"Siapa bilang Mutiara selalu indah berkilau?
Tidak, aku menggeleng. Mutiara yang kumiliki menyakitkan. Bahkan dalam keadaan tak tersentuh sekalipun. Apalagi seandainya bila aku menyentuhnya? Pasti kilauannya membuat kedua mataku buta." Jimmy~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepertinya kita harus bicara
Masih berada di rumah sakit, Mutia duduk di sofa mengusap-usap tangannya yang terasa dingin. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, sudah pasti dia akan menginap bukan? Tapi karena berangkat terburu-buru, Mutia tidak membawa selembar selimut pun atau pakaian tebal.
"Pakai jaketku sementara." Tahu apa yang sedang Mutia rasakan, Jimmy melepas jaketnya. "Pakai Mut!" suara Jimmy meninggi karena Mutia tak kunjung bergeming.
"Kamu sendiri juga butuh, kenapa malah dikasih ke aku?" tanya Mutia heran.
"Sudah seharusnya suami berkorban buat istrinya."
Tak menjawab, Mutia malah menatap manik mata Jimmy yang juga sama-sama sedang menatapnya. Kenapa kata-kata Jimmy selalu saja menusuk hatinya?
"Mikir apa? kamu ini memang istriku kan, pakai jaketnya!" ucap Jimmy sebelum akhirnya dia keluar dari ruangan.
Hari masih sore yang diyakini sebagian toko-toko besar belum tutup, sehingga dengan cepat ia keluar dari rumah sakit untuk membeli makanan dan barang-barang yang ia perlukan selama dirinya dan Mutia menginap disana. Tidak mungkin kan? dia pulang pergi. Sudah semalam ini, jarak dari rumahnya kesini juga lumayan jauh. Rasa letih juga sangat menguasainya karena semalam, Jimmy tak sempat memejamkan mata sama sekali.
Empat puluh menit berlalu...
Cklek~
Kembali ke ruangan, Jimmy telah membawa beberapa barang yang ia butuhkan lalu meletakkannya di meja.
"Dek..." ucapnya lembut. "Makan dulu,"
Mutia mengangguk.
"Papa udah makan?"
"Tadi udah aku suapin.."
"Ya, sekarang giliran kamu."
Jimmy mengkerut saat melihat ruangan itu lebih berantakan sebelumnya "Tadi ada tamu sewaktu Mas pergi?" tanya Jimmy.
"Iya, Tanteku sama cucunya, tapi habis langsung pulang karena cucunya terus nangis minta pulang."
Keduanya membuka kotak makanan yang Jimmy beli dari luar barusan.
Beberapa menit setelah selesai makan malam, datang seorang suster untuk mengecek keadaan Pak Ahmad, mulai dari denyut nadi, tensi dan obat-obatan.
"Tensinya sudah mulai normal, jangan sampai stres ya Pak," ucap wanita berpakaian seragam rumah sakit itu.
"Terima kasih sus..." jawab Pak Ahmad. "
"Jangan lupa obatnya masih ada dua kaplet lagi ya Pak. Saya keluar dulu, kalau butuh bantuan silahkan pencet bel saja, selamat malam."
"Malam sus, terima kasih..." ucap Mutia. Kemudian dia membantu Papanya menelan obat yang tersisa.
Malam semakin larut, mulut Jimmy sudah wara-wiri menganga karena menahan rasa kantuknya. Begitu juga dengan Mutia yang berada di sampingnya.
"Tidur dek, nungguin apa?"
Mutia menatap Jimmy sekilas, kemudian mengangguk patuh.
Hanya tersedia satu sofa di ruang VIP itu, mereka tidur dengan posisi duduk. Lagi-lagi Jimmy menjadi laki-laki yang lemah terhadap perasaannya. Dia tak tega melihat kepala Mutia yang meringkuk ke bawah, bisa pegal berhari-hari jika terus berada di posisi seperti itu. Dengan segera, Jimmy menyandarkan kepala Mutia ke bahunya agar Mutia merasa nyaman.
Kurang bodoh apalagi aku Mut? batin Jimmy berkata.
***
"Dek, Mas harus pergi dulu" ucap Jimmy kepada Mutia.
Ada rasa tak rela pada saat Jimmy izin pergi. Mutia akui, kini dia telah banyak bergantung kepadanya.
Karena tak kunjung menjawab, Jimmy berkata lagi. "Papa udah lebih baik, jadi nggak usah khawatir..."
Jimmy memakai jaketnya dan bersiap pulang. Hari ini, ada pembongkaran dekorasi dan Jimmy belum mendapatkan budget yang sudah seharusnya ia terima.
"Jangan pergi, please..." Mutia menarik tangan Jimmy dan membuatnya kembali duduk.
"Tapi dek..."
"Kalau Mas Jimmy pergi, aku sama siapa?" ucapnya dengan wajah memelas.
"Sepertinya kita harus bicara. Mas rasa kita memang kurang komunikasi."
"Aku mau..." ucap Mutia setelah terdiam beberapa saat.
"Sebaiknya kita keluar sebentar."
***
To be continued.
thank author novelnya kereeeeen 👍👍👍
sukses terus yaa😊
tp sdh ada yg nyesek didada🙁
sayangya aku baru Nemu novel ini..Sukses terus Kaka othor 😍
tidak mau membahas masa lalu.
nyesek berada diposisi Jimmy😭