Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.
Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.
Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mark Yang Tidak Menyerah
Nico memperhatikan Delvin dan Mark secara bergantian.
“Yang satu selalu menolak pertunangan, sementara yang satu lagi paling sulit dekat dengan wanita. Tapi sekarang keduanya malah berebut Vivian Wei. Sebenarnya apa kelebihan gadis itu sampai dua bocah keras kepala ini bisa bersaing seperti ini?” batin Nico.
Mark tiba-tiba menatap Delvin dengan penuh tantangan.
“Aku tidak mau kalah hanya karena Paman lebih tua dan lebih kaya. Mari kita bersaing dengan adil!”
“Bersaing?” Delvin mengangkat alis. “Kau yakin bisa menang dariku?”
“Aku yakin!” jawab Mark percaya diri. “Paman, jangan lupa, Paman sudah lebih tua dan Vivian tidak mungkin tertarik begitu saja padamu. Aku lebih muda. Setiap kali kami berkomunikasi, kami selalu nyambung. Kami juga sudah melakukan banyak hal bersama.”
Delvin menatapnya datar.
“Kalau begitu, jelaskan apa saja yang sudah kalian lakukan bersama.”
“Belajar bersama, kabur bersama, sama-sama pernah terluka. Selama di universitas, kami sudah melewati banyak hal bersama,” jawab Mark bangga.
Nico langsung tertawa.
“Dasar kekanakan! Apa yang kalian lalui itu bukan sesuatu yang luar biasa. Apa yang harus dibanggakan?”
“Kakek, setidaknya kami sangat nyambung ketika bersama. Kami juga selalu punya banyak topik untuk dibicarakan,” bantah Mark.
Delvin menyilangkan tangannya.
“Kalau begitu, apakah kau sanggup membelikannya rumah? Memberikan perhiasan, pakaian bermerek, kehidupan yang nyaman, sekaligus memastikan dia jauh dari masalah?”
Mark terdiam.
Delvin melanjutkan,
“Apakah kau juga bisa melindunginya dari keluarga Shen?”
Mark terdiam beberapa saat sebelum menjawab.
“Untuk saat ini aku memang belum bisa. Tapi setelah aku tamat, aku akan mandiri. Aku juga bisa melindunginya.”
“Sampai kapan?” tanya Delvin. “Dua tahun lagi kau baru tamat. Setelah itu, berapa tahun lagi kau membutuhkan waktu untuk sukses?”
Mark mengerutkan kening.
“Sekarang saja semua yang kau gunakan masih berasal dari keluarga Yang. Bahkan kartu yang kau gunakan sehari-hari adalah pemberianku.”
“Paman, Paman sudah kaya sejak awal, sedangkan aku masih mahasiswa. Kalau bersaing dalam hal kekayaan, tentu saja tidak adil bagiku,” bantah Mark.
“Dalam hal kekayaan, kemandirian, dan pengalaman, kau memang belum bisa dibandingkan denganku,” jawab Delvin.
Mark langsung tidak terima.
“Paman!”
“Buang jauh-jauh sifat kekanak-kanakanmu. Menjadi juara dua bukan sesuatu yang harus dibanggakan!"
Nico tertawa melihat keduanya.
“Mark, asal kau tahu, Pamanmu dulu bukan hanya berprestasi dalam pelajaran. Dia juga pernah menjadi juara dalam pertandingan basket dan balapan.”
Mark langsung melirik tajam ke arah Nico.
“Kakek! Aku masih muda. Lihat saja, aku akan mengejar semua prestasi yang pernah diraih Paman!”
Delvin tersenyum tipis.
“Tiga kali bertanding basket saja tidak pernah menang. Bagaimana kau ingin mengejarku?”
Mark terdiam.
“Mark Yang, lebih baik kau menyerah saja. Kau bukan lawanku.”
Delvin kemudian menatap Mark dengan serius.
“Aku bisa memberikan Vivian pekerjaan yang bagus dan kehidupan yang lebih baik. Apalagi keluarga Shen sampai sekarang masih belum menyerah mengejarnya.”
Nada suara Delvin menjadi lebih tegas.
“Seberapa kuat pun Vivian, dia tetap membutuhkan tempat yang aman dan seseorang yang bisa melindunginya. Dan aku bisa memberinya semua itu.”
"Besok kami akan ke kantor dan meresmikan hubungan kami, jadi jangan membuang waktu lagi," kata Delvin.
"Paman main curang! Kalian tidak pacaran, tapi langsung menikah. Aku akan membuat Vivian mencintaiku," kata Mark.
"Percuma saja! Karena yang akan menjadi suaminya hanya aku," jawab Delvin.
"Menikah tanpa cinta tidak ada gunanya. Aku akan menunggu kalian bercerai," kata Mark.
"Kalau itu tidak akan terjadi," jawab Delvin dengan tenang.
"Pasti akan terjadi suatu saat. Aku akan menunggu jandamu!" jawab Mark dengan ceplas-ceplos.
Nico mengambil bantal sofa lainnya dan melemparkannya ke arah cucunya.
"Dasar mulut angsa! Pamanmu baru mau menikah, kau sudah bicara sembarangan," ujar Nico.
Malam hari.
Delvin memasuki kamar Vivian yang telah tertidur pulas.
Pria itu berdiri di samping tempat tidur, menatap wajah Vivian yang terlihat tenang. Pikirannya kembali pada pertemuan pertama mereka.
"Gadis ini tiba-tiba datang ke hadapanku dan membuatku semakin mengingat setiap pertemuan kami," ucap Delvin pelan.
Tanpa sadar, Delvin kembali teringat pada ciuman pertama mereka yang terjadi tanpa sengaja.
Tatapannya menjadi lebih lembut saat melihat Vivian yang masih tertidur.
"Vivian Wei, karena aku telah memutuskan untuk menikah denganmu, maka kau harus menghabiskan seluruh hidupmu bersamaku," batin Delvin.
semangat trus kak 💪💪
sudah di tunggu nih
ayo lanjut lagi.
lucu dan menegangkan