Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.
Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!
Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Siapa Kakak Ini?
Pagi itu, langit diselimuti awan mendung tebal yang menggantung rendah, memberi sinyal bahwa hujan deras bisa turun kapan saja.
Danu yang berdiri di balik jendela kamarnya menghela napas panjang melihat suasana suram di luar. "Huuh... hujan ya... Semoga pas berangkat nanti nggak kehujanan deh."
Ia memalingkan wajah, meninggalkan jendela, lalu segera melangkah menuju kamar mandi untuk bersiap-siap.
Seusai mandi dan mengenakan seragam sekolah dengan rapi, Danu menyantap sarapan seadanya di meja makan. Usai mengisi perut, ia meraih tasnya dan mulai melangkah keluar rumah menyusuri trotoar.
Meski cuaca agak redup, aktivitas warga di sepanjang jalan aspal justru terasa hidup. Ada yang mengayuh sepeda santai, ada pula yang jalan-jalan menuntun hewan peliharaannya. Melihat interaksi-interaksi kecil itu, senyum tipis terukir di wajah Danu. Rasa hangat menyusup ke dadanya, memberinya prasangka baik bahwa hari ini akan menjadi hari yang membahagiakan lagi.
Saat melewati persimpangan jalan tempat biasa mereka berkumpul, mata Danu menangkap dua sosok yang sangat familiar. Ia melambaikan tangan sambil mempercepat langkahnya.
"Oi, kalian!" panggil Danu.
Rio mendongak, menyeringai lebar. "Ouh, Danu... datang juga lu!"
"Hahaha, iya dong," balas Danu terkekeh. "Di sekolah nanti mau ngapain aja ya kita?"
Zahra yang berjalan di samping Rio menyahut santai, "Ya... nggak tahu, mungkin ada kegiatan ekstra musik lagi?"
Rio melipat kedua tangannya di belakang kepala sambil mengeluh, "Haa... agak bosan juga ya kalau cuma gitu-gitu aja..."
"Em em," Danu mengangguk-angguk setuju.
Mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan menuju sekolah, menyusuri jalanan sambil saling lempar gurauan dan mengobrolkan hal-hal santai khas remaja.
Setibanya di dalam area sekolah, mata mereka tak sengaja menangkap Reno yang berjalan sendirian di koridor dengan kepala sedikit menunduk. Tanpa ragu, Trio Plenger langsung menghampiri anggota baru mereka itu.
"Oi! Reno! Kok mukanya masih merengut gitu? Semangat lah!" seru Rio menepuk pundak Reno cukup keras.
Reno terkejut sebentar, lalu tersenyum tipis menggaruk pipinya. "Haha... nggak apa-apa kok, nanti juga semangat sendiri... Emm, oh iya, tadi pas aku berjalan menuju sekolah, aku sempat lihat Kak Rizki lagi ngobrol serius sama seseorang."
Mata Rio seketika berbinar penasaran. "Ouh, serius?! Wah, bau-bau gosip nih! Ayo, ayo, kita ngobrolin di kelas saja!"
Zahra melempar tatapan sinis nan tajam ke arah Rio. "Heeee... gitu aja langsung semangat lu ya."
"Eleh... kayak lu nggak penasaran aja!" balas Rio tak mau kalah.
Zahra membuang muka, berpura-pura batuk kecil. "Hmm... iya sih, penasaran juga."
Setibanya di dalam kelas, Zahra, Rio, dan Danu sempat dibuat melongo kaget. Bagaimana tidak? Reno ternyata sudah mengurus kepindahan kelasnya pagi-pagi sekali demi bisa sekelas dengan mereka!
Namun, mengesampingkan momen heboh kepindahan Reno, mereka bertiga sudah tak sabar ingin mendengar kelanjutan kisah Kak Rizki yang dilihat Reno tadi.
"Jadi... mereka ngobrolin apa, Ren?" tanya Rio menatap Reno tajam, penuh rasa penasaran.
Reno mengusap tengkuknya canggung. "Hmm... nggak tahu sih, aku cuma lihat dari kejauhan doang."
