Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodoh Dari Allah

Jodoh Dari Allah

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:156.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rianti Al

"Takdir Allah itu memang indah dari yang awalnya kita tidak saling mengenal, bahkan tidak saling berkomunikasi, Allah takdirkan untuk bersatu. Pernikahan kita sama sekali tidak terpikir dalam benak saya karena pasalnya waktu itu saya sama sekali belum pernah memikirkan pendamping hidup"
Raditya Senjaya.

"Allah sengaja menghilangkan dia dari hidup saya, karena Allah tau bahwa dia bukan yang terbaik buat saya karena sebenarnya kamulah yang terbaik buat Saya"
_Alnara Saquela Natania_

"Apa kamu masih menunggu saya? Jika iya, ijinkan saya mendatangi rumahmu bersama kedua orang tua saya untuk meminta restu kepada orang tuamu, agar saya bisa menikahimu"
_Gus Afan Al-faisal_

"Aku mengagumimu. Akan tetapi aku sadar, siapa kamu dan siapa aku. Aku hanyalah santriwati biasa sedangkan dirimu adalah anak kiyai, anak pemilik pesantren tempat saya menimba ilmu"
_Anantazia_

"Saya serahkan anak perempuan saya kepadamu, saya alihkan tanggung jawab saya kekamu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rianti Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JDA 23

Hari ini adalah hari minggu, di mana Raditya cuti dalam kerjanya. Seperti yang kemarin Rio kabarkan kepada Nara, rencananya hari ini Rio akan berkunjung lagi ke rumah Abi dan Umi Elvi yang terdapat Raditya dan Nara di dalamnya.

Kebetulan sekali hari ini Abi dan Umi sedang tidak ada di rumah, karena mereka di undang ke acara aqiqahnya cucu sahabat abi yang mempunyai pesantren di jakarta. Masih ingat?

Hari ini jam menunjukkan pukul 07.00, rencananya Rio akan berangkat jam 07.30 dari rumahnya. Mungkin sekitar jam 08.00 Rio akan tiba di rumah Raditya, karena jarak yang di tempuh dari rumah dirinya dan rumah Raditya lumayan jauh, sehingga memakan waktu kira-kira setengah jam

"Wih bagus nih si jamal udah kinclong, tau bener kalau dia mau di ajak jalan-jalan" ucap Rio menepuk-nepuk motor ninjanya yang berwarna hijau itu

"Iyalah kinclong orang ayah yang cuci" sahut Reza tiba-tiba berada di belakang Rio

"Eh ayah, kirain si jamal mandi sendiri" Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari menyengir

"Kamu kira itu motor hidup? Sampai bisa bersihin badannya sendiri" Reza menjewer telinga Rio

Rio terpekik kesakitan, sudah di pastikan jika telinganya saat ini memerah, "Aduh yah, sakit tau" Rio memegang tangan Reza yang menjewer telinganya, "Iyo pikir kan si jamal mencuci dirinya sendiri" lanjut Rio

"Hmm" balas Reza, "Ya sudah sekarang kamu berangkat udah jam setengah delapan juga"

"Iya ayah iya, siap Iyo berangkat" Rio mengangkat tangannya dan hormat kepada Reza, lalu naik ke atas motornya tak lupa juga memakai helm yang senada dengan warna motornya

"Eh, ayah gak mau ikut" tanya Rio

"Enggak, hari ini Abi, Umi adikmu katanya gak ada di rumah kan? Jadi kalau ayah sama bundamu kesana gak enak karena gak ada mereka" Rio mengangguk

Rio bersiap-siap untuk melaju, dan benar saja tidak perlu menunggu lama, motor yang di kendarai Rio sudah meluncur dengan kecepatan Rata-rata

°°°°°°°°°°

Setengah jam di perjalanan akhirnya Rio telah sampai di halaman luas milik rumah Raditya, di halaman tersebut juga terdapat beberapa mobil yang sangat mewah. Sudah bisa di pastikan ia itu milik keluarga Raditya.

"Buset, insecure motor gue ada di antara mobil-mobil ini" Gumam Rio menatap kagum mobil-mobil tersebut.

