Indonesia
NovelToon NovelToon
Mencuri Ciuman Princess Viviane

Mencuri Ciuman Princess Viviane

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Cinta pada Pandangan Pertama / Berbaikan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Perperangan / Cinta Murni / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:33.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mohanara

"Karena aku menyukaimu." Mata Nicholas menumpahkan tatapan kelam dan gagah pada Viviane, sampai rasanya setiap titik udara tersedot dari paru-parunya. Dengan kelambanan yang menggoda, Nicholas menurunkan bibirnya ke bibir sang gadis. Rasanya seperti yang ia bayangkan, lezat dan manis.

setelah hari itu Viviane Delila Bellerick tidak bisa menyingkirkan Nicholas dari mimpi-mimpinya, jatuh cinta pada laki-laki yang ternyata otak di balik invasi kekaisaran Helias ke kerajaannya. Hingga pada malam penyerbuan, Viviane menghilang. Nicholas berhasil menaklukan Bellerick tapi gagal memiliki Viviane, yang entah pergi kemana, bertahun-tahun Nicholas mencari sang gadis, hingga kemudian Viviane muncul di hadapannya menjadi sosok sepenuhnya berbeda.
Akankah kali ini Nicholas bisa memiliki Viviane? dan apakah dosa Nicholas terhadap kerajaan Bellerick bisa di maafkan? ikuti terus perjuangan cinta Nicholas dan Viviane untuk bersatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mohanara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilih majikanmu dengan benar

“Masuk,” sahut Grey, kepada orang yang baru saja mengetuk kamar penginapannya.

“My Lord, ini surat dari orang yang kita kirim ke Bellerian,” kata Noah, asisten pribadi Grey.  Menyerahkan surat yang diterimanya kepada sang tuan. Surat yang akhirnya tiba setelah mereka tunggu selama lebih dari dua bulan.

Meraihnya, Grey kemudian membukanya buru-buru. Sejenak ia menumpahkan perhatian pada surat itu. Mata membulat dan alis bertaut, Grey beralih menatap Noah lalu berkata. “Buat yang baru,” titahnya mengejutkan asistennya.

“Apa?” 

“Buat yang baru,” kata Grey mengembalikan perhatiannya kepada dokumen-dokumen di atas meja kerjanya.

“Maaf, maksudnya, My Lord?”

“Buat surat yang baru.”

“Lalu a-apa yang harus kutulis?” bingung Noah. Sedangkan Grey menyatukan kedua tangannya di atas meja seperti tenggelam dalam pikirannya.

“Kebalikannya,” gumam Grey dengan pikiran melayang-layang pada Viviane.

****

Viviane meremas tangan yang mulai membeku dan terasa menusuk menyakitkan. Tangannya sudah pucat, jari-jarinya mengkerut dan  lecet dimana-mana, karena harus mencuci berember-ember selimut dan sprei. Entah mengapa tadi pagi, Carlita memintanya untuk mencuci semua selimut dan sprei di setiap kamar di mansion itu. Bahkan sprei dan selimut di kamar yang tidak ada penghuninya juga tetap harus dicuci.

Di tengah musim dingin seperti ini, tentu saja mencuci selimut adalah pilihan konyol. Tetapi jika tidak dituruti, maka Carlita akan kembali mengamuk dan melemparnya dengan apapun yang bisa dijangkau oleh wanita itu. Rumor tentang Carlita yang sakit jiwa ternyata bukanlah isapan jempol belaka. 

Dari pada rasa sakitnya, Viviane lebih kasihan pada Daisy yang diminta mengepel seluruh lantai mansion yang luar biasa besar, sendirian.

Viviane mengusap air matanya. Ia bukan tidak ingin melawan, tetapi sekarang dirinya tidak punya daya upaya apapun, seperti kata-kata Carlita yang selalu terputar di otaknya, bahwa Viviane adalah putri yang jatuh, yatim piatu miskin. Hingga terekam jelas di alam bawah sadar sang gadis.

Meski demikian, Viviane terus menguatkan diri, karena ia masih perlu berada di tempat ini  sampai Grey pulang dan membawa kabar tentang Bellerian.

“Nona!” Daisy tergopoh-gopoh menghampiri Viviane yang tengah berada di ruang cuci. Bergegas meletakkan ember pel-nya dan meraih tangan sang princess yang membeku.

“Nona, lihat tangan Anda! sudah, jangan mencuci lagi. Biarkan saya saja, Nona. Anda sebaiknya beristirahat.”

“Tidak Daisy, kau masih memiliki pekerjaan. Aku sedikit lagi selesai.”

“Saya sudah selesai Nona, tidak apa-apa. Saya sudah biasa melakukan pekerjaan-pekerjaan ini,” Suara Daisy mulai gemetar. “tapi Anda…. Anda—” Daisy tersedak dengan air mata. Dia menangisi tuan putrinya yang biasanya anggun dan cantik dengan pakaian yang mewah, kini tampak begitu kurus, tak terawat, dan lusuh.

