Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Manis Tuan Regan

Istri Manis Tuan Regan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Romanova

Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.

"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.

Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.

Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Zara menempelkan punggungnya ke pintu kamar mandi, jantungnya berdegup kencang.

Dengan tangan yang gemetaran karena panik, ia mengetik pesan secepat mungkin.

Alaric, tolong aku butuh pembalut dan kenapa Tuan besar Benedict ada di sini?!

Ting!

Pesan terbalas seketika.

Alaric

Maafkan saya Nyonya. Tuan Besar datang tiba-tiba dan merebut jas Tuan dari tangan saya. Beliau bersikeras ingin menyerahkannya sendiri. Untuk kebutuhan pribadi Anda, saya akan segera meminta sekretaris wanita menyiapkannya secepat mungkin

"Gadis muda, kamu di dalam?" suara berat Jenderal melunak.

"Ambil jas ini. Regantara mungkin pria sialan yang tidak tahu cara memperlakukan wanita dengan benar, tapi Kakeknya tidak akan membiarkan cucu menantunya kesulitan."

Zara menggigit bibir bawahnya.

Jika ia mengabaikan sang Kakek itu bukanlah pilihan bijak, tetapi keluar dengan kondisi rok bernoda juga akan mempermalukan dirinya sendiri di depan pria tua itu.

Zara menghela nafas pasrah, lalu membuka pintu sedikit untuk memperlihatkan wajahnya yang sedikit pucat.

"T-Tuan Besar..." sapa Zara halus,

Ia berusaha mengukir senyum senatural mungkin meski matanya memancarkan rasa canggung luar biasa.

Jenderal yang sudah memasang wajah paling garang seketika tertegun.

Melihat garis wajah Zara yang lembut, manis, namun menyiratkan keteguhan yang tersembunyi, ekspresi kaku pria tua perlahan melunak tanpa ia sadari.

"Panggil Kakek, bukan Tuan Besar. Pakai ini. Tutupi dirimu. Kakek tunggu di luar bersama Regantara." ucapnya, lalu menyodorkan jas hitam milik Regantara melalui celah pintu.

Tanpa menunggu jawaban Zara, Jenderal membalikkan tubuhnya dan melirik tajam ke arah Alaric yang berdiri tak jauh dari sana.

"Alaric! Suruh sekretaris wanita membelikan apa pun yang dibutuhkan cucu menantuku sekarang juga! Jika ada satu hal saja yang kurang, kamu yang aku hukum lari mengelilingi gedung ini!"

"..."

Sedangkan Regantara yang menunggu di ruang rapat kecil tidak jauh dari ruang utamanya tampak mengernyitkan dahi.

Pria itu menyilangkan tangan di dada, lalu memandangi jam tangan mewahnya yang menunjukkan waktu yang jauh lebih lama dari yang ia perkirakan.

Ke mana Alaric? Mengapa sekretaris serba bisanya itu belum kembali setelah ia perintahkan untuk mengurus masalah pesan dari Kakek tadi?

Lebih dari itu, keberadaan Zara yang belum kembali dari arah kamar mandi mulai mengusik benak Regantara.

Regantara berdiri, sambil merapikan kemejanya lalu melangkah keluar dari ruangan.

Baru beberapa langkah setelah keluar, matanya menangkap pemandangan yang membuat alis tebalnya bertaut makin tajam.

Di sana, di depan pintu ruang kerjanya, sang kakek berdiri tegap bersama Nakula dan Alaric yang tampak sibuk mengarahkan seorang sekretaris wanita yang berlari kecil sambil membawa sebuah kantong belanjaan tertutup.

Ada apa sebenarnya?

Jenderal melipat tangannya di dada, lalu menoleh dan menatap Regantara dengan kilatan mata sarat teguran keras.

"Bagus sekali, Regantara."

"Kakek?"

"Kamu membiarkan istri cantikmu terkurung di kamar mandi sendirian tanpa perlengkapan yang dia butuhkan, sementara kamu sibuk bersembunyi di ruang lain?"

"Apa?"

Regantara membeku sejenak, matanya yang tajam berganti menatap Alaric untuk meminta penjelasan, lalu beralih ke kantong yang dipegang sekretaris wanita itu.

"Kakek datang tanpa memberitahu, dan Zara adalah tanggung jawabku, Kakek tidak perlu ikut campur sejauh ini." balas Regantara dingin.

Pria itu mencoba menutupi sedikit rasa terkejut dan juga rasa bersalah yang mendadak mencubit dadanya.

"Tanggung jawabmu?" Jenderal terkekeh sinis, ia melangkah mendekati cucunya hingga mereka berhadapan dalam jarak dekat.

"..."

"Pria yang bertanggung jawab tidak akan membiarkan istrinya kebingungan mencari bantuan pada Alaric. Kalau bukan karena aku yang datang membawa jasmu, bagaimana dia bisa keluar?" semprot Jenderal.

Regantara mengepalkan tangannya di balik saku celana.

Rasa posesifnya tersulut saat sadar bahwa dalam situasi rapuh dan memalukan seperti itu, Zara lebih memilih untuk meminta bantuan Alaric daripada dirinya, meski ia sebenarnya tahu bahwa ulah dorongan kasarnya tadi yang membuat wanita itu enggan mendekatinya lagi.

"Masuk! Berikan kantong itu pada cucu menantuku sekarang juga!"

Jenderal mengibaskan tangannya ke arah sekretaris wanita.

