Perasaan yang awalnya dikira muncul selintas, lalu pergi, justru nyatanya bertahan cukup lama sampai memakan waktu bertahun-tahun. Bimbang dan tak tahu harus bagaimana dengan kelanjutannya, apakah harus diam saja atau justru mengungkapkan segalanya. Naas, belum sempat ungkapan cinta itu terlontar justru kekecewaan yang didapat. Hingga akhirnya, menyerah jadi jalannya.
Dan, disaat bersamaan datang seseorang yang tak pernah terpikir akan mempunyai perasaan spesial untuk diri ini. Pria dewasa yang datang disaat hati ini tengah terluka. Perlahan namun pasti, pria itu mampu menumbuhkan perasaan yang ditunggu sejak dulu.
Mungkin, hati ini sudah menemukan dambaan nya. Tapi, kenapa justru hati ini kembali dibuat kecewa? Saat masalalu yang kisahnya belum selesai, kembali mengobrak-abrik hati.
Lalu, jika sudah begini? Siapa pilihannya? Jatuh cinta sama siapa, sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon katatokoh16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep.23 — Yakin, gak pacaran?
“Guys, thank you ya buat kerjasamanya. Alhamdulillah banget nih uang yang ke kumpulnya. Gue pastiin besok nih uang udah gue kasih sama pihak kampus yang kelola dana sumbangan itu. Nah, karena berhubung ini udah mau malam dan gue tahu kalau kita tuh udah capek banget, sangat dipersilakan buat pulang ke rumahnya masing-masing untuk istirahat. Sekian, terimakasih.”
Mereka akhirnya berpencar, beranjak pulang meninggalkan tempat berkumpul mereka untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Dan, Arga memilih bersama Bina, kebetulan dia pergi bersama perempuan itu.
“Sini, Mi.”
Bina menyerahkan beberapa barang yang dibawanya, langsung Arga masukkan ke bagasi mobil lelaki itu.
“Udah kan, ya? Gak ada yang ketinggalan?” tanya Arga sebelum akhirnya dia menutup pintu bagasi mobilnya saat Bina mengatakan tak ada yang tertinggal.
“Yaudah, yuk!”
Bina dan Arga berjalan bersebrangan, masuk ke mobil dan duduk berdampingan. Arga yang mengemudi, Bina yang duduk di sampingnya.
“Langsung pulang, Mi?”
“Iya, Ga. Makasih, ya udah mau nganterin.”
“Yoi! Tapi, kalau gak langsung pulang, keberatan, gak lo?” tanya Arga, dia melirik Bina sambil memasang seat belt.
Bina mengerutkan keningnya, “Emangnya mau kemana dulu?” tanya Bina.
“Makan. Lapar banget, Mi. Saking asiknya sama kerjaan tadi, sampai lupa buat makan. Eh, pas sadar ternyata kita belum makan loh dari siang, pagi malah.” jelas Arga.
Bina terdiam, dia tiba-tiba menyentuh perutnya yang berbunyi, merasakan rasa lapar. “Lah, iya, ya. Aku geh baru ngeh kita belum makan.” Bina menoleh pada Arga, dia mengangguk. “Iya, aku juga lapar, Ga. Ayo, makan dulu kita.”
Arga tersenyum lebar. “Yaudah, ayo! Gas lah kita makan dulu.”
“Let's go!”
***
“Mau paha apa dada?”
“Paha dong udah jelas.”
“Oke...”
“Aku aja, Ga yang pesan. Kamu tunggu aja di mobil.”
Arga terkekeh pelan, menatap Bina yang menaikkan kedua alisnya bingung. “Jangan sok deh, Mi. Udah, gue aja yang pesan, lo yang nunggu disini. Biar sekalian gue bawain kalau udah ready makanannya.” ucap Arga, dia melepas seatbelt nya.
“Gakpapa, aku aja.”
“Nanti tuh makanan lo lempar lagi kalau ada kucing.”
“Enggak lah.”
“Enggak lah, enggak lah. Kucing ‘meong, meong’ aja lo langsung lempar bungkusan isi kue, apalagi ini nanti ayam goreng. Enggak, enggak, gue aja udah.”
Bina mencebik pelan, “Yaudah deh, aku beli minuman aja, ya.”
