Di sebuah kota, tepatnya di kota bernama Elektron sebagian tenaga alam tidak bisa digunakan. Air, angin, api dan angin serta nuklir tidak dapat berfungsi bahkan dimanfaatkan oleh manusia. Tiga tahun kemudian, seorang profesor bernama Hiden menciptakan teknologi dengan memanfaatkan petir alam lalu menampungnya dalam sebuah wadah yang diberi nama, thunder heart. akhirnya satu tahun setelah penemuan teknologi itu masyarakat kota Eletron menjadi makmur karena thunder heart sangat berguna, bahkan bisa membangkitkan elemen alam lain. Lalu setahun berikutnya profesor Hiden pun menghilang dari kota setelah mendapatkan sejuta pujian bahkan keberadaan nya tidak dapat lagi ditemukan. 10 tahun telah berlalu, dan akhirnya hari kelahiran besar-besaran telah datang. Semua penduduk menyambut kelahiran anak-anak mereka. Namun, setelah kelahiran dan anak mereka mulai dewasa, mereka menemukan bahwa anak mereka bisa menggunakan kekuatan supernatural yaitu tenaga petir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rederni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stun 26 : Bertemu Kelompok Freed
Semua kelompok kelas telah bersiap, dengan pakaian olahraga yang telah mereka kenakan, dan tentu beberapa senjata pendukung untuk berburu bagi yang memerlukan, sebab ada banyak yang tidak membawa senjata dan hanya mengandalkan kekuatan petirnya. Kelompok diperintahkan untuk pergi satu per satu dengan jeda waktu, agar tidak bentrok dengan kelompok lainnya di hutan, itu juga agar mangsa yang ditemukan tidak sama nantinya. Kelompok Yale, kebagian urutan paling terakhir.
"Akhirnya kita bisa pergi," ucap Yale. "Baiklah teman-teman, saatnya berburu!"
Mereka berjalan menuju ke dalam hutan yang sepi, seperti yang diperkirakan untuk awalan tidak ada tanda-tanda hewan di sana. Lalu, tibalah mereka di percabangan jalan. Berhenti sejenak untuk berunding jalan mana yang harus mereka pilih.
"Ada percabangan. Kira-kira kalian mau pilih yang mana?" tanya Yale.
"Gue ngikut aja," jawab Chad.
"Aku juga ngikut aja!" Daisy merespon dengan semangat.
"Kalau aku, asal sama Yale. Kemana pun itu aku ikut," jelas Keyna dengan senyum tanpa rasa bersalah.
Yale sepertinya menyesal telah bertanya, karena orang-orang yang berada di kelompoknya, semuanya hanya terpaku kepada dirinya. Yale lantas terkekeh.
"Eh, hehe. Jadi semua tergantung aku?" tanya Yale dan dibalas dengan anggukan semuanya. "Huh." Yale menghela nafasnya. Yale berpikir, dan akhirnya untuk memilih jalan sebelah kiri. Tentu dengan diikuti oleh teman-temannya. Tidak lama setelah pergi, mereka mendengar suara kegaduhan, menatap satu sama lain, lalu berlari menuju sumber suara.
"Tidak!" teriak seorang cewek berambut pendek dari kelompok lain melihat suatu makhluk.
"Apa-apaan itu?" Yale lantas kaget melihat makhluk yang besar itu. Makhluk dengan delapan kali dan wajah yang tidak beraturan. Kalian pasti sudah bisa menebaknya. Ya, itu adalah laba-laba dengan ukuran yang besar. Tingginya itu sekitar 2 meter.
Laba-laba itu hendak menghujamkan kaki tajamnya ke arah cewek yang berteriak tadi. Dan ketika sudah sangat dekat ....
"THUNDER SHIELD!" Cowok bertubuh sedang, berambut hitam di kelompoknya berhasil menahan serangan laba-laba itu. "Pergi dari sana, Diana!" teriaknya, Diana berlari menjauh. Kemudian terlihatlah cowok bewarna rambut biru gelap dengan daya petir yang sudah berkumpul pada tangannya, dan siap untuk melepaskan satu tembakan petir.
"THUNDER SHOOT!" Serangan itu memberikan dampak yang besar bagi laba-laba, dan membutakan matanya. "Sekarang, Eris!"
"Aku datang! Lightning Step!" Eris berpindah dengan cepat, mendekat ke belakang dari tubuh laba-laba. Memegang erat pedangnya, mengumpulkan daya petir pada pedangnya itu dan bersiap untuk memberikan tusukan.
"TERIMA INI! HAAA!" teriaknya sambil memegang erat pedang petir yang sudah tertancap pada tubuh laba-laba, darah laba-laba terciprat di wajah Eris, dengan rintisan kesakitan pada laba-laba, hingga akhirnya dia--laba-laba tak sanggup bertahan lagi.
"Keren!" decak Yale kagum.
Eris berlari, seraya berteriak. "Berhasil, Freed!"
"Kerja bagus, Eris. Kerja bagus Gerald." ucap Freed, lalu menghampiri Diana yang sepertinya masih takut akan kejadian tadi. "Diana kamu tidak apa-apa?" sambil mengulurkan tangannya. Namun uluran tangannya itu tidak Diana balas.
"Aku takut! Aku takut, hiks! Aku mau keluar dari hutan ini," histeris Diana.
"Bagaimana ini Freed? Sepertinya Diana takut untuk melanjutkan perburuan," jelas Eris.
