Hai Nurul sahabatku, kau memiliki cahaya hati yang tulus dan mudah memaafkan kesalahan orang lain.
Aku mohon padamu untuk menerima satu permintaan terakhirku, menikahlah kau dengan suamiku dan jaga anakku.
Aku beri dia nama Nurul Aini nama yang sama denganmu Nurul agar ia memiliki hati sepertimu dan Aini yang berarti mata agar ia bisa melihat cinta yang sesungguhnya agar tidak jatuh dalam jurang penyesalan sepertiku.
Nurul sahabatku, sungguh maafkan aku yang sudah merebut cintamu, aku mohon maafkan kesalahan ku. Bangunlah lagi cintamu yang sudah kau pendam itu, kini aku serahkan ia kepadamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Try Moel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Do'a Yang Saling Bertautan
Hari sudah larut malam, angin malamnya sangat sendu seperti kesedihan yang melanda Tuti dan nenek. Malam itu sebelum jam setengah 7, Tuti sudah ganti baju bersiap siap untuk pergi lagi ke rumah sakit namun, nenek mencegah Tuti yang akan pergi menjenguk Aldo
"Tuti... ini sudah larut malam, gak usah pergi ke rumah sakit dulu, besok saja ya. Apa jam segini masih boleh jenguk pasien?" tanya nenek dengan khawatir
"Nenek takut kalau terjadi apa-apa sama kamu di jalan. Lagian Bu Sri sama anaknya juga udah pulang, nenek di rumah sendirian. Nenek gak mau jauh jauh dari Tuti. Besok kalau hari sudah terang, insyaallah kita ke sana ya" nenek merayu Tuti dengan nada yang sangat halus agar Tuti bisa dibujuk.
"Baiklah nenek, aku akan ke sana besok saja, aku juga khawatir jika nenek sendirian di rumah" tanpa banyak menyangkal perkataan nenek, Tuti menyetujuinya.
Tuti membatalkan niatnya untuk pergi ke rumah sakit lalu segera ia menelpon Malik melalui handphone Aldo dan mengabari bahwa ia tak jadi pergi ke sana malam ini.
"Assalamualaikum" Ucapan salam lebih dulu keluar dari mulut Tuti
"Wa'alaikumsalam" jawab Malik yang mengangkat panggilan
"Pa, bagaimana kabar Aldo pa? apa dia sudah sadar?"
"Belum nak, dia belum siuman. Dokter bilang tidak perlu khawatir nak, Aldo pasti segera siuman. Dia hanya belum membuka mata, tapi sudah beberapa kali menggerakkan tangan, dia juga mengigau dengan suara lemah"
"Haaaa...! mengigau? apa yang Aldo katakan pa?" tanya Tuti dengan rasa senang, karena bagi Tuti ini suatu perkembangan yang bagus untuk kesadaran Aldo.
"Pengantin ku, kurang lebih itu yang Aldo katakan nak. Dia sedang mencari mu, di alam bawah sadarnya ia tetap mencari mu"
Perkataan Malik membuat pilu hati Tuti, air matanya berderai seiring ucapan yang dikatakan Malik masuk ke dalam telinga. Perasaannya terombang-ambing oleh keadaan yang menghantam dirinya. Sambil mengucurkan air mata kemudian Tuti bertanya
"Apakah Aldo akan baik baik saja pa? apakah dia bisa tersadar besok? bisakah dia mengucap ijab qobul jika sudah tersadar?" Tuti tak sanggup melanjutkan pertanyaan yang sangat banyak dalam benaknya, ia tak bisa berbicara lagi namun, Malik menjawab pertanyaan calon mantunya itu dengan tenang dan sangat membuat lega hati Tuti.
"Nak, kamu jangan khawatir, dia pasti sembuh dan segera siuman. Kita doakan bersama untuk kesembuhan Aldo ya, agar kalian bisa segera sah menjadi pasangan suami istri" itulah yang dikatakan Malik dan membuat hati Tuti bisa tenang.
"Hmmm" Tuti mengangguk dan tersenyum
"Terimakasih pa, aku sedikit tenang mendengar penuturan Papa" lanjut Tuti.
"Iya sudah nak, kamu istirahat saja dan tenangkan pikiranmu. Besok kamu dan nenek bisa menjenguk Aldo kesini? jika tidak ada yang mengantar, biar saya yang jemput" ungkap Malik
"Tidak perlu pa, Tuti bisa bawa motor sendiri. Besok Tuti dan nenek akan kesana untuk menjenguk Aldo"
"Jika butuh bantuan, kabari saya saja ya nak"
"Iya pa, Tuti pamit dulu ya pa. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam" mereka mengakhiri panggilan itu.
Dengan perasaan yang sedikit lega, Tuti meletakkan handphonenya di atas meja yang bersandingan dengan tempat tidur. Ia mengambil segelas air putih dan meminumnya.
"Alhamdulillah, aku agak tenang setelah mendengar kata-kata dari papa" katanya lirih.
Tuti kemudian memeluk erat tubuh nenek dan mereka berbaring di tempat tidur yang sama. Tak lupa sebelum tidur mereka juga memanjatkan doa untuk kebaikan dan kesembuhan Aldo.
.
.
.
Di rumah Bu Sri
Pada jam setengah 4 dini hari, Bu Sri dan anaknya (ustadz Qomar) sudah bangun untuk menjalankan shalat tahajjud. Malam dimana masih banyak mata yang terpejam melanjutkan mimpi indah, mereka bangun untuk menunaikan shalat Sunnah, mereka bangun untuk bermunajat dan meminta kepada sang ilahi agar mimpi mereka terwujud.
Shalat tahajjud yang di imami oleh ustadz Qomar dan yang menjadi satu-satunya makmum adalah ibunya sendiri. Setelah selesai shalat keduanya mengangkat tangan seraya berdoa dan meminta untuk hajat mereka.
