Sean anak malang yang tumbuh kekurangan kasih sayang, masa kecilnya yang suram membuatnya menjadi seorang pembunuh berdarah dingin yang tidak punya perasaan. Mampukah sahabatnya Bobo membawa Sean kembali ke jalan yang benar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa firenations, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma
Peringatan!! Cerita ini mengandung unsur kekejaman sangat tidak cocok dibaca oleh reader dibawah umur 15 tahun. Diharapkan kebijakan pembaca!
Sean dimasukan ke dalam ruangan isolasi setelah menghajar sesama narapidana sampai babak belur. Dipaksa tidur di ruangan sempit berukuran 2×3 meter persegi yang sangat gelap dan kotor. Dinding ruangan itu begitu dingin terbuat dari baja. Tidak ada apa-apa di dalamnya, Sean harus tidur di lantai bersama tikus yang bersarang di tempat itu.
Sudah lebih dari dua puluh empat jam ia di isolasi. Pikirannya semakin mengambang entah kemana. Pikiran negatif terus muncul, menyalahkan diri sendiri atas segala kemalangan yang selalu terjadi disekitarnya. Di saat makin terpuruk seperti saat inilah dia bisa mendengar bisikan yang semakin jelas bila ia sendiri. Sean berusaha keras menghalau bisikan itu. Berusaha berpikir positif, tapi itu sama sekali tidak membantu.
Berapa lama sudah aku di tempat ini? Dua hari? Tiga hari? Ah tidak, apakah sudah seminggu?
Sean sudah tidak bisa mengingat hari lagi semenjak ia di isolasi. Sean semakin meringkuk ke tembok. Bukan hanya suara kali ini ia bisa merasakan kehadiran orang lain di ruangan busuk ini. Bukan hanya dirinya dan beberapa ekor tikus curut yang ada di tempat ini, ada seseorang yang bersembunyi di kegelapan.
"Sean..." Seorang anak culun berkacamata merintih menyebutkan namanya.
Sean hanya diam sambil memegang palu yang berlumuran darah.
"Hentikan Sean...! Hentikan!" lirihnya.
Sean malah tertawa lalu berseru, "Aku bunuh kamu!"
"Jangan... Kumohon." Anak itu semakin merintih.
"Bunuh! Bunuh!! Bunuh!!!"
Tidaaaak!!!
Sean terbangun terengah-engah. Meraba tubuhnya berkali-kali agar yakin kalau ia sudah bangun. Sean terus saja bermimpi buruk. Lebih parah lagi karena berada di tempat ini membuatnya sulit membedakan antara mimpi dan kenyataan. Seorang sipir lalu mendatanginya setelah mendengar teriakan.
"Hah! Berisik!" bentaknya. Sipir penjara yang kesal itu malah menyiram lantai sel dengan air dingin. Air yang membanjiri lantai sel membuat Sean tidak dapat berbaring karena basah. Ia terpaksa berdiri semalaman sampai lantainya kering.
...***...
Sean merasa semakin lemah, seluruh tulangnya nyeri. Dia mengalami demam tinggi, tapi Ia merasa dingin. Tubuhnya menggigil sampai mengalami delusi dan halusinasi.
"To... long... Ada seseorang di sini...!" Sean kembali merasakan kehadiran seseorang. Ia berusaha memanggil sipir penjara.
"Keluarkan aku dari sini!!!" Sean berteriak ketakutan dengan suara serak.
Ada seseorang di kegelapan.
Menunggunya hingga lemah.
Mencari kesempatan untuk menyakitinya.
Sean mengenali orang itu. Seorang pria tua, sebelah matanya picak karna bekas cakaran monyet. Deretan giginya kuning dengan kumis dan jenggot yang tidak terurus betapa menakutkan!
"Ali Baba! Ada Ali Baba di sini! Keluarkan aku! Keluarkan aku dari siniiii!!!
...***...
Begitu keluar dari bilik isolasi tubuh Sean sudah sangat lemah dilumuri oleh muntahannya sendiri, ia sudah tidak diperlakukan seperti manusia selama beberapa hari berada di isolasi. Berapa hari ini Ia tidak mandi dan membersihkan diri, penampilannya sungguh sangat mengenaskan, mungkin saja pikirannya jadi terganggu karena kejadian ini.
Delapan tahun kemudian... .
Akhirnya tiba masanya Sean telah membayar hutangnya ke masyarakat. Sedangkan Aceng sudah keluar lebih dulu beberapa bulan yang lalu. Hari ini adalah hari yang sudah dinantikannya sejak lama. Sean merasa sangat bahagia dia akhirnya bisa menghirup udara bebas keluar dari penjara.