"Hmm, sebaiknya dia kembali ke tenda bersama Pak Theodore," saran Freed dan dibalas dengan anggukan semuanya. "Zak, bisa kau antarkan Diana kembali ke tenda?" pinta Freed kepada Zak yang tidak sempat ikut andil dalam serangan. "Oke." singkat dari Zak dan mengajak Diana untuk kembali. Diana berusaha berdiri, dan ternyata.
"Aduh!" erang Diana, ternyata kakinya ada luka akibat dia terjatuh tadi.
"Diana terluka," ucap Freed. Dan tiba-tiba Daisy hilang dari samping Yale dan berada di tengah kerumunan kelompok Freed.
"Biar gue bantu," ucap Daisy dengan sigap, tangannya dia arahkan ke luka dari Diana, lalu berkata. "Thunder Regeneration." Lalu terdapat daya petir skala kecil, yang perlahan mulai menutup luka dari Diana.
"Kamu bisa menggunakan teknik penyembuh?!" kaget Freed.
"Gue belajar sama Ibu gue .... Sekarang kamu sudah baik-baik saja," ucap Daisy kepada Diana. Zak lalu pergi untuk mengantar Diana kembali ke tenda.
"Katanya hanya sedikit orang yang bisa menggunakan teknik penyembuh," jelas Eris.
"Terima kasih atas pertolongannya." Freed berterima kasih. Yale yang tadinya jauh kini sudah mulai mendekat ke arah Daisy, tentu dengan diikuti oleh Chad dan Keyna.
"Keren! Kalian sangat kompak dalam mengalahkan laba-laba besar itu!" kagum Yale. Kelompok Freed langsung berubah ekspresinya setelah melihat kedatangan Yale. Kelompok mereka tidak menyapa, kelompok Freed memang bukan termasuk orang yang menindas Yale. Mereka lebih seperti orang yang tidak mau ikut terlibat masalah, hanya penonton yang tidak mau ikut dalam pertunjukan.
"Terima kasih sekali lagi. Kalau begitu kami pergi," ucap Freed kepada Daisy. Kelompok Freed pun berlalu pergi ke jalan pulang untuk menunggu Zak kembali di sana. Padahal mereka bisa saja menunggu di dekat kelompok Yale, ya tapi tahulah mereka tidak mau terlibat dan akrab dengan Yale.
"Seperti biasa, huh" gumam Yale dengan helaan nafas melihat sikap acuh Freed kepadanya.
"Daisy tadi kamu menyembuhkan cewek itu kan? Siapa namanya?"
"Diana," jawab Daisy.
"Nah Diana. Kamu hebat bisa menggunakan penyembuhan petir," kagum Yale.
Daisy terlihat sangat senang hanya dengan pujian dari Yale. "Hehe biasa aja," ucap Daisy sambil tertawa senang.
"Kalau nanti aku terluka. Aku mengandalkan mu untuk menyembuhkan ku," ucap Yale, yang tentu hal itu membuat Daisy berpikir hal lain. Dia pikir bahwa Yale ingin terus bersama dengannya, sontak pipi Daisy merah merona.
"Daisy sangat hebat. Sedangkan aku ...." Keyna bergumam akan ketidakmampuan dirinya. Dan tentu tak ada yang tahu akan batin Keyna itu. Bahkan Yale sekalipun.
Mereka berempat kembali dan masuk semakin ke dalam hutan. Dan sekarang intensitas hewan berukuran sedang seperti rusa semakin banyak. Namun tentu, belum terlihat makhluk abnormal seperti laba-laba raksasa tadi. Kelompok Yale bekerja sama untuk memburu rusa yang ada di depan mereka. Chad menggunakan serangan petir jarak jauh, Keyna membantu dengan senjata petir di depan, dan Yale yang tentu berada di garis depan bersama Keyna. Daisy tidak ikut andil, dan lebih memilih untuk menyembuhkan luka jika teman-temannya ada yang terluka.
Perburuan kelompok Yale bisa dibilang sukses, mereka tentu mengambil beberapa daging rusa untuk dibawa kembali ke tenda, sebagai bukti perburuan mereka. Hari sepertinya sudah mendekati malam, dan semua kelompok akan kembali ke tenda. Begitu juga dengan kelompok Yale yang membawa banyak daging hasil buruan. Naasnya di tengah perjalanan kembali. Daging hasil buruan itu memikat salah satu hewan abnormal yang ada di hutan. Hewan itu bersuara yang tentunya terdengar oleh kelompok. Ternyata hewan itu tepat berada di belakang mereka. Secepatnya kelompok Yale untuk mengambil jarak, dan menjadi waspada.
"Beruang?!" tanya Yale dalam kagetnya.
"Sepertinya itu bukan beruang biasa. Lebih tepatnya Giant Grizzly," jelas Chad yang tumben pintar.
"Giant Grizzly, katanya adalah salah satu yang terkuat di hutan," ujar Keyna.
Semuanya menelan ludah, menahan rasa takut dengan dihadapkan oleh makhluk yang besar ini. Makhluk itu mengambil posisi berdiri dengan dua kakinya. Yale mungkin takut, namun di sisi lain hal itu juga membuat darahnya dipacu dan mendidih. Jiwa ingin bertarungnya semakin menjadi-jadi.
"Sepertinya buruan kali ini akan sulit," gumam Yale dengan senyum di wajahnya. "Teman-teman." Teman Yale mendengarkan. "Siapkan diri kalian!"
...To be Continued...
...Karya ini merupakan karya jalur kreatif...