Reyyan Zeki Ferdinand—pria mapan dan rupawan yang tak pernah percaya pada cinta. Baginya, wanita hanyalah permainan, dan komitmen adalah hal yang harus dihindari.
Hidupnya berubah saat ia dipaksa menjalani perjodohan dengan Zuria demi pewaris Flederick Group. Reyyan tertarik pada Zuria, tapi bukan karena cinta_hanya karena ia sesuai dengan kriterianya.
Di tengah hubungan itu, hadir Vianna—wanita yang selalu ia ganggu sejak kecil. Bukan teman, bukan musuh, tapi selalu berakhir dalam pertengkaran.
Hingga suatu hari, Vianna meminta Reyyan berpura-pura menjadi kekasihnya. Reyyan menolak… dan justru menantangnya untuk merayu dirinya.
Jika Reyyan tergoda, ia akan menerima.
Permainan pun dimulai. Namun ketika perasaan ikut terlibat, siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dandelion_me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Klap.
Tap.
Tap.
Vianna keluar dari kamar dan menutup pintu di belakang nya.
Vianna berdiri sebentar di depan pintu kamar. Mengedarkan pandangan nya memutari kediaman Rendra.
Detik berikutnya, senyum licik senang dan bahagia terbit di wajah Vianna.
Ya, sekarang ia berada di kediaman Rendra.
Perlahan Vianna melangkah berjalan mengelilingi kediaman Rendra.
Rendra sudah berangkat kerja setelah mengantar nya kemari. Setelah meletakkan semua barangnya ke dalam kamar. Kak Rendra memberitahunya. Kalau dia harus kembali ke perusahaan. Selain banyak pekerjaan yang harus kak Rendra selesai kan. Rapat dadakan juga di adakan tiba tiba.
Vianna menyitari pandangan nya melihat Ruangan di depannya. Ruang tengah yang estetik, menarik dan tidak membosankan.

Sangat enak untuk selalu di lihat oleh mata setiap hari.
Vianna menoleh melihat ke tangga di samping nya. Di mana tadi Rendra bilang. Kalau lantai 2 adalah kamar dia berada.
Setelah meletakkan semua barangnya ke dalam kamar. Kak Rendra memberitahunya. Kalau dia harus kembali ke perusahaan. Selain banyak pekerjaan yang harus kak Rendra selesai kan. Rapat dadakan juga di adakan tiba tiba.
Kata kak Rendra, CEO Reyyan Ferdinand mengunjungi perusahaan. Tentu saja hal itu sudah biasa bukan, ketika pria itu ke di sini. Tentu rapat dadakan akan selalu ada. Dia selalu datang tanpa pemberitahuan dahulu dan mengatur jadwal perusahaan seenak jidatnya.
Ya, perusahaan perusahaan dia. Tentu saja dia bisa melakukan apa saja seenaknya.
Tunggu, kenapa aku harus membahas pria itu. Bikin kesal saja,
Vianna menggelengkan kepalanya. Membuang segala pikiran mengenai Reyyan Ferdinand. Yang ada moodnya yang baik baik saja hari ini. Bisa menjadi amburadul tidak jelas.
Vianna memilih melihat ke tangga di depannya. Tangga menuju ke kamar Rendra.

Ide jail pun muncul dari kepala cantiknya. Yaitu untuk naik ke lantai atas. Melihat lihat kamar Rendra. Lagian Rendra tidak ada. Jadi, Rendra tentu tidak akan tahu. Kalau pun tahu memang kenapa. Dia tidak akan memarahi ku.
Vianna cengengesan sebelum menggerakkan langkah nya. Menaiki satu persatu anak tangga di depannya.
Semua barang nya, sudah ia rapikan tadi ke dalam lemari.
Rendra bilang. Kamar itu akan selalu kosong jika adik dan Mama Rendra tidak ke sini.
Pertanyaan nya... Di mana Calia menginap ketika ke sini.
Tapi pertanyaan itu segera ia telan. Calia itu, tidak pernah menginap di sini.
Ia tidak tahu kenapa Rendra memberitahu nya, padahal ia tidak bertanya. Tapi yang penting, ia sangat bahagia.
Kesedihan di hatinya segera buyar dan di gantikan oleh kesenangan yang tiada tara. Rasanya ia mau melompat lompat, merayakan kegembiraan itu.
"Tidak ada perempuan mana pun masuk kemari. Kecuali sekarang menjadi 3, mama, Guzel dan kamu."
Suara Rendra memang terdengar dingin dan datar ketika mengatakan itu. Tapi itu menjadi jawaban yang sangat ingin ia ketahui.
Dan ia berakhir senyum senyum sendiri seperti sekarang.
Ckleck...
Vianna membuka perlahan pintu kamar Rendra.
Kepalanya yang pertama masuk ke dalam, untuk melihat lihat.