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahi robbil'aalamiin
allahumma sholli 'ala sayyidinaa Muhammad
wa'ala Ali sayyidinaa Muhammad
Ya Allah, ampuni semua dosa orang tuaku, dosa dosaku, dosa orang yang aku dzolimi dan dosa orang orang yang mendzolimiku, hapuskan semua dosa kami yang terlihat maupun yang tak terlihat ya Allah
Ya Allah Tutup lah aib kami, sehingga tak seorangpun tau dosa dosa yang kami lakukan ya Allah.
Ya Allah yang maha mengetahui isi hati hambanya, aku sedang memiliki rasa kepada salah satu hambamu, Insan yang belum halal bagiku, untuk menjauhkan aku dari dosa, aku menginginkannya menjadi kekasih halal ku ya Allah.
Jika aku memang berjodoh dengan dia, berikanlah kemantapan hatiku untuk meminangnya, jika bersamanya membuatku dekat denganmu berikanlah kemudahan jalanku untuk bertemu dengannya dan menikahinya.
Robbanaa aatinaa fiddunya Hasanah wafil aakhiroti Hasanah waqinaa 'adzaabannar
aamiin ya rabbal alamiin.
Setelah selesai memanjatkan doa, ustadz Qomar mencium punggung tangan wanita tercintanya.
"Kenapa le, wajahnya nampak seneng banget gitu?" tanya emak
Ustadz Qomar hanya tersenyum manis sambil menatap emak dengan lekat
"Mak, aku ingin melamar seseorang. Namanya Nurul, dia lulusan dari pesantren tempat dimana qomar mengajar. Qomar mau tanya sama emak dan minta doanya sekalian Mak, apa boleh Qomar menemui Nurul?" tanya ustadz Qomar
"Apa kamu benar benar siap untuk menikah?" emak bertanya balik kepada anaknya
"Insyaa Allah Mak, Qomar siap"
"Kalau kamu memang sudah siap, emak dukung kamu, emak doakan yang terbaik buat anak emak. Jadi kapan kamu mau bertemu dengan dia le?"
"Secepatnya Mak, tapi sebelum pergi ke sana, Qomar mau menelponnya dulu untuk memberitahu kalau kita akan ke sana"
Emak menatap lekat wajah anaknya, anak yang selama beberapa tahun ia rawat sendiri tanpa seorang suami itu kini sudah dewasa, sudah waktunya untuk membina rumah tangga sendiri.
Dengan perasaan senang dan haru emak mengelus punggung anaknya.
"Kamu sekarang sudah besar le, Alhamdulillah. Kalau memang pilihanmu itu yang terbaik menurut kamu, emak doakan semoga rumah tangga mu akan menjadi keluarga yang bahagia sampai surga"
Terlihat mata emak berkaca kaca menahan tetesan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya.
"Nggiih Mak, terimakasih " ustadz Qomar mencium tangan emaknya untuk yang kedua kali.
"Oh iya, kamu kapan balik ke pondok? sebelum balik nanti kita jenguk sebentar neneknya Tuti di rumah. Emak kasian sama mereka tertimpa masalah pas hari pernikahan Tuti."
"Iya Mak nanti Qomar antar emak ke rumah Tuti sebelum Qomar berangkat lagi ke pondok "
Setelah itu mereka menunggu adzan subuh sambil membaca Al Qur'an.
***
Di tempat lain khususnya di rumah Uul.
Pada pukul 4.10 sebelum waktu subuh, ibu mengetuk keras pintu kamarku, membangunkan ku dengan agak terburu-buru karena ibu yang bangun kesiangan.
"Uul... bangun ndok, shalat Sunnah fajar dulu sebelum subuhan" kata ibu
Aku tak mendengar perkataan ibu karena saat itu aku sedang fokus memanjatkan doa dan meminta kepada Allah sesuatu yang sangat aku impikan.
Ya Allah, sejak pertama kali aku bertemu dengan dia, sudah ada perasaan suka dalam hatiku.
Aku sempat menyembunyikan perasaanku tapi setelah ia mengungkapkan bahwa dia punya rasa yang sama denganku, aku tak bisa lagi menutupi bahwa aku suka dengannya ya Allah.
Dia dengan niat baiknya ingin melamar ku, dan aku juga menginginkan dia menjadi imamku, maka aku meminta padamu mudahkanlah jalan kami untuk bersatu dalam bahtera rumah tangga ya Allah.
Aamiin
"Ndoook banguuunn...." suara ibu baru terdengar setelah aku selesai berdoa dan aku tersentak kemudian segera membuka pintu kamarku.
Karena masih menggunakan mukena, agak sulit bagiku untuk berlari.
Kreeeeek
Suara pintu terbuka, aku senyum tipis ke wajah ibu.
"Uul sudah bangun dari tadi Bu" kataku
Sambil mengacungkan jempol ibu manggut-manggut
"Oh ya sudah kalau begitu"
Aku tutup kembali pintu kamarku dan duduk di atas sajadah sambil menunggu adzan subuh.
Dalam keheningan subuh itu, aku teringat bahwa kemarin seharusnya adalah hari pernikahan Tuti, dan aku lupa untuk mengucapkan selamat padanya.
Aku berencana untuk menelponnya pagi hari nanti karena sejak beberapa hari terakhir Tuti sangat sulit dihubungi karena sibuk dengan persiapan pernikahannya.
Udah itu aja, thanks 🙇🏻♂️
Namanya jg Tuti wkwk
bu asih jangan ketus" ya buk😌
kok mataku jadi becek....
hhhuuuuu sedih tauuuu 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Tuti Malas Sekolah (Novelku)