“Boleh-boleh.”
“Mau lemon tea apa ice tea aja?” tanya Bina, dia menaikkan kedua alisnya.
Arga terkekeh, “Makan ayam penyet sambal ijo yang super duper pedas nampol, sudah jelas dan sudah pasti minumannya...”
“Lemon tea!”
Arga menjentikkan jarinya, “100.”
Keduanya terkekeh bersama, sudah hapal betul hal seperti ini sudah pasti akan terjadi.
“Yaudah, yuk ah pesan.”
Dan, mereka pun pergi. Tak berselang lama, Arga kembali sambil membawa dua piring yang isinya porsi nasi ayam sambal hijau dengan tempe juga lalapan nya. Bina dengan cekatan pun segera membuka pintu untuk Arga, sedikit kesusahan namun semuanya berjalan lancar.
“Nih punya Gemi, ini punya Arga.”
Bina mengulum senyumnya, berdesis pelan. “Dih, apaan banget deh ngomongnya. Idih...” ucap Bina, dia terkekeh sambil mengambil piring makan bagiannya.
Arga terkekeh, “Cute kan?”
“Idih...”
Keduanya tertawa bersama.
“Selamat makan. Ayo, makan!”
Belum sempat Arga menyentuh makanannya, tangan Bina lebih dulu memukul pelan punggung tangan pria itu membuatnya meringis pelan.
“Nih, lap dulu tangannya.” Bina menyerahkan tisu basah antibakteri pada Arga. Mereka tak cuci tangan dengan air mengalir, melihat di luaran juga begitu banyak orang mengantri cuci tangan. Sebagai alternatif Bina memilih tisu basah saja.
“Lupa.” Cepat-cepat Arga mengelap tangannya, setelah selesai dia langsung mencomot ayam goreng tersebut dan langsung melahapnya.
Bina menggeleng pelan, “Bismillah.” ucap Bina mengingatkan, Arga kan sering lupa dengan hal-hal kecil seperti itu.
“Bismillah,” sahut Arga dengan mulut penuhnya.
Bina pun mulai memakan makanannya, langsung memejamkan mata dan menghela napas kasar. Dia menoleh pada Arga dengan wajah sedihnya, terharu lebih tepatnya. “Kok enak terus sih, Ga? Ih...” Bina kembali memejamkan mata, kembali merasakan nikmat dari makanannya.
Arga terkekeh, sudah hapal dengan ekspresi yang ditunjukkan Bina. Sesuai dugaannya. Dari dulu sampai sekarang, tak pernah berubah.
“Iyalah. Legend gini mah gak mungkin berubah, udah sepuh mereka. Gak ada yang bisa ngalahin rasanya.”
“Enak banget, MasyaAllah...” Saking nikmatnya ayam penyet cabai hijau itu membuat Bina meneteskan air matanya. “Gak pernah gagal, ya, Ga.”
“Sepuh!”
Mereka pun menikmati makanannya dengan santai sambil sesekali bercerita tentang apa yang sudah mereka lewati hari ini.
“Makan di sana kayaknya enak, ya, Ga.” ucap Bina, dia melihat orang-orang yang makan sambil duduk lesehan di tempatnya langsung. Pernah membayangkan dia juga bisa makan seperti itu.
“Iya, nanti gue hipnotis dulu lo nya biar kita bisa makan di sana langsung.”
Bina mengerucutkan bibirnya, dia menghentikan sejenak makannya. Dia menoleh pada Arga, “Kenapa harus takut kucing coba, Ga?” tanya Bina kesal, “Kenapa aku harus takut kucing coba? Kan jadi susah apa-apa, Ga...”
“Ya, namanya juga lo trauma, Mi. Mau gimana pun, ya, kalau udah trauma mah susah lah.”
“Kenapa juga waktu kecil harus dicakar kucing coba? Kan jadinya takut sampai sekarang.” sedih Bina, dia sedih dan kesal sebenarnya.
“Udahlah... Lo bisa makan ayam goreng sambal ijo tuh juga udah alhamdulillah.”
“Iya... Alhamdulillah.”
“Meskipun dalam mobil, ya...”
Disela menikmati makan malam mereka, suara dering ponsel milik Arga berbunyi, mengusik obrolan diantara mereka.