Adik dan ibunya menyambutnya di pintu gerbang. Adiknya membawa keponakannya yang sudah berusia delapan tahun.
"Ini pasti Yuan," kata Sean mengelus kepala keponakannya.
Mereka pun berjalan beriringan bersama. Akhirnya setelah sekian lamanya Sean kembali pulang. Dalam kurun waktu delapan tahun ini sudah banyak sekali perubahan yang terjadi. Bahkan jalanan yang dulunya sempit kini sudah mengalami pelebaran. Gedung-gedung bertingkat yang dulu baru dibangun sekarang sudah berdiri kokoh. Banyak tempat yang ingin ia kunjungi setelah sekian lama terkurung.
Tetapi tempat pertama yang ingin dia kunjungi adalah Pohon Ketapang di dekat sekolahnya dulu, tempat dia dan Bobo dulu sering bercengkrama.
Setelah sampai ke rumah, Xiao Sa memasak banyak makanan untuk Sean. Sang ibu ingin Sean menikmati masakannya yang sudah lama sekali tidak ia rasa. Sean sangat menikmati masakan ibunya, ia makan dengan lahapnya. Sekarang semua makanan yang dia makan akan terasa sangat enak.
"Ini sop ayam kesukaanmu," kata Xiao Sa kembali mengeluarkan hidangan ke meja dari dapur.
"Masih ada lagi? Aku sudah kenyang ibu, aku makan banyak sekali dari tadi," ucap Sean sambil mengelus perutnya yang sudah buncit.
"Makanlah Paman, nenek sudah susah payah memasakannya untukmu," perintah si kecil Yuan.
"Aduh, Paman bisa meletus kekenyangan kalau begitu." Sean membuat mimik wajah lucu di depan keponakannya ini.
"Ha ha ha." Yuan sampai tergelak melihat tingkah pamannya.
Akhirnya Sean terkapar kekenyangan di kamarnya. Sudah lama ia tidak berbaring di atas kasur yang empuk. Setelah cukup lama beristirahat, Sean memutuskan untuk pergi keluar rumah seorang diri.
"Mau kemana, Ka? Biar Yuli anter, ya?" tanya sang adik saat melihat kakaknya hendak pergi.
"Tidak usah, aku mau jalan-jalan di dekat sini sebentar," jawab Sean sambil tersenyum.
Yuli membiarkan kakaknya pergi walaupun ada perasaan sedikit khawatir. Sudah lama sekali Sean tidak pernah berjalan sendiri di lingkungan sekitar sini, Yuli takut kakaknya itu kesasar, tapi dia 'kan mantan ketua gang Harimau. Tidak ada hal buruk yang akan terjadi padanya.
...***...
Sean berjalan menyusuri jalan yang ia lewati setiap hari sewaktu kecil dulu. Anjing tetangga yang dulu sangat ia takuti sudah tidak ada lagi. Sean terus berjalan sampai akhirnya tiba di sekolah dasar tempatnya bersekolah dulu. Sudah banyak yang berubah, gedung sekolah pun sudah direnovasi menjadi bangunan baru yang lebih kokoh. Sean lalu berjalan masuk ke lingkungan sekolah menuju taman belakang sekolahnya.
Ada satu tempat yang ingin ia datangi. "Pohon Ketapang yang dulu apa masih ada, ya?" Sean bermonolog. "Semoga saja belum ditebang."
Pohon besar itu ternyata masih berdiri kokoh. Sean tersenyum gembira saat melihatnya.
"Syukurlah, pohonnya masih ada."
Saat mendekati pohon itu, Sean menyadari ternyata ada sebuah tulisan tangan di batang pohonnya. "Apa ini? Dulu tidak ada..." Sean menyentuh batang pohonnya. Ia mengenali tulisan tangan ini.
ini adalah tulisan tangan Bobo bertuliskan.
'Selamat tinggal Sean, semoga kita bertemu lagi'
Sean langsung ambruk, bersimpuh di tanah kemudian menangis sejadi jadinya. Kenangan tentang Bobo kembali bermunculan di benaknya. Canda tawa mereka, senyum tulus Bobo semua itu hanya tinggal kenangan. Entah sedang apa Bobo sekarang dan di mana ia berada. Bobo adalah satu-satunya kawan terbaiknya, tapi ia tidak lagi tahu keberadaannya seperti waktu dulu.
"Bobo aku merindukanmu... ." ucap Sean lirih sambil terisak isak.
"Sean..." Seseorang memanggil namanya dari belakang.
Bersambung