Sebagai orang yang selalu mengikuti sang putri sejak gadis itu masih kecil tentu saja ia merasa tidak tega melihat kondisinya. Daisy terkadang ingin mengajak Tuan Putrinya itu kabur, tetapi dirinya pun tidak memiliki keberanian sebesar itu. Tidak punya kekuatan apapun, bahkan untuk menyelamatkan diri sendiri.

“Saya ti-tidak menyangka kita akan melalui hal seperti ini, Nona,”  lirih Daisy disela tangisnya menatap Viviane sedih. “Maafkan pelayanmu yang tidak berguna ini, Nona.”

Tangisan Viviane pecah mendengarnya. “Tidak, Daisy. Jangan bicara seperti itu. Kau segalanya bagiku. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika tidak ada kau disini. Kau sudah seperti kakak perempuan untukku, Daisy” Viviane menghapus air mata Daisy dengan lembut, kemudian memeluk pelayan yang sudah bersamanya sejak berumur 10 tahun. 

“Kalau begitu, Anda harus mendengarkan saya, Nona. Istirahatlah. Biarkan saya yang melanjutkan pekerjaan.”

“Tidak, lihat dirimu sudah sangat pucat.”

“Nona, saya sudah sering melakukan ini, percayalah. Saya masih bisa melakukannya, Anda tidak boleh meremehkan kekuatan saya, Nona.” Daisy berusaha menyombongkan diri ditengah kesedihannya.

Faktanya, selama di istana, Daisy tidak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga, dia hanya ditugaskan sebagai pendamping putri sejak dirinya masuk ke istana. Tugas Daisy hanya berkutat pada persoalan kenyamanan sang putri, tidak lebih dari itu.

“Daisy, tolong jangan seperti ini. Ini pekerjaanku biarkan aku—

“Ya sudah begini saja, biarkan saya yang mencuci, Anda cukup menjemurnya di sana, Bagaimana?” Daisy menunjuk area jemur pakaian yang ada di ruangan itu. Viviane kemudian mengangguk senang.

 

***

Dua hari setelah itu, akhirnya Grey de Armond tiba kembali ke mansion. Kali ini Noah ikut bersamanya karena proyek yang mereka lakukan sudah rampung.

Tidak seperti sebelumnya, kepulangan Grey kali ini masih di waktu yang terbilang sore. Tepat ketika waktu makan malam. 

“Oh, Grey! akhirnya, kau pulang juga!” teriak Carlita dari ruang makan ketika Grey melewatinya. Pria yang baru saja akan menaiki tangga, malah berbalik menuju dimana Carlita berada diikuti Noah. 

“Oh, darling. Aku merindukanmu.” Grey mengernyit jijik ketika wanita itu tanpa malu mengecup pipinya meski Noah ada di sana.

“Duduklah, Grey, Noah. Ayo, Kita makan bersama.”

"Baik, Nyonya." sahut Noah.

“Apa yang kau makan, Carlita?” melihat daging yang tampaknya baru selesai dipanggang, menggugah selera makan Grey.

“Kelinci hutan, Sayang.”

“Ow, Tuan Elmer mendapat buruan yang bagus rupanya!”  seru Grey menyebut nama tukang kebunnya.

Carlita tertawa. “Tidak, bukan Elmer melainkan Viviane yang pandai berburu.” Alis Grey bertaut “Ternyata dia handal memakai busur, Grey.” Carlita melemparkan matanya pada Viviane yang baru masuk membawa semangkuk sup untuk dihidangkan kepada mereka.

Viviane memang diminta Carlita berburu ditemani Elmer, ketika tidak sengaja mendengar gadis itu bisa menggunakan busur, dari Daisy.

Pada akhirnya Grey tidak bisa menyembunyikan kekagetan di wajahnya, ketika melihat kondisi Viviane. Gadis itu kurus, lusuh, memar di dahi, luka di lengan, telapak tangan terbalut perban, lutut masih berdarah dan kaki yang berjalan pincang. Terlebih lagi, Viviane memakai seragam pelayan.

“Ada apa, Grey?” desis Carlita tajam, saat pria itu tidak mengalihkan tatapannya dari Viviane.

“Apa yang terjadi padanya?” Grey cepat mengatur emosinya, dan bertanya dengan nada datar, berusaha sebisa mungkin tidak terlihat tertarik. Padahal ia tengah mati-matian menahan luapan emosi yang memenuhi dadanya.

“Kata Elmer, Viviane terlalu semangat mencarikan aku kelinci hutan, jadi dia tidak memperhatikan langkahnya dan jatuh ke lubang perangkap hewan. Untung saja tidak terlalu parah. Ya kan Viviane?”

“Ya, nyonya,” timpal Viviane pelan, dengan ekspresi hampa, kemudian segera menyingkir dari tempat itu, tanpa melirik sedikitpun pada Grey. 

