluruh dewan tetua Sekte Pedang Langit dikerahkan ke puncak Tebing Angin Puyuh. Mereka berdiri berjam-jam memegang kain sutra penahan angin hanya agar seorang mantan budak berambut putih bisa tidur siang tanpa kedinginan.”

Suara tawa kering lolos dari tenggorokan sang perwira. “Jenderal, laporan macam apa itu? Apakah mata-mata kita terkena racun halusinasi?”

Tie Lang tidak langsung tertawa. Ia menggulung kembali kulit domba tersebut lalu meremasnya perlahan di dalam kepalan sarung tangan bajanya.

“Klan Song terkenal sangat menjaga gengsi di mata publik,” ucap Tie Lang dingin. “Jika para tetua mereka sampai bertingkah seperti pelayan rendahan dan Song Pojun terus-menerus memuntahkan darah, hanya ada satu kemungkinan.”

Ia melangkah masuk ke dalam tenda komando utama yang diterangi api obor minyak tanah.

Di tengah tenda, sebuah meja kayu jati memuat peta topografi Pegunungan Pedang Tunggal lengkap dengan batas-batas tambang giok dan jalur patroli luar sekte.

Tiga komandan sekte perbatasan lainnya telah duduk menunggu di sekeliling meja.

“Song Pojun sedang sekarat,” kata Tie Lang sambil meletakkan gulungan bambu ke atas peta. “Dantian orang tua itu pasti retak parah akibat serangan balik energi spiritual. Usianya sudah tujuh ratus tahun; tubuhnya tidak lagi mampu menahan gejolak ilmu pedang tingkat tinggi.”

Komandan dari Sekte Cakar Gagak mengelus janggutnya yang tipis. “Lalu bagaimana dengan kabar tentang pemuda berambut putih yang diperlakukan seperti dewa hidup itu?”

“Itu hanya tipuan murahan,” sahut Tie Lang seraya mencibir. “Klan Song sengaja membuat sandiwara konyol untuk membingungkan pihak luar. Mereka ingin kita mengira sekte mereka memiliki kartu truf baru yang misterius, padahal sebenarnya pilar utama mereka tinggal menunggu hari kematian.”

Seorang komandan lain mengetuk meja dengan gagang belatinya. “Tambang batu roh di Lembah Sungai Dingin menghasilkan puluhan ribu batu giok setiap bulan. Selama ini kita menahan diri karena takut pada pedang Song Pojun. Jika orang tua itu sudah tidak berdaya, tidak ada alasan bagi kita untuk tetap diam.”

Tie Lang melirik ke arah luar tenda, menatap barisan ratusan prajurit berzirah baja hitam yang sedang mengasah tombak dan pedang di pelataran kemah.

“Kirim sinyal asap ke seluruh pos bukit,” perintah Tie Lang dengan nada tegas tanpa keraguan. “Kumpulkan tiga ribu pasukan pedang dan serigala lapis baja sebelum tengah malam.”

Para komandan di ruangan serentak berdiri dan membungkuk memberi hormat militer.

Tie Lang mencabut belati perak dari sabuk kulitnya, lalu menancapkan bilah tajam itu tepat di titik gerbang perbatasan Sekte Pedang Langit pada peta kayu.

“Besok pagi,” bisik Tie Lang dengan seringai kejam di bibirnya, “kita akan lihat apakah kakek tua itu masih sanggup bangkit dari tempat tidurnya saat gerbang sektenya kami robohkan.”

Di luar tenda, deru genderang perang berbahan kulit lembu mulai dipukul bertalu-talu, bergema menembus kegelapan lembah perbatasan.

1
Selarik Syarah
system model baru, menarik utk di baca
Rayzent
🔥👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!