"Eh...anak kecil minggir kamu!!"-usir bodyguard Naren-
"Lahh...aku duluan yang disini"-jawab Rena dengan ketus-
"Makanya datang lebih pagi dongg...gimana sih!!!"-berkacak pinggang di hadapan Naren-
Seorang Serena yang tidak tahu jika orang dihadapannya adalah ketua Mafia yang paling kejam Narendra Oliver Pradipta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana_Jm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akal-akalan Viktor
"Hemmm...damai banget ini! Di perusahaan juga damai-damai saja!!"-ucapnya pelan sambil bersandar di sofa-
"Musuh-musuh udah pada sadar kali ya!! Tumben si Bos belum datang jam segini?!!'-melihat jam tangannya-
"Berhasil nggak ya rencana perjodohan mereka"-gumamnya pelan-
"Jatuh cinta kamu Viktor?!!"-sapa Naren dari belakang-
"Kapan datangnya Bos?!! Nggak sadar aku"-celetuknya sambil terkekeh pelan-
Narendra hanya menatap sekilas dan berlalu menuju meja kerjanya, sedangkan Viktor justru menahan tawa karena si Bos mulai terlihat kesal dengan sikapnya. Kapan lagi dirinya bisa dengan mudah menjahili Bosnya yang terkenal dingin dan kejam itu, kalau bukan karena perintah orang tua Narendra sendiri.
"Besok kamu saja yang datang ke acara pertemuan itu!! Aku malas!!"-ucap Naren datar-
"Pertemuan apa Bos?"-jawab Viktor sopan-
"Pertemuan penting seluruh perusahaan"-jelasnya sambil sibuk mengecek email-
"Lah...kan Anda pimpinan sekaligus pemilik perusahaan ini Bos?!!"-ucap Viktor mengelak-
"Aku ada urusan yang lebih penting lagi!!"-menatap tajam ke arahnya-
"Pasti urusan perempuan kan Bosss?!!"-celetuknya dengan santai-
"PRANG....PYARRR" 💢💢
Suara vas bunga yang pecah, sontak Viktor terlihat sangat terkejut dan menoleh ke arah vas bunga yang sudah pecah tak beraturan. Narendra menatap tajam ke arahnya tanpa berkedip maupun tersenyum sedikitpun.
Viktor langsung terdiam dan memperbaiki posisinya dan berniat meminta maaf kepada sang Bos. Belum sempat juga bicara, dirinya langsung di usir keluar oleh Narendra.
"Keluar dari ruangan ku!!"-celetuknya datar-
"Bos...saya....."-ucapannya terpotong-
"KELUAR VIKTORRR!! TELINGA KAMU NGGAK BERFUNGSI!!!"-bentaknya dengan tatapan penuh amarah-
Pelipisnya berdarah akibat pukulan keras dari Narendra, sorot mata tajamnya mampu membungkam mulut Viktor yang akhir-akhir ini suka asal bicara. Sementara gadis itu masih sibuk dengan aktivitas di kelas bunga yang ia ikuti.
"Hmmm...buka orderan pembuatan buket bunga juga bagus nih"-gumamnya pelan sambil tersenyum tipis-
"Nonaaa....sudah di jemput oleh Tuan Muda"-ucap Bu Manda dengan lembut-
"Haaa?!! Siapa yang jemput?"-jawab Serena singkat-
Serena berjalan santai ke luar gedung sambil membawa buket bunga hasil belajarnya hari ini, di luar sudah ada seseorang yang menunggu dirinya sambil tersenyum tipis yang hampir tak terlihat.
Dirinya langsung menghampiri Serena sambil membawakan buket bunga hasil belajarnya hari itu.
"Mau makan apa malam ini?"-tanyanya dengan lembut-
"Aku masak sendiri aja"-jawabnya santai-
"Emangnya mau masak apa?"-menatap lekat wajah Serena-
"Belum tau....di pikir nanti aja deh"-ucapnya sambil terkekeh pelan-
Sepanjang perjalanan tak ada obrolan antara keduanya, Narendra hanya menatap sekilas wajah Serena dan sesekali pria dingin itu tersenyum tipis. Sesampai nya di rumah, tiba-tiba saja ada banyak paperbag berisi makanan dan camilan di meja depan rumah Serena.
