Nisa. Yang menjadi tokoh utama dari cerita ini, dia bercita-cinta ingin menjadi seorang musisi di masa depannya. Ia bertekad dengan sungguh-sungguh, hingga akhirnya pertikaian dan perpisahan lah yang menjadi pemicu bagi Nisa untuk menggapai impiannya. Namun berkat bantuan dari orang-orang yang menyayanginya, ia mampu bangkit kembali dan menunjukan skill nya kepada pecinta musik ditanah air.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kak Bachrie dan Kak Azizah
Begitulah nasehat dari Pak Pepen, walaupun diakhir katanya terlalu autis. Namun beliau bersungguh-sungguh menceritakannya tentang perjalanan kisah cintanya dengan isteri tercinta.
*****
* Huff! Hufff! Huufff! *
Dua putaran terakhir telah selesai, siswa siswi kelas 1-C berhasil melewati hukuman yang telah Guru BK berikan kepada mereka, Guru BK yang melihat mereka dari sisi lapangan memberikan tepuk tangan atas keberhasilan mereka melewati hukumannya.
Kini mereka sudah bisa bebas untuk melakukan apa pun, terkecuali membuat kerusuhan seperti yang mereka perbuat sebelumnya. Sebelum kembali kedalam kelas, mereka dipanggil lagi oleh guru untuk memberikan sedikit nasehat tentang arahan aturan disekolah ini.
" Gimana rasanya 15x berlari mengelilingi lapangan dan jalan bebek sebanyak 5x? "
" Capek, Pak! Kaki ku semuanya serasa pegal semuanya, dan aku gak sanggup untuk berdiri lama. " Ucap satu siswi.
" Mau lagi gak hukumannya? "
" Nggak, Pak! Kami kapok. " Semua murid.
" Kalau gak mau, jangan diulangi. Ini yang untuk yang terakhir kalinya Bapak ngasih keringanan buat kalian! Patuhi aturan sekolah, jangan merasa so jagoan disekolah ini kalau kalian masih takut sama hukuman dari guru.
Bapak juga dulu sama seperti kalian, bandel gak mau bisa diatur sama guru. Meskipun Bapak bandel, tapi Bapak gak pernah tuh yang namanya terkena hukuman dari guru, karena apa? Karena Bapak mematuhi aturannya. Bandel boleh, tapi harus tau batasannya, dan jangan sampai melewati batas.
Kalian paham! "
" Iya, kami paham, Pak! " Jawab semua murid.
" Bagus! Tapi untuk masalah nilai dimata pelajaran Bapak, Bapak gak akan kasih kalian keringanan!
Sebab, Bapak sudah terlanjur kecewa sama sikap kalian semua. Meskipun wali kelas kalian, Bu Siska.
Gak bakalan Bapak undurkan niat untuk memerahkan nilai kalian! "
" Yah, Bapak! " Kekecewaan semua murid lagi.
" Dah! Kalian sana balik lagi ke kelas, sebentar lagi jam pelajaran selanjutnya akan segera dimulai. "
" Baik, Pak. " Jawab semua murid lagi dan mulai bubar barisan.
****
Aku mengaku bersalah, dan aku mengaku semua kesalahan ku yang telah ku perbuat, semua ucapan yang telah Pak Pepen katakan membuatku tersadar dengan apa yang sudah ku lakukan.
" Ivona. Winda, aku minta maaf ya, udah cuekin kalian seperti ini, gak seharusnya aku bersikap egois sama kalian. Maafin aku ya. "
Winda dan Ivona masih belum bisa merespon permintaan maaf ku. Mereka melakukan hal yang membuat mereka sibuk dengan apa yang mereka lakukan, meski respon mereka berdua masih begitu terhadapku.
" Ivona! Winda! Udah dong jangan cuekin aku lagi, aku minta maaf yang sebesar-besarnya sama kalian. "
Meskipun aku dicuek'kan kembali untuk yang kedua kalinya. Aku tidak akan ada niatan untuk memundurkan diri.
" Winda! Udah dong. Tolong jangan marah lagi sama aku, aku udah kehilangan satu teman disekolahan, masa iya aku harus kehilangan satu teman lagi si disekolahan.
Dan, Ivona. Tolong, kamu juga jangan marah, kita baru juga deket lagi, baru juga main bareng lagi. Masa iya kita harus marahan sih. " Dengan berekspresi sedihku.
