Indonesia
NovelToon NovelToon
CINTA YANG DULU KAU TOLAK

CINTA YANG DULU KAU TOLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kayla Rane

Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.

Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.

Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.

Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.

Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 : KETIKA WULAN MULAI DIJAUHKAN

...BAB 18...

...KETIKA WULAN MULAI DIJAUHKAN...

Sejak percakapan di meja makan beberapa hari lalu, sikap Nyonya Ranti terhadap Wulan perlahan berubah. Bukan menjadi lebih kasar.

Justru sebaliknya. Ranti semakin pandai mencari alasan untuk memberikan Wulan pekerjaan. Dan hampir semuanya dilakukan ketika Rian tidak berada di rumah.

Pagi itu, setelah Rian berangkat ke kantor, Wulan baru saja selesai mengantar Delon sekolah.

Begitu masuk ke dalam rumah, Ranti sudah berdiri di ruang tengah.

“Wulan.” panggilnya.

Wulan menoleh lantas menghampirinya. “Iya, Bu?”

“Pakaian di keranjang belakang belum dicuci.”

Wulan menoleh ke arah ruang laundry. “Bukankah sekarang sudah ada pembantu khusus untuk mencuci pakaian, Bu?”

Ranti mengangguk. “Iya saya tahu.”

Wulan menunggu.

“Tapi saya ingin kamu yang mencucinya.”

Wulan terdiam. “Oh baik, Bu.” Ia tidak membantah.

Sejak Rian merekrut pembantu tambahan, tugas Wulan memang seharusnya lebih banyak berfokus kepada Rana. Bahkan Rian pernah berkali-kali mengingatkannya agar tidak mengerjakan pekerjaan berat lagi. Masak pun harus dibantu Mira.

Namun Wulan tidak ingin memperdebatkan hal itu dengan ibu majikannya.

Ia lekas mengambil keranjang pakaian. Belum sempat berjalan, Ranti kembali memanggil.

“Setelah mencuci, lantai kamar belakang tolong dipel ya...”

“Baik, Bu.”

“Dan juga ruang makan tadi tolong di bersihkan.” perintahnya lagi.

Wulan mengangguk lagi. “Saya akan kerjakan.”

Ranti memperhatikannya. “Dengan begitu, kamu tidak banyak bermain dengan Rana.”

Wulan pun terdiam.

“Mulai sekarang Rana harus belajar lebih mandiri.” katanya lagi.

“Saya mengerti, Bu.” Wulan mengangguk.

“Kalau pekerjaanmu sudah selesai, baru kamu boleh menemaninya.”

Wulan menunduk. “Baik.”

Setelah menyampaikan perintahnya pada Wulan, Ranti lalu pergi.

Wulan menarik napas panjang sebelum membawa pakaian ke ruang laundry. Ia tidak tahu bahwa semua itu memang di sengaja.

Ranti tidak ingin Wulan memiliki terlalu banyak waktu bersama Rana. Karena semakin sering Rana bersama Wulan, semakin kuat pula ikatan mereka. Dan Ranti tidak menyukai itu.

Menjelang siang, pekerjaan Wulan belum juga selesai. Setelah mencuci pakaian, ia mengepel lantai kamar belakang. Kemudian membersihkan ruang makan. Belum selesai mengeringkan tangannya, Rana datang menghampiri. “Mama Wulan.”

Wulan tersenyum. “Iya, Sayang?”

Rana berdiri di sampingnya, ketika itu terdengar suara Ranti dari belakang.

“Rana.” panggilnya. Rana menoleh. “Mulai sekarang jangan panggil dia Mama Wulan.”

Wulan langsung terdiam. Rana mengerutkan kening. “Kenapa Nenek?”

“Sekarang panggil dia Bibi Wulan.” perintahnya.

Rana menggeleng cepat. “Nggak mau. Lana maunya Mama Wulan.” bantahnya.

Ranti mendekati cucunya. “Rana punya Mama sendiri.”

Rana menunduk. “Tapi Mama Wulan baik sama Lana.”

Wulan merasa tidak tega. Ia menghentikan pekerjaannya lalu berjongkok di hadapan anak itu. “Rana...”

“Ingat, jangan bilang Mama Wulan,” potong Ranti kembali mengingatkannya.

Wulan terdiam. Ia tahu Ranti sedang berusaha memberi batas. Akhirnya Wulan mengusap kepala Rana. Matanya mengerjap beberapa kali.

