Perjalanan hidup dua saudara kembar yang begitu sama membuat keduanya harus dihadapkan pada kenyataan yang sangat menyakitkan.
Bukan tentang kehidupan. Tetapi tentang percintaan.
Dua saudara kembar yang saling menyukai satu orang pria sederhana yang bernama Azka Dharmawan.
Almaira dan Alzana. Putri kembar tiga dari Mami Annisa dan Papi Tama.
Keduanya sampai harus bermusuhan lantaran sang pemuda yang keduanya cintai harus memilih salah satu diantara mereka berdua.
Akahkah hubungan kedua saudara kembar ini membaik setelah Azka memutuskan pilihannya?
Inilah kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alzana milik orang lain
"Hah? Maksudnya?" tanya Azka masih kebingungan.
Mami Annisa tersenyum, "Maksud kakak, kenapa nggak saudara kembarnya saja? Kan Almaira masih sendiri? Belum ada yang tanya loh.. Tapi kalau Alzana.. Dia sudah terikat dengan seseorang. Kami tidak bisa menolaknya karena pemuda ini sendiri yang memintanya secara langsung kepada kami sejak Alzana masihlah kecil. Sejak masih SD!" Mami Annisa tertawa kecil mengingat kejadian itu.
"Mami."
"Ya, sayang? Abang mau apa?"
"Abang mau adek Na!"
"Adek Na? Buat apa?" tanya nya dengan tertawa.
"Mau Abang jadikan istri untuk masa depan!"
"Heh??" Mami Annisa terkejut.
Lelaki kecil itu tertawa. Begitupun dengan ibu nya.
"Abang masih kecil loh.. Sunat aja belum sayang! Ih!"
"Hahaha.. Tak apa mami! Yang jelas adek Na, buat Abang! Mami nggak boleh ngasi sama orang lain! Kalau sampai mami kasi sama orang lain.. Maka Abang nggak mau kenal lagi sama mami!" ucapnya dengan tangan terlipat di dada
Bibirnya mencebik lucu. Mami Annisa gemas melihatnya. "Uluh.. Uluh.. Anak ganteng mami ini pintar banget sih ngomong nya?"
"Janji dulu!"
"Hahaha.. Iya, iya sayangku. Adek Na, hanya untukmu seorang. Tapi.. Jika nanti ada pria lain yang menginginkannya, mami izinkan saja ya?" godanya.
"Mami!! Abang beneran ngambek nih!" ucapnya cemberut dengan wajah menggemaskan.
"Hahahaha.. Iya iya sayang. Adek Na hanya untuk Abang Prince Arryan seorang. Mami janji sama kamu Nak. Terkecuali.. Takdir yang berkata lain.."
Sepintas ingatan itu terlintas ingatan mami Annisa yang membuat senyum dan kekehan kecil terbit di bibirnya yang membuat semua orang keheranan melihatnya.
"Kak?"
"Eh, maaf, maaf! Hehehe.. Kakak melamunkan kejadian dulu sih. Hem.. Alzana ya? Untuk Alzana .. Kakak nggak bisa mengijinkannya. Karena Alzana sudah menjadi milik orang lain. Sekuat apapun kamu memintanya tetap saja kakak tidak bisa memberikannya padamu. Akan ada hati yang terluka jika kakak mengizinkanmu dengan Alzana."
Azka tertegun memikirkan hal itu. Ia tercenung memikirkan jika Alzana sudah milik orang lain.
Tapi kenapa Alzana bilang waktu itu jika dia belum di miliki oleh siapa pun? Apa maksud kak Annisa mengatakan hal itu? Jika bukan karena permintaan Alzana, mana mungkin aku kesini jika bukan karena permintaan nya? Ini ada apa sih? Kenapa seolah aku ditolak sebelum maju? Batin Azka menatap bingung pada mami Annisa yang kini tersenyum melihatnya.
Papi Tama menghela nafasnya karena melihat kebingungan di wajah Azka.
"Sudah sayang. Jangan seperti itu. Begini saja. Kita biarkan dulu mereka melakukan taaruf kepada mereka berdua. Mereka berdua berhak memeilih sayang. Kita tidak boleh memaksakan kehendak kita. Jika kita melarang tetapi Alzana menginginkan bagaimana? Kan akan jadi masalah ke depannya untuk kita?" ucap Ppai Tama yang diangguki oleh Om Rayyan dan tante Cinta.
"Betul itu kak. Sebaiknya kita biarkan dulu keduanya melkaukan taaruf. Jika keduanya cocok, baru kita pikirkan bagaimana cara memberitahu pada pemuda yang sudah mengikatnya. Banyak jalan keluar kok. Jangan memutuskan harapan orang yang sedang berusaha kak. Nggak baik ah! Masa iya baru saja maju sudah kakak tolak mentah-mentah sih?" tambah Om Rayyan yang diangguki oleh papi Tama.
"Nah betul itu!" timpal tante Cinta yang disambut helaan nafas mami Annisa.
"Ya sudah, jika itu keputusan Abang. Aku ikut saja. Tetapi jika suatu saat terjadi masalah dengan keduanya, aku lepas tangan! Karena aku sudah mengatakan jika ini merupakan janji kami berdua. Aku tidak bisa ingkar bang. Tapi jika keputusan Alzana seperti apa, terserah. Yang jelas, sudah aku katakan yang sebenarnya. Jika pemuda itu kecewa da terluka, maka Alzana lah yang akan menanggung akibatnya! Sudah di putuskan. Kamu boleh melakukan taaruf dengan putriku Alzana. Ku serahkan sama Allah saja. Jika alzana yang menjadi jodohmu, maka kalian akan bersatu. Tetapi jika tidak, maka Alzana milik orang lain! Ingat itu Azka. Sebentar, kakak panggilkan Alzana dulu. Agar kami bisa mendengar langsung jawaban nya apa." Ujar mami Annisa dnegan segera berlalu dan meninggalkan empat orang dewasa itu tercenung mendnegar ucapan Annisa.