“Ajudan , cepat penggal kepala wanita itu. Ahahah” perintah Singkasa sambil memutar gelas yang berisi darah segar.
Suara tebasan leher yang dia sukai, darah mengalir deras di dalam kolam raksasa. Ratu Singkasa membenamkan diri menikmatinya. Kecantikan abadi berasal dari darah perawan yang telah dia tumbalkan. Setiap bulan purnama merah, dia tidak pernah berhenti mencari korban. Berita kehilangan para gadis yang di laporkan warga diabaikan oleh para petugas. Hingga pada suatu hari, seorang pendekar wanita berani melawan sampai meruntuhkan kerajaannya.
Siapakah wanita misterius itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selanjutnya Bobi
Di hadapan mereka ada banyak cabang bebatuan harus di lewati. Kirei memejamkan mata, terlihat sosok wanita tua di salah satu sudut dinding. Arwah si penyihir mengayunkan tongkat ularnya meniup tarikan sihir menggerakkan salah satu dari tim untuk mendekat. Bobi merasa terpanggil berjalan dengan tatapan kosong.
“Hentikan langkah mu itu Bob! Jangan kesana!” teriak Kirei.
“Aku melihat sebuah lautan emas yang menyala. Apa hak mu melarang ku” jawabnya kasar enggan memperdulikan peringatannya.
“Tidak apa pun disana. Wanita tua itu akan memakan mu!”
Bobi berjalan melepas alas kaki. Dia seolah berenang di dalam lautan tumpukan kilauan harta sedangkan yang lain melihat tidak ada apapun disana. Bobi membenturkan kepalanya di dinding. Tidak ada satupun yang berani menyelamatkannya setelah melihat penampakan arwah si penyihir.
“Benar apa yang di bilang Kirei, cepat kita lari!” teriak Sesi.
“Tidak, kita jangan menyelamatkan diri sendiri. Bisa-bisa kalau di biarkan Bobi terbunuh!” ucap Duta.
Dia menghalangi Bobi yang tidak berhenti bergerak memecahkan kepalanya. Dinding sudah mengalir darah dan kulit daging kepala tengkorak menonjol berjatuhan. Suara teriakan, ketakutan membuat si penyihir semakin mengganggu mereka.
Pak Mus ikut menarik namun dia dan Duta terhempas di bebatuan. Tenaganya kuat sekali, dia berhenti menoleh menatap mereka semua. Tulang tengkorak itu sudah terlihat, matanya juga mengalir darah. Si penyihir memanfaatkan tubuh Bobi.
“Tolong, bunuh saja aku. Aku sudah tidak tahan menahan sakit ini” rintih Bobi berjalan mengguncangkan tubuh Duta.
“Kirei tolong aku! Hiks” Boby menyerang Kirei kembali.
Bantuan Tantrum menolak tubuh Bobi hingga dia mengeluarkan muntahan darah. Arwah Tantrum menyelamatkan Kirei, dia menarik paksa Boby yang mengeluarkan gigi taring. Secara alami jika tulang tengkorak dan kepala manusia sudah pecah pasti mengalami kematian atau tidak bisa secara brutal menyerang. Dia di rasuki si penyihir, ketakutan yang lainnya berlari ke sisi bebatuan lain.
“Kirei cepat pergi! Dia mengincar mu!” bisik Tantrum.
“Arggh..”
Si penyihir tua menghembuskan mantra menggerakkan tangan Bobi untuk mencekiknya. Bem, Sesi, Duta dan pak Mus tidak bisa menghentikannya meski Bobi sudah di tarik paksa. Kirei merasa sangat tercekik, wajahnya merah padam.
Bobi melayang di udara, dia menyeringai mengejar Kirei. Sosok Tantrum membungkus tubuh Kirei dengan pusara pasir yang bercahaya. Bobi memaksa mendekati pasir, perlahan tubuhnya terkikis bersama potongan daging dan tulang belulang.
“Boby!” teriak Sesi.
Wajah pak Mus menunjukkan rasa bersalah tidak bisa menyelamatnya. Pencarian memakan korban, apa yang di cari tidak ketemu tapi kematian beruntun mengincar. Membaca setiap kejadian demi kejadian, Dia meminta para tim berbali arah menghentikan penelitian di dalam gua yang menyimpan para penunggu yang kini mengincar mereka.
“Bu Erin, aku tidak mau ada korban berikutnya sebaiknya kita kembali” ucap pak Mus.
“Apa kau sudah tidak waras pak? Kita sudah berjalan sejauh ini dan kau mau menyudahinya? Anak-anak, sekarang kalian pilih lanjut atau berhenti mengikuti pak Mus” ucap bu Erin.
