Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodoh Dadakanku

Jodoh Dadakanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Wulan Antya

Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.

Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.

Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

Suasana diruang tv yang tadinya hangat tiba-tiba hening seolah membeku, Hawa menahan napasnya. Ia merutuki mulutnya yang meloloskan pertanyaan itu kepada Hasby.

Hasby menghela napas berat, menatap Hawa dengan intens. Dia harus berkata jujur dan menjelaskan semuanya pada Hawa.

"Dia pernah berhubungan denganku di masalalu," ucap Hasby tenang, melihat bagaimana reaksi Hawa. Dia tidak mau berbelit-belit.

Hawa menatap Hasby tenang, terlihat biasa dimata suaminya. Tapi di dalam hatinya seolah ada palu godam yang menghantamnya keras.

"Apakah hubungan itu selesai atau masih berlanjut?" Hawa masih tetap menatap suaminya itu. Begitupun Hasby.

"Sudah berakhir dari dulu dan kemarin nggak tahu kenapa dia kembali dan membuat keributan,"

"Mungkin dia belum benar-benar melepaskan kakak, makanya dia masih mengejar,"

"Hawa, tolong percaya sama aku, aku dan dia sudah lama berakhir. Jauh sebelum aku mengenalmu," Hasby menjelaskan dengan tenang dan lembut, ada getar sedikit di suaranya.

"Apa Papa dan Mama tahu kak?"

"Tentu saja beliau tahu semuanya Wa,,, Papa dan Mama tidak akan membela kesalahan, aku mengatakan yang sesungguhnya Wa,"

"Baik kak,,,apa tadi sore kakak menemui perempuan itu?"

"Iya, Tian menemaniku di cafenya," menatap Hawa yang tidak memberikan reaksi yang berlebih, tapi menakutkan. Ibarat air yang tenang menghanyutkan.

"Kak, aku merasa seperti pengganggu hubungan kakak dengan dia," Hawa menundukkan kepalanya lemas.

"Jangan pernah berpikir seperti itu Wa, kamu hadir di saat aku dan dia sudah lama berakhir," tegas Hasby. Ada rasa tidak terima di hatinya mendengar ucapan Hawa.

"Kak, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup, tapi kalau takdir Allah lain, aku akan tetap menerimanya dengan lapang dada," suara Hawa bergetar, ada rasa sakit di hatinya. Rasa tidak rela dan menyesakkan dadanya. Matanya terasa panas seketika.

Hasby meraih Hawa ke dalam pelukannya, mengecup pucuk kepala istri kecilnya dengan lembut.

"Kita tetap bersama Wa, walaupun kita menikah karena perjodohan, aku nggak akan mengakhiri hubungan ini," jelas Hasby dengan tegas.

Air mata Hawa meleleh membasahi kaos suaminya itu. Hasby tidak mempermasalahkannya. Tangannya bergerak mengelus lembut punggung istrinya. Isak tangis Hawa semakin kencang, karena ia juga mengingat kedua orang tuanya yang meninggal.

"Jangan pernah bicara hal yang tidak-tidak, kalau ada sesuatu segera kasih tahu aku!" Hasby berkata dengan lembut tapi tegas.

"Iya kak, tapi tetap kita akan terus merahasiakan hubungan kita kan? Aku belum siap kalau harus di publish sekarang," Hawa melepas pelukan suaminya canggung. Segera geser memberi jarak.

"Tentu saja, kita sekolah dan meraih apa yang kita inginkan. Jangan terpengaruh sama hal yang nggak penting lagi," Hasby menganggukkan kepalanya.

"Ok kak, janji ya," Hawa mengacungkan jari kelingkingnya kedepan Hasby.

Hasby tersenyum lembut dan mengaitkan jari kelingkingnya pada jari Hawa.

Mereka merasa akrab dan dekat lagi. Semoga menjadi awal yang bagus untuk mereka. Menjadi landasan mereka menjalani pernikahan ini.

●●●

Suara riuh ayam berkokok terdengar jauh, angin sedingin es menembus kulit Hawa. Dari jam 04;30 ia duduk di dekat jendela kamarnya sembari mengaji. Jendela yang sengaja di buka sedikit untuk melihat halaman luas dengan lampu-lampu menyala.

Ia teringat obrolan semalam dengan Hasby. Ada peningkatan dalam hubungannya. Walaupun sedikit demi sedikit.

Pipinya memanas ketika teringat dirinya di tarik ke pelukan suaminya. Salah tingkah sendiri, matanya memejam. Mengaji jadi tidak fokus.

Segera ia bereskan lantas mengerjakan sholat subuh.

Hawa bergegas turun ke dapur membantu Bik Im menyiapkan sarapan. Ia menggoreng telur mata sapi dan sosis sapi, sedangkan Bibik memasak nasi goreng. Dilanjutnya membuat susu hangat. setelah selesai semua ia bergegas mandi dan bersiap turun untuk sarapan.

"Kak,,, ayo turun sarapan, keburu terlambat nanti," Hawa mengetuk pintu dengan tidak sabar.

"Iya tunggu," Hasby membuka pintu cepat.

"Aaah kakak, astaghfirullah, pakai baju!" Hawa berbalik badan dan menutup mata rapat.

Hasby tersenyum lebar setelah mengerjai istri kecilnya itu. Salah sendiri tidak sabaran. Segera dia masuk dan menutup pintunya rapat. memakai seragam sekolah dengan cepat dan menyusul Hawa untuk sarapan sebelum berangkat sekolah.

Sesampainya di ruang makan, gawainya berbunyi nyaring.

Papa is calling...

"Assalamu'alaikum Pah," jawab Hasby sopan.

"Wa'alaikumsalam, gimana kabarnya nak?" suara Papa terdengar senang.

"Alhamdulillah baik Pah,,, kapan Papa dan Mama pulang?"

"Kamu ini seperti anak kecil aja, udah punya istri juga," seru Mama sembari terkekeh.

"Mah,,, cepat pulang, nggak usah nemenin Papa terus," kata Hasby tersenyum, walaupun Mama nggak bisa melihatnya.

"Kamu itu,, jagain anak mantu Mama, jangan di ganggu!" ucap Mama lembut.

"Iya Mah, nih lagi mau sarapan sama aku," Hasby berkata lembut "Pah, Mah, kita sarapan dulu ya, takut terlambat masuk sekolah," lanjutnya lagi.

"Ok, ya udah salam untuk istrimu nak,,, jaga dia, assalamu'alaikum," Mama mengakhiri panggilan telepon pagi ini.

"iya Mah, wa'alaikumsalam, Papa Mama sehat selalu," Hasby berucap lembut, sembari menatap istrinya.

"Papa dan Mama kapan pulang kak?" tanya Hawa sembari mengambilkan sarapan untuk suaminya dan menaruhnya di depan Hasby.

"Nggak tahu Wa, mungkin masih lama, karena menurut agenda kerja belum selesai," Hasby menyendok nasi gorengnya dengan antusias.

"Iya kak," ia memulai sarapannya.

"Dapat salam dari Mama Wa," ucapnya lembut melirik istrinya.

"Wa'alaikumsalam, iya kak. Makasih," sahut Hawa lembut.

Mereka menikmati sarapan dengan tenang dan cepat. Mengingat waktu terus berjalan, mereka segera bersiap berangkat menuntut ilmu.

1
devita yudhayanti
bagus...lanjut
Wulan Antya: terimakasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!