Indonesia
NovelToon NovelToon
Senja Yang Hilang

Senja Yang Hilang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:19.3k
Nilai: 5
Nama Author: NeraLexa

Dia gadis yang baik, pintar dan energik. Sejauh ini semuanya berjalan sesuai rencananya. Menyelesaikan kuliah tepat waktu, memiliki pekerjaan impian dan mendapatkan jodoh terbaik. Namun bagaimana jika sebuah kenyataan pahit menghantam hidupnya dengan tiba tiba membuat rencana indah yang pernah terukir dalam hatinya hancur begitu saja. Bagaimana ia bisa bangkit menjadi pribadi seperti sebelumnya saat dokter dengan tegas mengatakan kalau dia mengidap penyakit langka tepat sebelum pernikahannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeraLexa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Keesokan harinya, menjelang sore barulah Gabriel bersiap siap kembali ke rumahnya. Keadaan Clarisa sudah membaik, infus pun sudah di lepas, Winda juga sudah kembali ke Puskesmas tadi pagi. Gadis itu mengantar Gabriel sampai ke teras depan setelah berpamitan dengan keluarganya.

"Selesaikan urusanmu dengan dia." pelan Clarisa berkata sambil memasang sarung tangan kulit pada Gabriel. "Maksudku, gadis bernama Yolanda itu." lanjutnya saat melihat kening Gabriel berkerut.

"Bukannya aku tidak percaya padamu. Tapi aku tidak yakin dengan gadis itu." Clarisa terus berbicara sambil mengambil helm untuk dipakaikan ke kepala Gabriel.

Gabriel mendengarnya dalam diam, menunggu kelanjutan ucapan Clarisa. Sesungguhnya dia sedang merasa tidak nyaman sekarang. Kenapa Clarisa tiba tiba membahas gadis itu lagi? Semalam semuanya telah selesai mereka bicarakan, setidaknya seperti itulah menurut Gabriel. Sejak terakhir mereka membahasnya semalam hingga sepanjang hari ini semuanya berjalan baik bahkan sangat menyenangkan.  Tapi sekarang Clarisa tiba tiba menyebut nama itu lagi membuat Gabriel kembali mengingat ingat apa benar dia sudah menghapus pesan dari gadis itu semalam. Atau mungkin dia lupa menghapusnya dan Clarisa membacanya?.

"Gadis itu tidak secara kebetulan datang ke rumahmu, Biel. Ada alasan lain dia mencarimu. Mungkin bagimu tidak ada yang istimewa  di antara kalian tapi tidak baginya. Entah kenapa hatiku merasa bahwa masih ada cerita yang tertinggal dari hubungan kalian."

Ingin rasanya Gabriel menghilang dengan tiba- tiba seperti asap agar bisa menghindari tatapan mata bening yang berada tepat di depan matanya kini. Clarisa tengah memasangkan  helm padanya sambil menatapnya dalam. Tak ada kata yang bisa Gabriel ucapkan untuk menjawab perkataan Clarisa tersebut. Entah kemana perginya semua kosakata yang dia pelajari sejak dulu. Bahkan hanya untuk menyahutinya dengan gurauan seperti biasanya pun dia tidak bisa. Ucapan Clarisa yang memang benar adanya menikam tepat di jantungnya. Setajam itukah intuisi seorang wanita pada pasangannya?

"Biel, aku sudah pernah memberimu kesempatan untuk meninggalkanku, bukan cuma sekali tapi berkali kali namun kamu menolaknya. Sekarang aku memutuskan untuk tetap bersamamu. Dan mulai saat ini aku tidak akan melepaskanmu untuk siapa pun meski kamu menginginkannya."

Meski diucapkan dengan nada selembut sutra dan senyum semanis madu tapi ucapan itu sukses membuat Gabriel semakin speechless. Ini peringatan atau ancaman? Atau peringatan yang mengancam jiwa? Entahlah. Yang pasti Gabriel cukup merinding mendengarnya.

"Jadi Gabriel sayangku, selesaikan urusanmu dengan dia sampai ke akar akarnya. Jangan sampai cerita kalian terbawa sampai setelah kita menikah."

Klik!

Helm terpasang dengan sempurna. Kembali ditatapnya wajah Gabriel yang masih mematung didepannya. Clarisa meraih kedua tangan Gabriel dan menggenggamnya erat. "Biel, maaf jika aku sudah menyinggung perasaanmu atau membuatmu tidak nyaman.  Aku mengatakan ini bukan untuk menakutimu. Aku hanya ingin kamu menyelesaikan semua urusanmu dengannya. Jangan menghindarinya. Jika memang benar dia masih menyukaimu dan mengharapkanmu, aku harap kamu bisa memberinya pengertian dan menghentikan kesalahpahaman ini. Kita akan memulai awal baru, aku hanya berharap kita memulainya dengan baik tanpa ada hal yang masih mengganjal di antara kita." Clarisa mengambil napas sejenak. "Apakah aku salah mengatakan ini?"