“Rana, panggil Wulan saja kalau Nenek bilang begitu ya...” katanya lembut.

Rana langsung memeluk leher Wulan. “Nggak mau, maunya Mama Wulan.”

Mata Wulan terasa panas. Ia sebenarnya tidak sanggup harus memaksa anak kecil itu. Apalagi panggilan itu sudah melekat di ingatannya.

Tidak lama kemudian, Delon dan Astrid datang dari halaman. “Mama!”

Keduanya langsung menghampiri Wulan.

Wulan tersenyum dan memeluk mereka.

“Iya, Sayang.”

Ranti hanya memperhatikan. Ia tidak pernah berniat mengubah panggilan anak-anak itu kepada Wulan karena ia tahu Wulan memang ibu kandung mereka.

Namun, ketika Delon melihat Rian yang baru saja pulang dari kantor dan berseru,

“Papa!”

Ranti langsung menegurnya. “Delon.”

Delon berhenti.

“Kenapa, Nek?”

“Ingat kamu jangan lagi panggil Rian, Papa.”

Delon terlihat bingung. “Tapi kan Pak Rian yang suruh.”

“Mulai sekarang tidak boleh.”

Astrid ikut memandang Ranti. “Tapi Papa baik sama kami.”

“Walau baik, tapi dia tetap bukan ayah kalian.” tegasnya mengingatkan lagi.

Wulan yang mendengar itu langsung merasa tidak nyaman. Ia menatap kedua anaknya.

“Sudah, kalian jangan membantah Bu Ranti.”

Delon menunduk. Namun jelas terlihat ia tidak mengerti mengapa panggilan yang selama ini diperbolehkan tiba-tiba menjadi masalah.

“Baik, Bu,” katanya pelan.

Ranti mengangguk puas.

*****

Sore hari, Rian belum pulang. Wulan kembali bekerja. Ia mengambil pakaian yang sudah kering lalu di bawa untuk di setrika. Setelah itu, ia mengepel lantai ruang keluarga.

Tangannya mulai terasa pegal. Bahunya juga kembali terasa nyeri. Luka di tubuhnya memang perlahan membaik, tetapi belum sepenuhnya pulih.

Beberapa kali Wulan berhenti untuk mengusap lengannya. Ia tidak mengeluh.

Ia hanya ingin menyelesaikan semua pekerjaan.

Baginya, dapat pekerjaan bukan sesuatu yang mudah. Ia memiliki dua anak. Tidak ada orang tua yang bisa dititipi anak-anaknya.

Tidak ada tempat lain yang menjanjikan penghasilan tetap seperti pekerjaan ini.

Karena itu, meskipun Ranti membuatnya lelah, Wulan memilih bersabar. Sebisa mungkin ia tidak boleh kehilangan pekerjaan.

Menjelang magrib, mobil Rian akhirnya masuk ke halaman.

Rian turun sambil membawa tas kerja.

Hari itu pekerjaannya cukup padat.

Namun begitu masuk rumah, ia langsung merasa ada yang berbeda. Biasanya Wulan akan terlihat bersama Rana.

Entah sedang membaca buku, menemani makan, atau sekadar duduk di ruang keluarga.

Tetapi kali ini ia tidak melihatnya.

“Rana kemana?” tanya Rian.

Mira yang sedang membawa nampan menjawab. “Di kamarnya, Pak.”

“Lalu Wulan?”

Mira terlihat ragu. “Bu Wulan sedang mengepel lantai di belakang.”

Rian sontak mengernyit. “Mengepel?”

“Iya.”

“Bukannya sudah ada pembantu khusus untuk pekerjaan rumah?”

Mira terdiam. Kepalanya tertunduk.

Rian langsung berjalan ke belakang mencari Wulan.

Ia menemukannya di ruang keluarga.

Wulan sedang memeras kain pel. Begitu melihat Rian, ia langsung berdiri.

“Bapak sudah pulang?”

Rian menatapnya. Kemudian pandangannya jatuh pada tangan Wulan yang terlihat kemerahan.

“Kenapa kamu yang mengerjakan ini?”

Wulan tersenyum kecil. “Tidak apa-apa, Pak.”

“Wulan.” Rian mengambil kain pel dari tangannya. “Aku sudah bilang kamu nggak perlu mengerjakan pekerjaan berat.”

“Pekerjaannya tidak berat, Pak.”

