''Apa bisnis Anda kurang luas, Tuan Dexter Yang Terhormat? Sehingga pernikahan pun kau jadikan bisnis,'' sindir Talita melirik sinis pria itu.
''Terserah apapun tanggapanmu, aku tidak peduli. Yang jelas aku hanya butuh dirimu sebagai istri di depan orang tuaku," balas pria itu dengan santainya.
''Egois, kau pikir aku ini robot," geram Talita dengan tatapan tajamnya.
-
-
''Dasar rubah betina," gumamnya menahan geram.
''Dasar kancil menyebalkan," balas Talita dengan senyum mengejek.
___________
Demi melunasi hutang keluarga, Talita Cecilia Kusuma harus terjebak dalam pernikahan penuh sandiwara bersama Dexter Edden Clyde yang merupakan seorang CEO perusahaan terbesar Asia.
Mampukah Talita menghadapi semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbak miss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
''Pagi, Dexter. Apa kabarmu?" Gracia menyapa dengan suara lembutnya ketika memasuki sebuah ruangan.
Wanita itu mendengus kesal ketika tidak mendapat tanggapan berarti. Namun, dia tak patah arang. Dia akan tetap menyampaikan tujuan awal, meskipun Dexter mengacuhkannya.
''Maaf, aku mengganggu waktumu sepagi ini. Ada hal penting yang ingin kutunjukkan padamu," kata Gracia tanpa memudarkan senyumnya.
Seketika, Dexter mengalihkan pandangan, menatap tajam wanita itu.
''Katakan! Jika tidak penting, enyahlah dari sini!"
''Sabar, Honey. Emosi bisa membuat tekanan darahmu naik." Gracia melangkah melenggak-lenggok bermaksud menggoda, kemudian mendudukkan tubuh tepat di hadapan Dexter dengan sedikit menunduk hingga belahan bukit barisannya terlihat jelas.
''Aku tidak punya waktu untuk meladenimu, Grace. Segera katakan apa tujuanmu!"
''Baiklah, baiklah...," ucap Gracia seraya merogoh tas mengambil ponselnya.
Dia menyodorkan lembut benda pipih itu menggunakan jari lentiknya.
''Lihatlah!"
Dexter mengetatkan rahang kala melihat istri kecilnya tengah tertawa riang bersama seorang pria di sebuah restoran. Pria itu menggenggam lembut tangan Talita diiringi senyum lembutnya. Talita juga membalas dengan senyum manisnya, wajahnya pun tampak tersipu malu. Bolpoint yang berada di tangan ia genggam erat hingga urat-urat tangannya tercetak jelas. Dan semua itu tak luput dari perhatian mata jeli Gracia. Wanita itu menyeringai senang karena Dexter berhasil masuk dalam perangkapnya.
''Bukankah wanita itu istrimu? Aku pernah bertemu dengannya meski hanya sebentar. Siapa pria yang bersamanya? Sangat tidak etis bukan? Wanita bersuami berduaan bersama pria lain di tempat umum pula." Gracia terus menyemburkan bisa beracun hingga mangsanya menggelepar. Setelah itu, dia bisa memperlakukan sesuka hati targetnya.
Dexter tak memberi tanggapan apapun, hanya tatapannya berubah kian mengerikan. Tanpa memedulikan semua kertas yang menumpuk, dia beranjak begitu saja meninggalkan Garcia seorang diri. Dia segera menyambar kasar jasnya, lalu berlalu dengan membanting pintu.
Gracia hanya tersenyum kecut melihatnya. Dulu, Dexter tidak pernah semarah itu meskipun dia bersama para teman prianya. Pria itu cenderung membebaskannya bergaul dengan siapapun. Anehnya, dahulu dia merasa nyaman-nyaman saja dengan sikap pria itu. Namun, setelah melihat reaksi Dexter yang sekarang. Entah kenapa ada remasan tak kasat mata yang meremas kuat ulu hatinya.
''Secinta itukah kau dengan wanita itu, Dexter?" Gracia menatap nanar bekas pintu yang dibanting mantan kekasihnya.
Sementara di luar ruangan, Aretha hanya bisa mengusap pelan dadanya mendengar debuman keras suara yang berasal dari arah depannya. Sebenarnya, dia ingin menegur atasannya tetapi terpaksa urung saat melihat ekspresi wajahnya. Dia segera berdiri dan menunduk hormat ketika pria itu melintas di depannya.
''Jantung aman...," gumamnya setelah tubuh pria itu menghilang di balik pintu lift.
''Pasti si Nini Lampir itu berulah. Demen banget bikin kerjaan orang makin ruwet." Wanita berambut sebahu itu hanya mendumel kesal seraya meraih gagang telpon guna memberitahukan pertemuan yang terpaksa tertunda.
