Indonesia
NovelToon NovelToon
Kupinang Senja

Kupinang Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Karir / Persahabatan / Angst / Chicklit
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ai

Menyingkap tabir takdir perihal pertemuan dan perpisahan. Leora menerima takdirnya bahwa hidupnya tetap indah meskipun Dimas memutuskan mengakhiri semuanya. Bersama kenangan lama yang tak pernah mau menghilang dari isi kepalanya, berjalan bersama rasa yang tak mau enyah meskipun ia telah berusaha melupakan hingga ia sekarat sendiri dalam bayangan harapan yang pernah ia buat bersama pria yang sekarang hanyalah sumber laranya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. I trust you everytime

..."Aku tak peduli kau berbohong atau tidak, karena tugasku adalah mempercayai setiap ucapanmu."...

......................

Bertemu dengan Dimas di waktu-waktu seperti ini merupakan bencana untuk Leora. Bak sedang dipaksa menelan dinamit hidup, yang mana dinamit itu bisa meledak kapan saja dalam tubuhnya.

Meskipun Leora sudah bersiap-siap akan kejadian mendadak seperti ini, tetapi tetap saja ia tak akan pernah siap dihadapkan pada masa lalunya. Mau apa dia dan bagaimana cara terbaiknya menghadapi pria seperti Dimas? Apa dia berhasil mencuci otak ayahnya lagi? Sungguh, Leora tak habis pikir kenapa pria itu seperti sedang mempermainkannya.

Dimas menyapanya, menyaksikan tubuhnya yang kian membeku setelah menutup pintunya rapat-rapat. Kedua tangannya sama-sama sibuk memegang dua cup kopi hangat yang ia beli sendiri di kantin bawah.

Leora sedang ingin berjalan-jalan, melupakan fakta bahwa Dimas sedang berada di bawah atap yang sama dengannya. Namun, sejauh apa pun langkahnya, ada langkah yang terus mendekatinya setelah membuatnya tersandung serpihan batu neraka yang sempat membuatnya menangis berhari-hari bahkan matanya harus selalu sembab setiap pagi menjelang mandi.

Raganya memang terkejut dengan kehadiran Dimas dengan sapaan sok manis itu. Memanggilnya nona dan mengucapkan selamat sore.

Sial! Leora harusnya sekarang tertawa saja keras-keras untuk membalas sapaan Dimas yang di telinganya tak lebih dari sekadar kicauan burung gagak yang membawa pertanda duka.

Duka yang menyakitinya, kedatangannya bahkan seperti alarm pengingat luka yang mana harusnya tidak dihiraukan. Namun, Dimas adalah salah satu manusia yang sulit Leora abaikan, sebenci apa pun sekarang dirinya. Meski tak akan pernah ada sejarahnya cinta menjadi benci, Leora tetap harus mengakuinya. Ia memang sudah tidak menyukai Dimas, bukan membenci Dimas.

Berjalan ke arah sofa yang satunya, menaruh dua cup kopi di atas mejanya. Duduk di hadapan Dimas sambil mengulas senyum profesional layaknya hanya dua kolega bisnis yang sedang mendiskusikan proyek baru.

Tatapan keduanya saling menyelam, tapi tak ada yang berusaha saling menjangkau. Leora takut akan masa lalu itu kembali terulang, dan ia takut ia akan kembali jatuh pada pesona Dimas Sagara yang bisa saja memporak-porandakan isi hatinya.

Sedangkan Dimas takut akan kembali berusaha merengkuh, saat dirinya sedang berusaha menjauh untuk membuat Leora bahagia.

Kedua tatap itu sedang saling membaca, seolah cermin, mereka hanya berakhir melihat dirinya sendiri dengan jutaan pertanyaan yang tercipta tanpa jawaban.