“Anak-anak telpon. Angkat, gak, Mi?” tanya Arga, dia meminta persetujuan Bina. Padahal sebenarnya tak perlu, mau atau tidaknya dia mengangkat panggilan itu adalah haknya.
“Angkat aja gak papa. Siapa tahu penting.”
Arga terkekeh, “Mana ada penting, Mi. Yang bakalan mereka omongin mah gak ada manfaatnya sama sekali.”
“Yaudah, angkat aja.”
“Siap, laksanakan!”
Arga mengangkat panggilan tersebut dan dilayar ponselnya langsung terpampang wajah dua sahabatnya, Dwiki dan Lisa.
“Kok cuma berdua sih? Caca mana?” tanya Arga langsung, dia pikir Caca juga akan ada di obrolan mereka. Tapi, tidak.
“Gak tahu tuh anak kemana, gak diangkat telpon dari gue. Bina juga. Gak tahu tuh, pada sibuk kali.” jawab Dwiki.
Arga langsung menyorot kan kamera pada Bina, membuat perempuan itu langsung terpampang di layar ponselnya. Bina pun tersenyum, melambaikan tangannya.
“Eh, Bina kok ada sama lo?” tanya Dwiki.
“Wait, kalian ada dimana sekarang?” timpal Lisa.
“Coba tebak, ayam penyet sambel ijo terenak sejagat raya dimana?” tukas Arga, dia terkekeh pelan sambil menaikkan sebelah alisnya. Dia memposisikan ponselnya agar dirinya juga Bina bisa masuk ke layar ponsel tersebut.
“Ih... Parah! Itu bm gue dari dulu. Pengen juga makan ayam penyet itu.”
“Dah lama banget kita gak makan di sana, ya. Terakhir kita berlima kesana pas selesai ambil ijazah.”
“Makanya pulang lah!” timpal Arga, dia terkekeh pelan sambil menggoda teman-temannya dengan memakan ayam goreng tersebut dengan ekspresi mengesalkan.
“Anjir, Ga! Liat aja nanti, kalau gue pulang langsung gue borong tuh ayam penyet, biar lo gak bisa makan lagi.”
“Iya, ih, Arga! Bikin tambah pengen aja!”
Arga dan Bina tertawa dibuatnya.
“Ih, tapi mereka kurang seru, Lis. Masa makannya di mobil, mana sedep lah!”
“Ya, sebenarnya cita-cita Gemi tuh bisa makan lesehan di tempatnya. Tapi, berhubung takut sama kucing. Jadinya, cita-citanya gak juga tercapai deh.”
Bina berdecak pelan, dia mengerucutkan bibirnya.
“Emang kayaknya teman kita doang deh yang punya cita-cita sederhana banget, makan lesehan.”
Sudah, sudah, kalau sudah seperti ini pastinya yang akan jadi bahan candaan Bina ini kedepannya.
***
“Makasih, ya, Ga udah dianterin.”
Bina berdiri berhadapan dengan Arga saat mengantar lelaki itu menuju mobilnya. Tadi, Arga membantu Bina menurunkan semua barang-barangnya dan sekarang lelaki itu berniat langsung pulang.
“Yoi! Santuy. Yaudah, gue pulang dulu, ya.”
Bina mengangguk, “Iya, hati-hati, ya. Nanti kalau udah sampai rumah, kabarin.”
Arga langsung berdiri tegak, memberi hormat. “Siap, bu hajah!”
Bina hanya bisa tersenyum saja, sudah banyak sekali panggilan yang Arga berikan padanya. “Yaudah.”
“Cabut, ya. Bye—eh, Assalamu'alaikum...”
“Waalaikumsalam.”
Bina masih di tempatnya, menatap dan menunggu mobil yang Arga kendarai melaju pergi. Dan, saat mobil lelaki itu sudah tak terlihat lagi, dia bergegas berbalik, masuk ke rumahnya kembali. Namun, langkahnya seketika terhenti saat melihat keberadaan kakak iparnya yang berdiri diambang pintu sambil bersandar dan melipat tangan didepan dada.
“Teh?”
Nisa tersenyum simpul, “Yakin, kamu sama Arga, gak pacaran?”