"Siapa yang belanja ini?!!"-gumamnya pelan-
"Ada apa? Kenapa di taruh luar belanjaannya?!"-telisik Narendra-
"Bukan aku yang belanja!! Entah punya siapa di situ"-mengernyitkan dahinya-
Narendra langsung melihat isi paperbag itu dan di perlihatkan ke Serena, gadis itu terkejut kenapa banyak makanan yang ada di dalam paperbag.
"Jangan bilang udah basi makanannya!!"-keluhnya sambil menatap kesal-
"Sepertinya masih baru semua! Tapi nggak ada nama pengirimnya siapa"-jelas Naren dengan santai-
"Buang ajalah! Atau nggak....buat kamu aja Pak Tua?"-menatap lekat wajah Naren-
Narendra langsung mencium pipi Serena secara tiba-tiba, gadis itu terkejut tak percaya dengan apa yang terjadi padanya. Sementara pria dingin itu justru tersenyum lebar setelah melakukan aksi dadakannya itu.
"Semua makanan ini aku ambil saja! Takutnya ada yang berniat buruk denganmu"-jelas Naren sambil tersenyum tipis-
"Ya udah....bawa aja"-ucapnya singkat-
"Sekali lagi kamu panggil aku Pak Tua?! Aku cium kamu!!"-bisiknya pelan sambil mengacak rambut Serena-
Di dapur, Serena masih melihat isi kulkasnya yang sudah mulai berkurang. Dirinya belum tau mau masak dan makan apa untuk malam ini. Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering dan nama Narendra yang terlihat di ponselnya itu.
"Buka pintunya! Aku bawakan makanan untukmu"-jelasnya langsung-
"Haaa....kenapa coba?!"-berjalan keluar untuk membuka pintu-
"Kamu......"-ucapannya terpotong-
Narendra memeluk erat tubuh Serena, tak hanya itu saja, Narendra juga menciumi pipi dan bibir Serena sekilas. Tanpa di ketahui olehnya, dari jauh Viktor merekam dan memotret keduanya.
"Wahhh....udah mulai ada kemajuan nih si Bos"-terkekeh pelan-
"Bisa buat laporan ke Tuan Naresh ini"-mengirik video yang telah ia ambil-
"Udahlah Bossss.....Pepet aja terusss!!"-ucapnya pelan sambil tertawa kecil-
"Yaaaa....kamu kenapa sihh?!! Aneh banget tauuu!!"-mencoba melepas pelukan Naren-
"Aku masih kangen....tunggu sebentar saja"-jelas Narendra pelan-
Serena hanya bisa menghela nafas panjang mendengar ucapan Narendra yang membuatnya sedikit kesal. Malam itu mereka akhirnya makan bersama di rumah Serena, sesekali Narendra curi-curi pandang ke Serena yang sudah mulai mengantuk.
Gadis itu sudah mulai mengantuk dan terlihat mencoba menahan matanya untuk tidak tertidur di meja makan. Terlebih dirinya juga belum mandi sepulangnya dari luar.
"Siniii....aku suapin yaa? Pasti kamu kecapekan hari ini"-mengusap lembut pipi Serena-
"Aku bisa makan sendiri"-jelasnya dengan pelan-
"Iyaaa Cantikkk.....ayo siniiii"-mengambil sendok dari tangan Serena-
Akhirnya gadis itu menyerah dan membiarkan Narendra menyuapi dirinya, akibat rasa kantuk yang sudah tak tertahan lagi. Tanpa disadari, kepala Serena bersandar di bahu Narendra, sambil di suapi oleh pria dingin itu.