Dimas duduk dengan kedua kaki yang agak terbuka, menunjukkan betapa pria itu memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi dan kuasa yang tak kalah tingginya. Lalu kedua sikunya menumpu pada kedua lututnya, membuat tubuhnya agak condong ke arah Leora dan tanpa sadar Leora memundurkan tubuhnya menjadi bersandar.

Menyandarkan punggungnya sambil menghela napas seolah muak, padahal yang sebenarnya terjadi adalah ia sangat berdebar.

Jantungnya bekerja gila-gilaan. Katakan saja dengan hiperbola, jika tidak ada 14 tulang rusuk yang menghalanginya maka jantungnya sudah melompat sejak tadi.

Leora sebenarnya tak yakin bisa menghadapi perasaannya sendiri. Ia tentu bisa menghadapi Dimas dan segala muka duanya sekarang, tapi yang berbahaya justru bukan Dimas, melainkan dirinya dan perasaannya sendiri.

"Katakan apa maumu, tuan Sagara?" ucap Leora sesaat setelah ia menegakkan badannya.

Memberanikan diri untuk menyamai posisi Dimas, dengan kakinya yang ditumpuk dengan kaki kanan berada di atas kaki kirinya, agak menggantung, Leora berhasil membuat air muka Dimas berubah. Dari yang semula menyulam senyum penuh kemenangan, menjadi senyum penuh kelembutan.

Sungguh, jika saja ini adalah drama teater yang ditampilkan di platform berbayar, Leora jamin akan menuai banyak sekali dukungan berupa vote dan berlangganan. Manusia kan suka sesuatu yang manipulatif, termasuk yang Dimas lakukan sekarang.

Menatap dua kali kedipan lalu menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya agak lama, membuat Leora tak bisa tenang. Hatinya berlarian tak tentu arah. Bertanya-tanya tanpa henti perihal apa yang sebenarnya akan Dimas katakan dan apa maksud Dimas menemuinya. Jika diteruskan, lama-lama Leora bisa gila.

"Ayahmu menemuiku," ucap Dimas setelah sebelumnya ia mengangkat wajahnya guna membingkai sosok wanita yang selalu ia kagumi setiap detiknya.

Dimas masih mencintai wanita itu sama seperti yang ia katakan pada ayah dari wanita yang sekarang tersenyum remeh kala mendengar kalimatnya.

"Ya, aku sudah menduganya. Memang apa lagi? Yang anaknya bukan aku, tapi kamu. Apa ayahku peduli padaku? Bahkan dia selama ini mendiamkanku hanya karena kamu yang memutuskan hubungan ini," ujar Leora panjang lebar.

Siratnya tenang, tapi jelas menggebu. Dari nada bicaranya saja sudah terdengar bahwa Leora sedang mengeluarkan sebagian kemarahannya.

Dimas tersenyum, ada benang perasaan ingin kembali bersama yang menggulung setiap sendi dirinya yang bersikeras menjauh. Ia ingin kembali menjadi penenang bagi wanita yang kini kembali bisa menunjukkan sisi dalam dirinya yang Dimas rindukan setiap harinya.

Nada bicara yang kendati menggebu, tapi tetap mengalun indah melewati lorong perungunya. Suara manis, rengekan yang terdengar kekanakan padahal dia sedang mengadu perihal ketidak-pedulian yang tak pernah wanita itu sukai. Dan disanalah ego Dimas runtuh bak mikroba yang tenggelam dalam sulfur.

Menghilang, semua egonya meluruh berubah menjadi senyuman seindah bulan sabit yang menawan kala tak ada awan yang mencoba menelannya hingga pagi.

"Bukankah kamu bahagia?" tanya Dimas tiba-tiba.

Leora yang tadinya memalingkan muka, pun menjadi menatap kembali penuh tanda tanya besar di dalam kepalanya yang mendadak pening dan penuh prasangka.

Apa yang Dimas tanyakan? Bahagia? Bahkan ia hampir mati jika logikanya tidak berjalan benar. Untung saja Leora tidak memiliki ide gila seperti terjun dari atas jembatan hanya karena putus cinta.