“Tidak berat?” Rian menatap lantai yang baru saja dibersihkan. “Kamu mencuci, mengepel, membersihkan ruang makan... sejak kapan?”

Wulan tidak menjawab.

Rian mulai curiga. “Siapa yang menyuruhmu?”

Sebelum Wulan menjawab, suara Ranti terdengar. “Aku.”

Rian menoleh. “Bunda?”

Ranti berjalan mendekat. “Kenapa ada masalah?”

“Kenapa Wulan yang mengerjakan semua ini?”

“Karena dia bekerja di rumah ini kan?!”

“Bunda tahu aku sudah mempekerjakan orang khusus untuk pekerjaan seperti ini.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa Bunda menyuruh Wulan?”

Ranti menghela napas. “Karena menurut Bunda, Wulan terlalu banyak menghabiskan waktu dengan Rana.”

Rian terdiam. “Jadi Bunda sengaja memberinya pekerjaan?”

“Bukan sengaja.” Ranti menatap putranya tajam. “Bunda hanya mengatur rumah ini.”

Rian menggeleng. “Bunda boleh mengatur banyak hal, tapi bukan dengan membebani Wulan seperti ini.”

“Apa salahnya? Dia dibayar untuk bekerja.”

“Dan aku membayar pembantu tambahan supaya Wulan tidak perlu mengerjakan pekerjaan berat.”

Ranti mulai kesal. “Kamu terus saja membela dia!” tunjuknya pada Wulan.

Rian terdiam. Wulan langsung merasa serba salah. Ia menundukkan kepala.

“Pak, sudah tidak apa-apa, saya bisa mengerjakannya.”

Rian menoleh. “Kamu diam, jangan ikut campur.” tegasnya, Wulan pun terdiam. “Aku yang akan bicara dengan Bunda.”

Ranti semakin tersulut emosi. “Lihat? Kamu bahkan sudah membuat Rian melawan ibunya sendiri.” sindirnya pada Wulan.

Wulan menelan ludah. Semuanya jadi serba salah baginya. Kalimat itu membuat dadanya terasa sesak. Ia tidak ingin menjadi alasan mereka bertengkar.

Rian menghela napas. “Bunda, ini bukan salah Wulan.”

“Kalau bukan karena dia, kenapa kamu sampai seperti ini?”

“Karena aku tahu kondisi dia.” sela Rian menatap ibunya. “Dia masih dalam masa penyembuhan.”

Ranti terdiam.

“Lukanya belum benar-benar pulih. Aku tidak mau dia dipaksa mengerjakan pekerjaan yang seharusnya sudah ada orang lain yang menangani.”

Wulan semakin menunduk. Pertengkaran itu terjadi lagi. Dan lagi-lagi... karena dirinya.

Malam pun semakin larut...

Rian duduk sendirian di kursi taman belakang rumah.

Udara malam terasa sejuk...

Ia baru saja selesai berbicara dengan Ranti dan meminta ibunya tidak memberikan pekerjaan tambahan kepada Wulan tanpa alasan.

Namun pikirannya belum tenang.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki.

Rian menoleh. Wulan berdiri beberapa meter darinya. “Pak.”

Rian menatapnya. “Kenapa kamu belum tidur?”

“Saya ingin bicara.”

“Duduklah.”

Wulan duduk di kursi yang berseberangan.

Beberapa saat ia hanya diam. Kemudian berkata pelan. “Sepertinya saya memang sebaiknya pergi dari sini.”

Rian langsung mengernyit kaget. “Apa, pergi?”

“Saya tidak ingin Bapak terus bertengkar dengan Bu Ranti karena gara-gara saya.”

“Ini bukan salah kamu, Wulan.”

“Saya tahu Bapak bilang begitu.” Wulan tersenyum tipis. “Tapi saya tetap merasa tidak enak.”

Rian terdiam mendengarnya.

“Saya akan mencari pekerjaan lain.”

“Sekarang?” tanya Rian tak percaya.

“Iya.” angguknya.

“Dengarkan aku Wulan, kamu tahu mencari pekerjaan dengan dua anak itu tidak mudah.” ucap Rian, kini tatapannya berubah serius.

Wulan menundukkan kepala. “Saya tahu.”

“Lalu kenapa kamu mau pergi?”

Wulan mengangkat wajah. “Karena saya tidak ingin membuat keadaan di rumah ini semakin buruk.”

Rian tidak langsung menjawab. Ia lalu menatap taman di depannya.