Rio menghempaskan napasnya kecewa. "Alah... kecewa gue, Bro!"
"Haha, nggak apa-apa lah, yang penting kan kita dapat info," hibur Danu bijak.
Rio menepuk jidatnya sendiri. "Aduh, Danu... ini mah bukan info, ini tuh cuma pemberitahuan!"
Zahra menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Rio. "Lah... emangnya bedanya apa coba, Rio, Rio..."
Tepat saat mereka sedang asyik berdebat kecil, bel masuk berbunyi. Mereka buru-buru kembali ke kursi masing-masing. Sebelum pelajaran dimulai, wali kelas meminta Reno berdiri di depan kelas untuk memperkenalkan diri secara resmi.
"Halo semuanya, nama saya Reno, pindahan dari kelas X-G," ucap Reno sopan. "Semoga kita semua bisa berteman baik ya."
"Baik, Reno. Kamu boleh duduk di meja paling depan yang dekat meja guru ya," petunjuk dari wali kelas.
"Baik, Pak." Reno melangkah dan menduduki kursinya.
Pelajaran jam pertama hingga ketiga pun berjalan seperti biasa. Begitu bel istirahat pertama berbunyi nyaring, Rio yang tadinya ketiduran di atas meja langsung terbangun dan mengucek matanya.
"Emmm... Danu, ini jam berapa?" gumam Rio serak.
Danu melirik jam tangannya. "Ini jam 10 pas sih."
"Udah istirahat dong?!" Rio seketika segar bugar.
"Iya... memang kenapa?" tanya Danu bingung.
"Ya ke ruang ekstra musik lah, yuk! Gue masih penasaran setengah mati!" seru Rio sambil berdiri. "Reno, lu ikut juga yuk!"
Reno menunjuk dirinya sendiri. "Eh... gue juga?"
"Iyalah! Lu kan saksi kuncinya!" paksa Rio, lalu melirik Zahra. "Lu juga, Ra!"
"Iye, iye, sabar napa!" dengkus Zahra menyampirkan tasnya.
Mereka berempat pun berjalan beriringan menyusuri koridor menuju ruang ekstra musik, berniat menginterogasi Kak Rizki soal sosok "cewek" misterius tadi pagi.
Namun, setibanya di depan pintu ruang ekstra, langkah mereka berempat mendadak terhenti seketika. Dari balik celah pintu, mereka melihat sosok siswi berparas cantik dan bertubuh tegap sedang berdiri sangat dekat dengan Kak Rizki.
"Ouh... kalian! Ayo sini masuk!" panggil Kak Rizki yang mendadak menoleh ke arah pintu.
Karena sudah terlanjur ketahuan basah, mereka berempat akhirnya melangkah masuk dengan canggung. Tanpa buang waktu, Rio langsung mengutarakan rasa penasarannya.
"Kak Rizki, itu siapa?" tanya Rio blak-blakan.
Kak Rizki merangkul bahu gadis di sampingnya santai. "Ouh, ini? Ini teman sekelas Kakak, namanya Diva Safira. Panggil saja Kak Diva."
Gadis bernama Diva itu menyilangkan tangan di dada, menatap anak-anak kelas X itu dengan lirikan tajam namun penuh selidik. "Ohh... jadi ini adik-adik kelas kamu yang sering kamu ceritain? Lucu juga."
"Haha, iya," kekeh Kak Rizki.
Diva mengalihkan pandangannya ke arah mereka. "Oh iya, siapa nama kalian?"
"Namaku Zahra," sahut Zahra ramah.
"Namaku Rio!"
"Namaku Danu."
"Namaku Reno," ucap Reno sopan.
"Hmm... oke, baiklah," pangkas Diva cepat sambil merapikan rok seragamnya. "Kalian... di sini saja ya di ruang latihan. Kak Diva mau diskusi sebentar sama Kak Rizki di ruang diskusi."
"Ohh... iya, siap Kak!" seru Rio memberi hormat jenaka.