"Eh engga deh ada yang lebih butut dari si jamal ternyata" ucap Rio ketika melihat motor honda yang juga terparkir di sana. Mungkin itu motor milik pak jamal, supir pribadi keluarga Raditya.

"Hadeuh jamal jamal, ternyata lu cakep juga ya jadi motor" Rio mengelus motornya itu

"Kenapa toh den bawa bawa nama saya?" ucap seseorang membuat Rio kaget, pasalnya suara itu sangat tiba-tiba muncul

"Heh ngagetin aja pak" Rio mengelus dadanya, "Btw siapa yang bawa-nawa nama bapak? Orang saya ngomong sama motor saya, si jamal"

"Oalah ya pantes aja, orang nama motor den nya sama seperti nama bapak. Hadeuh hadeuh" Pak jamal menepuk-nepuk keningnya

"Pasti mau ketemu Mbak Nara ya?" tebak pak jamal.

"Enggak, mau ketemu Ana, jawab Rio asal sembari berlalu melewati pak Jamal tanpa permisi?

"Hehh, emang den Rio itu jauh beda sama Mbak Nara. Kalau di ibaratkan antara langit dan bumi. Den Rio buminya, dan mbak Nara langitnya. Adik kakak tapi bertolak belakang" monolog pak Jamal lalu juga berjalan pergi dari parkiran menuju paviliun tempat dirinya tidur.

"SAMLEKOM" teriak Rio mengetuk pintu rumah Raditya yang bercat putih

"Assalamu'alaikum" Ana menjawab dari dalam pintu, dan membukanya.

"Malah salam lagi, jawab lah ege" kata Rio, bersedekap dada.

"Maaf, pengucapan kata yang abang Gunakan salah" jawab Ana, sembari menunduk. Tak lupa memberi jarak satu meter jauhnya.

"Harusnya gimana?"

"Harusnya Assalamu'alaikum, bukan samlekom" ralat Ana.

Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal, baru kali ini ia malu berada di hadapan Ana, "Ulang dah, Assalamu'alaikum"

"Waalaikumussalam"

"Gak di ajak masuk nih? Masa gue sebagai tamu gak di ijinin duduk, malah di ajak ngobrol di depan pintu" protes Rio, yang sudah pegal berdiri.

"Astagfirullahaladzim" An beristighfar, ia baru ingat akan hal itu, "silahkan masuk" Rio mengangguk.

"Abang sama kakak ipar lo mana?" tanya Rio yang sudah duduk anteng di kursi ruang tamu.

"Ada, bentar lagi juga keluar"

"Hmm" balasnya bedehem kecil, "Bentar, lo kenapa sih kalo ngomong sama gue nunduk aja. Perasaan wajah gue tampan dan menawan kenapa lo lebih milih natap lantai?"

"Seperti apa yang sudah Abi jelaskan waktu itu kepada abang, memandang lawan jenis itu tidak boleh karena bisa menyebabkan Zina. Saya nunduk hanya Gadhul bashar bang" tutur Ana.

"Gadhul bashar apaan tuh?"

"Gadhul bashar ialah menjaga pandangan dari lawan jenis. Tidak hanya dari lawan jenis, akan tetapi bisa juga menjaga pandangan dari sesuatu yang tidak layak di lihat mata"

Rio mengangguk-anggukan kepalanya, "Oh iya paham gue, sorry ya" Ana hanya tersenyum menanggapinya.

"Kak" panggil Nara, yang sedang berjalan turun bersama Raditya, sedangkan Rio menoleh, "kirain belum dateng"

"Gue baru dateng kok, santai ae" ucap Rio

"Bang Rio mau minum apa biar saya buatin" Ana menawarkan diri.

"Apa aja, asal jangan pake gula. Soalnya kalo gue minumnya sambil liat lo, gak pake gula pun bakalan manis" Gombal Rio, menaikkan turunkan alisnya. Ana menggeleng lalu berlalu.

"Ekhem sebaiknya jaga pandangan" tegur Raditya. Walaupun Rio yang notabennya adalah kakak iparnya, dia tetap tidak Ridho jika adiknya di perlakukan seperti itu, karena Rio tetap bukan mahram bagi Ana.