Pak Pepen kembali melihatku melalui spion yang ada di plafon. Namun, kali ini beliau hanya terdiam dan tidak ada perkataan apa pun yang terucap dari mulutnya.
****
" Lama banget si nih lampu hijau nya! Dan kenapa harus ada lampu merah, lampu hijau didunia ini! Bikin kesal aja!! " Kak Azizah terjebak macet akibat lampu merah.
Sementara kak Bachrie, yang menunggu kedatangan kak Zizah pun ia terlihat seperti orang yang tak sabar untuk kehadiran kak Zizah di acara nge'jamnya.
" Mana teman loe, Rhie?. Katanya mau datang kesini buat join sama kita, tapi sampai sekarang dia belum datang juga! "
" Sabar dikit bro. Mungkin dijalannya macet, atau kejebak lampu merah. "
" Coba tanya'in lah! Masa iya, lu sebagai temannya mau ngebiarin terjebak dilampu marah!. "
" Pea banget si lu! Kalo serobot lampu merah, nanti yang ada bisa bahaya buat keselamatan dia! Dia juga orangnya taat sama rambu lalu lintas. "
Sementara dilampu merah, diluar pemikiran kak Bachrie.
" Sumpah! Ngeselin banget! Udah bete nungguin lama, tapi masih aja belum hijau-hijau! "
Kak Zizah terus-terusan tidak berhenti untuk mengoceh saat berhenti dilampu merah.
" Ya, se'nggaknya lu tanyain lah dia dimana sekarang posisinya. Jangan diam doang kaya gitu! "
" Ah elah, berisik banget si! "
Kak Bachrie pergi menjauh dari temannya untuk menghubungi kak Azizah, dan menanyakan tentang posisi dia dimana sekarang.
Karena posisi kak Azizah yang tidak memungkinkan untuk mengambil ponsel disaku celananya. Posisi ponsel kak Azizah juga dalam mode silent, jadi, dia mengabaikan panggilan masuk dan pesan chat yang kak Bachrie kirim.
" Di chat gak di bales-bales, di telepon juga sama gak di angkat-angkat. Nih bocah gimana si! Jadi kesini atau nggak dia? Dasar gak danta! " kak Bachrie mulai kesal.
*3*
*2*
*1*
Akhirnya! Akhirnya lampu merah telah berganti. Itu menandakan bahwa lampu hijau dan si pengendara roda dua mau pun roda empat diwajibkan untuk melanjutkan perjalannya hingga rambu berikutnya.
****
Di dalam kelas. Ahmad, si ketua kelas yang mengetahui jika hukuman teman-temannya telah usai, dia pun menyambutnya dengan senyuman palsunya. Ia sengaja melakukan hal seperti itu dengan alasan ingin menunjukan rasa balas dendam terhadap apa yang telah mereka perbuat padanya.
Satu per satu teman sekelasnya masuk dan dia pun menyambutnya. Bahkan saat ada siswa yang menyerobot masuk secara bersamaan tanpa aturan, Ahmad mengundurkan niatnya untuk membalaskan dendam dengan cara senyuman palsu.
Saat murid pertengahan terakhir hendak ingin masuk ke dalam kelas, dia mengancam Ahmad. Dia berpikir, karena dia lah yang membuatnya terkena hukuman berat seperti itu, namun saat murid itu mengancam kepada Ahmad.
Ada Jamil yang membela Ahmad, dan membalikan semua perkataan siswa itu yang telah ia ucapkan kepada Ahmad.
" Mikir tol*l!! Kita dihukum bukan karena si Ahmad! Kita dihukum karena tingkah bodoh lu-lu semua yang so keren, apa lagi dia (menunjuk ke arah Dwi). So jagoan dikelas ini, mentang-mentang dia runner up dibidang pancak silat! Dia bisa nantang dia (menunjuk ke arah Hana).
Mulai sekarang! Mending elu-elu semua intropeksi diri sendiri! Gak usah saling salahin, gak usah saling gua punya kuasa dikelas ini! Mau lu anak pejabat, anak petani atau apalah itu! Kalau kita gak ngelakuin kesalahan yang bego seperti ini, kita semua gak bakalan terkena hukuman.
Dan lu! (Menunjuk ke arah Ahmad). Lu sebagai ketua kelas dikelas ini, harusnya lu bisa bina, bimbing dan atur teman-teman kelas lu. Jiwa kepemimpinan lu nihil! Mending lu undurin diri sebagai pejabat ketua kelas dikelas ini, biar dikelas ini jadi lebih baik lagi kalo ada pemimpin yang baru dan yang tegas!