Gabriel menarik tubuhnya, membawanya ke dalam pelukan. Mendekapnya dengan sepenuh jiwa, meresapi wangi khas dari rambutnya, menenangkan hati dan pikirannya. Mata Gabriel terpejam, mengisi ruang ingatannya dengan wajah gadis dalam pelukannya ini. Dia ingin kemana pun dia melangkah hanya bayangan gadisnya yang akan menemaninya.

"Tidak sayang. Kamu tidak salah mengatakan semua itu. Terima kasih banyak sudah mengingatkanku. Ke depannya teruslah seperti ini. Terus ingatkan aku setiap kali aku salah. Aku akan melakukan apapun yang kamu katakan."

Clarisa mengurai pelukan tapi tidak benar benar melepasnya. "Apapun?"

"Iya sayang. Apapun. Karena aku tahu apapun yang kamu katakan itu yang terbaik untuk kita berdua."

"Kamu yakin mau melakukan apapun yang aku minta?"

"Iya sayang. Apapun yang kamu katakan aku akan turuti. Katakan saja apa yang kamu inginkan. Mintalah apapun yang kamu mau tapi jangan pernah memintaku untuk pergi darimu" tatapan Gabriel begitu lembut menerpa manik mata Clarisa. "Karena dalam hidupku kaulah tempat yang selalu ingin kutuju sebagai rumah tempatku berpulang."

"Ciee, sok romantis." Wajah Clarisa merona. Walau kalimat tersebut sudah sering didengarnya tapi saat Gabriel mengucapkannya terasa berbeda. Hangat dan mendebarkan.

"Ica, tidak peduli seberapa besar dia menyukaiku aku tetap memilihmu. Aku hanya mencintaimu dan akan selalu seperti itu. Percayalah padaku saja." masih menatap dalam mata Clarisa, Gabriel berkata lembut nyaris menyerupai bisikan.

"Loh kok Biel masih di sini? Kirain sudah pulang tadi"

Sebuah suara membuat keduanya melepaskan pelukan. Dea mendekati keduanya dengan senyum mengejek. Mengejek kedua calon pengantin yang sepertinya enggan berpisah ini. Dia juga pernah merasakan ini dulu. Beratnya melepas kepergian orang dicintai walau hanya sebentar saja. Seperti Clarisa dan Gabriel saat ini. Padahal dua hari lagi Gabriel akan kembali ke sini bersama keluarga besarnya untuk melaksanakan rangkaian upacara pernikahan mereka.

"Kapan jalannya Biel kalau main pelukan terus?" Dea menunjuk keduanya dengan dagunya.

"Ini juga mau jalan kak." Gabriel tersenyum salah tingkah. Refleks dia menggaruk tengkuknya yang sayangnya terhalang helm. "Ada sedikit hal yang harus dibicarakan tadi."

"Kalian ini, seharian selalu bersama belum cukup apa waktunya untuk berbicara?"

"Aduh kak Dea jangan diajak ngobrol lagi. Yang ada dia tidak jadi jalan nanti." Clarisa mendorong pelan tubuh kakak iparnya menjauh dari Gabriel. Mengganggu saja, benaknya.

"Yang nahan dia dari tadi siapa, coba? Pamitnya sudah dari sejam lalu loh, Ca!" balas Dea.

"Ini juga mau jalan kak Dea,,, Ganggu saja. Sayang, kamu jalan gih, takutnya nanti kemalaman di jalan." Clarisa memastikan kembali letak helm Gabriel. "Hati hati di jalan, jangan ngebut, telepon aku kalau sudah sampai di rumah."

"Cih! Kayak mau pisah lama saja. Dua hari lagi juga ketemu" Dea mendecih disertai gumaman pelan yang disambut lirikan tajam dari Clarisa "kayak dulu tidak seperti ini saja".

"iya sayang, aku jalan ya. Jaga diri baik baik. Jangan sakit lagi." Gabriel menengahi keduanya.

"Iya, hati hati. Salam buat semua yang di rumah."

Gabriel mengusap puncak kepala Clarisa sebelum akhirnya menaiki sepeda motornya dan benar benar pergi, meninggalkan deru mesin motornya yang perlahan menghilang terbawa jarak.

"Nggak sekalian hirup asap knalpotnya, Ca? Biar baunya nempel di hati." Dea kembali menggoda Clarisa.

"Yang ada asapnya nempel di paru paru, Mak. Modar dah!" Jawab Clarisa sambil berjalan masuk meninggalkan Dea yang masih tertawa.

   Setibanya di rumah, Gabriel langsung membasuh dirinya, membersihkan debu jalanan yang telah lengket di kulitnya. Setelah mandi dia masuk ke kamarnya lagi sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.

Ting!