"Iye ah, sewot amat lo" Rio menatap Raditya dengan sinis, "Btw, Ra sini dong duduknya sama gue. Gak tau apa kalau gue itu kangen sama lo"

Nara menatap Raditya berharap Raditya mengizinkan, pasalnya saat ini tangan Raditya tak lepas dari tangan Nara. Seakan tidak mau sedetikpun tangan Nara lepas dari genggamannya.

Raditya menggeleng kecil sembari menampilkan wajah sedihnya, "Gak" ucap Raditya nyaris tidak terdengar.

"Ah elah Dit, gue abangnya bukan selingkuhannya kali. Jadi santai aja, kaya kaga rela gitu Nara deket gue. Cemburu lo?" goda Rio, menggoda adik ipar nya itu.

"Jelas saya cemburu, saya tidak rela jika perempuan saya bersama laki laki lain sekalipun itu adalah kakaknya sendiri" jawab Raditya terlalu jujur.

"Ceilah bucin lo tingkat dewa, santai bro santai. Cuma sehari aje gak setiap hari"

Raditya menggeleng tidak setuju dengan omongan Rio, "Jangankan satu hari, satu detik saja rasanya saya tidak sanggup jauh dari Nara.

"Ini minumnya, di minum ya bang" ucap Ams yang baru saja datang dari dapur membawa gelas berisi minuman untuk Rio, "Kalau begitu, kalian lanjut aja ya? Ana mau ke kamar Assalamu'alaikum"

"Waalaikumussalam" jawab semuanya

"Ayolah Dit, lo gak boleh egois. Masa sama kakak kandungnya sendiri gak boleh" sewot Rio yang sudah merasa kesal dengan Raditya padahal niatnya kesini hanya ingin bertemu adiknya saja.

"Mas" bujuk Nara, karena kasihan melihat wajah Rio yang seperti itu

"Perlu di pertimbangkan" ucap Raditya

"Sialan lo" serkas Rio yang sudah kehabisan kesabaran

"Kak Rio, ngucap ih gak boleh ngomong kasar" tegur Nara

Rio beranjak berdiri dan duduk di sebelah Nara, jadi lengkap sudah di sisi kirinya berada Raditya dan di sisi kanan adalah Rio. Jadi sepertinya hari ini Nara akan di perebutkan dua cogan.

Rio memegang tangan Nara, sama seperti Raditya "Gak bakal gue lepasin" Rio menarik tangan Nara.

"Bang ayolah Nara itu punya saya, istri saya" ucap Raditya tak mau kalah, sama seperti Rio menarik lengan Nara. Bisa di bayangkan jika saat ini tubuh Nara terombang-ambing di tarik kesana kemari.

"Udah stop-stop, kalian itu kaya anak kecil deh"

"Lagian suami lo ngeselin, gue mau melepas rindu sama.

1
Azwar Effendy
Luar biasa
Widiar Arum
aaahhh sediiiih bangeeet 🥲🥲
Zaiziluu
aaa pokoknyaa sedih terharuuu
Zaiziluu
aaaaa pokoknya setiap baca cerita ini ada sedihnya ,terharu,capurr adukk.. sukksess yaa
Fira Ay
lanjutin kk
Tri Susanti
lanjut thor
Tri Susanti
mampus lo melihat ketauan ma abi di pecat lo
Tri Susanti
lanjut lagi thor
Tri Susanti
mungkin nara hamil.....
Tri Susanti
ok thor lanjut
Tri Susanti
lanjut thor
Yaris
yh nara jnda nanti sama radit di titipin zaki lagi nggk rela q
Raditya andarwini
jangan sampai Raditya kenapa2 ya Tor🙏🙏
As-bunda Beby
ceritanya bagus dan happy ending
Atih S Wiansih
memang sudah tamat nggak ada lanjutannya ? gantung banget
Anonim
Sedihhhhh🥲
Atih S Wiansih
lanjutkan thour
Sofiatul Nafisah
seandainya hidupku seperti di novel masyaallah bngetttt kali yh😆
Sofiatul Nafisah
duuuuh pengantin baru mesrah tyiuus
Sofiatul Nafisah
Kren ka...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!