"Hmmmm....gemesin banget sih kamu iniiii"-mencubit gemas hidung Serena-
"Masih mau makannnn?"-tanyanya dengan lembut-
Tak ada jawaban dari gadis itu, hanya terdengar suara nafas yang mulai teratur dan benar saja, Serena sudah tertidur pulas sambil bersandar. Dengan lembut Narendra memeluknya dan sesekali menciumi kening dan pipi gadis itu dengan gemasnya.
Malam itu Narendra menginap di rumah Serena sambil menjaga gadis itu. Nampak ponsel Serena berbunyi karena ada notifikasi pesan masuk, ia langsung melihat siapa yang mengirim pesan untuk gadisnya itu.
"Siapa orang ini?!!"-mengernyitkan dahinya-
"Selamat tidur ya Cantik"
Narendra membaca pesan yang di kirim oleh nomer asing itu, dengan rasa emosi dirinya langsung memblokir nomer tersebut.
"Brengsek!!! Berani sekali dia mengirim pesan malam-malam begini!!"-mendengus kesal-
"Eungghhh....coklat"-mengigau pelan-
"Mau coklat? Hmmm?"-membelai lembut pipi Serena-
"Nggak mauuu"-gumamnya pelan-
Dengan gemasnya Narendra memeluk erat gadis itu dan tidur di sebelahnya. Keesokan paginya dirinya tidak mendapati Serena ada di sampingnya, ia langsung bergegas mencari keberadaan gadis itu di seluruh ruangan rumah.
Tak kunjung menemukan juga, akhirnya ia keluar rumah untuk mencari Serena. Dari kejauhan nampak gadis itu sedang asyik berbicara dengan seorang laki-laki.
"Siapa orang itu?! Berani-beraninya dia!!"-mengepalkan tangannya-
Narendra langsung menghampiri Serena dan laki-laki asing itu, tanpa aba-aba Narendra menendang tubuh laki-laki itu hingga jatuh tersungkur ke tanah. Hal itu membuat Serena terkejut dan sontak melihat ke arah belakang.
"Pak Tua!! Kamu......"-ucapnya terpotong-
Narendra menciumi bibir Serena di hadapan laki-laki asing itu, sepertinya Serena lupa jika setiap dia memanggil dengan sebutan "Pak Tua", maka Narendra akan langsung mencium gadis incarannya itu.
"Coba ulangi lagi!!"-menangkup wajah Serena-
"Kamu yaaaaa!!!"-menepis tangan Narendra dan mendorongnya-
"Kenapa?! Hemmm?!! Panggil Pak Tua lagi coba!!"-menatap lekat Serena- sambil tersenyum tipis-
"Nggak.....nggak jadi!!"-bergegas kembali ke rumahnya-
Sebelum kembali ia mengancam laki-laki iseng itu supaya tidak mendekati Serena kembali, jika sampai masih mendekatinya lagi. Narendra tak segan untuk menghabisi nyawanya.
"Dia milikku!! Jangan berani mendekatinya!! Atau......"-menatap tajam-
"Atau apa Tuan?!"-jawabnya santai-
"Aku habisi nyawamu!!"-mencengkeram kuat leher orang itu-
Sedangkan Serena sibuk membuat masakan untuk sarapan pagi, di sisi lain Viktor mengirim pesan untuk si Bosnya itu jika Serena akan segera di jodohkan oleh kedua orang tuanya.
"Bos...jangan lama-lama di simpan perasaannya"
"Dia udah mau di jodohkan dengan pria lain"
Tulis Viktor melalui pesan singkat.
Narendra langsung menghubungi asisten pribadinya itu, namun beberapa kali panggilan tak ada jawaban dari Viktor. Tanpa pikir panjang Narendra langsung datang kerumah sebelahnya.
"Rena....."-mencium bibirnya sekilas-
"Haish....kamu ini kenapa sih?! Kalau lapar makan dong"-berkacak pinggang di hadapan Naren-
"Makan kamu boleh?!!"-menatap lekat wajah Serena-
"Nggak yaaaa!!! Nih....makan aja"-memberikan sepiring makanan untuk Naren-
~Mudah kepancing dia ini....hihihihi! Pancing aja terus tuh Pak Tua...biar cepetan ngomong~🫣