Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Tuan Muda Arogan

Istri Kontrak Tuan Muda Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Angst / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Selingkuh / Penyesalan Suami / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Candradimuka

Karena sebuah luka di masa lalu, Bintang rela disiksa habis-habisan dalam keluarga suaminya. Luka, pria yang dipaksa menikah dengannya oleh kakak dia sendiri, melampiaskan penolakan itu pada Bintang. Dia menolak bertemu Bintang sejak awal pernikahan hingga tujuh tahun berlalu, dan setelah tujuh tahun dia akhirnya datang, mengacaukan hari-hari damai Bintang dengan banyak keegoisannya. Bintang terpaksa harus menurut, harus patuh dan diam saja pada semua perkataan dan tindakan Luka sebab itu adalah kontrak di antara mereka.

Namun bagaimana jika pelan-pelan pernikahan itu menjadi penyesalan besar dalam hidup keduanya? Bagaimana jika keduanya sudah saling mencintai namun justru saling melukai?


*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candradimuka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

Mungkin tidak akan ada yang percaya jika Langit berkata Ayah mencintai Bintang. Tidak ada yang akan percaya.

Langit juga tidak karena ia melihat adiknya dipukuli tanpa ampun nyaris setiap minggu. Satu-satunya manusia yang pernah memukuli Bintang sampai dia dikirim ke rumah sakit itu Ayah sendiri.

Tapi saat Bintang pergi, Ayah jatuh sakit dan menangis berulang-ulang meminta anaknya pulang. Dia tidak menyesal memukuli Bintang, dia menangis merindukan anaknya, si bungsu kesayangannya.

Dan sejak saat itu Langit adalah tulang punggung keluarga. Ia berusaha mengambil alih bisnis kecil Ayah sambil bersekolah bahkan sampai masuk kampus kedokteran. Walau Langit tidak segenius adiknya, ia jauh, jauh lebih bisa melalukan segalanya daripada Bintang.

"Demi Bintang." Mahesa Mahardika menertawakan ekspresi Langit. "Demi anak setan yang pergi karena capek disuruh tobat. Anak kebanggaan ayah bunda malah pengen bawa pulang anak setan itu."

Langit hanya menanggapi dia dengan tatapan tajam.

Demi Bintang, Langit menyerahkan jiwanya pada pria ini. Tidak peduli kalau dia pria yang suatu saat akan menjadi pemimpin *******, Langit cuma mau adiknya kembali.

Bukan pada keluarga.

Pada Langit saja.

Padanya saja.

"Oke, bisnis is bisnis." Mahesa Mahardika melipat tangan. "Kamu bakal dateng sebagai perwakilan saya. Bintang enggak tau apa-apa soal kamu, Langit, jadi kalau kamu ngaku kamu kerja sama saya, dia mau enggak mau bakal percaya."

Langit sudah mengerti harus apa. Dikencangkan jas pada tubuhnya, masuk ke mobil sport pinjaman Mahesa agar ia bisa masuk ke kediaman kecil Narendra. Baru saja Langit akan pergi, pintu tiba-tiba terbuka, disusul kemunculan Tama.

"Gue dateng buat mastiin lo enggak bunuh diri," kata dia cepat, tidak mau disuruh pergi atau mendengar kalimat busuk 'biar gue sendiri'.

Langit pun diam, menjalankan mobil itu menuju kediaman Narendra.

Mereka memasuki daerah yang menyerupai hutan dalam kota, tempat di mana bangunan dua lantai kecil berdiri megah serba hitam.

"Oke, gue nerves." Tama melonggarkan dasinya sedikit saat mereka turun. "Lang, semangat."

Langit tidak butuh disemangati. Ia melangkah masuk dengan map di tangannya, sebuah alasan yang diberikan Mahesa.

Katanya ini harus diberikan pada Nyonya Trika Narendra yang di masa depan akan memimpin Narendra bersama Luka.

Walau tidak akan Langit biarkan. Adiknya akan ia ambil kembali dari pelukam iblis Narendra ini.

