Pout for Me, Little Mouse.
Keylana Reinhardt, Putri seorang raja perbankan lokal Jerman, diatur ke dalam pertunangan dengan Julian Donnersmarck -- Seorang Miliarder muda dari Berlin yang arogan, pragmatis dan bergaul dengan bebas.
Setelah disatukan, mereka tinggal bersama di Berlin, Kota kelahiran Julian. Tidak ada satu hari pun tanpa perdebatan. Julian tidak meninggalkan kebiasaan moral yang buruk sedangkan Keylana tak kalah nakal, memanggil Julian dengan nama depannya.
Ini tentang Rasionalitas yang terus dipertanyakan dan Perasaan yang dianggap tidak penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubble🫧, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mesin Balap Di Sirkuit Terlarang
Di pagi yang cerah ini, Lana keluar dari mobil yang dikendarai supir Julian dan melangkah ke lingkungan kampus.
Pakaiannya, Manis dan cukup ringkas. Shortskirt putih dengan atasan kemeja kerah pelaut dan garis di lengan. Ransel hitam kesayangannya tidak pernah terlepas dari kegiatan studi.
Di bangku bawah pohon tempat Lana biasanya bertemu teman saat akan mengikuti kelas yang sama, Ada Brooklyn dan Jennifer.
"Guten Morgen!"
Lana menyapa dengan riang, Keduanya perlahan mendongak dari ponselnya dan berdiri saat Lana mendekat.
"Kau terlambat tiga menit!"
Brooklyn mengacungkan tiga jari dengan tatapan tajam walau sebenarnya tidak marah sementara Jennifer mengetik beberapa kata lagi sebelum mengantongi ponselnya ke dalam saku celananya.
"Aku tau, aku tau. Nanti aku traktir... air putih."
Lana mendorong pundak Brooklyn terlebih dahulu ke jalur yang akan mereka lalui sebelum menarik tangan Jenny.
"Air putih, aku pikir makanan burung akan lebih baik untuk ditawarkan."
Jenny membawa nada kecewa yang sebenarnya mengejek. Mereka bertiga berjalan bersama menyusuri halaman hingga koridor menuju kelas dengan santai.
"Makanan burung, untuk apa tepatnya? Jangankan burung, Kau bahkan tidak pernah memelihara seekor serangga pun."
"Aku pikir dia memelihara seekor cicak di rumahnya."
"Benar, dirumah ibuku ada cicak. Lalu kenapa?"
Di saat yang sama, Ethan melintas di ujung pertigaan koridor. Sudah lama Lana merasa anak itu menghindarinya, bukan ketidaksengajaan.
"Ethan!"
Lana memanggil sambil mendekat, membuat temannya terfokus seketika. Ethan berhenti di tengah langkah mendengar suara Lana, Tidak mungkin bisa menghindar sekarang.
Ethan menatap Lana yang mendekatinya sambil memegang beberapa buku yang berat di tangannya.
"Ya? Selamat pagi, Lana."
Lana berhenti tepat di depan Ethan, Pria itu tampak menyembunyikan kegelisahannya sehingga wajahnya tetap tenang.
"Apakah kamu sibuk? Mengapa kau jarang mencariku, Aku mau mengembalikan buku milikmu ini."
Lana memiringkan Ranselnya, membuka zipnya untuk menemukan sebuah buku novel misteri. Ethan melihatnya bergerak, Ia takut membuat Lana tidak nyaman dengan pertanyaan dan juga takut ancaman Julian tempo hari jadi hanya diam dan menghindar.
"Ini dia, Ethan." Lana mengulurkan buku ke atas tumpukan yang sedang dipegang Ethan sambil menguji reaksinya.
"Terimakasih banyak."
"Sama-sama, Lana. Aku harus segera masuk kelas. Semoga harimu menyenangkan."
Ethan berjalan kembali, berhati-hati agar tidak terlihat gugup atau tergesa-gesa tapi Lana tidak bisa tidak menemukan tingkah aneh Itu, Baginya yang sudah terbiasa dengan dinamika keluarga dan hubungannya sendiri. Tindakan Ethan tidak seperti biasanya tapi ia tidak tahu apa penyebabnya.
Lana berbalik dan berjalan kembali untuk masuk ke dalam kelas menyusul teman-temannya.
Hari sibuk Lana berakhir sekitar Jam Lima. Saat Lana berencana melangkah untuk membeli minuman di mesin penjual otomatis di seberang jalan, sebuah mobil berhenti tepat di depannya dengan sengaja menghadang walau Lana belum akan menyebrang.
Lana tetap diam tak bergerak, Tidak mungkin kejahatan berlangsung disaat banyak orang di sekitar mereka.
Seorang pria berambut pirang keluar dari mobil BMW, Itu Leon Gruber.
"Halo,"
Sapanya dengan senyum sok akrab dan mata tajam, bersandar di pintu mobilnya padahal berada di trotoar.
"Halo, Herr Gruber kan?"
Lana menawarkan senyum baik walau dibaliknya sangat bohong, Dia kesal pada pria sok keren ini. kekesalannya hampir setara dengan kebenciannya pada Julian.
Leon tertawa pendek lalu berjalan mendekatinya dengan senyum yang tak pernah pudar.
"Benar, Anda ingat saya dengan baik rupanya, Fraülein Keylana. Apakah mungkin karena pertemuan pertama kita yang sangat... tidak sopan."
Dia menyinggung sementara Lana terus tersenyum seperti orang tolol menyamainya.
