Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."
Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.
Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.
Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap di Pesta Dansa
Selamat membaca...
__________________
Penolakan telak di ruang rapat Adijaya Tower menjadi pukulan keras bagi harga diri Helene Vance. Di suite mewah Hotel Ritz-Carlton Jakarta, wanita asal Prancis itu berdiri di balkon seraya memandangi gemerlap lampu kota. Tangannya meremas gelas porselen berisi kopi pekat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Wanita sialan," desis Helene dingin. "Siapa dia berani membedah draf perjanjian rahasia milik Vanderbilt dalam sekali pandang?"
Asisten pribadinya, Pierre, melangkah mendekat dengan gelisah. "Lady Helene, tim hukum kita terkejut melihat kejelian Aura Dania. Jika Adijaya Group menolak klausul itu, rencana penguasaan aset bursa di Asia Tenggara bisa gagal total."
"Evan tidak akan menolak jika situasinya tidak menyudutkannya," sahut Helene dengan senyum licik yang perlahan mengembang di bibirnya. "Dia hanya sedang terpesona oleh wanita kelas bawah itu. Tapi percayalah, Pierre... ikatan emosional seperti itu sangat mudah dihancurkan."
"Apa rencana Anda selanjutnya, Lady Helene?"
Helene berbalik, memandangi gaun malam berwarna merah darah yang sudah terikat rapi di gantungan baju mewahnya. "Malam ini adalah Gala Dinner pengusaha internasional di Hotel Mulia. Pastikan seluruh redaksi media bisnis terkemuka hadir. Kita buat pertunjukan kecil yang akan menguji seberapa kuat kepercayaan Evan pada permaisuri kecilnya itu."
Malam harinya, ballroom Hotel Mulia dipenuhi oleh ratusan pengusaha kelas atas, pejabat diplomatik, dan tokoh finansial dunia. Lampu-lampu kristal memancarkan kemewahan yang megah, diiringi alunan musik simfoni klasik yang menenangkan.
Evan Adijaya melangkah masuk membelah kerumunan. Pria itu tampak sangat tampan dan berwibawa dalam balutan tuksedo hitam berpotongan sempurna. Di sampingnya, Aura Dania tampil memukau dengan gaun malam berwana biru sapphire yang membingkai tubuh anggunnya dengan sangat berkelas. Cincin berlian di jari manis Aura berkilauan tertimpa cahaya lampu, menegaskan statusnya sebagai satu-satunya permaisuri Adijaya.
"Tuan Evan, Nyonya Aura," beberapa direksi bank swasta menyapa mereka berdua dengan penuh rasa hormat.
Aura membalas sapaan itu dengan ramah, mengobrol santai mengenai tren pasar modal global. Ketenangan dan wawasannya yang luas membuat para petinggi bisnis makin mengagumi sosok istri Presdir tersebut.
Dari jauh, Helene Vance memperhatikan pasangan itu dengan pandangan membakar. Ia meminum anggur merahnya, lalu memberi isyarat mata kepada seorang pria asing berjas abu-abu yang berdiri tak jauh dari tempat Aura berada.
Saat Evan sedang berbincang dengan Duta Besar Prancis, Helene melangkah mendekati mereka dengan senyum anggun yang memikat.
"Selamat malam, Evan," sapa Helene halus, lalu menoleh pada Aura. "Nyonya Adijaya, Anda terlihat sangat cantik malam ini."
"Terima kasih, Lady Helene. Anda juga terlihat amat menawan," balas Aura tenang, menjaga privasi dan kesopanan tanpa rasa canggung.
"Evan, ada hal penting terkait regulasi perbankan Eropa yang ingin disampaikan oleh Konsul Keuangan Prancis di sudut meja VIP," ujar Helene seraya menunjuk ke arah barisan tamu penting. "Bisakah aku meminjam suamimu sebentar, Aura? Ini hanya urusan diplomasi singkat."
Aura menatap Evan, lalu tersenyum tipis. "Pergilah, Evan. Aku akan menunggu di dekat meja hidangan penutup."
Evan mengusap lembut punggung tangan Aura sebelum melangkah pergi. "Aku hanya sebentar, Sayang."
Setelah Evan melangkah jauh bersama Helene, Aura berjalan pelan menuju area saung hidangan penutup yang agak tenang. Namun, baru beberapa langkah Aura berjalan, pria asing berjas abu-abu yang diberi perintah oleh Helene tadi mendadak sengaja menyenggol bahu Aura dari samping.
Pyar!
Gelas minuman beralkohol di tangan pria itu tumpah, membasahi sebagian gaun biru milik Aura.
"Ah! Maafkan saya, Nyonya!" seru pria asing itu dengan nada suara yang dibuat-buat panik dan sangat keras hingga menarik perhatian para tamu di sekitar mereka.
"Tidak apa-apa, Tuan," sahut Aura tenang, mengambil tisu untuk mengusap noda di gaunnya.
Namun, pria asing itu justru makin memajukan tubuhnya, meraih pergelangan tangan Aura secara tidak sopan seraya berbisik dengan nada provokatif. "Aura Dania... mantan wanita simpanan dua miliar yang beruntung bisa naik kelas, bukan? Berapa tarifmu sekarang untuk semalam?"
Aura menghentikan gerakannya seketika. Iris matanya berubah dingin bak es. Ia menyadari sepenuhnya bahwa ini adalah jebakan untuk memancing emosinya di depan ratusan wartawan yang kameranya mulai mengarah pada mereka.
"Lepaskan tanganmu," desis Aura dengan nada rendah yang amat menakutkan.
"Kenapa? Kau berpura-pura suci di depan publik padahal..."
Sebelum pria asing itu menyelesaikan kalimat penghinaannya, sebuah tangan kokoh yang sangat kuat mencengkeram cengkeraman tangan pria itu hingga terdengar bunyi gemertak porselen retak.
Krak!
"Aaghh!" pria asing itu menjerit kesakitan, tubuhnya tersungkur berlutut di lantai marmer.
Evan Adijaya sudah berdiri di sana dengan aura membunuh yang begitu pekat hingga membuat seluruh ruangan mendadak hening mencekam. Evan tidak pergi ke meja VIP insting protektifnya telah membimbingnya kembali ke sisi istrinya begitu melihat pergerakan mencurigakan.
Di belakang Evan, Helene dan puluhan wartawan tampak membelalak kaget.
Evan menendang pelan kaki pria asing yang melintir di lantai itu, lalu menarik tubuh Aura ke dalam pelukan protektifnya. Tatapan mata hitam Evan yang mematikan tertuju lurus pada pria tersebut dan berlanjut mengunci mata Helene Vance.
"Siapa yang memberimu keberanian untuk menyentuh dan menghina istriku di hadapanku?" suara bass Evan bergema dingin di seluruh area ballroom, melumpuhkan keberanian siapa pun yang mendengarnya.
_______________
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Like & Komen...
Vote untuk bab selanjutnya ya!