Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Hanya Pelayan

Aku Hanya Pelayan

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:91.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ise choi

Selin Maharani, adalah seorang gadis biasa yang baru memasuki bangku kuliah, hidupnya sangat lurus dan baik-baik saja.
Namun semuanya berubah saat satu nyawa tumbuh di rahimnya, itu semua akibat perbuatan bocah tengil yang masih SMA bernama Rain Alexander.
Sialnya bocah bau kencur itu itu adalah anak majikan Selin, majikan yang selama ini mengurus dirinya hingga Selin dewasa.
Dengan brengseknya Rain si bocah ingusan itu menolak mati matian saat semua orang memintanya untuk tanggung jawab, dengan teganya dia menyuruh Selin untuk menggugurkan bayinya.
Apakah mereka akan bersatu dan menemukan cinta? Atau berpisah dan menjadi asing di jalan yang berbeda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ise choi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Pemuda berperawakan sedang, pemilik bibir tipis yang suka sekali menebar senyum itu tengah termenung di tepian kolam ikan, mata beningnya hanya memandangi ikan-ikan warna-warni yang sedang berseliweran di air." Kata Pak Sarip kamu tadi pagi marah-marah, kenapa sih?" tanya Selin berhasil mengagetkan Kenzie yang sedang melamun.

Pria itu menoleh ke samping." Kamu ini tiba tiba banget kaya hantu aja, kaget tau."

"Hantunya kurang gizi tapi ya." Selin mencoba menghibur lelaki itu, meskipun garing karena dia memang tak pandai melawak, Selin itu tipikal orang pendiam dan cenderung introvert, tak pandai bergaul apalagi melawak.Kenzie menahan tawa mendengar kata konyol yang Selin ucapkan, wanita itu memang kurus kering terlihat seperti kurang gizi.

Tangan Kenzie terulur menyentuh poni Selin yang sedikit berantakan." Mana ada hantu cantik banget kaya gini." Ken merapikan poni Selin yang menutupi wajah cantiknya, karena tertiup angin, Selin terlihat sangat cantik hari ini dan memang selalu cantik setiap harinya.

Perempuan berwajah mungil itu hanya tersenyum, kemudian netra gelapnya beralih memandangi ikan ikan hias yang sedang meliuk-liuk di dalam air, kulit putih pucatnya terlihat bersinar terkena cahaya matahari, duh merepotkan pikiran liar laki-laki saja." Kenapa sih? bisa sampe semarah itu," ujar perempuan bermata sayu yang sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari ikan-ikan cantik itu.

"Aku kesal beneran, mereka itu bebal banget aku udah bilang berkali-kali jangan suka naruh gelas kotor di meja kerja, juga di wastafel itu jangan taruh gelas atau piring kotor, aku gak suka gak enak lihatnya kotor." adu Kenzie yang sangat menyukai kebersihan, tak heran Ken sering mengomel pada karyawan.

"Oh, jadi karena itu, yakin itu doang? biasanya kamu gak semarah itu." selidik Selin pasalnya tadi pagi ia mendengar cerita para karyawan Kenzie marah besar dan mengomeli semua orang, bukan hanya marah seperti biasanya yang masih bisa di bilang wajar.

Kenzie membuang wajah ke samping, enggan menatap manik legam segelap malam milik Selin yang masih menatapinya itu, dia tidak mungkin memberi tahu semuanya pada perempuan ini." Iya, emang karena apa."

"Oh, oke-oke, ya udah mending kita makan baso aja yuk kalo lagi kesel makan yang pedes-pedes aja, biar plong pikiran kamu." ajak Selin, Ken mengangguk setuju saja, mereka pergi ke tempat bakso kesukaan Selin, bakso mercon favoritenya semenjak mengandung Kaivan.