Suara notifikasi dari ponselnya yang tadinya dia letakkan di atas meja membuat atensinya teralihkan pada benda pipih dengan layar yang menyala tersebut.

[Sayang, sudah sampai? ]

Senyumnya mengembang membaca pesan dari sang pujaan hati. Sepertinya gadis itu tidak sabaran menunggu kabar darinya.

[Belum.]

Gabriel menjawab singkat. Iseng mengerjai Clarisa.

Ponselnya berdering. Kali ini nada panggilan masuk. Nama My'C tertera indah di layar.

"Kamu lagi di mana, Sayang? Kok belum sampai? Ini sudah malam loh. Kenapa lama sekali di jalan? Ada masalah? Kamu baik baik saja, kan?" Baru saja Gabriel menggeser icon hijau di layarnya sudah disambut serentetan pertanyaan dari Clarisa sepaket dengan wajah cemasnya.

"Aku harus menjawab yang mana dulu, Sayang? Pertanyaanmu banyak sekali" Gabriel menatap wajah cantik di layar. "Jangan khawatir aku baik baik saja. Sudah sampai di rumah. Sudah mandi malah. Nih, lihat saja aku di kamar." Gabriel memindai seisi ruangan kamarnya.

"Tadi katanya belum sampai?"

"Iya, soalnya hatiku yang belum sampai ke sini, masih nyangkut di sana."

"Gabrieelll,,,, "Clarisa memekik antara kesal dan lega. Padahal dia sudah khawatir setengah hidup tau-taunya pria ini hanya mengerjainya. Dan lihatlah dia malah menyengir tanpa dosa. "Marah nih ah" Clarisa merajuk.

"Eh jangan dong, Sayang. Nanti cantiknya ilang."

"Bodo!"

"Kok marah benaran sih, Yang? Iya deh, aku bodoh. Maaf ya."

"Au ah. Kesal!"

"Caa,,,"

"Marahi saja, Ca. Becanda nggak mikirin perasaan orang."

Gabriel menoleh ke arah pintu, tempat suara yang barusan tiba tiba menyahut berasal. Kristy sedang berdiri menyandarkan punggungnya ke kusen pintu dengan tangan terlipat di dada. Matanya mengarah tajam pada Gabriel.

"Astaga, tidak kak Dea tidak kak Kristy, sama sama suka nongol di saat yang tidak dibutuhkan." Gabriel menatap kakaknya yang entah sejak kapan berada di sana.

"Ada kak Kristy ya?" tanya Clarisa.

"Ya." Gabriel menjawab lesu. Karena dia tahu setelah ini ponselnya pasti berpindah tangan pada kakaknya dan bisa dipastikan juga obrolan calon istrinya dan kakaknya akan berlangsung sangat lama. Saking lamanya sampai baterai ponsel Gabriel sering habis di saat mereka berdua masih sedang ketawa ketiwi.  Ada saja yang mereka obrolin berdua. Semua hal dibahas. Dari hal yang lagi viral sampai yang sudah berjamur. Dari pembahasan yang penting sampai yang tidak berfaedah. Clarisa memang pandai membawa diri, hangat  dan membuat suasana obrolan selalu hidup.

Gabriel mendengus kesal saat Kristy mulai menguasai ranjangnya. Wanita itu telah duduk bersila di atas tempat tidur, memangku guling bersiap mengambil alih kepemilikan ponsel Gabriel.

"Jangan lama lama. Aku belum selesai bicara." Gabriel merengut membuat Clarisa tertawa di seberang.

"Dih, baru juga pulang. Belum puas dua hari di sana? Sudah sana keluar. Aku sudah menyiapkan kopi untukmu".

Yang punya kamar siapa, yang ngusir siapa?Gabriel  menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pasrah dengan kelakuan kakaknya. "Yang, nanti lanjut lagi ya." ujarnya lalu keluar dari kamar meninggalkan kakaknya yang mulai cekikikan dengan calon istrinya di telepon.

1
Yeti Anggraini
sdh 7 bln anakku mengidap penyakit ini
Magdalena Maria: Turut bersedih bunda😭, semoga bunda dan anaknya tetap diberi kekuatan. kisah ini juga ttg seseorang yg sy kenal.
total 2 replies
Wawan
Hadir ... ✍️
Khabib Firman Syah Roni
Finalnya epic banget! Bahkan akhirnya aku tak bisa tidur!
Magdalena Maria: Terima kasih kak, mohon dukungannya.
total 1 replies
Enoch
Luar biasa thor, semangat terus membuat cerita 👍
Magdalena Maria: Terima kasih kak, mohon sarannya bila ada yang kurang 🙏
total 1 replies
tasha angin
karya ini layak dijadikan film, semoga sukses terus thor ❤️
Magdalena Maria: Terima kasih 🙏
total 1 replies
🔍conan
Wah, gila sukses bikin aku ketagihan bacanya! (👍)
Magdalena Maria: Terima kasih terima kasih dan terima kasih.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!