Binar Cempaka, seorang bunga desa nan cantik jelita, harus dihadapkan pada kenyataan yang rumit dan pelik. Pasalnya, gadis itu telah terikat hubungan terlarang yakni jatuh cinta dan menjalin kasih dengan Fajar, seorang lelaki tampan dan berkharisma yang ternyata sudah memiliki istri. Rasa cinta Cempaka yang terlanjur besar dan dalam pada Fajar, membuatnya sulit untuk melepaskan lelaki tersebut, bahkan setelah dirinya mengetahui kebenaran bahwa lelaki yang menjadi pujaan hatinya itu adalah suami dari wanita lain.
Akankah Cempaka meneruskan hubungan terlarangnya dengan Fajar? Atau justru memilih meninggalkannya demi menjaga perasaan wanita yang telah lebih dulu menjadi istri kekasihnya?
Ikuti terus kisah mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sutihat Basti Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 Rumah Yang Sudah Berpenghuni
Setelah beberapa saat berada dan hanyut dalam cumbuan Lelakinya, kini Cempaka kembali sadar. Lantas, dia pun segera mendorong kasar tubuh Fajar darinya. Rasa sakit hati karena bentakkan Fajar sebelumnya, membuat Cempaka kesal pada Suaminya itu. Mungkinkah sebenarnya Cempaka memang sedang terlalu cemburu?
"Sayang, kenapa kamu bersikap seperti ini padaku?"
"Jangan tanya aku, Mas! Tanyakan saja pada dirimu sendiri. Apakah kamu benar-benar mencintaiku? Atau, kamu hanya menjadikanku sekedar pelampiasan, karena selama menikah dengan Halimah kamu tidak pernah tidur dengannya?" Air mata Cempaka mulai mengaliri pipinya.
Fajar tersentak, bibirnya terkatup kelu. "Bagaimana mungkin kamu bisa berpikir sampai ke arah sana, hanya karena aku membentakmu dengan tidak sengaja?"
"Hanya katamu, Mas? Seremeh itukah aku bagimu?"
"T-tidak, Sayang. Bukan begitu maksudku. Hanya saja, yang kamu pikirkan itu tidaklah benar. Aku tulus mencintaimu, Cempaka. Mana mungkin aku menjadikanmu sebatas pelampiasan semata," elak Fajar.
Cempaka meluruhkan tubuhnya di lantai yang dingin. "Hidupku sudah hancur. Keluargaku, kampung halamanku, semua orang yang selama ini dekat denganku sudah tidak ada lagi. Mereka semua membenciku. Mereka mengusirku dan menganggapku sebagai kutukan. Semua itu karena karena kesalahan yang sudah aku lakukan denganmu, Mas!" Cempaka bicara dengan tempo yang lambat lalu cepat. Dan dengan nada suara yang tinggi juga rendah.
Melihat Cempaka demikian meratap merutuki keadaan. Menyadarkan Fajar sekali lagi pada betapa besar kesalahan yang sudah dia lakukan. Pria yang sedang berdiri mematung itu perlahan mulai bergerak. Lalu, dia berjongkok merangkul tubuh Cempaka.
"Kemarilah, Sayangku. Jangan meratap seperti itu. Aku tahu semuanya salahku, Sayang." Fajar tidak paham mengapa Cempaka jadi se-sensitif itu sekarang.
Tanpa perduli pada penolakan Cempaka yang terus meronta dan menepis tanganya, Fajar tetap berupaya untuk menenangkan Cempaka. "Kemarilah, Cempaka-ku yang baik. Jangan buat aku sedih dengan menunjukkan kehancuran dirimu, Sayang." Kristal bening mulai menetes ke luar dari ceruk netra Fajar.
Cempaka masih terisak hingga terdengar sedu sedan yang memilukan. "Ke mana aku harus pulang sekarang, Mas?" tanyanya lirih.
"Rumahmu di sini, Sayang. Pulanglah padaku dan jangan pernah ragu untuk itu." Fajar membelai lembut rambut hitam tergerai milik Cempaka dengan penuh perasaan.
"Bagaimana aku akan pulang pada rumah yang sudah di huni orang lain, Mas?" sambung Cempaka dengan isakkan yang masih riuh menyayat batin Fajar.
"Tidak! Jangan berkata seperti itu, Sayang. Rumah ini hanya milikmu. Kamulah satu-satunya yang menjadi penghuni di sini," sangkal Fajar seraya membawa satu tangan Cempaka untuk menyentuh dadanya.
Tangisan Cempaka pun mulai reda. Suara isakkannya mulai berkurang dan semakin melemah. Namun, tubuhnya kini terasa sangat lemas bagai tak bertulang.
Fajar menahan tubuh yang hampir ambruk itu dan membawanya ke tempat tidur. "Istirahatlah dengan nyaman, Bunga-ku. Aku akan berada di sini bersamamu," ujar Pria tampan itu seraya merebahkan tubuh Cempaka, lantas dia turut berbaring dan memeluk Cempaka penuh kehangatan.
****
Di Desa Lemah Sari, para penduduk desa tidak jua menemukan Cempaka. Tentu saja, mereka tidak akan pernah menemukan Cempaka selama mereka hanya melakukan pencarian itu di hutan-hutan sekitar. Karena sudah jelas, orang yang mereka cari memang tidak berdiam di sana dan sudah berada di tempat yang jauh dari jangkaun orang-orang desa itu.
Ardi kembali mengamuk dan tidak terima. Sebab, dia begitu terobsesi pada Cempaka. Atam yang lama kelamaan dibuat geram oleh tingkah Ardi pun akhirnya menampar Lelaki itu dengan keras.
"Abah! Kenapa Abah menamparku?" sentak Ardi seraya memegangi pipinya yang menggelenyarkan rasa panas dan perih.
"Berhentilah bertingkah bodoh seperti orang lemah, Ardi. Seperti tidak ada gadis lain saja," bentak Atam.
"Sugeng, siapkan seorang gadis cantik di desa ini untuk Ardi. Paksa mereka jika tidak mau menurut," perintah Atam pada Sugeng yang merupakan adiknya sendiri.
"Baik, Mas Atam." Sugeng sangat patuh pada kakanya itu.
Tidak berapa lama berselang, orang suruhan Sugeng sudah membawa seorang gadis yang cukup cantik bernama Kembang. Gadis itu terus menangis, karena tidak ingin dibawa dan diberikan kepada Ardi. Bahkan, orang tuanya sampai memohon pada Sugeng dan Atam. Namun, sekali lagi para Penguasa itu tidak mau mendengarkan, apa lagi perduli.
"Diamlah kalau hidup kalian ingin selamat!" tandas Sugeng seraya memberikan sejumlah uang pada kedua orang tua Kembang.
Kembang dibawa dengan paksa untuk ikut ke desa tempat tinggal Ardi, yang tidak lain adalah desa kekuasaan ayahnya, Atam. Letaknya tidak terlalu jauh dari Desa Lemah Sari. Hanya sebuah desa yang memang bertetangga denga desa asal Cempaka tersebut.
Tidakkah terasa aneh? Mengapa mereka menghukum Cempaka dan Fajar, sedangkan Ardi dibiarkan memiliki gadis yang belum dia nikahi? Bukankah itu sangat janggal? Entahlah! Terlalu banyak misteri yang belum terungkap.
Bersambung ....
Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. Othor gasuka didiemin soalnya. Hahaha. ❤🖤❤🖤❤🖤❤🖤
#ketinggalan banyak 😭