Sebetulnya Kenzie marah bukan karena para karyawan yang tidak taat pada aturannya, tapi dia marah karena yang lain, karena masalah dengan ibunya, jadi dia sengaja meluapkan kemarahannya pada anak kantor, malamnya Kenzie habis di ceramahi oleh Jane, Jane memaksanya pergi makan malam dengan Niken, Jane juga sedang berusaha mengatur pernikahan mereka.

Setelah pertimbangan Jane akhirnya memilih Niken di banding Ririn, karena Niken mandiri dan dewasa, tidak seperti Ririn yang manja dan kekanakan, tidak mungkin Jane memilih menantu seperti Ririn.Andrew seorang pejabat apa kata dunia jika mereka memiliki menantu seperti Ririn wanita itu pasti akan merepotkan nantinya.

Sebenarnya bagi Andrew tidak masalah, siapa pun yang akan menjadi menantunya nanti, tapi Jane selalu ribet dan banyak kriteria dia selalu ingin yang sempurna untuk putra semata wayangnya, tidak boleh sembarangan memilih, wanita itu harus jelas asal usulnya bibit bobotnya terlebih statusnya, dia sudah menyingkirkan Ririn dan Selin dari daftar menantu yang akan menjadi pendamping untuk Kenzie.

Baginya Selin wanita yang jauh sekali levelnya dengan Kenzie, begitu juga dengan Ririn meski wanita itu seorang model dan juga berasal dari keluarga berada, tapi tetap saja Jane tidak menyukainya, wanita manja dan kekanakan.Jane tidak mau nantinya ia akan merepotkan Kenzie, sama sekali tidak pantas bersanding dengan seorang Sebastian Kenzie anak gubernur tersohor di kota itu.

...🦊🦊🦊🦊...

"Makan dulu sana," Suruh Hera.Rain baru pulang kuliah, Hera sudah memesan makanan untuknya dan Rain sebelum anaknya sampai di rumah.

"Enak banget kayanya, Mama gak makan? ayo kita makan, bareng." Rain menarik kursi penuh semangat apa lagi melihat hidangan yang begitu menggugah seleranya, belum lagi perutnya sudah sangat lapar sekali, ternyata dengan hanya memandangi wajah cantik Florence doang, tidak serta merta membuat perutnya kenyang, dan tetap yang bikin kenyang itu nasi bukan cinta.

"Mama masih kenyang, kamu aja." Hera masih sibuk dengan laptopnya bahkan saat bicara pun tak melihat wajah Rain.

"Ya udah, aku aja yang makan." dengan rasa malas Rain makan, seleranya yang tadi menggebu mendadak hilang begitu saja.

Rain menelan rasa kecewanya, dia hanya ingin makan bersama mamanya, sudah lama sekali tidak makan berdua dengan Hera.Rain pikir selagi Hera di sini mengunjunginya dia ingin sekali menghabiskan waktu berduaan manja-manjaan dengan ibunya seperti anak lain ketika bersama sang ibu.

Tapi sepertinya itu hanya sebatas keinginan Rain saja, buktinya selama Hera berada di sana sudah hampir dua minggu mereka tidak pernah makan bareng, setiap Rain mengajaknya makan.Hera selalu saja sudah duluan atau bahkan sengaja tak makan.Hera memang sering diet tidak makan karena sangat menjaga tubuhnya.

Maka dari itu, Rain merasa percuma Hera datang kesana, jika keberadaannya sama saja seperti mereka sedang berjauhan.Rain benar-benar merindukan sosok ibu yang bisa menghibur dan memanjakannya, padahal dia anak satu-satunya, seharusnya selalu berlimpah kasih sayang dari orangtuanya.Rain memang anak satu-satunya selalu bergelimang harta, tidak pernah kekurangan apa pun, tapi ia kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya.

Rain makan sembari melamun mengapa nasibnya begitu memperihatinkan.Rain bersyukur tidak hanya dirinya saja tapi ke tiga temannya pun bernasib sama seperti dirinya, jadi karena itu Rain tidak merasa sendirian." Minggu depan mama mau pulang." ucap Hera seraya menutup laptopnya.Rain acuh dia masih setia bermain ponsel sambil makan.