Detik berikutnya, Vianna membuka lebar pintu kamar Rendra. Di mana mulut dan kedua matanya membulat lebar. Melihat bagaimana bagus nya desain kamar Rendra.
"Ini..." Perlahan Vianna berjalan masuk sembari mengagumi kamar Rendra.
Pintu Vianna biarkan terbuka lebar. Lagian, hanya dia sendiri di kediaman ini.
'Sangat sangat bagus dan_ luar biasa. Kapan aku mempunyai kediaman seperti ini ya?' Vianna membatin.
Untuk gajinya. Ia rasa ia harus menabung sekitar 30 tahun, baru ia bisa mendapatkan tempat yang indah seperti ini.
Suara kain jendela yang tertarik ke arah berlawanan terdengar pelan, diiringi masuknya cahaya pagi yang begitu indah dan segar ke dalam kamar.
Wajah serta kulit Vianna ikut disinari hangatnya sinar matahari pagi, memperlihatkan kecantikannya yang bersinar.
Tidak ada siapa pun di sana, selain dirinya dan deretan furnitur kamar yang elegan.
"Wah…" gumam Vianna kagum.
Pemandangan laut dan kota terbentang luas di depan matanya.
Kepalanya otomatis menoleh ke kanan dan kiri, menikmati keseluruhan panorama yang begitu memanjakan mata.
"Kapan-kapan aku bisa seperti ini, ya? Ini kebetulan tidak ada Rendra. Kalau dia ada…"
Vianna menggeleng pelan. Ia tahu pasti pria itu akan marah_atau lebih buruk, mendiamkannya.
"Aku harap dia tidak akan mengusirku kalau tahu nanti," Gumamnya lirih.
CCTV terpasang di setiap sudut luar ruangan. Meski tidak ada di dalam kamar, tetap saja membuatnya waspada.
Rendra memang pria yang sangat berhati-hati.
Vianna memutar tubuhnya, lalu mendapati ranjang besar di depannya. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat ke sana, hampir berlari kecil.
"Kyaa…"
Senyum girang menghiasi wajahnya saat ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, berbaring terlentang.
Brukh.
"Hah… kamar yang indah," ucapnya pelan sambil menatap langit-langit.
Vianna mulai berguling-guling di atas ranjang, dari satu sisi ke sisi lain, hingga mencapai kedua bantal di ujung sana_lalu kembali lagi, berulang kali, disertai tawa kecil penuh kebahagiaan.
Namun tiba-tiba, ia terdiam.
Tubuhnya berhenti dalam posisi tengkurap.
Perlahan, ia menoleh ke depan, seakan baru menyadari sesuatu.
Matanya sontak menunduk, memperhatikan kondisi ranjang yang kini berantakan akibat ulahnya sendiri.
Vianna langsung meloncat turun dari tempat tidur.
Kedua tangannya menutup mulutnya yang terbuka lebar karena terkejut.
"Oh tidak… aku mengacaukan tempat tidur Kak Rendra. Bagaimana ini?" paniknya pada diri sendiri.
Dan ya… kekurangan dari kecantikan Vianna, salah satunya adalah_ia tidak terlalu pandai merapikan sesuatu.
Termasuk situasi ini.
"Bagaimana ini?" ulangnya lagi, kedua tangannya kini memegang kepala, sedikit menjambak rambutnya pelan.
Tentu saja ia bisa merapikan tempat tidur.
Tapi… itu versinya.
Bukan versi Rendra yang super rapi seperti sebelumnya.
"Bagaimana ini?" gumamnya lagi, kali ini sambil menggigit ujung jarinya, satu tangan bertumpu di pinggang.
Vianna mulai mondar-mandir di dalam kamar, berkacak pinggang, mencoba mencari solusi.
Langkahnya terhenti.
Sudut matanya menangkap sesuatu.
Sesuatu yang langsung menarik perhatiannya.
Tubuhnya seperti tertarik ke arah itu, hingga ia melupakan kepanikannya sebelumnya. Pikiran dan tindakannya benar-benar tidak sejalan.
Kedua mata Vianna melebar.
Ia menatap ke arah depan.
Ini…
Vianna memejamkan mata sesaat, menarik napas panjang, lalu membukanya kembali.
Berusaha tetap tenang.
Namun tetap saja…
Ia menggigit bibir bawahnya pelan.
Jadi selama ini…
Kak Rendra mandi dan berendam di sini.
Vianna menghela napas, satu tangannya terangkat ke batang hidungnya, menjepitnya seolah menahan sesuatu yang sulit dijelaskan.
"Sangat…"
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Vianna melangkah mendekat, matanya menyapu setiap detail di depannya, memastikan tidak ada yang terlewat.
Harusnya tadi ia membawa ponselnya.
Tunggu…
Apa aku yang aku pikirkan?
Tidak.
Aku hanya… terlalu mencintai Kak Rendra.
MAKASIH