"Tapi, Panggil saja Aku Leon. Kita sudah menjadi teman bukan?"
"Baiklah Leon, Kita memang teman karena anda dan saya adalah jenis hewan yang sama."
Katanya membuat Leon terdiam beberapa saat sambil menatap tajam.
"Hewan?"
Leon mengangkat alis terkejut dan bingung, Senyumannya pudar mengira Lana menghinanya lagi.
"Secara biologis, Manusia dikategorikan sebagai hewan."
Lana tersenyum sambil sedikit memiringkan kepalanya. Leon kembali tersenyum kali ini dengan kilatan geli.
"Bagus." Komentarnya datar. "Butuh tumpangan?" Leon menunjuk ke belakang dimana mobilnya berada di trotoar menggunakan Ibu jari.
"Sayangnya, aku akan dijemput hari ini. Mungkin lain kali, Leon."
Jawabnya sedikit melirik jalan mencari tanda-tanda mobil Julian. Leon tidak tampak kecewa, ia kembali membawa pendekatan.
"Kapan 'lain kali' yang kamu sebut?"
"Aku tidak yakin."
"Sopir Donnersmarck mungkin berada dalam kemacetan atau terlambat, mengapa tidak menerima tumpanganku saja?"
Leon sudah bergerak membuka pintu penumpang depan mempersilahkannya. Senyum Lana berubah mematikan karena kesal tapi Leon sama sekali tidak takut, sebaliknya itu dianggap lucu.
Pada saat yang sama, mobil Brooklyn berhenti tepat di belakang mobil Leon, Sebuah tesla. Ia membunyikan klakson dua kali.
"Hai Lana! Butuh tumpangan?"
Brooklyn menggeser kepalanya keluar jendela, ia paham situasi yang tidak terprediksi ini. Leon tampak kesal, tangannya masih memegangi pintu.
Lana tersenyum pada Leon sebelum berjalan ke arah mobil Brooklyn melewati pria itu.
"Permisi ya, Leon. Rupanya aku mendapatkan teman."
Mata Leon menyipit kesal saat Lana berjalan ke mobil Brooklyn, Gadis itu membuka kursi penumpang dengan kakinya.
Lana duduk dan menutup pintunya sementara Leon berdiri menatapnya.
"Mendapatkan pengagum baru, Sayang?"
"Itu adalah salah satu kenalan di pesta. Ngomong-ngomong mobil yang bagus."
Lana menepuk kursi yang ia duduki, Brooklyn membawa mobil dari trotoar menuju lalu lintas.
"Ini milik pacarku, Dia mengizinkanku menggunakannya."
Katanya dengan riang saat membicarakan pacarnya membuat lana memutar matanya dengan muak.
Leon memperhatikan mobil itu pergi lalu seringainya kembali, Ia memasukkan tangannya ke dalam saku di tengah keramaian orang berjalan di sekitar kampus.
"Oh, 'Lana' ya?"
Katanya seolah menguji kata itu di lidahnya. Ia terus menatap bagian belakang mobil yang menjauh membawa mangsanya itu lalu dengan santai ia memasuki mobilnya sendiri.
Ia nilai membawa mobilnya mengikuti mobil milik Brooklyn, Lana menyadari Leon mengikuti saat melihat spion.
"Apa yang dia lakukan?"
Brooklyn fokus pada jalan di depan, Mobil Leon berakselerasi dengan lancar di sampingnya dan menekan klakson. Brooklyn terlihat ragu dan sedikit berkeringat menghadapi situasi yang tidak jelas ini.
"Menurutmu apa yang harus kita lakukan?"
"Menyetir saja seperti biasa. Jangan terlihat melawan agar dia tidak mendorong lebih jauh."
Lana terus mengawasi pergerakan Leon, Dia tahu bawah saat menghadapi situasi tak diinginkan seperti ini sebaiknya jangan terlihat seperti lawan melainkan tenang dan bersahabat agar lawan tidak menjadi agresif.
Leon menyalip mereka dan mendapati posisi tepat di depan, melambat di depan mereka memaksa Brooklyn mengurangi kecepatan.
"Apa yang dia pikir dia lakukan?"
Julian terpaksa menginjak pedal gas untuk menambahkan kecepatan dan menyalipnya tapi lagi-lagi mobil Leon menyalip, kali ini dari kanan dengan jarak yang minim sehingga bisa menyebabkan goresan.
Leon menurunkan kaca Jendela dapat melewati mereka sehingga wajahnya berhadapan beberapa saat.
Pria itu menyeringai dengan gaya keren sembari menyetir.
Brooklyn melaju melebihinya karena kekhawatiran hingga Mereka saling salip-menyalip dengan kecepatan tinggi berkat mesin canggih kendaraan mereka.
"Brooklyn, Kau tidak bisa melawannya seperti ini."
Lana berhenti bicara, mengerti kekhawatiran Brooklyn dan merasa ini salahnya.
Lana berpegangan karena kecepatan kendaraan mereka, Brooklyn fokus mengemudikan mesin balap itu sementara Leon terus berusaha mendahului di depannya, tujuannya jelas untuk mengejar Lana dan membuat mereka terpaksa berhenti di tepi jalan dan menghadapinya.
Jarum Speedometer bergulir ke kecepatan yang melanggar aturan lalu lintas sehingga mobil-mobil di jalanan memberikan klakson atas gangguan ugal-ugalan dua kendaraan yang saling kejar-kejaran itu. Lana berpegangan erat.
"Mein Gott!"