Hera menatap putranya heran." Hei, kamu gak dengar Mama ngomong?" Hera mengusap lengan Rain, lelaki Itu baru mau mengalihkan pandanganya dari ponsel.

"Oh, ya udah." jawabnya seolah tidak peduli ibunya mau balik atau tidak.

Hera menyipitkan mata." Kamu kok gitu sih? kaya bukan sama mama sendiri aja." Hera pura-pura memasang wajah sedih, Rain berdiri dia telah menyelesaikan makannya pergi ke kulkas untuk mengambil air minum kemudian kembali ke meja, duduk seperti tadi.

"Ya terus aku harus gimana? pengen ikut juga gak bisa kan, masih sibuk gini." Rain menatap ibunya serius, Hera terkekeh kemudian merangkul putra tampannya Itu.

"Becanda sayang, cepat selesaikan kuliahmu ya, gantiin mama di kantor." Hera mencium kepala Rain dengan lembut dan penuh sayang.

Rain mengusap tangan ibunya, kekecewaannya menguap begitu saja.Seorang anak memang akan selalu memaafkan ibunya bukan." Iya, Mama gak usah kawatir, aku gak nakal lagi kok sekarang, lagi fokus pengen cepat selesai terus nikahi pacarku." jawab Rain sumringah.Hera mengerutkan keningnya mendengar Rain ingin menikah.

"Menikah? dengan siapa?" tanya Hera.

"Ada dong, namanya Florence Ma, dia orang indo juga kok, ketemu di sini nanti aku kenalin ke mama sekarang masih sibuk banget anaknya, belum lama ini kami resmi hubungan, dan setelah lulus nanti rencananya aku mau langsung nikahi dia." jelas Rain mantap.

Tentu saja Hera tidak suka, bukan orang lain yang dia inginkan menjadi menantunya.Hera masih menginginkan Selin yang akan menjadi pendamping Rain nanti." Oh, jangan asal milih calon istri Rain.Jangan terburu-buru di kenali dulu nanti setelah nikah kamu kaget lagi sama sifat aslinya."

Rain segera menggeleng." Dia baik Ma, mana cantik banget lagi, pinter kaya Mama nanti kalo Mama lihat pasti suka deh, aku gak sabar pengen segera nikahi." Rain tersenyum kala membayangkan wajah sang kekasih yang menurutnya cantik bak peri kayangan, mungkin seperti mimi peri.

"Mama belum setuju Rei, kata kamu baik belum tentu baik beneran, kamu itu lagi di butakan cinta." Hera benar-benar tidak suka mendengar Rain memuji perempuan itu, terlihat sekali memang kalau Rain sedang di mabuk cinta, jadi wajar saja ia memuji kekasihnya berlebihan seperti Itu.Hera harus membuktikannya dulu apa benar wanita Itu seperti yang Rain katakan.

Rain menunjukan foto dirinya bersama Florence ketika mereka kencan." Pokonya nanti Mama jangan macam-macam ya, awas aja kalo Mama gak setuju, susah Ma nyari perempuan kuat kaya Flo Itu langka, selain baik dan cantik dia itu mandiri anaknya, dan pinter banget, di sini jadi rebutan loh dia itu." jelas Rain panjang lebar, ia mengancam sang ibu agar merestui hubungannya.

"Halah, biasa itu mah, Selin tuh baru bisa di sebut perempuan mandiri pekerja keras udah gitu pinter otaknya, dia bisa membesarkan anak tanpa suami, gak mudah lho itu Rei, gak pernah ngeluh, gak pernah koar koar juga selalu tegar meski banyak yang mencibir statusnya, itu baru perempuan limited edition, langka." Hera lebih memuji Selin daripada calon istri Rain.

"Kalo cuma bisa tinggal di luar negeri seorang diri, bekerja menghidupi diri sendiri lalu kuliah hasil kerja kerasnya, itu mah biasa sering di temukan dan banyak, toh dia bisa kesini pasti atas bantuan orang tuanya juga kan? ada campur tangan orang tua, gak mungkin ujug-ujug bisa kesini, meski dia dapat beasiswa sekalipun."