Beberapa menit kemudian, Gracia tampak keluar dari ruangan tersebut. Dia hanya melirik sekilas ke arah sekretaris mantan kekasihnya, kemudian berlalu begitu saja tanpa mengucap sepatah katapun.
"Minggat sono, Nini Lampir. Kaga usah balik," ucap Retha menahan kesal dengan tangan meremas udara.
...----------------...
Talita dan Jeff tengah menikmati waktu berdua di sebuah restoran mewah yang terletak tak jauh dari kawasan apartemen. Bagaikan masuk telinga kanan keluar telinga kiri, Talita tak mengindahkan sama sekali peringatan keras sang suami untuk tidak menemui pria kenalannya lagi.
Mungkin, gadis itu benar-benar dibutakan oleh cinta online-nya. Terlebih, Jeff menunjukkan perhatiannya secara terang-terangan, sehingga membuat Talita semakin terlena dengan perasaannya.
''Lalu, apa yang akan kau lakukan, Ta?" Jeff memberi tanggapan setelah mendengar cerita panjang lebar dari gadis itu mengenai masalah sang suami yang ingin meresmikan pernikahan mereka.
''Entahlah, Jeff. Aku bingung," jawab Talita lesu seiring dengan pundak yang terkulai lemas.
''Apa kau mulai memiliki perasaan dengannya?" Jeff menatapnya penuh selidik, bahkan matanya ikut memicing tajam.
''Mana ada! Jangan mengada-ada. Aku tidak akan pernah jatuh cinta dengan pria songong macam si kancil itu. Yang ada aku muak," sahut Talita sarkas.
Jawaban itu berhasil menimbulkan kelegaan di hati Jeff. Dia semakin mantap menjalankan rencana yang sudah disusun bersama sang kakak.
''Apa kau butuh bantuan?''
''Maksudnya?" Talita memandang dengan kening berkerut.
''Jika kau butuh bantuan, aku siap membantu," ucap Jeff menatap lekat wanita di hadapannya.
''Benarkah?'' tanya Talita antusias.
Binar kebahagiaan terpancar jelas di matanya, bahkan senyumnya merekah sempurna. Dia merasa impiannya untuk lepas dari jerat beracun ini akan segera terwujud.
Namun, semua itu tak berlangsung lama. Senyum manisnya kembali meredup kala mengingat akan hutang-hutang keluarganya yang masih menumpuk.
''Kau kenapa, Ta?"
''Tapi ... Aku tidak yakin bisa lepas dari semua ini," ucap Talita lesu.
''Aku belum mengatakan rencanaku, kau sudah menyerah, Ta. Jika kau berkeinginan kuat untuk lepas darinya kau harus yakin, Ta. Percayalah! Aku akan membantumu. Tapi aku butuh keyakinanmu."
''Masalah hutang keluargamu, aku bersedia menanggungnya." Jeff berusaha mempengaruhi gadis itu, selain untuk melancarkan rencananya. Dia juga tidak rela gadis itu menderita.
Talita menggigit bibir bawahnya, bingung untuk memberi tanggapan. Akan tetapi, setelah dipikir-pikir semua yang dikatakan Jeff ada benarnya. Jika dia mempunyai keinginan kuat, pasti akan ada jalan keluarnya. Kesempatan ada di depan mata, seseorang bersedia membantunya. Tentu, Talita tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
''Apa rencanamu, Jeff?"
Jeff menyeringai senang, target masuk dalam perangkap. Dia segera membisikkan sesuatu ke telinga gadis itu.
''Apa?!" Talita berteriak lantang ketika Jeff baru memberitahu sebagian rencananya.
''Tidak, Jeff! Aku tidak setuju. Aku memang ingin lepas darinya sesegera mungkin. Tapi, jika itu rencanamu, maaf aku tidak bisa. Aku bukan wanita seperti itu." Talita berucap penuh ketegasan.
Tatapan penuh amarah dia layangkan kearah pria itu.
aku kok kurang sreg dg tokoh wanita nya, kesannya murahan, lebih suka disentuh laki2 yg bukan suaminya, daripada suami sendiri.
perempuan kok nakal.
dibandingkan cinta dg pernikahan yg sah, yg mana lebih suci di mata tuhan?
kamu mengagungkan kata cinta dg laki2 yg tdk halal utk kamu, sementara ada suami kamu yg jelas2 halal, kenapa otak kamu sebagai perempuan ga berpikir kesana.
aku malah jijik dg tokoh perempuannya, ga mau disentuh suami sendiri, tp kalau laki2 lain boleh, iru sih namanya murahan.
semangat
mampir y