Tampak hanya Sesi yang berada di sisinya. Kirei dan Duta berdiri di tengah-tengah mereka. Bobi menarik tangan Kirei ke arah pilihan pak Mus. Tapi tubuhnya masih tertahan mengingat sosok Tantrum seolah sedang menunjukkan sesuatu padanya. Erin berpikir pasti dia memilihnya karean takut akan ancaman yang telah dia katakan.
“Maaf Duta, tapi aku harus meneruskan pencarian ini. Aku tadi sudah di selamatkan oleh sosok penghuni disini.”
“Kirei kenapa kau keras kepala sekali. Kalau begitu aku akan tetap mengikuti mu.”
Tiba-tiba bunyi suara gong aneh menggema diantara bebatuan. Di salah satu dinding yang tebal ada sebuah ruangan harta karun yang terpendam bersama kuburan ratu Singkasa. Kilauan cahaya dari ujung dinding menyebar menyilaukan mata mereka.
Antara sisi maju dan mundur, pantulan harta karun membuat beberapa dari mereka berhenti mencari letak sinar yang paling terang. Langka mereka dari belakang mengikuti Kirei hingga tiba di tempat yang sama. Bekas kolam raksasa yang masih ada jasad tubuh Rima tertancap di gigi taring patung.
Di tengah bekas bangunan kolam raksasa terpantul sinar yang sangat terang lalu meredup dan menghilang.
“Cepat kita bongkar dalam tanah ini” perintah Erin.
Hanya Bem, Sesi dan Duta yang menggali dengan sekop mini yang mereka bawa di dalam ransel. Manik mata Kirei berjaga melihat sekitar. Dia merasa si penyihir telah menipu seperti yang di lihat Bobi tadi.
“Jika kolam raksasa yang berusia ratusan tahun ini pernah menjadi saksi bisu darah para perawan yang di tumbal kan. Bisa jadi pasir yang bercampur darah ini mengisap darah manusia karena si penyihir melakukan ritual menggunakan iblis yang bersemayam di dalam patung raksasa. Hah!” gumam Kirei memikirkan semua kejadian serta petunjuk dari Tantrum.
“Semuanya, cepat keluar dari bekas kolam raksasa!” teriak Kirei.
Tanah berguncang, pasir penghisap bergerak menarik kaki mereka. Kirei menarik Duta hingga sambung menyambung tarikan terakhir pada bu Erin yang masih sibuk mengais-ngais pasir.
“Pasti ada harta di dalamnya!” ucapnya sambil membenamkan tubuh ke dalam pasir.
“Bu Erin cepat raih tangan ku!” teriak pak Mus.
Wanita itu enggan mendengar melanjutkan membenamkan diri hingga tidak terlihat lagi, sementara setengah tubuh pak Mus ikut ke dalamnya. Duta menarik pak Mus sekuat tenaga, dia tertarik hingga tubuhnya juga masuk ke dalam. Guncangan besar, pasir bergerak menelan, mereka semua lenyap masuk ke dalam hingga tidak bersuara lagi.
“Ahahahh! Matilah kalian semua!” tawa arwah si penyihir.
Sinar Tantrum mengeluarkan Kirei, wanita itu menarik tangan Duta hingga bersambungan dengan lainnya. Pasir bagai terkuras terbagi menjadi beberapa tumpukan. Di dalam kolam raksasa memperlihatkan sebuah peti emas berukuran raksasa naik ke permukaan. Manik mata Erin membelakak melotot melihat kilauan peti emas itu. Dia mendekati peti mengusap sambil tersenyum lebar.
“Pak Mus, kita jangan mengambil resiko besar setelah kematian Bobi dan Rima” ucap Kirei.
“Jadi apa tujuan mu tetap andil meneruskan penelitian ini Rei?” tanya Erin melotot.
“Aku mendapatkan panggilan gambaran mengenai sejarah yang tersembunyi di balik gunung Maninjau ini. Kita hanya bisa meneliti tanpa harus merusaknya” jawab Kirei.
“Merusak apa? Bagaimana kita bisa meneliti jika tidak mengetahui apa isi di dalam peti ini?” bentak Erin.
Perdebatan panjang di hentikan pak Mus. Dia memutuskan untuk membuka peti tanpa harus mengambil isi di dalamnya.
“Saya tidak setuju. Untuk meneliti dengan tangan kosong adalah hal mustahil” kata Erin tetap pada pendapatnya.
“Dasar wanita gila. Kau sama saja seperti si hantu wanita tua itu!” gumam Duta.
“Pak Mus, aku tidak mau mumi atau mayat yang di dalamnya bangkit jika kita mengambil salah satu benda di dalamnya untuk di teliti” kata Kirei.