"Kalo bawa diri sendiri doang mah gampang makan mie juga kenyang, coba kalo kaya Selin, dia ada anak? mana bisa cuma makan mie doang, banyak kebutuhan dan pengeluaran belom lagi ngurus anak itu gak mudah, nah itu baru perempuan kuat." sambung Hera sengaja meski Rain sudah terlihat sangat jengkel mendengarkan ocehannya.

Rain diam dia tidak suka, Flo jika di bandingkan dengan Selin tentu saja jauh pikir Rain, baginya mereka itu bagaikan langit dan bumi, Florence terlalu di atas jika di bandingkan dengan Selin." Mama ini apaan sih? ngapain jadi muji-muji dia?"

Hera menautkan alis." Lah kenapa? tapi benar kan yang Mama omongin?" ucap Hera merasa kalau ucapannya itu benar adanya.Rain memilih tak menanggapi malas sekali jika harus membahas Selin dan Selin terus." Selin sekarang tambah cantik tau, mama muda kan lagi di gemari remaja, anak gadis mah kalah jauh, tertinggal."

Rain mendengus malas mamanya Itu selalu saja memuji Selin, seperti tidak ada bahasan yang lain lagi saja." Mama muda kaya mana dulu, kaum remaja juga lihat-lihat dulu kali Ma kalo yang semok aduhai baru jadi buruan, kalo yang kurus krempeng gitu mah, ya elah."

Hera terkekeh lucu mendengar ucapan putranya Itu, dasar munafik batin Hera." Kurus krempeng tapi pernah kamu rasain kan? alah jujur aja deh pasti belum move on sama rasanya."

Mata Rain membulat menatap tak percaya pada ibunya." Ma, ngomong apa sih." kesalnya meski wajahnya memanas seketika ia enggan menatap manik sang ibu, sungguh Rain sangat malu, kok ibunya itu bisa tau kalo Rain belum move on dari tubuh itu, eh, lah kok kesana, skip skip.

Hera terkikik geli." Apa? mama ngomong fakta kan? coba aja kamu dulu nggak mengelak habis-habisan, mungkin cucuku sekarang bahagia bersama bunda dan ayahnya." Hera menarik napas teringat pada Kaivan anak kesayangannya setelah Rain.

"Jangan bahas Selin atau anak itu bisa?" ujar Rain pelan, jujur saja kala mengingat dua orang itu perasaannya menjadi tak karuan." Mama jangan memuji dia berlebihan deh, eneg aku." lanjutnya menyembunyikan keresahan hatinya.

Hera memandang putranya dengan wajah serius." Mama cuma mau ingetin kamu aja kok mumpung masih ada kesempatan, Rain, kamu masih bisa menebus kesalahanmu, ingat Kaivan itu butuh ayah, kamu belum terlambat, mama yakin pelan-pelan kamu bisa yakini Selin, dia pasti mau menerima kamu, asal kamu betul-betul mau berubah dan menyadari semua kesalahan kamu." ucap Hera, Rain terdiam ia menghindari tatapan sang ibu.

"Kamu tau? Selin itu memiliki nilai plus lho, kamu gak paham mana perempuan cantik beneran, atau hanya sekedar cantik aja, jangan sia-sia kan kesempatan, sebelum dia jatuh ke tangan orang yang tepat." sambung Hera seperti tidak pernah ada bosannya memuji Selin.

Tunggu, apa tadi mamanya bilang, jatuh ke tangan yang tepat maksudnya di miliki orang lain, ah, rasanya dada Rain kembali sesak jika perempuan itu jatuh ke orang lain, sejujurnya ia tak rela, tapi, ah bodo amat, dia sudah memiliki Florence, tak seharusnya memikirkan perempuan lain.

