Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin meroket
Fio terbelalak. Beruntung, tangannya sigap. Dia menahan dada bidang Gio yang cukup berat.
“Gi … jangan begini!”
Namun, Gio tetap mengulang keinginannya lagi. “Aku ingin …”
Bruk
Tiba – tiba, tubuh itu ambruk dan jatuh tepat menindih tubuh Fio yang imut untuk ukuran Gio.
“Gi … Hei!”
“Aku ngantuk.”
Dahi Fio mengerut. Tapi, bibirnya tersenyum. lucu sekali mafia ini, pikirnya. Padahal, Fio sudah takut setengah mati. Dia belum siap untuk menyerahkan diri. Fio belum sanggup untuk melakukan kewajibannya sebagai istri, meski itu adalah kewajiban.
Benar saja, rupanya Gio benar – benar mengantuk berat. Dengkuran halusnya terdengar tepat di telinga.
Fio pun menggoyangkan tubuhnya. “Hei, kamu beneran tidur? Gio?”
Tak ada jawaban.
Fio mencoba menjauhkan tubuh itu untuk melihat kedua mata Gio. “Apa dia sudah tidur?”
Ternyata, benar. Kedua mata Gio tertutup sempurna.
“Ih, cepat sekali.”
Bahkan, Gio belum sempat membuka kemeja serta celana panjangnya. Berhubung pria itu tidak suka memakai pakaian saat tidur. Pakaian yang Gio kenakan juga sudah terkontaminasi dari luar. Sangat tidak bagus jika harus terpakai sampai tidur.
Perlahan, Fio membaringkan tubuh itu. Lalu, membuka kemejanya. Dengan hati – hati, ia membuka kancingnya. Kemudian, mengeluarkan satu persatu dari kedua tangannya.
“Gio, sumpah kamu berat banget sih!”
Membuka kemeja dari tubuh Gio, benar – benar menguras energi. Harusnya, dia tidak perlu sepeduli ini. Tapi, saat memandang wajah Gio serta kebaikan yang sudah dia lakukan untuknya. Ini tidak sepadan.
Fio menarik nafasnya kasar dan kembali membuka kemeja Gio.
“Huft!”
“Beres!”
Akhirnya, pakaian itu sudah diganti. Fio hendak bangkit dan hendak memungut pakaian yang tergeletak di lantai. Tapi …
“Akh!”
Tangan Gio malah menarik pinggangnya. Gio yang seperti orang mati saat diganti pakaian, justru terjaga ketika hendak ditinggalkan.
“Terima kasih.” Bibirnya tersenyum. Namun, matanya tidak terbuka.
“Hei, kamu sudah tidur apa belum?”
“Belum.”
Pria itu menjawab entang sembari membuka satu matanya.
Bugh
“Menjengkelkan!” geramnya kesal usai memukul pelan dada yang sudah berbalut piyama.
Gio benar – benar menyusahkan. Setidaknya, jika memang belum mengantuk sekali, dia bisa mengganti pakaiannya sendiri.
“Hei, mau ke mana?”
Gio menarik Fio yang hendak lari darinya.
“Mau menaruh pakaian kotormu.”
“Tidak usah. Biar nanti, Bibi yang bawa. Kamu tetap di sini.”
“Tapi …?”
“Tidak ada – tapi – tapi.”
Dengan cepat, Gio mengangkat tubuh itu hingga kini berbaring tepat di depannya dengan berbaring miring.
“Gio!”
Fio merasa sesak. Pasalnya, kini kedua tangan kekar itu memeluk erat pinggangnya.
“Temani aku tidur.”
Fio menoleh sedikit ke belakang. “Hanya tidur.”
“Tergantung. Kalau roketku ingin meroket, aku akan membangunkan mu.”
“Apa?”
***
Restu geram melihat harga sahamnya di pasar ekonomi turun drastis.
“Gala ….!”
“Gala ….!”
Pria paruh baya itu memanggil putranya dua kali. Namun, Gala tidak muncul. Justru yang datang ke ruang kerja kediaman mewah itu malah Anggi.
“Di mana anak itu?” Restu sampai berdiri dari kursi kebesarannya. “Kenapa malah kamu yang datang? Huh!”
Anggi tetap melangkah masuk dan meletakkan nampan yang berisi jus jeruk.
“Aku membawakan ini untukmu.”
Restu frustrasi. Dia menggelengkan kepala dan …
“Gala mencari Fiona,” sambung Anggi membuat Restu diam.
“Buat apa dia mencari perempuan br3ngs3k itu?” tanyanya kemudian.
“Loh, kan Papa sendiri yang nyuruh Gala menemukan Fiona.”
“Sekarang tidak lagi.”
“Maksudnya?” tanya Anggi bingng.
“Saham kita sudah anjlok Ma. Pasti nanti pada nyariin Papa untuk konfirmasi. Lebih baik, kita pergi dan menyewa hotel untuk menginap beberapa hari sampai berita ini selesai.”
Anggi mengangguk. Dia memang lebih baik pergi dan mencari perlindungan.
***
Di Villa kembar, Arif juga sudah uring – uringan. Dia di tekan sana sini dan dengan segala macam cara harus bisa menemukan Fio sekarang,
“Bagaimana, Kalian sudah temukan?’
“Belum, Pak.”
Bugh
“Ga becus!”
Tendangan Arif pada meja membuat Rara tersentak. Dia sempat menghentikan langkahnya menuju dapur dan hendak menyiapkan minuman hangat untuk Arif. Rasa takut menyergap. Namun, Rara berusaha tenang.
Perempuan itu membuatkan minuman yang sering Arif konsumsi di malam hari. Jahe madu hangat. Sebelumnya, Rara menoleh ke kanan dan kiri. Rara juga mendongak, memastikan cctv beum terpasang lagi. Tidak ada yang terlihat menyala pada benda itu.
Kemudian, Rara menuangkan bubuk ke dalam minuman itu tanpa ada orang yang tahu.
“Maaf, Mas. Aku harus memasukkan obat tidur ini untukmu,” ujar Rara dalam hati.
Malam ini, Rara berencana untuk pergi dan mencari putrinya yang sedang hilang. Ia berharap, semoga kaburnya kali ini tidak bisa ditemukan lagi oleh Arif.
Tak lama kemudian, Rara kembali ke ruang kerja Arif. Pria itu tersenyum lebar. Dia senang dilayani sang istri. Semua kebutuhannya disiapkan Rara. Bahkan, tak jarang Arif minta disuapi saat makan.
“Minum, Mas. selagi hangat,” ucap Rara tanpa dibuat – buat.
Tidak ada yang mencurigakan. Pasalnya, Rara memang kerap mengatakan ini saat memberikan air hangat untuk suaminya.
Sruput
Akhirnya, Arif meminum minuman itu. Meski, hanya separuh.
“Ga enak ya, Mas?”
“Enak kok,” jawab Arif tanpa ragu.
Kenyataannya memang minuman yang diracik Rara benar – benar mujarab.
“Kalau enak, kenapa tidak dihabiskan?”
Untuk pertanyaan ini, Arif curiga.
untung fio ga jdi tuh....eh jgn2 tuh bunda ny fio lagi...
ayah anak sama bejatnya...
Alhamdulillah up...
kan secara dia udah lama gak ketemu mama nya
ih tanggung trs sih k? fio ktm sm ibunya
ketemu sama bunda nih ..
lnjut kk...aq ampe.ngebut baca saking ketnglan bnyak😁