Nanti, kalau Bu Siska ngajar dikelas kita, coba sekarang kalian acungkan tangan ke atas. Yang setuju kalau Ahmad mundur sebagai ketua kelas ada berapa, dan yang gak setuju diam, gak usah acungkan tangan. "
Dari 35 murid dikelas, total keseluruhan yang menyetuji dengan pendapat Jamil hanya kisaran 32 orang, yamg berarti mereka semua setuju. Terkecuali aku, Winda yang tidak hadir karena bolos, dan Ahmad sendiri.
" Oke cukup! Berarti kalian semua setuju sama pendapat gua, untuk menyuruh Ahmad mengundurkan diri kalau Bu Siska mengajar dikelas.
Mulain sekarang, kalian bisa kembali duduk ke kursi masing-masing. Sebentar lagi pelajaran sains akan segera dimulai, jangan buat keributan apa pun. Ingat! Jangan lupa sama omongan gua tadi!
Kalian mengerti!! "
Semuanya menganggukan kepalanya karena tak berani untuk berbicara. Dan suasana dikelas pun menjadi hening, tanpa ada keributan atau kebisingan, semuanya mendengarkan apa yang Jamil katakan.
*****
Karena melihat kak Bachrie sedang menunggu kak Azizah diluar, kak Azizah memberikan sinyal kepadanya.
' Itu si Bachrie kan ya, yang ada diluar? . ' Dalam hati kak Zizah.
*Tit!*
*Tit!*
Sadar dengan kelakson yang berbunyi untuknya, kak Bachrie menoleh ke arah motor itu, dan memberikan lambaian tangan untuk si pengguna motor itu.
Kak Zizah parkir tepat didepan kak Bachrie.
" Sorry! Tadi dijalan gua kejebak lampu merah, Rhie. "
" Dah, gak apa-apa! Ayo, buruan masuk. Teman-teman gua udah nungguin lama tuh kehadiran lu. "
" Oh, oke. Lu masuk duluan aja, gua mau parkirin motor dulu, nanti gua nyusul. "
" Oke, jangan lama parkirinnya!. "
" Tinggal masuk duluan aja banyak cingcong! Dasar bawel lu! Udah kaya cewek aja mulut nya! "
Kak Bachrie pergi untuk duluan masuk kedalam, sementara kak Zizah. Dia masih harus memarkirkan motornya terlebih dahulu, supaya tidak berantakan dan enak dipandang.
" Mana teman loe, Rhie.? Jadi gak kesininya?! "
" Berisik lu! Dah tunggu aja, nanti dia juga datang. " Ucap kak Bachrie.
" Mau langsung dimulai gak nih kita mainnya? "
" Tunggu teman si Bachrie aja, biar enak ada vokalis duetnya. "
Tak berselang lama, kak Azizah pun masuk kedalam studio setelah memarkirkan motornya.
" Gak usah nungga nunggu! Langsung gaskeun aja!. " Kak Azizah berbicara saat membukakan pintu.
" Who-ho-ho!! " Salah satu temannya kak Bachrie, yang melihat keanggunan kak Zizah.
" Hayuu! Kita gaskeun ce'es! "
" Yeaah! " Jawab semua porsenil, terkecuali kak Bachrie.
' Alay, sia anying!! ' Dalam hati kak Bachrie.
****
Diam. Meskipun aku sudah meminta maaf kepada mereka berdua, tapi tetap saja mereka masih terdiam. Perjalanan menuju kerumah ku sebentar lagi sampai, dan suasana pertemananku dengan mereka berdua belum kunjung membaik.
Aku khawatir, dan aku tidak bisa tenang. Aku takut, jika aku harus kehilangan satu atau bahkan dua teman sekaligus. Pak Pepen belum bisa membantu ku, sedari tadi beliau selalu memantau ku lewat spion plafonnya dengan raut wajah yang tidak bisa ku tebak.
Atau mungkin aku nya saja yang kurang peka dengan apa yang sudah Pak Pepen isyaratkan sebelumnya.
tpi overall sumpah keren walau dari segi penulisan bahasanya masih baku 🙊🙊
tetap semangat kakak😇😇😇
walau sedikt maksa tapi i like it, smangat kak:)