Niatnya Hera ingin Rain membuka mata, Hera tau dan yakin, Rain memiliki rasa pada Selin namun tertutup oleh gengsinya yang setinggi pohon jati itu, atau mungkin ia tak menyadarinya.Rain hanya diam mendengarkan segala pujian Hera untuk Selin, hatinya kembali resah mendengar kata-kata sang ibu.

...🦊🦊🦊🦊...

"Mama oma mana sih? kok oma gak puyang-puyang?" tanya Kaivan, dengan suara cadel khas anak-anak, dia merindukan Hera, beberapa hari ini anak itu sering kali menanyakan keberadaan omanya.

"Oma kan lagi kerja, nanti pulang kok Kai tunggu aja ya." Selin memberi tau Kaivan agar anak itu paham.

"Kai kangen sama oma." ucapnya setiap malam dia selalu bersama Hera, tapi ini sudah hampir dua minggu Hera tidak ada di rumah, pantas saja Kaivan begitu merindukan nenek gaholnya Itu.

"Kan ada nenek ida, sayang, oma lagi kerja, kita tunggu aja ya, anak baik harus sabar biar di sayang tuhan." Selin mencium kening putranya, Kaivan pun balas mencium pipi Selin.

"Kai sayang mama." ucapnya seraya nyengir.

Kontan air mata Selin menggenang." Mama juga sayang kamu bangetttt, Kai, sayang banget." Selin memeluk erat Kaivan.

"Kapan papa puyang Ma?" tanya Kaivan membuat Selin gelagapan, sekarang Kaivan sudah tau kalo Adit bukan ayahnya, karena Selin sendiri yang memberi tau dan pemahaman beberapa kali sampai anak itu paham, bahwa Adit yang selalu ia panggil papa bukanlah ayahnya, dengan alasan Selin tidak ingin Kaivan menganggap Adit ayahnya.Selin tidak mau membebani mantan suaminya itu bagaimana pun Adit lajang suatu saat dia pasti akan menikah, Selin takut jika nanti istri Adit keberatan.

"Papa kerja cari uang buat Kaivan sekolah, sabar aja ya kita tunggu." jawab Selin merasa bersalah lagi-lagi membohongi anaknya.Kaivan hanya diam dengan wajah terlihat kecewa, mengapa ayahnya tidak pernah pulang padahal dia sangat ingin melihat ayahnya dengan jelas, tidak hanya di foto dan video saja yang biasa omanya lakukan.

"Jangan sedih nanti papa pulang kok, bawa pesawat gede, Kaivan bisa main di lapangan sama Pak Amir pasti seru." Selin menghibur Kaivan tapi anak itu tidak peduli dia malah memejamkan mata.Selin memeluk erat Kaivan ia menumpahkan tangisnya merasa bersalah, anak polos yang tak berdosa yang tidak tau apa-apa seperti Kaivan, harus menderita begitu merindukan sosok seorang ayah.Selin sudah berusaha mencoba memberi pengertian terhadap Kaivan, tapi karena bocah itu masih terlalu kecil dia belum paham, Kaivan terus saja menanyakan ayahnya kapan pulang, bahkan hampir setiap hari.

...🦊🦊🦊🦊...

"Kamu kenapa?" tanya Mbok baru masuk Selin bangkit mengelap air mata yang masih meluruh di pipinya.

"Bu, apa aku harus menikah lagi? Ini demi Kaivan dia terus menanyakan ayahnya, aku merasa bersalah, Bu, karena terus bohong sama dia." Selin tak kuasa menahan kesedihannya rasanya amat perih melihat wajah kecewa Kaivan.

Mbok merangkul Selin, membawa ke dalam pelukannya." Jangan memaksakan diri sayang, wajar Kaivan seperti Itu namanya juga anak kecil, jangan hanya demi Kaivan kamu terus mengorbankan perasaanmu, ibu tau kamu melakukannya demi kebahagiaan anakmu, tapi pikirkan juga dirimu, lambat laun Kaivan pasti mengerti Ibu yakin."