*

Bintang kembali harus berdandan untuk siap menemui Mahesa Mahardika. Katanya dia ingin mengulang percakapan sebelumnya sekaligus membahas rencana masa depan super penting. Mau tak mau Bintang harus terima, sebab Lio mengizinkannya.

"Apa alasan kamu enggak suka Mahardika, Luk?" tanya Bintang karena Luka sejak tadi cuma cemberut. "Cuma karena dia nyebelin?"

Tidak adanya jawahan adalah jawaban. Ya, Luka membencinya karena dia menyebalkan, mau dia berguna bagi Luka nanti atau melindunginya atau apa pun.

"Kamu bilang saya kekanakan tapi kamu lebih kekanakan." Bintang tersenyum mengejek.

"Jangan ngerendahin saya, Tri." Luka mendesis penuh ancaman.

Tapi bagi Bintang itu cuma desis ular tak beracun. Bintang malah datang, menarik lengan Luka untuk ikut dengannya.

"Buruan, Luk. Mahardika mungkin nyebelin tapi dia punya otak."

Luka menggerutu. "Kamu semangat cuma karena tau dia bakal jadi *******? Atau apa? Kamu semangat karena dia pengen megang kontrol habis perang?"

Bintang tersenyum. "Saya semangat karena bisa aja dia bikin kita jadi tuas kontrol perang dunia."

"Otak kamu sama Lio emang sakit," cerca Luka walau tetap berjalan mengikutinya. "Kalian terlalu kemakan omongan Mahardika. Lagian, kamu kira Narendra enggak bakal rugi kalau perang beneran dateng?"

"Mahardika mau enggak mau harus mastiin kita jadi adikuasa sebelum perang pecah. Kalau enggak, dia sendiri yang bakal abis." Bintang melirik Luka. "Jelas Narendra bakal rugi. Makanya Lio repot-repot bikin bunker khusus simpanan Narendra. Kamu kira kita semua ngomongin perang tanpa persiapan?"

Luka mendelik. "Jangan sok ngajarin saya. Saya juga tau urusan begituan."

"Kalo gitu jangan banyak protes. Kamu kenapa jadi cerewet banget kayak perempuan?"

Luka tiba-tiba menarik pinggangnya, mendorong Bintang begitu saja ke besi pembatas tangga. Bintang spontan berpegang pada besi itu, tapi tersenyum karena Luka datang mendekatinya.

"Bilang aja kamu nyari alesan buat ciuman," bisik Bintang di bibirnya. "Luka kesayangannya Lio ternyata suka ciuman."

Sekalipun di dalamnya bahkan ada omongan soal perang dunia, interaksi itu terlihat seperti candaan khas dari pengantin baru yang saling merayu.

Bintang tersenyum meremehkan, Luka tersenyum ikut meremehkan, lalu bibir mereka bertaut seolah saling merindukan.

Tangan Luka menjalar ke punggungnya, meremas punggung telanjang Bintang karena gaunnya. Mereka berdua lupa atau mungkin tidak peduli bahwa 'Mahesa Mahardika' ada di bawah menunggu.

Ah, mereka berpikir itu Mahesa Mahardika.

"Bin?"

Tapi bukan.

Itu bukan Mahardika.

Bibir Bintang seketika kaku, berhenti mencium Luka. Punggungnya yang lemas dalam remasan Luka seketika ikut tegang.

Bin.

Nada itu.

Suara itu.

Cara panggilan itu.

Intonasi itu.

Azka memanggilnya Bin, Mahesa memanggilnya sama, tapi dari mulut orang itu saja semuanya berbeda.

Suara yang menjadi satu-satunya kekuatan Bintang ketika ia lemah dan nyaris tak sanggup hidup. Suara yang sangat ia rindukan dan selalu ia harapkan datang setiap malam, menemaninya.

Suara yang ia benci.

Suara yang ia cintai.

Itu ....

"Bin."