"Tentu," sahut Leora dengan nada dinginnya.

Ia bahagia! Bahagia sekali sampai hampir gila! Bisakah bertanya yang benar? Mantan kekasih macam apa sebenarnya Dimas ini?!

Leora tahu Dimas sedang memainkan sebuah permainan perasaan, di mana tarik ulur adalah prosesnya dan pernyataan akhir adalah kesimpulannya.

Seperti ini, berawal dari menghempaskan seolah tidak berharga, kemudian kembali dengan menanyakan apakah perpisahan itu membawa kebahagiaan baginya atau tidak. Lalu langkah terakhir, tebakan, Dimas akan kembali menawarkan kebersamaan.

Sungguh, ini sudah termasuk pertanyaan di luar otak bagi Leora, tapi mengingat Dimas itu anak pebisnis handal, mana ada berotak pendek.

Dimas itu pintar luar biasa, makanya Leora mau mencintainya. Mengingat Leora bukan tipikal manusia yang mencintai seseorang tanpa alasan, maka fakta tentang Dimas memiliki IQ tinggi adalah salah satu alasannya.

Leora jadi teringat sebuah frasa manis lagi, dari sebuah buku elektronik karya penulis favoritnya. Memang benar Leora tidak suka membaca novel karena merasa ditipu oleh dunia. Namun, penulis ini menggambarkan dunia tidak semanis itu, dan Leora suka sudut pandangnya. Dalam buku terbarunya, yang Leora beli beberapa hari yang lalu, berbunyi; 'menikahlah dengan orang yang kau inginkan tumbuh dalam sosok putramu.'

Bagaimana? terdengar sangat manis, bukan?

Leora memang memiliki alasan untuk mencintai Dimas dulunya, tapi sekarang ia juga memiliki alasan untuk mantap melepaskannya.

Pria itu mungkin adalah ikon paling baik di mata semua wanita yang memandangnya hanya dengan sekali tatap, tetapi ada kalanya yang terbaik untuk mereka bukanlah yang terbaik untuk Leora sendiri.

"Kuharap kebohonganmu tidak bertahan lama. Matamu mengatakan hal lain saat bibirmu berucap demikian," ujar Dimas, satu sudut bibirnya terangkat begitu saja. Seringai manis, yang kembali menggetarkan jantung Leora.

Leora semakin tidak mengerti akan kemana pembicaraan ini Dimas bawa. Semakin berputar pada satu titik dan Leora mulai bosan. Intinya tidak kunjung ditemukan bahkan setelah keduanya mencipta konversasi untuk saling menebak kebohongan.

Mana yang kebohongan dan mana yang kebenaran. Nyatanya, kedua hal itu hanya terpisah oleh sekat setipis selaput telur. Ada tapi tidak terlihat.

"Ingin aku mengungkap kebenaran?" tantang Leora.

Dimas tidak terkejut. Leora tak pernah berubah. Karakter dalam dirinya tetap sekuat itu.

Leora yang selalu mencampur-adukkan sisi manis dan sisi kuatnya, membuat Dimas berpikir; bisakah ia menemukan sosok Leora pada raga selain Leora?

Dimas takut, ia tak bisa kembali bersamanya. Ia tahu prinsip Leora yang utama dan paling mendasar tentang hubungan. Yang sialnya ia lupakan saat mengatakan kata 'sudah' yang mungkin akan jadi akhir segalanya.

Dimas memilih diam, tidak mengangguk untuk mengiyakan, tidak menggeleng untuk menolak. Dan di saat itu pula lah Leora menarik napas panjangnya sebelum akhirnya menghembuskannya bersamaan dengan kalimat pertamanya yang terucap sesendu hujan pertama di bulan Juni.

"Aku hampir memilih mati saat tahu aku sudah tidak diinginkan."

Leora menjeda. Ia perlu memiliki keberanian lebih untuk bisa membuatnya kembali mengingat sehancur apa ia malam itu.