Kak Rizki dan Kak Diva pun berjalan melintasi ruang latihan menuju sebuah pintu kayu di sudut belakang ruangan yang biasanya selalu terkunci.
Mata Rio membelalak heran melihat pintu itu terbuka. "Lah... jadi sebenarnya ada ruang rahasia toh di ekstra kita? Menarik nih..." seringai Rio jahil.
Zahra melotot, siap menempeleng lengan Rio. "Hei, hei! Jangan rusuh ya lu!"
"Haha, iya..." Tawa kecil yang lembut tiba-tiba terdengar dari balik punggung Rio, sukses membuat pemuda itu melompat kaget.
"Wihh... kaget! Dari mana kamu tadi, Putri?!" seru Rio memegang dadanya.
Putri terkekeh pelan sambil menutup mulutnya. "Hehe... tadi dari toilet doang kok."
"Ohhh... kirain muncul dari mana," desah Rio lega.
Sementara anak-anak kelas X ngobrol santai di ruang latihan, suasana di dalam ruang diskusi rahasia justru berbanding terbalik 180 derajat!
"Jadi... mau ngapain kita di sini, Div?" tanya Kak Rizki polos sambil memiringkan kepalanya.
Wajah Diva mendadak merona merah padam. Dengan gerakan patah-patah dan wajah tsundere yang berusaha tetap galak, ia menyodorkan dua lembar kertas ke dada Kak Rizki.
"Hmm! Ya... bu-bukannya aku mau ngajak kamu ke bi-bioskop untuk bersenang-senang ya!" seru Diva setengah membentak demi menutupi rasa malu.
Kak Rizki menerima dua lembar tiket bioskop itu dengan muka tanpa dosa. "Eh... ini tiket buat aku?"
"Dibilangin bukan, ih!! Dasar tidak peka!" jerit Diva salah tingkah berat.
"Ehh... muka kamu merah banget, Div. Mau aku kompres?" tanya Kak Rizki polos tanpa dosa sambil bermaksud mengambil kain atau tisu.
Pipi Diva yang tadinya cuma merona kini berubah merah padam seperti kepiting rebus. Kepolosan Kak Rizki yang tiada tanding itu benar-benar menguji kesabarannya.
"Ihh... sudahlah! Aku... pergi saja!" jerit Diva salah tingkah berat.
Gadis itu berbalik cepat lalu lari terbirit-birit keluar dari ruang diskusi, melintasi ruang latihan begitu saja hingga menabrak pintu utama ekstra musik.
Rio yang menyaksikan adegan itu dari luar hanya bisa berdiri melongo dengan mulut menganga lebar. "Anjir... itu kenapa, Kak?"
Kak Rizki keluar dari ruang diskusi sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Hmm... Kakak pun nggak tahu..."
Zahra menghela napas panjang, melipat tangan di dada. "Coba jelasin dulu kronologinya, Kak, nanti aku bantu analisis."
"Jadi..." Kak Rizki pun menceritakan kejadian di dalam ruang diskusi—mulai dari Diva yang menyodorkan dua tiket bioskop sambil ngotot bilang 'bukan mau ngajak bersenang-senang', sampai momen tawar penawaran kompres muka tadi.
Seketika suasana ruang latihan mendadak hening selama tiga detik.
PLAK!
Rio, Zahra, Danu, Putri, dan Reno secara kompak menepuk jidat mereka bersamaan.
"Ohh... pantes," gumam mereka berlima serempak, menggeleng-gelengkan kepala prihatin atas ketidakpekaan mentor mereka yang kelewat parah itu.
Kak Rizki cuma bisa memasang wajah bingung celingukan menatap adik-adik kelasnya. "Lah... emangnya Kakak salah apa lagi?"
Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan Kak Rizki dengan Kak Diva yang super tsundere itu selanjutnya? Akankah tiket bioskop itu benar-benar dipakai, atau justru berakhir jadi pajangan?
[Bersambung]
aku juga penasaran sama karya kamu, Danu...