Bintang dengan kaku berpaling, berhenti bernapas melihat sosok Langit Abkariz, kakaknya yang paling lembut, santun dan selalu penyayang tapi juga sangat badjingan meninggalkan Bintang sendirian, kini berdiri di sana.

"Lang?" Bintang menyebut namanya tak percaya.

Tak percaya sekalipun dia kini tersenyum dengan tangan terbuka.

"Aku di sini."

Bahkan Bintang tak bisa mengendalikan tubuhnya. Ia melangkah meninggalkan Luka, datang ke pelukan tangan yang terbuka itu.

Tubuhnya tenggelam dalam dekapan Langit. Merasakan aroma yang sudah berbeda tapi seolah sangat familier.

Langit. Langit-nya. Kakaknya.

"Kak."

"Aku di sini," bisik Langit, memeluk tubuhnya erat-erat. "Aku di sini."

Bintang memejamkan mata tapi air matanya justru menangalir deras. Bibirnya mendadak terisak, menumpahkan perasaan yang telah ia tahan bertahun-tahun.

"Kamu dari mana?" Langit terus memeluknya dan berbisik parau. "Kamu dari mana, Dek? Aku nyari kamu. Aku lewatin neraka buat nyari kamu. Kamu dari mana?"

Luka, Alex dan Tirta sama-sama tercengang melihat Bintang yang mereka kenal sebagai Trika itu sekarang terguncang oleh tangisan di pelukan kakaknya.

Luka melangkah turun dari tangga, tak tahu harus merasakan apa saat istrinya terisak-isak di sana.

Bagaimana bisa Langit di sini? Tidak, ulah Mahardika, kah? Dasar badjingan sialan. Dia dan Lio selalu saja melakukan hal menjengkelkan!

Sementara iru, Tama adalah satu-satunya yang tidak larut dalam momen haru tersebut. Pria itu justru merasa cemas akan keberadaan Luka, Tirta dan Alex.

Oke, tiga orang sinting yang bisa mencincang mereka jika mau.

*

Dukung karya author dengan like👍, vote dan komen, yah😊🙏🙏

1
dewi
ya allah banyak bawang d emosi bacanya thoor semagat thoor
Widhi Labonee
yg hrs d kasihani disini siapa????
Widhi Labonee: nggak ahh...kl ke kak author...sayangi ajaaahh.. wkwkwkkwk
total 2 replies
Widhi Labonee
hwaduh... kok bs ya mereka ky gitu
Widhi Labonee
ky nya ada deh yg ky mahrsa ini d th 23 ini hehehhehe... gak ahh ntar koment ku d hapus lagi... wkwkwkwkw
Widhi Labonee
hmmm.. semakin menarik...
dewi
sebenarnya bintang siapa kk
ig : candradimuka.author: nama pemeran utamanya atuh 😭. namanya ada dua emang.
total 1 replies
Widhi Labonee
omegaaaatttt.....
Widhi Labonee
tuh kan .. ap we blg,,, gejala awal bucin noh ngana luk
Widhi Labonee
hmmmm... mulai deh gejala bucin nih... ayyoookk gaaasssskeun
Widhi Labonee
wooww... ngeri ngeri sedep yah hidup dg org" narendra nih...
Stockist NASA Surabaya L.2696
aq baca 13 istri narendra tp ga paham alurx... dicerita ini... aq paham... unik juga... jd tetap semangat nulisx ya kak
Widhi Labonee
hmmm,,, apakah ini kisah awal" nya narendra kak othor???
ig : candradimuka.author: yap, ini awal terbentuknya Narendra 😊
total 1 replies
Widhi Labonee
gegara baca ini,, sy jd belajar apa itu misogini,, kupikir miso itu sejenis makanan sih eh bukan trnyata,, wkwkekek,, dasar otak pendek aq nih.. hahahhahaha
ig : candradimuka.author: huhu, misogini tuh benci perempuan. iya, luka awalnya jahat banget 😭
total 1 replies
Widhi Labonee
baru baca lgsg tegang nih,, emang seris Narendra sll bekeng deg deg plasssss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!