Lana(23) tak pernah menyangka bahwa hidupnya yang suram berubah menjadi cerah, setelah sosok CEO muda hadir dalam hidupnya dan mengubahnya 180° menjadi wanita kuat. CEO muda itu bernama Lukas(25) pertemuan mereka diawali dengan ketidak sengajaan yang berakhir dengan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina Raina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
...Lukas Pov...
Lukas Pov
Aku menatap punggung Lana dari kejauhan dan ia tengah fokus membenahi semua barang-barangnya ke dalam tas. Namun dengan cepat aku berlari lalu memeluk dirinya dari belakang, hingga membuatku merasakan bahwa ia tampak kaget dan juga tegang.
"Apa yang kau lakukan, lepaskan aku Lukas." pintanya dengan suara rendah, setelah aktivitasnya terhenti.
Aku menggeleng. "Aku takkan pernah melepaskanmu begitu saja, Lana. Karena bagiku hari ini adalah sebuah kesempatan agar aku bisa membawamu pergi dari lembah hitam sebelum kau malah semakin terjerumus. Apalagi kau pernah melakukan tindakan bunuh diri, aku tak ingin hal serupa terjadi lagi padamu." bisikku dengan nada memelas seraya merekatkan pelukanku di tubuhnya yang kian erat.
Lalu pada detik berikutnya, aku membalikkan tubuh Lana dan menghempaskannya ke atas tempat tidur. Sementara aku langsung menaungi diatasnya.
Pandangan Lana menatapku resah. "Apa yang kau lakukan, apa kau ingin aku mencumbumu lagi?" Ia bertanya dengan nada protes, tapi aku langsung menggeleng cepat.
"No, aku hanya ingin kau. Aku hanya ingin kau pergi bersamaku, aku mohon! Aku berikrar dengan sungguh-sungguh padamu kalau aku takkan pernah menyakitimu. Aku akan menjagamu, melindungimu, dan akan ku pastikan bahwa kau akan aman saat bersamaku, Lana. Jika aku harus terluka suatu saat nanti, aku akan dengan sangat rela terluka demi menjaga dirimu." sumpahku nyata.
Kutatap manik mata Lana yang mengerjap cepat seakan ia tampak tak percaya dengan sumpahku. Ku arungi lebih dalam untuk menelisik perasaannya, hingga aku dapat mengerti sesuatu bahwa Lana seperti telah mengalami trauma sejak lama. Sehingga dirinya seperti kesulitan untuk mempercayai seseorang. Tapi karena aku serius, aku takkan menyerah untuk ini.
"Apa yang harus aku buktikan padamu, Lana agar kau dapat percaya dengan semua kata-kataku?" tanyaku seraya menatap matanya lekat.
Hening.
"Jangan buktikan apa-apa, karena aku tak butuh itu." jawabnya tenang.
"Why? Seharusnya kau membutuhkan itu agar kau percaya padaku. Aku tak ingin disamakan dengan pria manapun, Lana! Aku tak ingin kau menyamakan aku dengan pria-pria di luaran sana yang pernah menyakitimu sehingga kau tak mau mempercayai aku!" tekanku namun masih dengan tutur selembut mungkin.
Lana tersenyum remeh. "Kau tak bisa mengubah cara pandangku, Lukas. Pergilah dan cari wanita yang jauh lebih baik dariku, wanita yang pantas kau perjuangkan selain aku." katanya.
Aku tersenyum pahit, sekejap ku palingkan wajahku. Namun beberapa detik kemudian pandanganku kembali padanya.
"Aku tak bisa membohongi hatiku, Lana. Aku tak bisa mencari wanita manapun karena yang aku inginkan hanyalah dirimu." ucapku seraya menatap wajahnya dengan semakin intens.
"Kau tidak mengenalku, Lukas."
"Jika aku tak mengenalmu, tak mungkin aku akan tahu bahwa kau tengah terluka karena masa lalu. Dan tak mungkin aku sepeduli itu padamu." sahutku yang tak pernah menyerah untuk meyakininya.
"Kau hanya tertarik padaku karena kau juga ingin menjualku, 'kan di luaran sana?"
Aku terkekeh miris, betapa hati Lana sudah terkubur dengan perasaan overthinkingnya. Dan jujur hal itu membuatku sedikit kesulitan untuk memulihkan hatinya agar tidak semakin berpikiran buruk terhadapku.
Detik berikutnya, aku bangkit dari atas tubuh Lana. Aku berdiri lalu memunggunginya, sementara suaraku mendengar derit ranjang sebab Lana tampaknya ikut terbangun dari posisinya.
"Pergilah," ucapku dengan nada rendah.
Aku tak mendengar Lana menyahut, lalu aku pun berbalik.
"Aku takkan memaksamu, tapi satu hal yang harus kau tahu bahwa aku takkan menyerah. Dan kau jangan melarangku untuk membuktikan cintaku padamu, Lana." ujarku seraya menatapnya serius.
Lana hanya diam, tapi pandangannya masih tertuju padaku.
"Pergilah, dan aku harap kau menyadari ketulusanku." imbuhku lembut.
Lana masih diam, ia masih menatapku namun sialnya aku sama sekali tak bisa mengartikan apa arti dari tatapannya. Namun detik berikutnya Lana langsung mencangklong tas miliknya kemudian ia pun berlalu begitu saja. Saat itu, aku tak sanggup melihat Lana pergi tanpaku. Aku hanya mendengar suara pintu terbuka kemudian ditutup kembali.
Setelah Lana pergi, hatiku merasakan amat kehilangan yang luar biasa. Aku merasa sedih karena aku tak bisa membawanya bersamaku, namun aku percaya bahwa perjuanganku nantinya takkan berakhir dengan sia-sia. Aku hanya butuh sedikit tenaga dan juga pikiranku agar aku bisa menarik Lana dari dunia gelapnya.
"Aku mencintaimu, aku mencintaimu, Lana. Percayalah," desisku dengan hati yang teramat sedih.