Patah hati melihat gadis yang di cintai lebih memilih pria lain membuatnya bertemu dengan seorang gadis keturunan kerajaan luar Jawa, gadis yang berbeda dari trah garis darahnya.
Perbedaan di antara mereka dalam segi apapun membuat mereka sering berselisih pendapat dan tidak akur namun siapa sangka waktu telah membuat mereka sering berjumpa.
Seiring berjalannya waktu, ada benih rasa yang sedang bermekaran namun hati yang masih tertambat pada sang mantan kekasih membuatnya melukai hati sang putri. Mampukah mereka bersatu dalam perbedaan dan keadaan atau mereka menyerah begitu saja?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Kejadian tak diinginkan.
Pintu rumah Bang Anom terbuka, terlihat Bang Teo dan Elma berdiri di depan pintu. Rasa kesal Bang Anom pun mencuat begitu saja. Entah kenapa dirinya tidak bisa menahan rasa marah saat melihat paras wajah Elma.
"Kenapa kamu bawa dia kesini??" Tegur Bang Anom karena memang dirinya tidak suka.
"Aku tidak tega melihat Elma menangis An, lebih baik kita luruskan masalah ini sama-sama biar segera clear." Kata Bang Teo.
Bang Anom sudah mulai emosi dan naik darah tapi kemudian Syila segera menengahi.
"Masuk saja Om. Kita bicara di dalam, nggak enak sama tetangga." Ajak Syila dengan suara pelan tapi penuh dengan ketegasan.
...
Syila bersandar lemas pada sofa. Ternyata kandungan Elma sudah berusia enam bulan, kandungan yang tidak terlihat menonjol dan membuat pandangan mata orang mengira jika kandungannya masih trimester pertama. Itu berarti Elma mengandung saat pernikahannya dengan mantan suaminya.
"Lalu apa maumu sekarang? Aku tidak tau maksud dan tujuanmu datang menemuiku disini. Kenapa juga kau terus menekankan kehamilan mu itu padaku." Tanya Bang Anom.
"Awalnya aku mengira bisa kembali lagi bersamamu Mas, ternyata kamu sudah memilih wanita lain padahal hingga saat ini aku masih terus mengharapkanmu." Jawab Elma. "Aku sudah katakan kalau pernikahanku hanyalah karena menuruti orang tua. Ada bisnis keluarga yang harus di pertahankan. Sekarang aku sudah meninggalkan dia demi kamu Mas, apa kamu tidak bisa menghargai usahaku??"
"Apa kamu juga tidak dengar, kalau kamu memilih dia berarti hubungan kita usai."
"Apa saat itu kamu bisa memberiku uang lima ratus juta untuk menutupi hutang keluargaku. Keluargaku adalah keluarga terpandang Mas. Aku tau seberapa besar gajimu. Mungkin lebih besar gaji karyawan Papa daripada gajimu." Jawab Elma berapi-api merasa benar dengan segala tindakannya.
Bang Anom tersenyum pahit, dadanya sudah bergemuruh ingin meluapkan perasaannya tapi ia menahan diri hanya demi Syila yang masih sensitif dengan kehamilannya.
"Katakan saja apa maumu..!!" Pinta Bang Anom langsung pada pokok persoalan.
"Aku tidak bisa pulang karena keluarga mantan suamiku pasti akan menyiksaku, keluargaku juga tidak akan menerimaku kembali. Biarkan aku disini ya Mas, jadi simpanan mu saja aku tidak apa-apa. Aku rela Syila menjadi istri pertama mu." Ucap Elma dengan wajah memelas penuh rasa permohonan
Syila hendak angkat bicara tapi Bang Anom menghadangnya dan mengarahkannya agar diam di samping lengannya.
"Barter yang bagus Elma." Senyum Bang Anom.
Elma pun tersenyum lega.
"Tapi saya tidak tertarik." Jawab Bang Anom kemudian dan itu cukup menghantam telak wajah Elma.
"Kau menjawab seperti itu karena ada Syila khan? Kalau tidak ada Syila pasti kamu akan menerimaku." Elma tetap percaya diri dengan tatapannya.
