Ini adalah sebuah kisah perjuangan cinta seorang wanita yang dijodohkan oleh ibunda tercinta. Sementara sang suami sama sekali tidak mencintai istrinya. Tetapi atas dasar amanah yang telah diberikan kepadanya sang istri pun berusaha untuk bertahan hidup dengan rumah tangganya yang sudah terombang-ambing dengan godaan serta cobaan di dalam rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Suma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa itu
Rani menjelaskan kepadaku panjang dan lebar mengenai sifat Rudi. Bos yang ada di tempatku bekerja, sekaligus orang yang bersedia untuk menjadi sahabatku. Aku merasa sudah nyaman untuk berteman dengannya. Ternyata walaupun kaya dia tidak sombong. Makanya aku mau bersahabat dengannya. Aku tersenyum mendengar semua penjelasan Rani kepadaku. Tetapi kalau menurut penjelasan dari Rani, Rudi itu seperti orang yang sangat cuek. Mungkin bukan hanya Rani saja yang merasa seperti itu tetapi hampir semua karyawan disana. Buktinya aku memang tidak pernah melihat dia dekat dengan salah satu karyawan disana. Aku sedikit bingung menelaah sifat dia yang seperti apa. Ya sudahlah aku berusaha mengenal dia saja dulu mungkin ini bukan tentang kecuekannya saja melainkan ada hal lain yang sedang dia sembunyikan.
"Nora kamu tau kan kalau dia itu duda?" tanya Rani padaku.
"Aku tidak tau Ran memangnya dia sudah pernah menikah?" tanyaku balik.
"Itu sih belum valid itu cuma gosip yang aku dengar dari anak-anak. Gak ada yang berani menanyakan status si Bos." jelas Rani.
Agak kaget juga sih mendengar kalau dia seorang duda. Kalaupun memang iya juga gak ada yang salah kalau aku berteman dengannya toh statusku juga masih belum jelas. Pantas saja dia mau membantu menegaskan statusku kalau dia memang duda kan berarti dia sudah pernah mengurus akta cerai. Ya sudahlah aku tidak peduli dengan kehidupan pribadinya yang penting dia bagiku baik dan tidak pilih-pilih. Walaupun aku orang miskin tapi dia mau berteman denganku.
"Nora sudah siap kan ayo kita berangkat?" ajak Rani padaku seperti biasa melakukan rutinitas pekerjaan ini. Ini adalah pekerjaan yang tidak mudah bagiku. Banyak sekali orang diluar sana yang menganggap remeh pekerjaan ini. Banyak juga orang yang menganggap rendah dari pekerjaan yang aku jalani sekarang. Bagaimana tidak secara aku berangkat harus sore hari dan harus pulang tengah malam. Tapi inilah yang harus aku lakukan sekarang. Aku tidak tau sampai kapan aku harus menjalani rutinitas ini. Memang melelahkan sekali dan ini bertolak belakang dengan harapanku. Sebenarnya aku ingin bekerja di tempat yang mau menerimaku dengan hijabku. Tetapi hal itu masih belum bisa aku dapatkan saat ini.
"Hey Nor diajak berangkat kok malah ngelamun." Rani menyenggol tanganku.
"Oh iya ayo aku juga sudah siap kok." jawabku sambil jalan disamping Rani. Sampai sekarang aku juga belum tau darimana asal Rani. Aku tidak berani menanyakan hal pribadinya saat ini. Aku lihat dia orangnya sangat tertutup apalagi soal kehidupan pribadinya. Aku menghargai setiap orang yang tidak mau menjelaskan tentang hal apapun yang dia sendiri tidak nyaman untuk mengatakannya.
Sepanjang perjalanan tidak ada hal yang kita bicarakan. Semuanya diam dan menikmati udara sendiri. Aku telah sampai di cafe dan aku belum melihat mobil Rudi disini. Mataku masih mengelilingi parkiran dan memang benar aku belum menemukannya. Aku masuk dan menaruh tasku di loker. Setelah berbalik arah aku melihat Rudi ada di belakangku.