"Penolakan adalah apa yang selalu aku benci. Kematian adalah apa yang selalu aku takutkan. Bahkan jika boleh memilih, maka aku akan mengajak malaikat maut berdansa saja daripada mencabut nyawaku. Sampai aku sadar, hidupku terlalu berharga untuk menangisi pria yang tak lagi menginginkanku."

Kembali menjeda, Leora mengangkat wajahnya, menatap Dimas terlebih pada mata bulatnya yang tak pernah membuatnya bosan menatap.

"Tapi, pada hari itu aku hendak memilih mundur dari dunia. Aku jadi teringat, saat seorang penakut memilih mati, berarti ada yang mengalahkan ketakutannya. Entah sebuah kekecewaan atau penghinaan."

Kelopaknya mulai menggenang, Leora tahu saat ia mulai membuka kata, maka saat itu pula lah luka yang sedang berusaha ia kubur akan mencuat seperti kaset DVD yang terputar otomatis. Perihnya sama, ditambah Dimas sekarang ada di hadapannya.

"Aku telah mencoba mencipta yang semula tak ada menjadi ada. Ya, Dim aku berhasil, aku mencintaimu, dari yang semula asing, menjadi begitu dekat dengan hatiku. Kamu dan semuanya, hubungan jarak jauh itu menjadi biasa untukku. Dan saat aku mulai terbiasa, aku kembali menertawai diriku sendiri karena bersamaan dengan itu kamu memilih untuk mengakhirinya."

Leora tidak sengaja menjatuhkan air matanya, dan saat tatapannya kembali nyalang, ia menemukan pipinya menghangat. Ada jemari hangat yang mencoba menghilangkan jejak air matanya.

Kenapa pilihan selalu membuat Leora salah memilih?

Apa sekarang semesta sedang mencoba menyuruhnya untuk memaafkan?

Leora bukan Tuhan yang akan dengan mudah memaafkan hambanya.

Leora manusia biasa yang tentu saja tidak akan semudah itu memaafkan.

"Maafkan aku, Leora." suara Dimas menjadi parau. Tebakan Leora benar, tapi entah kenapa terdengar pilu di telinganya.

"Sudah kumaafkan, hiduplah dengan baik bersama pasanganmu sekarang. Lupakan perselingkuhan itu karena aku sudah tidak peduli," ujar Leora sembari menepis lembut tangan Dimas yang masih berada di pipinya. Ia tak ingin kembali, ia tak lagi ingin peduli.

Mendadak Dimas tersenyum.

"Apa kamu masih percaya jika aku katakan tidak berselingkuh darimu?" tanya Dimas. Dalam hati Leora, permainan apalagi yang sedang Dimas coba mainkan.

"Aku selalu mempercayai semua ucapanmu. Kamu mengatakan selingkuh, kamu mengatakan tidak memiliki hubungan apapun dengan sekretarismu, tugasku hanya percaya. Perkara kamu berbohong itu urusanmu."

"Dim, kau ingat prinsipku?"

Dimas mengangguk, tidak tahu kenapa ia menjadi begitu mudah setuju dengan yang Leora katakan.

"Yang sudah berakhir, tak akan pernah sama lagi meskipun dimulai dengan awal yang baru."

Dimas tahu itu, prinsip Leora yang selalu Leora genggam. Maka dari itu Dimas mengulas senyumnya, benang harapan itu masih ada.

Berteman keberanian atau sebuah kenekatan berdasar masih mencintai, Dimas berujar, "Apa sekarang kamu masih mencintaiku?"

[]

1
Elizadevi
hai iyaa salam kenal juga. terimkasih
Anonim
alurnya keren pembelajarannya dapet, petuah tersembunyinya banyak. good job for author
Anonim
good job teros kak
Anonim
alurnya keren pembelajarannya dapet, petuah tersembunyinya banyak. good job for author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!