Bang Anom paham perasaan Syila begitu tertekan dengan keadaan. Hatinya pasti sudah penuh dengan banyaknya beban di dalam dada. Syila pun juga pasti memendam banyak hal yang ingin di luapkannya. Usapan tangan Bang Anom di wajah Syila merupakan tanda bahwa suaminya itu sudah percaya dan mengijinkan dirinya untuk bicara.
"Saya rasa Mbak paham akan arti sebuah harga diri." Kata Syila akhirnya membuka suaranya. "Apa Mbak tidak malu merengek dengan suami orang??? Kalau memang suami saya mau dengan Mbak Elma, silakan.. saya serahkan sekarang juga. Saya tidak suka berebut, saya adalah wanita berharga yang di inginkan banyak laki-laki. Bukan wanita yang mengejar laki-laki."
Bang Anom menunduk menyimpan senyumnya. Secercah perasaan lega memenuhi kelegaan hatinya.
"Mas Anom mau??? Ini ada wanita cantik begitu menginginkan mu Mas..!!" Tanya Syila pada Bang Anom.
Bang Anom hanya melebarkan senyumnya dan menggeleng gemas menanggapi pertanyaan Syila.
"Syila serius Mas. Mumpung Mas masih gagah, masih kuat, apa Mas Anom tidak ingin punya pengalaman menjajal banyak istri?? Berani atau tidak" Ledek Syila menantang. Bang Anom pun tidak menyangka akan mendapat todongan pertanyaan semacam itu dari istrinya.
"Berani donk.. masa nggak berani." Jawab Bang Anom mengambang balik membingungkan dua wanita disana. "Tapi berani itu tidak untuk permainan. Gagah nya laki-laki itu hanya untuk istrinya seorang. Kuatnya seorang laki-laki itu untuk memikul tanggung jawab sebagai suami. Berani mah berani, tapi saya tidak sanggup berurusan dengan Tuhan kalau ada salah satu istri yang menangis karena merasa saya tidak adil. Lebih baik saya punya satu istri, saya didik yang benar tapi rumah tangga adem ayem, daripada punya dua istri tapi paginya saya darah tinggi."
Panjang lebar Bang Anom mengungkapkan isi hatinya dengan caranya sendiri.
Bang Teo menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Ia mengurut pelipisnya karena nyaris membuat rumah tangga sahabatnya hancur lebur. Inilah seorang Anom yang di kenalnya, biarpun sahabatnya itu selengekan dan dulunya terkenal paling bejad di antara mereka tapi tetap saja seorang Anom akan mati-matian menjaga apa yang telah menjadi tanggung jawabnya.
"Oke.. masalah ini juga terjadi karena kecerobohan saya. Saya beri kamu penawaran Elma." Kata Bang Teo yang sebenarnya juga tidak sampai hati membiarkan Elma menghadapi masalahnya sendirian. "Tapi tentu ada syarat yang harus kamu penuhi."
"Kamu nggak usah ikut campur Pot. Kamu tidak kenal Elma." Tegur Bang Anom.
"Setelah detik ini saya mengenalnya. Sekarang kamu yang diam An. Biar saya yang tanggung jawab atas kecerobohan saya. Kamu baik-baik sama Syila, saya akan tangani Elma."
Elma menangis, ia tidak melepaskan pandangan mata dari Bang Anom. Syila berdiri karena rasa tidak tega di balik kepolosannya.
"Aku tau Mas pasti akan menolak ku, tapi aku tidak yakin perasaanmu sudah hilang untuk ku Mas." Elma mengambil sesuatu dari sakunya lalu menelannya.
Refleks Bang Anom berdiri dan merebut sesuatu tersebut dari tangan Elma tapi Elma sudah terlanjur menelannya. Tidak sengaja pula refleks itu menyenggol Syila.
Tau Bang Anom berusaha mempertahankannya, Elma memeluknya dan kembali menyenggol Syila hingga benar-benar terjatuh.
Bang Teo sudah melihat segalanya dan ia berusaha menahan tubuh Syila tapi semua sudah tidak sempat lagi.
bruugghh..
"Aaaaaaaaa..." Pekik Syila menyadarkan Bang Anom.
.
.
.
.
selalu kutunggu karya²mu kak