"Loh Rud, oh maaf Pak kok ada disini kapan datangnya?" tanyaku padanya heran karena tadi aku masih belum melihat mobilnya terparkir di parkiran. Aku yang kemarin sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan nama saja malah gugup untuk mengalihkan menjadi sebutan Pak Rudi.
"Kalau gak ada orang boleh sebut aku Rudi saja, tapi kalau ada orang panggil aku Pak Rudi." bisiknya di telingaku.
"Iya Pak Rudi." aku sambil tersenyum kecil.
"Ngapain kamu kelihatan kaget sekali melihat aku disini?" tanya dia padaku.
"Soalnya aku tidak melihat mobil kamu di depan." jawabku sambil mengernyitkan dahi
"Iya sengaja tadi bawa motor." mendengar jawaban itu aku terkejut kalau dia bisa bawa motor. Aku kira orang kaya tidak mau bawa motor. Ternyata dia bisa bawa motor. Sambil tersenyum sendiri dan membayangkannya.
"oh." jawaban singkat dariku.
"Nanti temenin aku ya, aku mau beli buku buat adikku." ucapnya.
"Aku kan kerja."
"Nanti aku ijinkan keluar sebentar." sambil senyum.
"Maksud kamu mau ijinin aku ke siapa? ke kamu sendiri? dasar Bos seenaknya sendiri saja kalau kasih perintah." jawabku kesal.
"Iya gak boleh gitu dong yang penting gaji kamu full bulan ini."
"Bener nanti gak dipotong gaji? awas saja kalau dipotong nanti aku minta ganti rugi ke kamu." ancamku dengan nada canda.
"Beres yasudah selamat bekerja sampai ketemu nanti."
Dia melambaikan tangannya dan berjalan menuju ruang kantornya. Sementara aku berjalan menuju dapur yang sudah ramai disana. Disana aku melihat anak-anak sedang bergerumbul dan aku menghampirinya.
"Hey lagi ngomongin apa sih seru banget?" tanyaku sambil mendekat ke arah mereka.
"Ini dia nih orangnya sudah datang yang kita omongin." celetuk Sisi salah satu temanku disini.
"Emangnya kenapa Si ada apa denganku?"
"Hey kamu jadi berita ter hits hari ini gara-gara semalam kamu bareng sama Pak Bos." jawabnya.
"Astaga aku kira ada apa, pasti kalian tau dari Rani kan? iya kan ayo ngaku?"
"Eh enak saja aku gak ikut-ikut ya sejak kapan dalam kamus kehidupanku ngurusin orang?" bantah Rani.
"Terus kalian tau darimana?"
"Aku tau dengan mata kepalaku sendiri. Kemarin kamu naik mobil sama Pak Bos." jawab Sisi.
"Masak sih perasaan aku pulang sudah malam banget dan sudah gak ada orang deh." jawabku.
"Kamu saja yang tidak sadar kalau aku belum keluar."
"Oh gitu ya sudah mau diapain toh kita itu cuma teman dan gak lebih." jelasku.
"Oh teman masak sih?"
"Udah deh gak usah bahas aku kayak gak ada bahan lain aja."
Semakin kesini aku semakin yakin kalau Rudi itu gak pernah keluar sama cewek. Mendengar pembicaraan teman-teman yang ada disini aku yakin banget memang dia itu orangnya cuek dan jarang bergaul dengan cewek. Kelihatan dari tanggapan mereka semua disini seperti aneh.
"Ran nanti dia ngajakin aku keluar lagi." bisikku sangat lirih agar yang lain tidak mendengar.
"Sumpah ini benar gila Nor. Mau kemana lagi?" tanya Rani terkejut.
"Katanya mau diajak beli buku, aku juga tidak tau buku apa yang mau dia beli."
"Ini wajib diagendakan Nor ini sudah benar-benar aneh. Jangan-jangan dia jatuh hati sama kamu."
"Hussss ngomong apaan sih kamu Ran jangan bikin aku takut."
"Iya ini sudah jelas kalau dia benar-benar lagi pdkt sama kamu. Agak heran juga sih karena kalau dilihat dari fisik kamu itu masih kalah cantik sama yang lain. Tapi mungkin itu rejeki kamu Nor dapat jodoh orang tajir mlintir." ledek Rani kepadaku yang sedikit membuat aku kesal.