Mbok tidak mau Selin mengorbankan dirinya seperti dulu ketika menikah dengan Adit, pernikahan itu bukanlah mainan bagaimana jika Selin hanya terpaksa demi anak, untuk apa cepat menikah lagi jika nantinya hanya akan berujung dengan perceraian sama seperti dulu.Mbok tak ingin dan jangan sampai putrinya itu menjanda untuk kedua kalinya." Tapi bu."

"Jangan terlalu di pikirkan sayang, ibu tidak akan bosan memberi tau Kaivan, lama-lama dia pasti ngerti kok, kan ada Adit dia sama saja ayahnya." Selin tentu tidak setuju dengan ucapan Mbok mengenai Adit.Selin tidak mau membebani pria baik Itu meski Adit tidak keberatan sama sekali, justru dia malah senang.

"Bu, aku gak mau Kaivan terus memanggilnya ayah, Ibu tau mas Adit bukan ayahnya bagaimana nanti jika keterusan, dan Adit punya Istri, dan istrinya pasti keberatan mengingat Kaivan bukan anak Adit." Selin terbebani dengan itu.

Mbok mengangguk" Ibu tau, tapi biarlah dulu untuk sementara begitu, nanti kalo Kaivan sudah agak besar, dia pasti mengerti, percuma kamu paksa dia buat gak anggap Adit itu ayahnya, gak akan mempan Selin, dia akan terus bertanya siapa ayahnya, dan kapan dia akan pulang, yang ada Kaivan kebingungan anak sekecil itu belum paham, kita akan memberi taunya pelan-pelan."

Mbok tau, tapi menurutnya cara itu tidak ada salahnya lagi pula pria itu tidak keberatan, jika Adit menikah nanti mereka bisa memberi tau istrinya, begitu pikir Mbok beda dengan jalan pikiran Selin, wanita itu kekeuh tidak mau mendengarkan Mbok, bagi Selin Kaivan tidak boleh memanggil orang lain dengan sebutan 'papa' selain pria itu, eh tungggu, kenapa pikiran Selin kesana, dasar pria aneh mengganggu saja, bocah berengsek itu seringkali memenuhi pikirannya.

1
Nur Aeni Mustopa
cerita nya bikin sesak nafas tapi makin kesini baca nya bikin sakit perut🤣
mommyarayra
bagus rain aku dukung kamu
chaca
aaaaaa terry liu
Bulung Bertik
rain,,,ngapain Lo melototin gw😠

ulat,,,makanya...jadi orang jgn kepo😏
Bulung Bertik
ulat aja sampe membencimu rain😂
yong he Lin
semoga
net time ngga pakai model kroya
yong he Lin
kurang macam kayak wanita
yong he Lin
Rain cocok wajahnya...ngga ada jantan2nya..malah kayak perempuan. sebel
yong he Lin
negara apa ini ya...kok wajah2 kroya bertaburqn
ISE CHOI: artis china ka
total 1 replies
Nurjanah Tamim
ini si plo.. mirip kutu kasur
gatel gatelin aja
pengen d basmi kli ya
Nurjanah Tamim
mantap aah karya mu tor....
Nurjanah Tamim
kasihan s selin..
lelaki yg dekat ma selin kga da yg se menggah..
Nurjanah Tamim
pe'a tuh s rain..
pngn d jedodin kli k tembok
Nurjanah Tamim
d tendang hera...
kismin kamu hendri
Nurjanah Tamim
kudu nya mah mulut s rain d kasih sambel mercon
Asmaul Husna
sedikit aneh sih cerita nya tpi seru👍
Asmaul Husna
sidikit aneh sih critanya tapi seru lah👍
Nurjanah Tamim
lama lama mah ke bongkar juga tuh rahasia nya s veronika
Nurjanah Tamim
ganteng sih..s rain ingkar nasi padang..
cuman ga da ahlak
Nurjanah Tamim
dasar pemuda gemblung..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!