“Tidak, maksudku. Mengapa dia memakai baju pelayan?” Grey mulai memasukan sepotong daging kelinci ke mulutnya dan  mengunyah dengan kuat untuk menghalau emosinya agar tidak terlihat.

“Well, bukankah semua dari kita harus bekerja untuk bertahan hidup? Aku hanya menawarkannya bekerja sebagai pelayan dan dia setuju. Lagipula mansion ini sudah seperti sarang hantu karena jarang dibersihkan, Grey. Nyonya Widson terlalu tua untuk mengurus mansion,” bohong Carlita dengan santainya, tanpa merasa bersalah.

“Mengapa? Apa kau keberatan Grey?”  tanya  Carlita dengan nada manja dan menuntut. Matanya tajam seolah mengawasi setiap perubahan kecil ekspresi di wajah sang pria.

Grey mendengus. “Tidak, lakukan saja sesukamu, Carlita,” balasnya dengan senyum lebar.

***

“Maafkan saya, My Lord. Nyonya Carlita mengancam akan membunuh saya jika  melaporkannya padamu.”  Nyonya Widson bertekuk lutut di hadapan Grey yang duduk di tepi ranjang Carlita. Wajah wanita itu penuh rasa bersalah sekaligus takut.

Dengan bertelanjang dada, Grey menghisap rokoknya frustasi. Sedangkan Carlita yang tak berbusana, tertidur lelap di belakangnya setelah pria itu meminumkan obat tidur. 

“Ingat Widson, pilih majikanmu dengan benar. Jika kau memilih Carlita, aku tidak masalah, tapi kau pasti tahu apa yang aku lakukan pada penghianat, bukan?”

“Tidak, My Lord . Andalah majikan saya. Maafkan saya kali ini. Saya tidak akan mengulanginya lagi,” mohon Nyonya Widson yang memucat.

Sekejam apapun Carlita, Tetapi Grey lah yang terkejam. Dia persis seperti apa yang dikatakan oleh pepatah, serigala berbulu domba. Jika Carlita mendahului semuanya dengan ancaman, lain hal dengan Grey yang langsung mengeksekusi tanpa mendengar alasan. 

“Tidak biasa bagiku memaafkan, Widson. Tapi karena kau adalah orang yang mengasuhku sejak kecil, maka kuberikan satu kesempatan untukmu.” Meski Widson mengetahui seluruh rencananya terhadap Carlita, tapi Grey sama sekali tidak takut jika wanita tua itu membocorkan rencananya, karena bagaimanapun suatu hari Carlita akan tetap mati di tangan Grey.

“Terima kasih, Tuan Grey.” 

“Mulai hari ini, tugasmu memastikan Viviane baik-baik saja. Apa kau mengerti nyonya, Widson," ujar Grey mewanti-wanti.

“Saya, mengerti, My Lord.”

“Lalu bagaimana dengan obat Carlita?” Grey mengganti topik pembahasannya.

“Akhir-akhir ini ia sudah jarang meminumnya, My Lord.”

“Kenapa?”

“Nyonya bilang sekarang ada tempat untuk melepaskan stresnya, dengan cara menyiksa Nona Viviane, My Lord.”

“Apa kau bilang?” kaget Grey. “Kalau begitu mulai besok naikan dosisnya. Letakkan di minuman atau makanannya. Lagi pula sidang sebentar lagi dilaksanakan. Buat dia gila lebih cepat,” desis pria itu lebih tajam,  asap rokoknya melayang-layang di udara ketika ia menghembuskannya perlahan.

“Baik, My Lord.”

1
Vanilabutter
luar biasa
Vanilabutter
Ih gak percaya ini lanjut lagi. semangat ya thor, pokoknya harus tamat
amelia
kok ilang ya Thor ceritanya
Buke Chika
Luar biasa
Syalfia Shopp
up dong thor
Eka Agustiana
wahhh sng ny up lg 😍
Titik Sulistyowati
Alhamdulillah up lg 🤭
Gesang
aq menunggu cerita2 thor semngaaad...jangan lama2 dong lanjutannya
Eka Agustiana
aq menunggu n menanti...
Hikari Puri
lnjut thor,dtgu S2 nya
Narra Rie: siap /Smile/
total 1 replies
Eka Agustiana
cosplay ny baik grey ataupun nicholas gk ad yg dapetin vivian alias d buat metong tuh betina , 😂 krn 2 lanang ini semua ny brmasalah. nicholas ngebunuh ortu ny vivian, grey ngebunuh pelayan kesayangan vivian..
Eka Agustiana: 😂😂😂😂😂
total 2 replies
Amel Otiek
kayak piala bergilir murahan sekali peran utamanya
Gesang
ceritanya tidak bs ditebak teruskan thoor good
Titik Sulistyowati
makin seruu..
Titik Sulistyowati
lanjoooot thor☺
amelia
semakin seru ..lanjut thor up datenya..kl AQ sukanya grey sih/Chuckle/
Gesang
lanjuuuut
Gesang
lanjuuut
ini keren sih
Eka Agustiana
hareudang. . . . 😂😂 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!