Sekretaris wanita itu membungkuk cepat.

"B-baik, Tuan Besar!"

Ia bergegas membawa kantong belanjaan tertutup itu menuju kamar mandi.

Regantara menatap pintu kamar mandi yang tertutup dari kejauhan. Wajahnya tetap datar dan dingin bagai es, namun matanya yang gelap menyiratkan rasa tidak tenang.

Jenderal Benedict berbalik, sambil menepuk bahu tegap Regantara dengan kekuatan penuh hingga menimbulkan bunyi yang keras.

"Jangan hanya diam seperti patung batu, Regantara. Masuk ke ruanganmu. Setelah istri cantikmu keluar, aku mau kita bertiga bicara. Banyak hal tentang klan Benedict yang perlu diketahui oleh Nyonya Muda."

Tanpa menunggu balasan dari Regantara, pria tua itu melangkah lebar memasuki ruang kerja utama, disusul oleh Nakula yang mengekor di belakangnya bagai bayangan.

Regantara berdiri sendirian di tengah koridor yang hening, tangannya yang mengepal di dalam saku celana perlahan melonggar.

Pandangannya tetap tertuju pada lorong menuju kamar mandi, menunggu sosok berwajah lembut yang baru saja ia dorong kasar itu kembali muncul.

Di dalam kamar, Zara berjalan bolak-balik dengan cemas.

"Nyonya Muda? Ini saya, sekretaris dari lantai eksekutif." suara wanita yang lembut dan sopan terdengar dari balik pintu.

Zara segera membuka pintu sedikit.

Sekretaris wanita itu tersenyum canggung sambil menyerahkan kantong berisi kebutuhan wanita, lengkap dengan sebotol air hangat.

"Tuan Besar Jenderal dan Tuan Regantara meminta saya menyerahkan ini. Saya juga membawa kantong cadangan untuk pakaian Anda jika diperlukan." ucap sekretaris setengah berbisik.

"Terima kasih banyak... terima kasih." bisik Zara.

Setelah menutup pintu kembali, Zara dengan cepat membersihkan diri dan merapikan penampilannya.

Ia mengenakan kembali roknya yang kini telah tertutup sempurna oleh jas hitam.

Jas pria itu terlalu besar di tubuhnya yang ramping, hingga kainnya melewati paha, dan beraroma khas milik Regantara.

Zara menarik napas panjang, ia merapikan rambutnya di depan cermin, lalu memoles sedikit bibirnya agar tidak terlihat terlalu pucat.

"Huh, oke tenang Zara semuanya sudah teratasi."

Ia tahu, begitu ia melangkah keluar dari kamar mandi ini, ia tidak hanya harus berhadapan dengan Regantara yang baru saja mendorongnya, tetapi juga dengan sang Jenderal yang terkenal tak berhati.

Zara keluar dari kamar mandi, dan ada Alaric yang menunggu di sana.

"Alaric, terima kasih..."

"Sama-sama, Nyonya. Tapi jasnya sepertinya akan melorot biar saya betulkan, permisi Nyonya." ucap Alaric.

Alaric berlutut satu kaki di hadapan Zara untuk merapikan ikatan lengan jas yang membebat pinggang ramping wanita itu.

Tangannya bergerak cepat dan sangat profesional, memastikan simpulnya cukup kuat agar noda di bagian belakang tertutup sempurna tanpa merusak kerapian pakaian Zara.

"Sudah pas, Nyonya. Anda tidak perlu khawatir lagi." ucap Alaric seraya kembali berdiri tegak dan menundukkan kepalanya sedikit.

"Syukurlah, aku tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada kamu." bisik Zara tulus.

Senyum lega yang sangat manis terukir di wajahnya yang lembut.

Namun, keheningan hangat itu menguap begitu aura dingin menusuk dari arah belakang mereka.

Regantara berdiri, ia menyaksikan seluruh interaksi itu dengan mata yang menyempit berbahaya.

Tatapan gelapnya tertuju pada tangan Alaric yang baru saja menyentuh pinggang istrinya, lalu beralih pada senyuman manis Zara, senyuman tulus yang bahkan belum pernah wanita itu berikan kepadanya hari ini.

Pria itu melangkah mendekat.

"Pemandangan yang sangat indah." suara Regantara mengalun dingin.

Alaric yang berpengalaman langsung merespons perubahan aura tersebut dengan mundur dua langkah secara sigap ia menundukkan kepala sepenuhnya.

"Tuan."

Regantara mengabaikan Alaric, matanya terkunci sepenuhnya pada Zara.

Pria itu mengulurkan tangan kokohnya, meraih pergelangan tangan Zara dan menarik tubuh ramping wanita itu hingga menempel di dadanya.

Tangan Regantara dengan kasar merapikan kembali lipatan jasnya di pinggang Zara, seolah ingin menghapus jejak sentuhan Alaric dari sana.

"Lain kali, kalau butuh sesuatu, panggil suamimu. Bukan pria lain." bisik Regantara.

Zara mendongak, menatap mata hitam suaminya.

Sebelum Zara sempat membalas ucapan Regantara, pintu ruang kerja terbuka lebar.

"Regantara! Berapa lama lagi kamu mau membuat Kakekmu menunggu di dalam?"

1
jenny
coba Zara dibawa sama kakek Sehari... kira² Regan kelabakan gak tuh?? 😄
Ipan Pratama
menarik
Ipan Pratama
lanjut dong thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!