Untuk beberapa alasan, mendengar Wulan benar-benar ingin pergi membuat pikirannya terasa tidak nyaman.

Padahal secara logika, tidak ada yang salah.

Kalau Wulan berhenti, ia bisa mencari pengganti. Pekerjaan rumah tetap berjalan.

Rana juga bisa diasuh orang lain. Semuanya bisa diatur.

Tetapi entah kenapa, Rian tidak menyukai bayangan itu. Ia kembali menatap Wulan.

“Jangan pergi dulu.” katanya.

Wulan kembali terdiam.

Rian sendiri tampak sedikit bingung dengan kalimatnya. Ia tidak tahu kenapa kata-kata itu keluar begitu saja.

“Aku akan bicara lagi dengan Bunda.”

“Tapi, Pak—”

“Bukan karena aku ingin memaksamu tetap bekerja.” Rian berhenti sejenak. “Aku cuma merasa keputusan untuk pergi jangan diambil karena kamu merasa bersalah.”

Wulan kembali menunduk.

Rian melanjutkan dengan suara lebih lembut.

“Kalau suatu hari kamu memang ingin mencari pekerjaan lain, itu keputusanmu. Tapi jangan pergi hanya karena merasa kamu adalah masalah.”

Wulan mengangkat wajah. Rian menatapnya.

“Kamu bukan masalah, Wulan.” ucapnya.

Wulan terdiam. Untuk sesaat, keduanya hanya saling memandang. Rian kemudian mengalihkan pandangan.

Ia sendiri belum memahami kenapa ia begitu terusik membayangkan Wulan tidak lagi berada di rumahnya.

Mungkin karena Rana akan kehilangan orang yang selama ini membuatnya bahagia.

Mungkin karena Delon dan Astrid juga sudah terbiasa berada di rumahnya.

Atau mungkin... karena tanpa sadar, dirinya sendiri juga mulai terbiasa melihat Wulan ada di sana.

Rian belum tahu jawabannya. Yang ia tahu hanya satu. Ketika Wulan mengatakan ingin pergi tadi, ada sesuatu dalam dirinya yang langsung menolak.

Dan perasaan itu membuat Rian semakin bingung pada dirinya sendiri.

Bersambung...

1
Lisa
Rian harus tegas..milih Wulan atau Clarisa..
falea sezi
laki g punya pendirian klo.mau ma. Clarisa jauhin wulan😒 serakah jd. laki. jangan php
falea sezi
cari krja di tempat lain aja rian aja plin plan🤣
araaself
lanjutt
Lisa
Clarisa ini ganggu suasana rumah aj..tiap hari dtg ke rmhnya Rian..moga aj Rian g tertarik pd Clarisa 🤭
Lisa
Aduh Bu Ranti dtg lg..ganggu aj nih
Lisa
Pasti Rian g mau menerima perjodohan itu
Lisa
Bu Ranti ini cerewet banget..
falea sezi
cari krja di tempat lain wulan😒
falea sezi
pergi aja wulan cari krja lain 😒 ngapain di injak2 gt meski cm. pembokat 😒
Lisa
Bu Ranti aj yg pergi dr rumahnya Rian..benar Rian kmu harus tegas terhadap ibumu..Wulan ga salah..
falea sezi
klo ikut ngatur krja g nyaman keluar aja cari krja lain😒 bawel amat lampir
Lisa
Ranti ini ikut campur aj dlm RT nya Rian..udh mending balik ke rmhmu sana Bu 🤭😊
Lisa: 😊😊 ya Kak
total 2 replies
Lisa
Ibunya Rian ini mengganggu ketenangan aja..udh biarkan Rian mengatur hidupnya sendiri.
Lisa
Ngapain juga Handi peduli sama Wulan..toh mrk udh bercerai dan dari dulu Handi terpaksa nikah dgn Wulan
Lisa
Rian mulai jatuh cinta lg nih 😊
falea sezi
🤣🤣mampus sok cari yg modern makan itu cwek. modern😒😒😒 sukurin dapet istri spek jalang
✨Kayla Rane✨: hahaaa😂 bener k
total 1 replies
Lisa
Handi emg kejam bgt..cpt sembuh y Wulan dr luka fisik & luka batinnya..skrg kmu punya Rian yg selalu ada utkmu..
Lisa
Udh Handi g usah ngawasi Wulan terus..urus aj hidupmu sendiri.
✨Kayla Rane✨
Terimakasih atas dukungannya ♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!